Hologram Kafka, Lorong Berikutnya

Oleh Kiki Sulistyo*

Menggunakan hologram sebagai metafora, Triyanto Triwikromo memancarkan kembali sosok Kafka melalui kumpulan puisi Dalam Hologram Kafka (KPG, 2025). Meski begitu, kata “sosok” tidaklah tepat apabila yang dimaksud “sosok” adalah pribadi—buku ini bukan berisi biografi Kafka. 

Sebilah sinar laser dipecah dua, yang satu ditembakkan langsung ke pelat perekam sedang yang satu lagi ditembakkan ke objek sebelum dipantulkan juga ke pelat perekam. Pertemuan dua pecahan itu menyebabkan pola interferensi atau penumpukan gelombang. Apabila ke permukaan pelat perekam ditembakkan satu sinar laser lain, tumpukan gelombang tadi mengalami difraksi dan dari tumpukan gelombang memancarlah citra objek asli—itu hologram.  

Proses tersebut dapat dijadikan pengandaian seperti ini: sinar laser adalah teks. Kita dapat memecah dua teks Triyanto. Pertama, teks yang berasal dari Triyanto sendiri; kedua, teks yang memantul dari teks lain, yakni biografi, bibliografi, serta aneka tafsir atas Kafka. Pertemuan dua sinar teks itu membentuk pola interferensi, dan ketika kita, sebagai pembaca, memancarkan pengalaman kita ke arah tumpukan teks tersebut maka terciptalah semacam hologram. Teks Kafka (biografi, bibliografi, dan aneka tafsir terhadapnya), dalam hal ini, mengangkut informasi perihal “Kafka”, sedangkan teks Triyanto memancarkan puitika, estetika, ideologi, obsesi, dan sebagainya, dari si penyair sendiri. Ketika pembaca memancarkan sinar tafsir ke arahnya, pembaca dapat membaca hologram Kafka, citra yang seolah-olah objek aslinya.     

Selaras dengan sifat holografi, dalam puisi-puisi Triyanto, kita tak dapat memisahkan, atau memotong, kedua teks tadi sebab bagian lainnya akan tetap utuh. Dalam teks Triyanto tampak teks Kafka; dalam teks Kafka tampak teks Triyanto. Puisi-puisi Triyanto ialah batas permukaan yang menyimpan keseluruhan semesta referensinya—manifestasi dari struktur yang lebih dalam atas teks Triyanto maupun teks Kafka, dan dalam struktur tersebut keduanya saling berhubungan. 

Namun, bagaimana pun juga, hologram semata citra, ia bukan objek asli. Seperti apa citra yang terbaca sebagai hologram Kafka itu, dengan pengertian “citra” sebagai semesta mental yang tersugestikan dari paduan atau tabrakan atau silangan diksi (konten), aneka siasat puitika (konsep), serta rujukan sosial-historis atau kemungkinan ruang tafsir makna atas teks tersebut (konteks). 

Puisi-puisi Triyanto banyak menggunakan diksi yang identik dengan wilayah negatif manusia, aneka peristiwa, situasi, perasaan, dan sosok yang berada di luar perasaan aman, apalagi perasaan bahagia. Nomina konkret: makam, tetesan darah, leher yang dipenggal, kepala menggelinding, jasad, mayat, borgol, kandang yang gelap, badai debu, tanah pembuangan, ular, burung gagak, babi; nomina personal: penyakitan, para tentara, penjagal, pemberontak; nomina abstrak: ajal, kematian, kesedihan, hantu, iblis, makhluk janggal; adjektiva:  perih, sekarat, ganas, lapar, terluka, sekerat, gelap, pingsan, busuk, bodoh, buas; verba: dicekik, diburu, ditembak, dipotong, dipatahkan, dicungkil, ditusuk, dikutuk,  diremuk, disumpal, ditelanjangi, dituduh, dipenjara, diasingkan, mengurung, memenggal, memaksa, membeku, menyengat, berteriak,  bertempur, bersengketa, bungkam, dan sebagainya. Kata-kata tersebut menyiarkan tonal yang gelap, brutal, penuh derita dan ketakutan. Citra grotesk juga ambil bagian.

: “Aku memang tak mati. Karena tembakan tentara

mengenai sisi kanan, aku hidup

dengan setengah kepala. Kepala kiri.

Aku berjalan ke mana pun dengan kaki kiri.

Meninju dengan tangan kiri. Melihat

dengan mata kiri. Mendengar

dengan telinga kiri.”

(“Testimoni”)  

Dari tonal semacam itu terkilat tema kematian, kekerasan, keterasingan, atau absurditas—tema yang juga identik dengan Kafka dan karya-karyanya. Realitas eksistensial manusia sama sekali tidak indah. Kegilaan atau deformasi moral terekspos, memicu pengalaman emosional yang intens, dan intensitas itu kian liat sebab dipoles dengan repetisi.

Lalu matahari terlambat beredar. Terlambat

menggelinding ke arah gelap. Gelap

yang hijau. Gelap

yang sunyi. Gelap

tanpa aubade.  

(“Mesin Pemenggal Leher”)

Nyaris semua puisi mengandung repetisi, dengan bentuk paling ekstrem, di antaranya, pada puisi “Semu”:

Ia tahu segala yang dipandang telah menjadi sesuatu yang

semu. Peradilan semu. Negara semu. Sungai semu. Danau 

semu. Matahari semu. Kuda semu. Jalan-jalan semu. Laut

semu. Tebing semu. Surga semu. Monumen semu. Tak ada

kebenaran. 

Tonal gelap yang dipoles terus dengan repetisi itu pada gilirannya membentuk kabut tebal. Namun, ternyatalah, ke permukaan kabut itu dilontarkan satu sinar lain, yakni sinar penyangkalan (negasi). Kata-kata seperti bukan, tidak/tak, tetapi, atau tanpa menghasilkan difraksi sehingga menyebabkan kabut tebal itu susut dan dari baliknya muncul dimensi lain—dimensi yang nyata tapi bukan kenyataan.

Ia mengirim pesan kematian kepada hujan.

Hanya kepada hujan yang entah mengapa

berwarna hijau. Bukan berwarna merah

seperti tetesan-tetesan darah

Dari leher yang dipenggal.

(“Pesan Kematian”)

Hujan itu hijau, bukan merah. Akan tetapi hijau tak mendapat gambaran lanjutan, yang justru mendapat gambaran lanjutan adalah merah, yakni seperti tetesan-tetesan darah. Artinya, yang diberi gambaran lanjutan bukan yang nyata, tapi malah yang bukan. Merah mencuat dari difraksi terhadap hijau sehingga ia lebih tampak daripada hijau itu sendiri. Meski begitu, tetap saja hujan itu hijau, bukan merah. Hijau, sebagai kenyataan, berada di balik merah, yang bukan kenyataan. Melalui kata bukan, teks meng-ada-kan yang tidak ada. Jungkir balik itu kian tajam apabila kita memperhatikan asosiasi simboliknya. Mestinya hujan itu memang merah sebab merah terasosiasi secara simbolik dengan pesan kematian (merah terhubung dengan tetesan darah), tapi pada kenyataannya hujan itu malah hijau yang terasosiasi dengan kehidupan dan kemudaan. Oleh karena itulah ada “entah mengapa”, tapi karena “entah mengapa” tak menyediakan jawaban, maka makin tampaklah yang bukan itu. 

Ia berjalan kaki

tetapi membayangkan 

terbang bersama gagak. Gagak

yang melupakan namanya. Gagak

yang melupakan sayapnya.

(“Nabi”)

Berjalan kaki adalah “kenyataan”, terbang bersama gagak cuma bayangan, tapi bayangan itu jadi lebih nyata sebab gagak itu diberi gambaran lanjutan, tapi gambaran itu sendiri jadi menyangkal objek yang hendak digambarkan sebab gagak itu melupakan namanya dan melupakan sayapnya. Apabila gagak melupakan namanya dan melupakan sayapnya, barangkali ia bukan gagak. Di sana berlangsung penyangkalan atas penyangkalan.

Jalan penyangkalan (via negativa) menjaga makna tetap terbuka sekaligus menunjukkan adanya batas-batas bahasa. Banyak hal di dunia ini tak tersedia dalam bahasa, afirmasi sembarangan terhadap hal-hal tersebut bakal menyempitkan kebenarannya, kebenaran yang alangkah baik bila didekati melalui deret penyangkalan: bukan ini dan bukan itu. Dalam urusannya dengan teks, deret penyangkalan memberi tempat bagi pembaca untuk berpartisipasi secara hermeneutik, sebagai juru tafsir yang mandiri.

Dalam puisi-puisi Triyanto dua perangkat yang berpunggungan; repetisi (memunculkan terus menerus) dan negasi (menyangkal terus menerus) dibelitkan untuk mewujudkan gambaran yang kemudian tak dibiarkan mewujud sepenuhnya. Interferensi antara teks si penyair dan teks Kafka akan selalu saling membangun sekaligus meruntuhkan. Dengan begitu, Triyanto sekaligus juga bermain dalam “jarak etis” yang dinamis, di mana “jarak etis” adalah jarak yang menentukan seberapa dekat atau jauh teks puisi dengan teks sumbernya. Dalam Dalam Hologram Kafka kita bisa menemukan puisi “Variasi untuk “Di Depan Hukum”” yang jaraknya dekat dengan karya Kafka “Di Depan Hukum”, atau sebaliknya, puisi “99” yang jaraknya tampak jauh dari karya Kafka dan berisi kumpulan puisi pendek (rata-rata tiga baris ringkas) yang dipersembahkan untuk Reiner Stach, si penulis biografi Kafka.   

Franz Kafka sudah lenyap dari bumi. Ia wafat lebih dari seabad lalu. Bisa dipastikan semua orang yang pernah bertemu langsung dengannya juga sudah lenyap. Karya-karya Kafka bahkan baru dikenal luas setelah ia wafat, artinya “kebenaran” menyangkut karya-karyanya sudah mengandung interferensi sejak awal. Kawannya, Max Brod, adalah orang yang pertama kali “menciptakan” hologram Kafka. Seberapa jauh Max Brod “menulis ulang” karya-karya Kafka masih bisa terus dibicarakan. Max Brod telah memecah dua teks—teks asli Kafka dan teks Brod sendiri. Artinya, sejak mula Kafka telah hadir sebagai semacam hologram. Sampai sekarang, entah sudah berapa banyak variasi hologram itu. 

Setiap kali ada karya yang bersumber dari Kafka pembaca berhadapan dengan situasi yang mirip dengan situasi si pembawa pesan dalam teks pendek Kafka, “Pesan Sang Kaisar”, di mana si pembawa pesan harus melewati lorong demi lorong, tangga demi tangga, ruang demi ruang, agar pesan dari kaisar itu sampai, meski si pembawa pesan tetap tak sampai-sampai. 

Si pembawa pesan boleh kita bayangkan sebagai pembaca, tapi dengan gerak sebaliknya. Jika si pembawa pesan hendak membawa pesan keluar dari sumbernya (sang kaisar) agar bisa dipahami oleh penerima pesan, maka pembaca ingin sampai ke sumber pesan (Kafka), dengan membaca aneka variasi hologram itu, dan dengan begitu memahami pesan tersebut. Akan tetapi, baik si pembawa pesan maupun pembaca harus melewati lorong demi lorong, tangga demi tangga, ruang demi ruang, dan tetap tak sampai-sampai.

Puisi-puisi Triyanto Triwikromo, dalam Dalam Hologram Kafka, telah menambahkan lorong-lorong berikutnya, tangga-tangga berikutnya, ruang-ruang berikutnya, dan pembaca mesti terus bergerak menuju sumber pesan, meski sumber pesan itu, dalam citra hologramnya, berkata: 

Aku mungkin tak akan pernah 

sampai kepada siapa pun 

yang menunggu pesanku. Akan 

tetapi aku akan tetap 

berusaha menyampaikan

pesan kepada sesuatu

yang mungkin tak ada     

 

(“Pesan Kematian”)           

  

—–      

*Kiki Sulistyo, Sastrawan.