Trust
Oleh: Mudji Sutrisno SJ*
“Trust” = kita hidup berdasarkan ini. Contoh-contoh: driver, pilot, orang tua, guru. Kini yang riil sedang terjadi perang saling menyandera (mengunci), mengancam antara kepentingan (interest) versus nilai (value). Bila kelompok kepentingan (‘nya’ sendiri + gerombolan) menuding orang-orang nilai sebagai partisan nilai, malah harus disyukuri sebab itulah ciri dasar nilai yaitu tanpa pamrih. Pamrih itulah kepentinganku (kepentingan gerombolan) yang ujung-ujungnya duit (UUD). “Bila orang bertindak baik, ya bertindak (berbuat baik) itu saja! Tanpa embel-embel demi ini, demi itu. Demi dan demi untuk itulah dinamai pamrih!”.
Apakah itu virtue yang dibatinkan menjadi kebiasaan atau habit (misal: antri), habit menolong yang alami kesulitan, tersisih. “Apakah ini virtue-nya para dewa? Tidak juga!”. Penimbang pokok adalah kesadaran. Kesadaranlah yang:
- Menimbang dengan rasionalitas = antara deontologis versus teleologis
- Kesadaran intransitif dan transitif
- Kesadaran kritis
- Kesadaran kritis transformatif
Ukurannya adalah semakin harkat manusia dimuliakan, semakin hidup diagungkan (humanis versus dehumanis); pro life demi hidup. Estetika kesadaran, kesemestaan, manusia, alam dan Tuhan (harmoni versus pokil-pokilan yang semakin rasional.
(Di Barat) = ingin tahu, mau tahu proses pengetahuan: epistemologis (semesta) budi.
(Di Timur) = harmoni
Masuknya kuasa (power) di semua lini. Semua punya muatan power dalam masyarakat (M. Foucault). Jadi power memencar begitu di pegang, ia tak mau dilepaskan! Kuasa gerombolan yang menaklukkan demi kepentingannya versus kuasa transformasi demi peradaban. Kuasa ke arah pembiadaban dan tega versus peradaban manusia. Artinya kuasa yang tega dan membiadabkan sesama, entah ia diperlakukan sebagai alat demi tujuan. Entah ia dijadikan kepala dan dihitung saat pemilu lalu ‘diinjak’ untuk ke tahta, maka itu praktek riil kuasa. Seorang satpam sebelum pendidikan seragam dan diberi penthung pemukul, ekstrimnya ia masih manusiawi bergaul dengan Anda! Namun begitu ia bertongkat dan pakai seragam, menjaga parkir maka mobil Anda dan Anda didalam, akan diketuk-ketuk dan di atur kuasanya untuk parkir. Begitu pula dosen ‘killer’, dengan kuasa kedosenannya waktu ujian lisan, ia bisa ‘mematikan’ mahasiswa dengan tak meluluskannya.
Maka kembali ke depan, bahwa hidup bersama dasarnya adalah saling menaruh kepercayaan pada sesama yang sedang bertugas, maka trust itulah yang jadi ikatan bersama hidup sosial kita. Maka menarik mencatat pepatah Minangkabau yang berbunyi: “Cadiak indak mambuang kawan, gapuak indak mambuang lemak”, inilah pepatah yang mengemukakan nilai kemanusiaan, “meski cerdik tak membuang kawan, meski gemuk tak membuang lemak”, saling tolong, saling trust menolong.
Lihat pula pepatah Jawa: “Jujur ora kekubur, salah bakal kedudhah”, yang artinya kejujuran tak akan mati. Demikianpun “sapa temen bakal tinemu, sapa salah bakal seleh”, yang artinya salah pasti berubah sedang benar pasti tetap berdiri tegak. Karena itulah, maka basis jujur, benar, dipercaya dan saling memercayai, sebenarnya sudah mengakar dalam ‘habitus’ (baca: Bourdieu, yang bahasa Indonesianya kita sudah punya yaitu kebiasaan). Kapan kebiasaaan benar, baik, jujur, tulus, suci, indah ditanamkan? Sejak kecil, dalam rahim keluarga, suku, agama, adat-istiadat kita, nilai-nilai ini yang didarah dagingkan. Maka pertanyaannya, sejak kapan ia diretak-retakkan?
Yang pertama karena hantaman nilai ‘luar’ yang menghujam, yang bila dikelompokkan adalah terjadi materilisasi: nilai-nilai material yang nampak itu yang digenggami. Contoh jelas adalah uang. Tak ada makan siang yang gratis, semua dinilai dari uang. Akibatnya yang spiritual tergusur karena ‘abstrak’.
Kedua, dalam urutan nilai, manakah yang ditaruh di atas? Dahulu nilai gotong royong kerja bakti hidup sekali, kini tanpa diganti jasa kerja dengan upah uang, kerja bakti makin langka. Jadi dengan perubahan kalkulasi nilai seturut jaman akan berubah pula pengalamannya. Padahal justru yang dasar, yang basis itulah yang moralitas menegaskan sebagai yang benar (pengetahuan), baik (etikanya), suci (religi), yang indah (estetikanya).
Maka kembali ke judul awal kita soal bersesama, adakah trust yang dijadikan basis hidup bersama mau kita perbaiki? Salah satu yang pokok adalah satunya kata dan tindak sebagai laku yang mampu menumbuhkan kembali trust itu. Bisakah? Kita yang anak-anak hasil edukasi top-down dari atas ke bawah, dari teks ke konteks harus disadari bahwa Nusantara ini adalah menghayati dulu, atau dari bawah lalu ke atas, induksi. Antara deduksi dan induksi itu saling mengakarkan antara top-down ke down-top saling memproses. Jadi teks butuh konteks (tualisasi) dan konteks butuh teks, atau teori hasil abstraksi konteks.
Semoga trust jadi laku tindak kita, terutama bila kesadaran budaya kita mengakui bahwa kita kebanyakan berjenjang, hierarkis. Dari atas ke bawah, yang harus dibalik dan diseimbangkan ‘dari bawah ke atas’. Trust: hierarkis atau menyesama, salingkah mempercayai demi harmoni? Semoga trust sebagai nilai disadari (baca: dimasukkan dalam kesadaran) lagi dan lagi.
——-
*Mudji Sutrisno SJ, budayawan.



