Seni dalam Replika: Hegemoni Pigura Bahagia di Jalan Godean
Oleh Dan King Kapitan*
Di suatu sore di Jalan Godean, lalu lintas berjalan pelan. Deretan ruko, warung, dan bengkel berdiri rapat di pinggir jalan. Di antara semuanya, ada satu tempat yang langsung menarik perhatian: sebuah toko pigura dengan dinding dan trotoarnya penuh bingkai. Emas mengilap, putih, hitam; di dalamnya ada pemandangan sawah dan gunung, kaligrafi, bunga, masjid, dan gambar-gambar dekoratif lain. Dari kejauhan, toko itu mirip galeri seni kecil. Tapi ini bukan galeri, melainkan toko pigura. Dalam tulisan ini saya menyebutnya Pigura Bahagia, nama samaran untuk sebuah toko bingkai di Godean. Di sana, bukan hanya pigura yang dijual, tetapi juga selera visual. Orang datang untuk mencari bingkai, tetapi pulang dengan paket “keindahan siap-pasang” untuk ruang tamu mereka.
Pigura adalah benda sederhana: ia membingkai gambar dan memisahkannya dari dinding kosong. Namun di Pigura Bahagia, pigura tampak punya peran lebih besar. Motif yang ditawarkan hampir selalu mirip: alam yang tenang, senja di sawah, bunga yang selalu segar, kaligrafi dengan warna emas, atau abstraksi yang lembut. Tidak ada gambar yang terlalu gelap atau “aneh”. Semuanya dirancang agar enak dilihat, cocok dengan cat dinding, dan pantas untuk menerima tamu.
Di sinilah gagasan hegemoni bekerja. Antonio Gramsci memakai istilah ini untuk menjelaskan bagaimana satu cara pandang menjadi dominan bukan lewat paksaan, tetapi lewat persetujuan dan kebiasaan sehari-hari. Hegemoni terjadi ketika sebuah selera tertentu terus-menerus ditampilkan sebagai yang paling wajar, paling normal, sehingga pilihan lain terasa janggal. Dalam kasus Pigura Bahagia, hegemoni muncul dalam bentuk hegemoni selera estetis: standar keindahan rumah yang diam-diam diarahkan ke pemandangan “adem”, kaligrafi emas, dan gambar-gambar yang jinak. Kita tidak pernah dipaksa memilih pigura pemandangan sawah atau kaligrafi tertentu. Tapi karena motif itu terus muncul di iklan, sinetron, katalog interior, unggahan media sosial, dan deretan pigura di toko, lama-lama kita menganggapnya sebagai selera kita sendiri. Seperti yang disinggung dalam wacana “hegemoni kriteria estetik”, selera yang dominan biasanya lahir dari jaringan kekuatan: penerbit, kurator, media, dan dalam konteks ini, juga para pemilik toko dan produsen pigura yang menentukan gambar apa saja yang layak diproduksi dan dijual.
Gambar-gambar di Pigura Bahagia sendiri sebagian besar adalah cetakan digital. Bukan lukisan tunggal yang dikerjakan pelukis di atas kanvas, tetapi file gambar yang bisa diperbanyak berkali-kali. Asalnya bisa dari foto, lukisan yang sudah digital, atau hanya desain komputer. Namun bagi pembeli, hal itu mungkin tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah: gambar itu terasa indah dan pas di dinding rumah. Di sini hegemoni terasa lebih halus lagi. Produsen dan pedagang pigura berperan sebagai “penguasa kesenian” dalam skala kecil: mereka memilih motif mana yang dicetak terus, mana yang disimpan saja sebagai contoh, dan mana yang dianggap “tidak laku”. Keputusan-keputusan ekonomi ini pelan-pelan membentuk apa yang disebut banyak orang sebagai “selera pasar”. Dari situ, lahirlah keyakinan populer bahwa pemandangan sawah yang tenang lebih pantas di ruang tamu dibanding gambar yang gelap atau terlalu eksperimental.
Karena itu, Pigura Bahagia sebenarnya menjual dua hal sekaligus. Pertama, benda fisik berupa bingkai dan gambar. Kedua, citra tentang diri kita. Pigura pemandangan bisa dibaca sebagai “kami menyukai alam dan ketenangan”. Pigura kaligrafi memberi kesan “rumah ini religius dan tertib”. Pigura abstrak yang rapi memberi pesan “kami modern, tapi tidak ekstrem”. Semua itu diucapkan tanpa sepatah kata pun. Hegemoni selera membuat pesan-pesan itu tampak netral. Kita merasa hanya mengikuti “rasa nyaman” ketika memilih pigura, padahal di baliknya ada dorongan halus: keinginan untuk diakui sebagai keluarga baik-baik, beragama, dan punya taste yang tidak memalukan. Pasar ikut memperkuatnya. Motif yang dirasa aman dan laku diproduksi terus, sementara gambar yang terlalu gelap, terlalu rumit, atau terlalu kritis jarang terlihat di etalase. Potensi selera lain—yang lebih liar, personal, atau politis—digeser ke pinggir.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa toko seperti ini membantu banyak orang. Tidak semua orang punya akses ke galeri atau kenal dengan seniman. Dengan harga yang lebih terjangkau, mereka tetap bisa merasakan kehadiran “lukisan” di rumah. Anak-anak yang tumbuh di rumah itu belajar bahwa dinding bisa diisi gambar, bukan hanya kalender dan jam. Dalam pengertian ini, Pigura Bahagia ikut membuka pintu pengalaman estetis bagi banyak keluarga. Pertanyaannya kemudian: apakah pengalaman estetis itu cukup berhenti di level dekorasi, atau bisa berkembang menjadi kesadaran yang lebih kritis? Di sinilah pentingnya menyadari bahwa selera kita adalah hasil pertemuan banyak hal: pengalaman pribadi, didikan keluarga, tetapi juga hegemoni budaya yang bekerja lewat pasar, media, dan ruang-ruang komersial seperti toko pigura.
Kalau kita berjalan ke kampung-kampung, banyak rumah yang ketika pintunya dibuka menampilkan pemandangan mirip: pigura pemandangan di atas sofa, pigura kaligrafi dekat televisi, pigura bunga di kamar. Pigura-pigura itu menjadi latar belakang semua obrolan: soal harga beras, sekolah anak, pekerjaan, sampai politik. Latar itu jarang dipersoalkan, seolah kehadirannya sudah sewajar kursi dan meja. Di sinilah hegemoni menunjukkan kekuatannya: ketika sesuatu begitu biasa sampai-sampai tidak lagi dipertanyakan.
Padahal, menarik kalau kita bertanya: mengapa harus pemandangan gunung? Mengapa bukan foto keluarga di sawah belakang rumah? Mengapa kaligrafi cetak, bukan tulisan tangan anak sendiri yang dibingkai? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu mulai menggeser hegemoni: ia mengingatkan bahwa dinding rumah tidak wajib mengikuti pola yang sama di mana-mana. Ada ruang untuk counter-hegemoni kecil-kecilan, berupa pilihan visual yang lebih personal dan tidak tunduk sepenuhnya pada selera pasar. Bayangkan sebuah rumah yang mengganti satu pigura cetak dengan sketsa sederhana buatan anak, atau foto hitam-putih kakek-nenek, atau selembar kain batik dari orang tua. Seketika, pigura itu bukan hanya tanda “selera yang benar”, tetapi juga tempat menyimpan ingatan dan pengalaman. Masih mungkin ada pigura pabrikan di sampingnya, tetapi ia tidak lagi memonopoli cerita di dinding.
Apa yang terjadi di Pigura Bahagia sebenarnya bisa ditemukan di banyak kota lain. Di toko pigura, showroom mebel, atau katalog online, gambar-gambar yang mirip terus ditawarkan sebagai standar keindahan rumah yang “pantas”. Di tengah arus itu, mungkin pertanyaannya bukan “bolehkah kita membeli pigura cetak?”, tetapi “apakah kita sadar dari mana datangnya selera kita, dan sejauh mana kita mau menegosiasikannya?”. Mungkin yang perlu kita lakukan bukan menolak replika sama sekali, tetapi menyadari bahwa kita punya ruang untuk memilih. Kita bisa membiarkan pigura-pigura pabrikan hidup berdampingan dengan hal-hal yang lebih personal: gambar anak, foto perjalanan, kartu pos dari teman, atau apa pun yang punya makna bagi kita. Dengan cara itu, hegemoni selera yang dibentuk pasar pelan-pelan retak, memberi ruang bagi selera dan cerita kita sendiri.
Di tengah deretan pigura yang seragam, selalu ada ruang untuk satu gambar yang berbeda, mungkin tidak begitu rapi, mungkin tidak terlalu “Instagramable”, tetapi jujur. Di situlah, di sela-sela replika yang mengisi dinding, kita masih bisa merasakan sedikit kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana rumah kita bercerita.
—–
*Dan King Kapitan, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.




