Rest Area Rakyat Itu Bernama Masjid: Catatan Tentang Jogokariyan dan Wajah Kemaslahatan
Oleh Selwa Kumar*
Malam turun pelan di Kota Yogyakarta. Saya suka Yogja. Bertemu kawan seniman dan budayawan. Tinggal dengan cara mereka.
Kala itu lampu-lampu jalan menyala lembut, seperti adegan pembuka film—hening, tapi penuh janji. Angin membawa suara azan dari kejauhan. Tidak keras. Tidak suara yang memaksa. Tapi cukup teduh untuk membuat hati menoleh ke pemilik langit.
Bus besar yang kami tumpangi melambat.
Sejak subuh kami berangkat dari Bekasi. Menyusuri Pantura: Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo. Jalan panjang. Percakapan panjang. Dan pelan-pelan, kelelahan yang juga panjang.
Di dalam bus, suasana mulai sunyi. Seperti jeda dalam film sebelum adegan penting.
Lalu satu nama disebut pelan: “Jogokariyan.”
Bang Roy menoleh.
“Sholat di sana saja.”
Semua sepakat. Tanpa debat. Seperti sudah tahu, akan ada sesuatu di sana.
Bus berbelok. Masuk ke jalan sempit. Permukiman padat menyambut. Rumah-rumah berdempetan. Warung kecil masih buka. Anak-anak berlari di gang.
Dan di tengah itu semua—berdiri sebuah masjid dengan cahaya yang terasa berbeda.
Masjid Jogokariyan.
Kami tiba tepat saat Magrib hampir jatuh. Bang Roy dan rombongan langsung bergegas mengambil air wudhu. Langkah mereka cepat, seperti orang yang sudah pernah pulang ke tempat ini.
Saya tidak langsung masuk. Saya duduk di teras. Di depan saya ada bangku. Di atasnya tersusun makanan dan minuman. Hangat. Siap. Tidak mewah, tapi mengundang hasrat.
Seorang pengurus mendekat. Senyumnya tenang. “Silakan, Pak.”
Saya tersenyum. “Nanti. Tunggu kawan-kawan selesai sholat.”
Ia mengangguk. Tidak memaksa. Tidak bertanya siapa saya.
Dan di situlah, tanpa banyak kata, saya merasa sangat diterima.
Saya harus jujur.
Saya bukan jamaah NU.
Bukan Muhammadiyah.
Bukan pula bagian dari organisasi Islam mana pun. Saya Hindu. Sata PP IKA USU: Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Sumatera Utara. Ketua Umum-nya, Dr. Romo Raden Muhammad Syafiie, SH.MHum., Wakil Menteri Agama RI.
Tapi hidup saya diwarnai persahabatan dengan kawan-kawan Muhammadiyah, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam, juga jejaring KAHMI di Medan dan Jakarta.
Saya tumbuh di tengah perbedaan—dan justru di sanalah saya belajar satu hal: bahwa keadilan tidak punya agama, tapi agama seharusnya melahirkan keadilan.
Karena itu, ketika Islam disalahpahami, atau bahkan ditindas, saya berdiri membelanya.
Bukan karena saya Muslim. Tetapi karena saya percaya pada keadilan.
Dan malam itu, di Jogokariyan, saya tidak melihat Islam sebagai identitas. Dan, Saya melihatnya sebagai tindakan nyata.
Selesai sholat, kami berkumpul. Perkenalan berlangsung santai. Tidak formal. Tidak kaku.
Makanan disajikan. Kami makan bersama. Tertawa kecil. Melepas lelah.
Tidak ada jarak. Tidak ada “kami” dan “mereka”.
Yang ada hanya manusia yang sama-sama sedang dalam perjalanan.
Lalu tawaran itu datang—seperti adegan hangat dalam film drama India, ketika orang asing tiba-tiba menjadi keluarga.
“Kalau mau istirahat, ada rumah ketua BKM, sekitar lima puluh meter dari sini.”
Kami menginap dua hari. Dalam dua hari. Ini yang terjadi. Dan, setiap pagi, selalu ada sarapan. Dan, selalu ada senyum. Dan, selalu ada rasa bahwa kami tidak sedang “ditampung”, tetapi diterima.
Di Masjid Jogokariyan, saya melihat sesuatu yang jarang yakni: agama yang bekerja.
Bukan sekadar ceramah.
Bukan sekadar simbol. Tetapi sistem kehidupan.
Saya khusuk mendengar kisah—yang bagi sebagian orang mungkin terdengar seperti drama, tapi di sini nyata:
Jamaah kehilangan motor setelah salat—diganti motor baru.
Warga miskin menerima beras, gula, teh, kopi, minyak goreng secara rutin.
Toko-toko sekitar mencari karyawan melalui rekomendasi masjid.
Layanan kesehatan diberikan untuk yang tak mampu. Ini bukan cerita sinetron. Ini keadilan sosial yang berjalan.
Duhai Sahabat. Ketika saya membaca gagasan dan opini tentang “Rest Area Rakyat Itu Bernama Masjid”, saya tersenyum.
Karena saya sudah melihatnya. Apa yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dengan 6.859 Masjid Ramah Pemudik—yang diluncurkan oleh Romo Raden H. Muhammad Syafi’i—bagi saya bukan sekadar program. Ia adalah peluang. Peluang untuk menjadikan masjid seperti Jogokariyan—di seluruh Indonesia.
Masjid sebagai tempat singgah. Masjid sebagai tempat pulang sementara. Masjid sebagai tempat manusia merasa tidak sendirian.
Malam terakhir, saya kembali duduk di teras masjid. Lampu masih menyala. Orang datang dan pergi. Ada yang salat. Ada yang berbincang. Ada yang hanya duduk diam, seperti saya.
Angin malam menyentuh pelan. Saya seperti berada dalam satu adegan panjang—tenang, hangat, dan penuh makna.
Saya sadar: Jika masjid hidup seperti ini, maka Indonesia tidak akan kekurangan tempat untuk pulang.
Bukan hanya pulang secara fisik. Tetapi pulang secara kemanusiaan.
Dan mungkin, di situlah inti dari semua ini bahwa ketika agama benar-benar hidup,
ia tidak bertanya siapa kamu, tetapi bertanya: apa yang bisa aku lakukan untukmu?
Dan malam itu, di Jogokariyan, saya menemukan jawabannya. Jawaban nyata.
Salam Takzim.
—
*Selwa Kumar, aktifis sosial budaya, PP IKA USU bidang seni dan budaya.




