Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu: Urgensi Kultural untuk Generasi NU Milenial

Oleh Abdul Wachid B.S.*

Di tengah gempuran budaya global dan arus digital yang tak terbendung, bahasa ibu (seperti Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Sasak, Bugis, hingga bahasa Osing) mengalami peluruhan yang nyata di tengah keluarga-keluarga Nahdliyin. Banyak anak-anak muda NU kini lebih fasih berbicara dalam bahasa Indonesia baku atau bahkan dalam logat media sosial ketimbang dalam dialek ibu yang dulu begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini bukan sekadar masalah linguistik. Ia adalah persoalan kultural, spiritual, bahkan identitas. Sebab, dalam konteks tradisi Nahdlatul Ulama, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium transmisi nilai, tradisi, dan kebijaksanaan lokal. Nadzam dalam pengajian, pitutur kiai kampung, tembang dolanan, mantra pengobatan, hingga doa-doa keseharian, semuanya diwariskan lewat bahasa ibu, dengan nuansa makna yang tak tergantikan oleh bahasa lain.

Bahasa Ibu sebagai Turats Identitas

Para ulama pesantren sejak dahulu sangat menyadari bahwa bahasa lokal adalah jembatan yang paling empatik untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat akar rumput. KH Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus, menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa beraksara pegon (Tafsîr al-Ibrîz) bukan tanpa alasan. Beliau memahami bahwa pemahaman keislaman akan lebih membumi dan menyentuh jika disampaikan dalam bahasa yang paling dekat dengan rasa dan pengalaman hidup masyarakatnya.

KH Ahmad Rifa’i Kalisalak dari Batang menulis serat-serat keislaman dalam bentuk tembang dan prosa berbahasa Jawa pegon sebagai bentuk dakwah yang santun namun mendalam. Di Madura, KH Zaini Mun’im dikenal dengan dakwahnya yang hidup melalui logat dan idiom lokal. Begitu pula ulama Bugis dan Banjar, yang merawat bahasa daerahnya sebagai wahana penyampaian pesan agama yang penuh cinta.

Dalam konteks ini, bahasa ibu menjadi turats (warisan peradaban) yang bukan hanya memuat pengetahuan keagamaan, tapi juga nilai-nilai kesahajaan, spiritualitas, rasa hormat kepada leluhur, dan kekhasan budaya lokal yang telah dibangun selama ratusan tahun.

Mengapa Milenial NU Semakin Menjauh?

Ada beberapa sebab yang membuat generasi muda NU perlahan menjauh dari bahasa ibu mereka sendiri.

Pertama, perubahan pola komunikasi dalam keluarga. Banyak orang tua muda sekarang merasa tidak percaya diri menggunakan bahasa ibu karena dianggap kampungan, ketinggalan zaman, atau tidak efektif untuk mendidik anak-anak yang tumbuh dalam budaya urban. Mereka lebih memilih bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris dalam pengasuhan untuk “menaikkan kelas sosial.”

Kedua, sekolah dan media tidak lagi memberikan ruang yang cukup bagi penggunaan bahasa daerah. Kurikulum sekolah lebih fokus pada penguasaan bahasa Indonesia dan Inggris, sementara muatan lokal dianggap opsional. Media arus utama pun cenderung seragam dalam bahasa, meminggirkan keberagaman bahasa ibu.

Ketiga, era digital mengubah preferensi anak-anak muda terhadap bentuk komunikasi yang serba cepat, ringkas, dan visual. Bahasa ibu yang penuh kiasan, irama, dan kedalaman makna dinilai “terlalu lambat” untuk dunia yang serba instan.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ini adalah gejala krisis spiritualitas dalam berbahasa. Bahasa yang dulu membawa doa, zikir, dan rasa haru kini tergeser oleh bahasa-bahasa yang gaduh, vulgar, dan miskin makna. Bahasa ibu yang sarat rasa dan tafakur pelan-pelan digantikan oleh narasi-narasi singkat dalam meme, reels, atau caption penuh istilah asing.

Bahasa Ibu dan Tradisi NU: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Lihatlah bagaimana manaqiban, tahlilan, maulidan, pengajian wetonan, hingga slametan keluarga selalu diiringi bacaan, syair, atau puji-pujian dalam bahasa daerah. Bahkan dalam praktik tarekat, zikir dan wirid tertentu kadang disisipkan dalam dialek lokal yang memudahkan penghayatan.

Dalam tradisi pesantren Jawa, banyak kitab kuning diajarkan dengan sorogan atau bandongan yang disertai penjelasan dalam bahasa Jawa halus. Para kiai dan guru ngaji memakai istilah lokal yang telah diserap dalam tradisi Islam Nusantara, seperti “ngalap berkah”, “ngudi kawruh“, atau “nrimo ing pandum“.

Gus Mus, dalam banyak puisinya, selalu menyelipkan bahasa Jawa untuk menekankan keakraban batin dan kedalaman makna. Dalam salah satu puisinya, beliau menulis : 

‘NGELMU’

akhirnya kutemukan guru
yang mau mejang ‘ngelmu’
simpanannya kepadaku

“tapi tak boleh kau tulis,” katanya
“sebab ngelmu bagai napasmu
mesti merasuk langsung ke sanubari
jika kau tulis akan mati
maknanya
jika kau serap lengkap
kau bisa menjadi manusia rangkap
kau bisa berada di mana-mana dalam saat yang sama
kau bisa tidur sekaligus jaga
kau bisa dibunuh tanpa kehilangan nyawa
kau bisa diperdaya sambil memperdaya.”

syukur ternyata aku bisa
menyerap ‘ngelmu’ tanpa menuliskannya

suatu hari kurapalkan ‘ngelmu’ guruku itu
dan tiba-tiba kulihat diriku ada di mana-mana
rumahku penuh diriku
di jalanan kulihat diriku
memacetkan lalulintas
pasar, terminal, perkantoran,
hotel, toko, restoran,
kampus, pesantren, sekolahan,
sawah, waduk, tegalan,
mesjid, gereja, tempat hiburan,
gedung dpr, kebun binatang, taman,
semuanya penuh sesak oleh diriku.

aku pun bingung
kian-kemari mencari-cari
diriku sendiri
yang sebenarnya.

aku lupa menanyakan kepada guruku
bagaimana aku kembali
ke diriku semula
padahal sang guru kini
telah tiada.

(Sumber:https://jateng.nu.or.id/nasional/kumpulan-puisi-gus-mus-KrKCF)

Bahasa lokal bukan hanya ekspresi, tapi juga pengalaman. Maka, kehilangan bahasa ibu bukan sekadar kehilangan kata, tapi kehilangan cara merasakan kehidupan; kehilangan kedalaman rasa, kehilangan cara kita ber-tawadhu kepada hidup dan kepada Tuhan.

Tugas Kultural Generasi NU Baru

Menghidupkan bahasa ibu adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi generasi muda NU, terutama mereka yang aktif di pesantren, komunitas sastra, lembaga pendidikan, organisasi mahasiswa, atau media digital. Ada beberapa langkah konkret yang bisa diikhtiarkan bersama:

1. Membuat konten kreatif dalam bahasa ibu. Podcast, video dakwah, cerita pendek, atau puisi dalam bahasa daerah bisa menjadi cara segar menyapa generasi digital. Narasi lokal bisa menjadi kekuatan spiritual dan kultural di tengah gempuran konten global.

2. Mengajarkan bahasa ibu sejak dini di rumah. Orang tua muda Nahdliyin perlu percaya diri menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa kasih sayang dan pengasuhan. Pelukan yang disertai kalimat “nangis kuwi ora papa, Le...” dalam bahasa ibu punya efek emosional jauh lebih kuat daripada terjemahannya.

3. Mengintegrasikan bahasa ibu dalam kurikulum lokal pesantren dan madrasah. Bisa berupa lomba pidato bahasa daerah, pelatihan penulisan aksara pegon, hingga forum diskusi dan sastra pesantren. Tradisi tembang macapat atau nadzam bisa menjadi media edukasi dan kontemplasi.

4. Mengapresiasi karya-karya klasik lokal. Membaca ulang serat-serat kuno, tembang dolanan, nadzam, atau puisi lokal bisa menjadi pintu masuk untuk menyerap nilai-nilai Islam khas Nusantara yang bernafaskan welas asih dan kesahajaan.

5. Kolaborasi dengan komunitas bahasa dan budaya. Banyak komunitas literasi lokal, penggiat aksara daerah, hingga festival budaya yang siap bersinergi dengan warga NU untuk menjaga kekayaan bahasa. Santri bisa bersatu dengan sastrawan lokal, membentuk simpul-simpul kultural yang kuat dan progresif.

6. Digitalisasi karya-karya berbahasa ibu. Banyak manuskrip pesantren dan syair-syair kuno dalam bahasa daerah yang belum terdokumentasi secara baik. Digitalisasi ini menjadi penting sebagai bagian dari al-hifzh ‘ala al-turats: merawat warisan agar tidak hilang ditelan zaman.

Penutup: Melestarikan Ruh melalui Bahasa

Bahasa ibu adalah jiwa dari kebudayaan lokal. Dalam konteks Nahdlatul Ulama, bahasa ibu bukan hanya simbol identitas etnis, tetapi juga kendaraan spiritual yang mengantar manusia kepada kebijaksanaan hidup dan kedekatan dengan Tuhan. Kehilangan bahasa ibu berarti kehilangan jembatan menuju kearifan para leluhur dan kiai.

Menjaga bahasa ibu berarti menjaga makna hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Ia adalah ikhtiar untuk tetap terhubung dengan akar budaya, dengan ruh tradisi, dan dengan wajah Islam Nusantara yang ramah, lembut, dan penuh kasih.

Jika kita ingin NU tetap relevan dan membumi bagi generasi mendatang, maka menjaga bahasa ibu adalah bagian penting dari mempertahankan ruh ke-NU-an itu sendiri. Bahasa bukan sekadar kata, tapi juga rasa, doa, dan cinta.***

*Penulis adalah penyair, Ketua Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.