Arsip Foto Lebaran

Oleh Mikke Susanto*

Lebaran baru saja usai. Perjalanan budaya/spiritual tahunan yang rutin kita lakukan itu menyisakan beragam cerita. Suka cita, resah maupun duka lara dialami. Pasti semua terangkum dalam ingatan dan rekaman. Saya yakin, selama Lebaran di minggu ketiga Maret 2026 kemarin Anda menghasilkan ribuan atau bahkan jutaan rekaman keluarga. Terhitung dari yang asal-asalan sampai yang secara sadar dibuat menganut prinsip keindahan dengan versinya masing-masing.

Setiap momen jelas menyisakan jejak. Jejak itu berupa dokumen. Dokumen arsip arsip merupakan sebuah momentum yang mewujud, baik fisik maupun digital. Arsip sendiri bila dikaji dari aspek materi terbagi menjadi tiga jenis, yakni: (1) arsip tekstual, (2) arsip visual, dan (3) arsip audio visual. Pelajaran ini luas perspektifnya. Kalau dipelajari bisa menghabiskan waktu minimal 1 semester. Karena itu saya hanya ingin mengupas arsip visual. Itupun hanya pada arsip foto. Lebih tepat lagi arsip fotografi lebaran.

Tanpa sadar, ketika kita berkumpul atau bercengkrama bersama sering menyisakan keinginan untuk memotret. Kebiasaan ini memberi pelajaran bahwa setiap insan tidak bisa lepas dari “hasrat merekam”. Maka ketika foto telah dihasilkan, proses berikutnya disebarkan untuk orang lain atau disimpan untuk sendiri. Beberapa di antara kita bahkan melakukan seleksi, menghapus yang dirasa kurang layak atau berpotensi menimbulkan persoalan, atau dirasa tidak sesuai estetika pribadi.

Budaya silaturahmi lebaran ke sebuah dusun Mayungan Bantul. Dokumentasi Mikke Susanto.

Hubungan antara foto dan momentum lebaran menjadi tema yang luar biasa, estetik, dan memberi banyak pelajaran. Selain lebaran memunculkan momentum silaturahmi yang dapat dicatat sebagai warisan budaya Nusantara, juga memberi kesempatan pada kita sebagai kreator. Karena itulah, setiap orang dapat menyebut diri sebagai “seniman”: menciptakan rekaman, mengarang cerita atau menyusun narasi atas foto yang dihasilkan. Karena itulah saya pun ingin menulis tentang ini semua.

Lima Prinsip Arsip Lebaran

Memotret pada dasarnya adalah praktik–bahkan budaya–merekam yang tumbuh secara alami, tanpa perlu diatur. Dari selembar foto, terbuka berbagai tanda dan makna tentang apa yang kita lakukan, kita hadapi, bahkan hal-hal yang tidak selalu kita sadari atau kita sukai. Dari prinsip tersebut dan rangkaian lebaran kami di Bantul, Magelang, Temanggung dan Solo muncul beberapa pemikiran tentang arsip foto yang menarik untuk dicatat. Prinsip-prinsip ini terbentuk dari pertemuan antara pengalaman dan refleksi teoretis yang selama ini saya pelajari.

Pertama, arsip foto lebaran bekerja sebagai penyusun ingatan kolektif. Arsip menyimpan apa yang terjadi, sekaligus menyaring apa yang ingin kita ingat. Dalam satu bingkai foto keluarga misalnya, kita melihat formasi yang nyaris seragam dari tahun ke tahun: orang tua di tengah, anak-anak di sisi, senyum diatur, dan tubuh dirapatkan. Justru dalam repetisi itulah waktu tampak nyata hadir. Ada yang menua, ada yang bertambah, dan ada pula yang absen. Foto lebaran yang rutin itu adalah konstruksi ingatan yang sekaligus mengandung kehilangan.

Kedua, arsip foto lebaran mengandung performativitas kebahagiaan. Banyak foto dihasilkan dalam situasi yang telah “dipersiapkan”, misalnya pakaian terbaik, ruang ditata, ekspresi diseragamkan. Kita seolah sepakat bahwa lebaran harus tampak bahagia, rapi, dan harmonis. Di satu sisi, fotografi bertugas merekam realitas. Di sisi lain, memproduksi citra tentang keluarga ideal. Apa yang tersisa di luar bingkai, seperti perdebatan kecil, pertengkaran, kelelahan perjalanan mudik, atau kecanggungan relasi tidak ikut terekam, meskipun tetap menjadi bayangan yang diam-diam menyertainya.

Ketiga, arsip foto lebaran adalah arsip afektif. Rekaman yang berhubungan dengan emosi. Ketika kita membuka kembali foto Lebaran 2026 di kemudian hari, yang muncul macam-macam, mulai dari visualisasi sampai sensasi: suara tawa, aroma makanan, atau bahkan rasa kehilangan. Foto menjadi pemicu ingatan yang melampaui dirinya sendiri, menghubungkan masa kini dengan masa lalu, sekaligus membuka kemungkinan tafsir di masa depan. Arsip tidak lagi benda mati. Fungsinya sebagai medium hidup yang terus diproduksi ulang oleh pengalaman personal.

Makan bersama selama lebaran di Solo tak mesti di meja. Dokumentasi Mikke Susanto.

Berebut makan saat lebaran sebagai bentuk keakraban. Dokumentasi Mikke Susanto.

Keempat, karena sekarang semua merekam menggunakan gawai, maka terdapat pergeseran medium dan praktik pengarsipan. Jika dulu album keluarga menjadi ruang utama penyimpanan, kini galeri digital mengambil alih fungsi tersebut. Arsip menjadi lebih cair, mudah digandakan, dan cepat disebarkan. Namun di balik kemudahan itu, muncul persoalan baru: tsunami citra. Tidak semua foto memiliki daya ingat yang sama kuat. Sebagian akan tenggelam dalam tumpukan file, terlupakan sebelum sempat dimaknai. Dengan kata lain, kelimpahan justru berpotensi mengaburkan nilai arsip itu sendiri.

Kelima, arsip foto lebaran juga merekam identitas dan perubahan sosial. Pakaian yang dikenakan, latar ruang, hingga cara berpose mencerminkan selera, kelas sosial, bahkan aspirasi kultural. Lebaran 2026 misalnya, memperlihatkan kecenderungan gaya yang semakin hibrid: tradisi dan modernitas bertemu dalam satu bingkai. Dari sini kita dapat membaca bagaimana masyarakat terus bernegosiasi dengan identitasnya, dan fotografi menjadi salah satu medium yang paling jujur sekaligus paling manipulatif.

Merawat Memori, Meruwat Silaturahmi

Ketika gawai kita telah terisi ribuan foto, apa yang mesti dilakukan? Setidaknya ada tiga aksi yang penting terkait hal ini. 

Langkah mendasar adalah melakukan “kurasi”: pilih foto yang layak disimpan bukan hanya karena “bagus”, tetapi karena memiliki nilai ingatan, relasi, dan konteks yang jelas. Singkirkan yang redundan atau berpotensi problematis (terutama terkait privasi dan persetujuan). Langkah kedua, “pemeliharaan” arsip: beri penamaan yang sistematis, tambahkan keterangan waktu dan peristiwa, serta lakukan pencadangan di lebih dari satu media agar tidak hilang dalam tsunami data digital. 

Ketiga, pikirkan penggunaan yang bertanggung jawab, apakah foto akan dibagikan, disimpan, atau bahkan dimanfaatkan sebagai bahan refleksi kultural. Setiap pilihan membawa konsekuensi makna. Ingat, perlakukan foto lebaran bukan semata sebagai gambar, tetapi jadikan sebagai arsip hidup, medium dan cara kita merawat ingatan sekaligus menghormati mereka yang ada di dalamnya.

Pameran foto di dinding rumah eyang di dusun Berokan Magelang sebagai sarana silaturahmi. Dokumentasi. Mikke Susanto.

Pada akhirnya, arsip foto lebaran mengajarkan bahwa setiap gambar menyimpan lapisan makna. Di dalamnya bercampur antara harapan, kebahagiaan, bahkan kecemasan. Dalam satu foto, kita dapat melihat apa yang sengaja ditampilkan sekaligus apa yang disembunyikan. Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika foto disebarkan melalui media sosial, karena berpotensi menghapus batas ruang privat, membuka peluang penyalahgunaan, serta memicu kesalahpahaman atau disinformasi.

Lebaran 2026 baru saja usai, tetapi arsip foto kita terus hidup. Foto-foto itu menunggu untuk dilihat, ditafsirkan, bahkan dipahami kembali. Agar tetap membawa makna, berelasi, dan meninggalkan jejak yang melampaui usia. Karena itu, foto lebaran tak hanya berhenti dirawat agar lestari, melainkan juga mengajak kita meruwat silaturahmi: menjaga hubungan, menghormati ingatan, dan memastikan bahwa yang kita abadikan bukan sekadar bayangan. Sebab pada akhirnya, perlahan namun pasti, foto-foto itulah yang mengingat bahwa kita pernah ada dengan segala kisahnya. +++

 

*Penulis adalah kurator seni, kolektor arsip, dan staf pengajar Mata Kuliah “Arsip dan Dokumentasi Seni” di Prodi Tata Kelola Seni FSRD ISI Yogyakarta