Pertarungan di Ruang Putar

Oleh Tonny Trimarsanto*

 

Saat itu, saya tidak terlalu ingat persis tahunnya, namun maaf saya tetap ingin ceritakan suasananya, soal kegudahan yang belum terjawab. Suatu hari, saya dikontak oleh penyelenggara Q Film Festival. Mereka ingin memutar filem saya, yang bertema minoritas gender. Dengan senang hati, saya menyampaikan kesediaan untuk diputar dalam program festival mereka. Sejak awal saya selalu yakin, setiap filem dikerjakan untuk bisa menjangkau sebanyak banyaknya penonton, mereka yang rindu untuk sebuah perjumpaan percakapan dan apresiasi.

Saya mengirimkan filemnya, berharap segera bisa di-preview oleh teman teman penyelenggara festival. Namun, mendekati hari H pelaksanaaan festival, saya tidak mendapati kabar bahwa sebuah festival akan diselenggarakan secepatnya sesuai jadwal. Ragam update apa saja tidak saya dapatkan informasinya, mulai dari program, filem filem apa saja yang akan diputar sampai pula pada kapan pastinya festival filem itu akan dilaksanakan. Semuanya penuh dengan tanda tanya. Apakah benar benar akan dilaksanakan festival filem ini, atau batal? Saya terus bertanya. 

Kala itu, saya bertanya kepada John Badalu selaku bagian dari tim festival tersebut, ada apakah, seperti apa kondisi sesungguhnya. Karena semua menghadirkan tanda tanya sekaligus teka teki, menyimpan rasa ingin tahu yang sungguh besar. Menjelang pelaksanaan festival, ternyata ada banyak peristiwa di berbagai wilayah Indonesia, soal penggrebegan kepada kaum minoritas LGBT (Lesbian Gay Binary dan Transeksual), juga banyak momen momen kejutan yang “menaikan” popularitas LGBT ke ruang publik, yang menggundang sinisme tak seimbang, stigma dan itu hanya dalam satu perspektif saja.  

Kejutan nampaknya tak bisa dihindari. Tiba tiba saya mendapatkan pesan personal langsung dari panitia festival filem, bahwa festival akan dilaksanakan pada waktu tanggal seperti yang sudah disampaikan. Namun, soal venue pelaksanaan festival, masih menunggu dan hanya akan di-share beberapa jam sebelum pelaksanaan festival, lewat sebuah grup aplikasi. Wah ini sungguh ajaib. Seperti sebuah gerakan bawah tanah, gerilyawan yang bergerak merangkak di lorong gelap, agar sulit dilacak dan dideteksi? Antara menabrak sebuah pertanyaan besar, sekaligus telah menarik saya pada sebuah ruang bermain yang mengasyikan. Bukankah teka teki itu penuh tanda tanya sekaligus menyimpan misteri? 

Saya sangat beruntung, bahagia dan senang pernah mengalami peristiwa itu. Momen tersebut telah mengajak saja pada sebuah petualangan mendebar, juga kognitif baru, bahwa membuat karya untuk kemudian menghadirkan pada konteksnya membutuhkan siasat strategi. Bukan soal distribusi yang aman ditengah situasi yang tidak bersahabat. Tetapi telah menghadirkan sebuah peta baru, bahwa menjadi pembuat filem itu butuh berkolaborasi, strategi agar karyanya terdistribusikan secara kondusif. Bisa di-apresiasi pada sebuah ruang yang aman, untuk bisa memercikan dialog dialog didalamnya.

Sebuah pengalaman ternyata bisa repetitif. Tetapi dengan suasana dan lokasi yang berbeda. Tahun 2025, tiba tiba saya diundang ke Bangkok LGBT International Film Festival, mereka mengundang filem Under the Moonlight untuk diputar dan diskusikan. Saya hadir, pada saat pemutaran, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan penonton. Tiket tontonan sold out, banyak yang penasaran dan akhirnya hadir untuk mengetahui lebih dalam pengalaman pengalaman saya, sekaligus membedah pembacaan  tentang minoritas waria di Indonesia.

Salah seorang founder festival itu, langsung mengungkapkan pernyataan tak terduga kepada saya, selepas acara pemutaran dan sesi tanya jawabnya. Ternyata festival Bangkok LGBT International Film Festival tersebut, adalah peristiwa yang didukung oleh sebuah lembaga di Tiongkok. Lalu pertanyaannya kenapa festival ini dilaksanakan di Bangkok, rasa ingin tahu selanjutnya ini muncul. Alasannya, ternyata di Tiongkok sulit untuk melaksanakan festival serupa karena gelombang penolakan sekaligus konstitusi negara cukup ketat.  Lokasinya dialihkan dari sistem yang represif ke sistem yang lebih longgar. 

Baik Q Film Festival ataupun Bangkok LGBT Film Festival, menyodorkan beberapa hal yang terus saya pertanyakan. Kenapa festival harus bergerilya, berpindah pindah, merayap, apakah aktivitas ini berpotensi mengancam kuasa? Ketika Q Film Festival hilang lalu muncul 100% Manusia Film Festival yang mengusung energi yang sama, tetap saja menghadirkan serangkaian kegelisahan yang terus menerus muncul. 

Festival filem menjadi sebuah ruang perjumpaan lanjutan, ketika seorang sutradara menyelesaikan filemnya, dan bertemu dengan penontonnya. Festival filem pada banyak terminologi seringkali dipahami sebagai sebuah ruang otonom, yang pelaksanaannya didorong oleh rasa keberanian untuk bisa menggerakan akal sehat. Premis yang di dalamnya ada partisipasi dan dialog. Akal sehat yang terus menerus mengalami pembaruan sejak dikembangkan pada abad 17, dengan memberikan penekanan pada komunikasi, keberdayaan dan emansipasi. Semangat inilah yang senantiasa melatarbelakangi ragam penyelenggaraan peristiwa festival filem. 

Manakala percakapannya berangkat dari ekspresi keberdayaan kreatif, maka festival filem mengakomodasi keintiman untuk membangun diskusi dan dialog. Ragam hal bisa dipercakapkan dari deretan filem yang diputar, ataupun program yang didesain oleh para kurator. Banyak festival filem fisik dibangun dan dikembangkan di tanah air, sebagai bagian dari bagaimana mekanisme dialog filem-publik dan sutradaranya terjadi. Juga akan menjadi justifikasi dari sebuah ekosistem sedang-tengah berjalan (sekalipun samar samar). 

Festival akan bergantung pada tersedianya ruang publik, sebagai arena untuk presentasi. Akan tetapi, untuk saat ini daya jelajah pada aspek ke-publikan tidak lagi hanya berada dalam pagar definisninya yang fisik dan bisa disentuh, berhadapan langsung saja. Lompatan menggunakan cyberspace, sebagai sebuah ruang terbuka baru menjadi bagian dari praktek praktek bagaimana sebuah festival dijalankan. Tengoklah festival filem online, yang jumlahnya tak kalah menjamur, sebagai kantong kantong dialog yang terus menerus mempunyai dinamisasi yang unik dan menjadi trend pasca pandemi covid. 

Rasionalisasi terus menerus menempel pada definisi kepublikan sebuah festival. Sifatnya menjadi lebih terbuka, umum, terakses, tak lagi bertubuh fisik. Ke-publikan telah mencair pada ruang ruang personal yang ada dalam genggaman setiap individu. Setiap individu bisa mengakses tanpa batasan fisik, fisik non fisik seakan telah mencair sebagai ruang apresiasi yang terus bertumbuh. 

Konon, manusia itu creatura publica, makhluk publik. Ketika sendiri akan menjadi personal individu. Tetapi manakala berkerumun, maka ia mempunyai definisinya yang baru, dengan konsekuensi sosial politis yuridisnya, karena akan dikaitkan dengan aspek aspek kepublikan.  Meminjam kawan kawan new left, maka pada setiap ruang publik akan ada negoisasi wacana, demikian menurut Habermas. Atau kalau meminjam kacamata pemikir Chantal Matte, maka ruang publik itu adalah sebuah medan pertarungan wacana, ruang yang tak pernah harmonis, lantaran pertarungan abadi akan terus bersambung: antara hegemoni dengan yang terhegemoni.

Sampai di sini, apakah sesungguhnya terjadi pada setiap festival filem. Sebuah pertarungan, pertempuran wacana? Bukankah pada diskursus yang lebih jeli, festival filem itu sesungguhnya menyimpan sebuah ledakan, karena ada begitu banyak pertempuran dan pertarungan yang sengit untuk membentuk opini dan wacana? Pertarungan wacana ideologis atas nama presentasi karya kreatif. Dibalik proses kreativitas ini, soal dialog keberdayaan dan kesetaraan sedang diperjuangkan. Negoisasi yang berjalan terus menerus, tanpa lelah telah diupayakan oleh ruang ruang presentasi festival. 

Jika ditilik lebih dalam, dalam tubuh filem itu ada kekuatan, kekuasaan dan kebenaran. Setiap karya yang saya kerjakan, selalu memojokkan saya pada bagaimana bertahan dalam sebuah medan pertempuran.Filem dokumenter bukan sekadar fakta yang men-sublimkan kebenaran dan kekuasaan. Filem dokumenter selalu mengakumulasikan soal negoisasi tentang politik, ingatan dan kebijakan. Negoisasi yang selalu dibawa oleh pembuat filem manakala berhadapan dengan kuasa, dan berteman dengan subyeknya. 

Negoisasi segitiga yang tak pernah selesai, ada upaya untuk menguji kembali soal perspektif kebenaran, apa benar memang demikian benar benar obyektif, atau sekadar peristiwa belaka. Ketika filem selesai saya kerjakan kemudian diundang dalam sebuah festival filem, maka bagan yang terbentuk adalah adanya relasi dialogis film, penonton pada konsteks peristiwanya. Soal klaim kebenaran atau itu makna kebenaran, akan benar teruji pada karya filem yang lahir.

Ketika filem saya diputar di sebuah festival, maka yang terjadi adalah imbas tentang agenda setting yang terbentuk, soal legitimasi kekaryaan, sekaligus tawaran konstruksi narasi yang bisa saya lontarkan. Festival, rasa rasanya telah menjadi ruang untuk menyuarakan ragam isu sensitif yang tak bisa terakomodasi pada ruang publik yang lain. Suara suara yang tenggelam dan dinyatakan tidak penting untuk dipercakapan. Dalam kacamata kaum chauvinis, jelas ruang dialog tentang minoritas, ketertindasan, hak hak gender, problem postcolonial, soal supremasi yang jalan terus, ironi migrasi tak pernah mendapatkan ruang untuk tumbuh. 

Sekalipun festival filem adalah ruang pertempuran wacana, festival juga dapat dipahami sebagai lorong cepat untuk mendistribusikan ide filem pembuatnya. Sebuah arena dialektis problem yang buntu, sebuah panggung legitimasi, pun sebagai sebuah medan lapangan kreatif yang tak berujung untuk membangun dialog. 

Kenapa penting untuk mencurigai filem filem yang ada di festival? Apakah filem itu subversif, mengancam? Bisa jadi benar, soal sensor untuk filem dalam kacamata chauvinis kuasa, penting untuk dijalankan, bahkan dengan tangan besi. Sensor adalah alat, kalau dipahami sebagai sebuah logika rasional maka alat itu boleh digunakan atau dibuang saja. 

Pengalaman dalam membuat filem, kemudian diundang ke festival filem, saya selalu merasa bahwa sedang memainkan sebuah pertarungan pertarungan baru, karena saya membuka dialog dengan penonton dan pemilik kuasa wacana. Pertarungan terkadang mendebarkan, butuh strategi untuk bisa berkelit. Selalu saja ada banyak jalan berkelit untuk bisa mem-publik- kan isu isu yang tak pernah terdengar. 

Sekali lagi, festival filem itu kanal, lorong panjang tanpa ujung. Satu ditutup maka jalan lorong lain akan dicari. Pertarungan abadi tak akan pernah berakhir*****

 

*Tonny Trimarsanto, sutradara filem, bergiat di Rumah Dokumenter Klaten fokus penguatan kapasitas   pada filem filem dokumenter