Benturan Keyakinan dalam Vikings: Valhalla
Oleh Bambang Supriadi*
Vikings: Valhalla merupakan serial yang dirancang oleh Jeb Stuart dan Michael Hirst, diproduksi oleh MGM Television untuk Netflix, dan dirilis pada tahun 2022. Tiga musim dengan dua puluh empat episode itu membawa penonton ke awal abad kesebelas, ke sebuah masa ketika dunia Viking berdiri di ambang perubahan besar. Namun serial ini tidak hanya menghadirkan sejarah sebagai rangkaian peristiwa. Ia menghadirkan sejarah sebagai ruang tafsir, sebagai medan di mana iman, kekuasaan, dan identitas saling bertaut dan saling menguji.
Dalam perspektif kajian film, teks audiovisual selalu bekerja melalui pilihan. Ia memilih sudut pandang, memilih cahaya, memilih tubuh siapa yang ditempatkan di pusat bingkai. Seperti diingatkan oleh Stuart Hall, representasi adalah proses produksi makna. Dengan demikian, konflik antara paganisme dan kekristenan dalam serial ini bukan sekadar reproduksi fakta historis, melainkan konstruksi sinematik yang mengodekan posisi ideologis tertentu. Kompleksitas narasi serial modern sebagaimana dibahas oleh Jason Mittell memungkinkan konflik tampil berlapis, tidak sederhana, dan terus bergerak dalam ruang negosiasi.
Di pusat konflik itu berdiri Freydís yang diperankan oleh Frida Gustavsson. Ia digambarkan sebagai simbol tokoh yang teguh mempertahankan iman leluhur di tengah arus kristenisasi yang kian kuat. Tubuhnya sering ditempatkan sebagai poros visual. Tatapannya lurus, rahangnya mengeras, posturnya tegak. Karakter ini berfungsi bukan hanya sebagai agen naratif, tetapi sebagai simbol resistensi kultural.
Tokoh Freydís dalam tradisi saga Nordik dikenal sebagai figur perempuan yang kuat, keras, dan kontroversial. Ia muncul terutama dalam dua naskah utama, yaitu Saga of the Greenlanders dan Saga of Erik the Red. Dalam kedua teks ini, Freydís digambarkan sebagai putri dari Erik the Red dan saudara dari Leif Erikson.
Secara umum, Freydís merepresentasikan ambiguitas karakter dalam tradisi saga: ia adalah figur perempuan yang melampaui batas peran domestik, berani, strategis, tetapi juga keras dan penuh intrik. Tokohnya memperlihatkan bahwa dalam kosmologi Viking, perempuan pun dapat menjadi agen aktif dalam ekspedisi, konflik, dan pembentukan sejarah kolektif.

Ilustrasi 1. Karakter Fredys .Vikings: Valhalla. Netflix, 2022.
Ilustrasi tersebut menampilkan Freydís dalam medium shot dengan latar yang kabur. Penempatan ini penting karena mendukung analisis mengenai tubuh sebagai teks visual. Komposisi yang memusatkan Freydís di tengah bingkai menegaskan posisinya sebagai pusat konflik ideologis.
Konflik keimanan dalam serial ini tidak hanya tampil dalam pertempuran, tetapi juga dalam diplomasi dan negosiasi kuasa. Pertemuan antara Canute dan Paus memperlihatkan bagaimana otoritas spiritual Gereja menjadi sumber legitimasi politik. Ruang sakral divisualisasikan dengan komposisi simetris dan hierarki ruang yang tegas. Tubuh raja Viking tampak harus menyesuaikan diri dengan tata visual gerejawi yang megah. Agama hadir sebagai institusi yang memberi pengesahan sekaligus kontrol.

Ilustrasi 2. Canute, tokoh Viking, menemui Paus untuk memperoleh legitimasi gerejawi atas kekuasaannya. Vikings: Valhalla. Netflix, 2022.
Penempatan elemen visual karakter memperlihatkan pertemuan Canute dengan Paus dalam ruang yang luas dan formal. Setelah analisis komposisi dan relasi kuasa visual dipaparkan, gambar tersebut hadir sebagai penegasan atas legitimasi religius dan politik yang sedang dinegosiasikan. Pengambilan gambar dengan jarak over the shouder tidak semata persoalan teknis, melainkan penanda jarak status. Perspektif ini menempatkan salah satu figur lebih dominan dalam bidang pandang, sementara figur lain tampil sebagai pusat otoritas yang dihadapi. Sehingga hierarki terbaca melalui susunan ruang, arah tatap, dan tinggi rendah posisi tubuh, serta bentangan jarak.
Pada Musim 2, Episode 3, konfrontasi dibuka dengan Freydís berdiri di hadapan komunitasnya, menghadapi kelompok misionaris Kristen yang datang untuk menegaskan dominasi iman mereka. Dengan suara tegas ia menyatakan, “Our gods have guided us for generations; we will not abandon them,” yang berarti bahwa dewa dewa leluhur telah membimbing generasi demi generasi dan tidak akan ditinggalkan. Seorang misionaris segera membalas, “Your gods are false! Submit or face the consequences,” sebuah ancaman yang menegaskan klaim kebenaran tunggal sekaligus tuntutan untuk tunduk. Pertukaran ini tidak sekadar adu argumen, melainkan artikulasi identitas yang dipertaruhkan di ruang terbuka.
Interaksi tersebut menghadirkan dilema moral yang lebih kompleks, yaitu pertaruhan antara keselamatan fisik komunitas dan keberlangsungan identitas budaya. Ancaman yang dilontarkan menegaskan bagaimana agama beroperasi sebagai alat kontrol sosial, bukan semata sebagai ajaran spiritual. Dalam momen itu, pilihan untuk bertahan pada iman berarti membuka kemungkinan penderitaan, bahkan kematian.
Konfrontasi yang lebih langsung kemudian dipertegas melalui bahasa visual. Kamera tidak mengambil posisi netral. Penempatan tubuh yang saling berhadapan membangun jarak status sekaligus jarak emosional. Susunan visual menyerupai duel, sementara sudut pandang kamera menentukan siapa yang menguasai ruang simbolik. Tatapan yang saling mengunci, intonasi yang meninggi, serta jeda yang tertahan sebelum kalimat berikutnya terucap, menciptakan ketegangan yang seolah menggantung di udara. Dalam susunan ruang seperti itu, konflik tidak hanya terdengar melalui kata kata, tetapi juga terlihat melalui bagaimana tubuh, tata cahaya, dan perspektif menyusun makna tentang kuasa dan perlawanan.


Ilustrasi 3. Perseteruan ideologi pada dialog antara misionaris dengan Freydís.
Vikings: Valhalla. Netflix, 2022.
Fenomena ini sejalan dengan teori representasi Stuart Hall dalam bukunya Representation: Cultural Representations and Signifying Practices, yang menyatakan bahwa media tidak hanya menampilkan fakta, tetapi juga membingkai realitas sosial dan ideologi melalui tanda dan simbol. Dalam konteks adegan ini, pernyataan Freydís menjadi tanda keteguhan identitas pagan, sementara seruan para misionaris berfungsi sebagai simbol dominasi ideologi Kristen. Interaksi antara tanda dan simbol tersebut membentuk konstruksi sosial yang dapat ditafsirkan penonton sebagai benturan nilai, kekuasaan, dan identitas budaya sebagaimana ditegaskan Hall (1997).
Ketegangan yang sebelumnya terbangun melalui perseteruan dialog dan benturan keyakinan itu kemudian beralih ke ranah yang lebih konkret dan destruktif. Konflik ideologis menjelma menjadi aksi fisik yang mempertaruhkan hidup dan mati.Armada yang datang dipimpin oleh misionaris Kristen yang tidak hanya membawa kitab suci, tetapi juga mengiringinya dengan pasukan militer lengkap dengan persenjataan dan formasi tempur.
Kehadiran mereka menandai bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah, melainkan keyakinan dan identitas. Penaklukan dilakukan atas nama iman, sementara perlawanan digerakkan demi mempertahankan kepercayaan leluhur. Freydís dan komunitasnya berdiri di ambang pilihan tragis antara tunduk atau musnah.


Ilustrasi 4. Ekspansi pihak Kristen ke wilayah etnis Viking. Vikings: Valhalla. Netflix, 2022.
Perlawanan mencapai puncak dramatiknya pada adegan di tebing ketika pasukan Viking menjatuhkan batu ke kapal musuh yang berlabuh di dermaga. Adegan ini dibuka dengan lanskap tebing yang tinggi dan keras, menghadirkan kontras antara keluasan alam dan rapuhnya kapal kapal yang terperangkap di bawahnya. Penempatan elemen visual memperlihatkan garis vertikal tebing yang menjulang, sementara kapal kapal musuh tampak kecil dan rentan di bawahnya.
Dari tempat persembunyian, Freydís bersama para pendukungnya mengamati pergerakan lawan dengan kesadaran bahwa satu keputusan akan menentukan nasib generasi berikutnya. Ranjau batu dipasang di atas tebing dan pada saat yang tepat dijatuhkan, menghantam kapal kapal yang berlabuh dan mengubah ancaman menjadi puing. Dentum batu yang jatuh bukan hanya bunyi kehancuran fisik, tetapi gema tekad untuk mempertahankan iman hingga titik terakhir.
Variasi sudut penempatan kamera antara high angle dan low angle membangun konstruksi makna yang tegas. High angle yang diambil dari sudut pandang pasukan Viking merepresentasikan keunggulan taktis sekaligus kontrol atas medan. Kamera seolah mengadopsi perspektif strategis para pejuang, menjadikan kapal kapal musuh tampak kecil, terperangkap, dan rentan. Sudut ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga ideologis karena membingkai pasukan Kristen sebagai pihak yang kehilangan kuasa dalam ruang pertempuran.
Sebaliknya, low angle pada Freydís ketika memberi komando membangun citra kepemimpinan, keberanian, dan otoritas moral. Dalam beberapa shot, kamera ditempatkan rendah dan menghadap ke atas sehingga tubuhnya tampak dominan di dalam frame. Skala visualnya diperbesar dan menempatkannya sebagai pusat otoritas naratif sekaligus simbol legitimasi atas tindakan perlawanan.
Perubahan sudut pandang tersebut menciptakan dinamika visual yang mempertegas relasi kuasa antara penyerang dan pihak yang diserang. Sinematografi, sebagaimana ditegaskan oleh Blain Brown dalam Cinematography: Theory and Practice, membentuk makna dan emosi melalui pilihan visual. Dalam adegan ini, sudut kamera tidak hanya mengarahkan perhatian penonton, tetapi juga mengonstruksi posisi moral dan ideologis para karakter di dalamnya.





Ilustrasi 5 A – E. (Urutan dari kiri atas ke kanan dan kebawah) Sudut penempatan kamera pada susunan shot pada adegan Freydís menyerang musuh dengan ranjau batu. Vikings: Valhalla. Netflix, 2022.
Pada akhirnya, tulisan ini secara keseluruhan tidak semata berbicara tentang siapa yang kalah dan siapa yang menang. Bukan juga wacana tentang pertentangan ras atau superioritas identitas tertentu. Namun, tulisan ini mencoba menawarkan gambaran tentang perlawanan sebagai sikap eksistensial yang dibangun melalui bahasa visual, di mana sinematografi menjadi medium yang menafsirkan dan menghadirkan ekspresi tersebut..
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society.





