Ekosistem Kreatif Masuk ke Ruang Cendekia GIK UGM

Oleh Ahmad Zamzami* Dalam beberapa tahun terakhir, Cherry Pop Festival berkembang menjadi salah satu festival musik independen yang cukup menonjol di Indonesia. Berangkat dari skena musik alternatif Yogyakarta yang sejak lama dikenal dinamis, festival ini tidak hanya menghadirkan panggung pertunjukan musik, tetapi juga membangun jejaring budaya yang lebih luas di sekitarnya. Kehadiran berbagai komunitas kreatif mulai dari […]

Pertunjukan Tanpa Sutradara: Ritual, Liminalitas, dan Performatifitas Tubuh di Pantai Parangkusumo

Oleh Ramanda Noviandri* Angin malam di Pantai Parangkusumo terasa lebih dingin dari biasanya. Pasir masih menyimpan sisa panas siang hari, tetapi udara laut yang bergerak pelan membuat tubuh merinding. Malam itu adalah Selasa Kliwon, salah satu malam yang dianggap memiliki energi spiritual kuat dalam kosmologi Jawa.  Saya datang bukan sebagai peziarah, juga bukan sebagai wisatawan. […]

Ketika Amir Hamzah Hijrah Ke Panggung Wayang Kulit

Oleh Andhi Sulistya Putra* Sekuat apa pun seni tradisi mempertahankan akar budayanya, pada akhirnya ia tetap akan berhadapan dengan dinamika zaman yang terus berubah. Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya populer secara perlahan membentuk pola pikir serta cara masyarakat memandang dan menikmati seni tradisi. Dalam situasi ini, tentunya seni tradisi tidak hanya berurusan dengan pelestarian, namun […]

Ketika Bunyi Tidak Lagi Datang Dari Depan: Teknologi, Ruang dan Cara Baru Mendengar

 Oleh Mukhlis Anton Nugroho* Saya tidak pernah menyangka bahwa salah satu perubahan paling mendasar dalam kebudayaan kita hari ini justru terjadi melalui cara kita mendengar. Ia tidak datang sebagai revolusi besar yang diumumkan dengan gegap gempita, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan yang pelan-pelan menempel pada tubuh. Kita mendengar musik melalui earbud yang langsung menancap di telinga, […]

Godi Suwarna: Sang “Dalang” Kata dari Astana Gede

Oleh Angin Kamajaya* Jika karya sastra Sunda kerap dibayangkan sebagai ruangan yang tenang dan santun, Godi Suwarna adalah orang yang masuk ke ruangan itu sambil menari, berteriak, dan memukau semua orang. Lahir di Tasikmalaya pada 23 Mei 1956, Godi dikenal sebagai sastrawan serba bisa. Penyair, cerpenis, novelis, hingga dramawan. Namun, julukan yang mungkin paling tepat […]

Enlightened Javanese: Yasadipura, Ricklefs, dan Modernitas Jawa Abad ke-18

Oleh: Eko Yudi Prasetyo* Ada sesuatu yang tampak ganjil—bahkan nyaris kontradiktif—dalam cara M.C. Ricklefs berbicara tentang Yasadipura I, sebab Ricklefs pernah ikut menempatkan Yasadipura I pada puncak kanon pujangga keraton Jawa. Ricklefs sendiri secara eksplisit menulis bahwa ia pernah mendeskripsikan Yasadipura I sebagai “one of the greatest court poets in the history of Modern Javanese […]

Melacak Jejak Metateater Payung Hitam: Ketika yang Tersisa Hanya Tubuh

Catatan Herry Dim* SUATU ketika atau bisa juga seperti yang kita rasakan saat ini, bahwa tidak ada lagi yang kita miliki selain tubuh. Lakon seperti “Ben Go Tun” (Saini KM) yang mengeritik masalah sosial seperti penipuan, kebohongan, dan kolusi hingga “Menunggu Godot” (Samuel Beckett) yang di dalam psikologi kita seperti halnya menunggu datangnya keadilan1, itu […]

Ekologi Produser

 Oleh Wulan Pusposari* Butuh waktu satu minggu setelah program -Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan 2025 oleh JPPI dan Yayasan Kelola- berakhir untuk menuliskan refleksi ini. Saya perlu mengendapkan apa yang telah saya dengar, simak, dan perbincangkan. Forum tersebut terasa sebagai sebuah pertemuan yang mengguncang banyak hal fundamental dalam cara saya memahami kerja keproduseran. Untuk […]

Teater sebagai Pilihan Sikap: Alienasi Publik dan Masa Depan Kritik Seni

Oleh Eko Yuds* Catatan kecil dari malam ketiga puasa tetap menjadi pintu masuk yang paling jujur bagi kegelisahan ini. Saya menyempatkan diri berkunjung ke kediaman seorang teman—sosok yang menurut saya cukup menarik, cerdas, loyal, dan setia kawan. Kami berbuka dengan kudapan sederhana dan secangkir kopi yang aromanya seperti sengaja mengundang percakapan panjang. Dari obrolan ringan, […]

Utopia Pertunjukan: Ketika Seni Menolak Menjadi Sekadar Simulasi

Oleh Eko Yuds* Antara Tubuh Yang Hadir Dan Bayangan Yang Diproduksi Layer Apakah seni pertunjukan masa depan masih membutuhkan tubuh manusia, atau cukup layar, sensor, dan algoritma yang bergerak rapi seperti mesin kasir emosi. Dunia hari ini memproduksi pengalaman visual dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara waktu kontemplasi manusia justru semakin menyempit. Teknologi […]