Melacak Jejak Metateater Payung Hitam: Ketika yang Tersisa Hanya Tubuh

Catatan Herry Dim* SUATU ketika atau bisa juga seperti yang kita rasakan saat ini, bahwa tidak ada lagi yang kita miliki selain tubuh. Lakon seperti “Ben Go Tun” (Saini KM) yang mengeritik masalah sosial seperti penipuan, kebohongan, dan kolusi hingga “Menunggu Godot” (Samuel Beckett) yang di dalam psikologi kita seperti halnya menunggu datangnya keadilan1, itu […]

Ekologi Produser

 Oleh Wulan Pusposari* Butuh waktu satu minggu setelah program -Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan 2025 oleh JPPI dan Yayasan Kelola- berakhir untuk menuliskan refleksi ini. Saya perlu mengendapkan apa yang telah saya dengar, simak, dan perbincangkan. Forum tersebut terasa sebagai sebuah pertemuan yang mengguncang banyak hal fundamental dalam cara saya memahami kerja keproduseran. Untuk […]

Teater sebagai Pilihan Sikap: Alienasi Publik dan Masa Depan Kritik Seni

Oleh Eko Yuds* Catatan kecil dari malam ketiga puasa tetap menjadi pintu masuk yang paling jujur bagi kegelisahan ini. Saya menyempatkan diri berkunjung ke kediaman seorang teman—sosok yang menurut saya cukup menarik, cerdas, loyal, dan setia kawan. Kami berbuka dengan kudapan sederhana dan secangkir kopi yang aromanya seperti sengaja mengundang percakapan panjang. Dari obrolan ringan, […]

Utopia Pertunjukan: Ketika Seni Menolak Menjadi Sekadar Simulasi

Oleh Eko Yuds* Antara Tubuh Yang Hadir Dan Bayangan Yang Diproduksi Layer Apakah seni pertunjukan masa depan masih membutuhkan tubuh manusia, atau cukup layar, sensor, dan algoritma yang bergerak rapi seperti mesin kasir emosi. Dunia hari ini memproduksi pengalaman visual dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara waktu kontemplasi manusia justru semakin menyempit. Teknologi […]

Mengeja Gerak bersama Alexis Jestin

Oleh Razan* Jika gerak saya bayangkan sebagai kata, maka saya bayangkan pula proses menyusun gerak seperti ketika seseorang menata bahasa. Ada saat ketika ia terasa jelas, ada saat ketika ia terdengar ganjil, dan pada saat lain justru kosong. Pertanyaannya pun bergerak ke wilayah yang serupa: sejelas apakah gerak itu diucapkan, kata apa yang dipilih, dan […]

Juri Itu Jurig

Mengulik Penjurian Teater Oleh: Madin Tyasawan* Subjektivitas penjurian dan ketidakjelasan kriteria penilaian sering dianggap sebagai biang keladi kekisruhan dalam lomba teater. Persoalan klasik festival teater yang bersifat kompetisi (lomba) acap terjadi pada ranah penjurian. Bagi kelompok pemenang, juri disanjung sebagai dewa penolong. Buat yang kalah juri akan dianggap “jurig” (sebutan ‘hantu’ dalam bahasa Sunda), penjegal […]

Letupan Diksi di Bawah Bayang-bayang Negara

Oleh Wahyu Kris* Letupan diksi ‘kalcer’ dan ‘anjay’ yang terlontar di Pasar Monolog #4 berhasil menarik penonton yang sebagian memang Gen Z. Namun, tarikan lebih menohok ada pada diksi ‘konoha’ dan ‘mens rea’ yang perlahan menggiring mereka memasuki pusaran persoalan yang direproduksi negara.   Bertempat di Ruang Amphiteater Malang Creative Centre, Sabtu 24 Januari 2026, […]

Telaga Narcissus di “Your Curious Journey” Olafur Eliasson

Oleh Razan* Karya Olafur Eliasson “The Weather Project” saya sematkan pada catatan saya sebagai salah satu referensi ketika karya “ Fajar Di Ufuk Barat” sedang saya kerjakan pada tahun 2021. Referensi ini saya dapatkan dari mbak Melati Suryodarmo, guru yang selalu bermurah hati membagikan tajuk karya dan nama seniman yang menurutnya penting untuk diketahui dan […]

Teater Dalam Pembelajaran Mendalam (Mengulik Teater Pelajar)

Oleh: Madin Tyasawan* Kendala sistemik dan guru yang tak menguasai strategi pengajaran membuat teater kurang mendapat perhatian di sekolah. Kita akan berdecak kagum saat menyaksikan penampilan kelompok teater pelajar berlaga di Festival Teater Pelajar (FTP) yang digelar setiap tahun di Jakarta. Pada rerata penampilannya, mereka memiliki semangat bermain yang enerjik, tubuh yang luwes, dengan vokal […]

Seni Abad 21: Membosankan Atau Membebaskan?

Oleh Eko Yuds  Seni modern hidup di antara kebebasan dan kebingungan. Ia tak lagi terikat oleh bentuk, gaya, atau pusat, tetapi juga kehilangan arah dan makna. Dari kardus sabun Warhol hingga mural di jalanan Yogyakarta, seni abad 21 menatap dunia tanpa peta—kadang membosankan, kadang membebaskan. Inilah zaman ketika karya bukan lagi sekadar benda, tetapi pernyataan […]