Jejak Keluarga dalam Museum Antologi Puisi Korea
Oleh: Kim Young Soo*
Ketika ingin memahami apa itu puisi, kita mungkin akan mulai dengan membaca berbagai buku teori sastra. Namun, semakin banyak membaca, semakin kita menyadari bahwa tidak ada satu definisi pun yang dapat menjelaskan puisi secara utuh. Para penyair pun memiliki pandangan masing-masing tentang puisi. Bagi saya, puisi adalah karya sastra yang mempertemukan bunyi dan makna. Gema bahasa, irama, dan harmoni hadir di dalamnya, baik dalam bentuk yang terikat maupun bebas. Melalui pilihan kata, puisi menghadirkan gambaran yang seolah-olah dapat kita lihat dan rasakan. Bahasa puisi mampu menggugah perasaan, membangkitkan emosi dan rasa ingin tahu, serta memperkaya imajinasi dan pengetahuan pembacanya. Singkatnya, puisi merupakan cara penyair mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan gagasan melalui bahasa yang ringkas, berirama, dan kaya makna.
Melalui puisi, seorang penyair dapat menyampaikan pandangan hidup, keyakinan, pemikiran filosofis, dan berbagai persoalan kehidupan, termasuk hal-hal yang berada di antara dunia nyata dan dunia metafisis. Ada gagasan yang disampaikan melalui perumpamaan, metafora, atau cerita. Ada pula yang hadir sebagai renungan tentang hal-hal yang terlihat maupun yang tak kasatmata. Dalam puisi, kepekaan perasaan dan ketajaman pikiran bertemu melalui bahasa. Kumpulan puisi yang dihimpun dan diterbitkan dalam sebuah buku disebut antologi puisi. Jika diterbitkan dan disajikan secara daring, kumpulan tersebut dikenal sebagai antologi puisi elektronik atau e-book puisi.
Di Kabupaten Inje, Provinsi Gangwon, Korea Selatan, terdapat dua tempat menarik yang mungkin belum banyak dikenal. Keduanya berada tidak jauh dari Manhae Village, sebuah tempat yang cukup dikenal masyarakat Korea. Tempat pertama adalah Museum Kaligrafi Yeocho, sedangkan tempat kedua adalah Museum Antologi Puisi Korea. Museum Kaligrafi Yeocho menyimpan karya-karya Yeocho Kim Eung Hyeon (1927–2007), salah satu tokoh kaligrafi terkemuka Korea pada masa modern dan kontemporer. Menjelang akhir hayatnya, beliau membangun rumah di Kabupaten Inje, Provinsi Gangwon, dan menetap di sana hingga wafat. Sebagai bentuk penghormatan atas karya dan pengabdiannya, Pemerintah Kabupaten Inje mendirikan Museum Kaligrafi Yeocho yang diresmikan pada Juni 2013.
Tempat kedua yang memiliki kisah tersendiri adalah Museum Antologi Puisi Korea. Museum ini berdiri di tengah hutan pinus yang rindang. Bangunannya indah dan tidak terlalu besar, terdiri atas satu lantai bawah tanah dan dua lantai di atas permukaan tanah. Meski ukurannya relatif kecil, museum ini menyimpan sekitar 10.000 buku kumpulan puisi karya lebih dari 300 penyair, baik dari Korea maupun dari berbagai negara lain.

Kumpulan buku puisi yang menjadi bagian dari koleksi keluarga.
Museum Antologi Puisi Korea merupakan satu-satunya museum di Korea Selatan yang secara khusus mengoleksi antologi puisi. Museum yang berada di bawah naungan Yayasan Kebudayaan Inje (Inje Cultural Foundation) ini resmi dibuka pada 2014. Namun, kegiatan museum tidak terbatas pada penyimpanan buku. Sepanjang tahun, museum juga menyelenggarakan pameran, pertemuan akademis, dan berbagai kegiatan sastra. Dengan demikian, karya-karya yang lahir dari kerja keras dan ketekunan para penyair tidak hanya tersimpan di rak, tetapi juga terus hidup dan menjadi bagian dari kegiatan sastra.
Bagi saya, museum ini memiliki arti yang sangat pribadi. Di sinilah kini tersimpan kumpulan puisi karya empat penyair dari keluarga besar saya, termasuk karya saya sendiri. Buku-buku tersebut disumbangkan dalam dua tahap, yaitu pada 14 Juli 2021 dan 13 September 2026. Buku-buku yang kami sumbangkan terdiri atas satu buku karya ayah saya, penyair Kim Yoon Tae; lima buku karya paman saya, penyair Kim Yoon Sung; satu buku karya saudara sepupu ayah saya, penyair Moon Jong Soo; serta satu buku karya saya sendiri, Kim Young Soo, yang saya tulis bersama seorang penyair Indonesia.

Sampul buku kumpulan puisi karya Moon Jong Soo
Pada saat penyerahan buku-buku tersebut, seorang peneliti kuratorial museum secara resmi menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya museum menerima dan mendokumentasikan karya empat penyair dari satu keluarga. Tentu saja, hal ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Menurut informasi yang saya terima, tidak semua buku puisi dapat menjadi bagian dari koleksi museum. Buku-buku tersebut harus merupakan karya penyair yang telah diakui secara resmi melalui proses debut di dunia sastra dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan museum.
Berikut ini adalah buku-buku karya empat penyair dari keluarga saya yang kini menjadi bagian dari koleksi Museum Antologi Puisi Korea.
- Penyair Kim Yoon Tae (1921–2018)
“Kadang Mencabut Keselarasan, Menunjukkan Pelipatan Cahaya” terbit pada Januari 2006 dan merupakan kumpulan puisi pertama ayah saya. Sepanjang hidupnya, Kim Yoon Tae tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menekuni komposisi musik dan seni lukis. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Riset di Asosiasi Pertambangan Korea (Korean Mining Association) dan direktur penerbitan majalah bulanan “Mining Review”. Pada 1962, lagu ciptaannya yang berjudul “Lagu Para Penambang”, dengan lirik dan musik yang ditulisnya sendiri, disiarkan dalam program reguler KBS (Korean Broadcasting System). Bakat seninya juga tampak dalam bidang seni rupa. Beliau memperoleh sejumlah penghargaan dalam berbagai kompetisi seni rupa, termasuk kesempatan mengikuti pameran kelompok seni rupa Mokwoohoe pada 1976.
- Penyair Kim Yoon Sung (1926–2017)
Lima kumpulan puisi karya Kim Yoon Sung yang kami sumbangkan dan kini tersimpan di Museum Antologi Puisi Korea adalah sebagai berikut:
- “Potret Sendiri”, diterbitkan pada Juni 1978 oleh Hyundai Munhaksa.
- “Jalan Pulang”, diterbitkan pada Juli 1991 oleh Nanam Publishing.
- “Mimpi yang Tak Kunjung Terjaga”, diterbitkan pada Juli 1995 oleh Maeul.
- “Laut, Pohon, dan Batu”, diterbitkan pada Desember 1999 oleh Monthly Essay Publishing.
- “Biarlah Seperti Apa Adanya”, diterbitkan pada November 2013 oleh Maeul Publishing.
Selain kelima buku yang disumbangkan tersebut, Kim Yoon Sung juga memiliki sejumlah kumpulan puisi lainnya. Beberapa di antaranya adalah “Jalan Pegunungan yang Dapat Memandang Laut” (1959), “Firasat” (1970), “Elegi” (1973), “Musim Batu” (1981), dan “Cahaya Senja” (1999). Beliau juga menulis buku kritik dan teori puisi berjudul “Kampung Halaman Puisi”, yang terbit pada 1960.
Keterlibatan Kim Yoon Sung dalam dunia sastra telah dimulai sejak masa-masa awal setelah kemerdekaan Korea. Pada masa itu, beliau menjadi salah seorang pendiri Asosiasi Penulis Muda dan kemudian aktif dalam berbagai kegiatan kesusastraan. Beliau pernah menjadi pemimpin redaksi “Haedong Gongnon”, “Sastra Modern”, dan “Munhak Jeongsin”. Pada 1982, beliau terpilih sebagai anggota Akademi Seni Nasional Republik Korea dan menjadi anggota tetap Dewan Pengurus Asosiasi Penulis Korea serta menjabat sebagai wakil ketua Asosiasi Penyair Modern Korea.
Pada 1945, beliau mulai aktif berkarya bersama kelompok sastra “Baekmaek”, yang antara lain beranggotakan Jeong Han Mo dan Gu Gyeong Seo. Bersama kelompok tersebut dan sejumlah penulis lainnya, beliau menghasilkan banyak karya puisi, salah satunya berjudul “Bunga Krisan Liar”.
Puisi-puisi Kim Yoon Sung dikenal mampu mengajak pembaca merenungkan kehidupan sehari-hari dengan cara yang tenang. Beliau tidak mengandalkan kata-kata yang rumit. Justru melalui bahasa sehari-hari yang sederhana dan ungkapan yang terjaga, beliau menemukan keindahan yang kerap luput dari perhatian. Puisi-puisinya memperlihatkan perenungan mendalam dan kepekaan liris. Seiring perkembangan kepenyairannya, pencarian makna metafisis semakin terasa. Meski demikian, kesederhanaan bahasa, ketepatan ungkapan, dan kekuatan ekspresi puitis tetap menjadi ciri khas karya-karyanya.
- Penyair Moon Jong Soo (1941–sekarang)
“Meski Laut Dalam dan Langit Jauh”, edisi pertama, diterbitkan pada Februari 1995 oleh Hyejin Seogwan Publishing.Buku ini merupakan kumpulan puisi keduanya. Sebelum dikenal sebagai penyair, Moon Jong Soo memiliki perjalanan karier yang panjang di bidang hukum. Setelah lulus Ujian Hukum Negara Korea ke-16 untuk bidang hukum dan peradilan, beliau bertugas sebagai perwira hukum militer, kemudian diangkat menjadi jaksa. Dalam perjalanan kariernya, beliau pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Lembaga Pelatihan dan Pendidikan Kehakiman, Kepala Kejaksaan Kota Gwangju, dan Kepala Bagian Hukum di Kementerian Kehakiman. Setelah pensiun dari jabatan Kepala Kejaksaan Kota Incheon, beliau melanjutkan kiprahnya sebagai pengacara.
Kariernya sebagai penyair dimulai pada 1992. Saat itu, sejumlah karyanya, termasuk puisi “Suatu Hari di Bulan Juni”, terpilih dalam Penghargaan Penyair Baru ke-16 yang diselenggarakan oleh majalah “Sidae Munhak”. Pada 1993, beliau menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, “Menggenggam Seberkas Waktu”. Selain sibuk di bidang hukum dan sastra, beliau juga pernah menjadi penatua di Gereja Metodis Yongdu-dong, anggota Komisi Pemilihan Umum Nasional Korea, serta wakil ketua Yayasan Pembinaan Pemuda Kristen Korea. Beliau juga aktif dalam kelompok sastra “Sidae Si” dan “Siin Burak”.
- Penyair Kim Young Soo (1950–sekarang)
Saya menempuh pendidikan bahasa dan sastra Melayu-Indonesia di Universitas Hankuk Studi Asing (Hankuk University of Foreign Studies). Di universitas yang sama, saya kemudian melanjutkan pendidikan magister dan doktor di bidang sastra bandingan. Penelitian saya berfokus pada puisi-puisi Chairil Anwar, penyair Indonesia.
Perjalanan kepenyairan saya dimulai pada 2018, ketika saya menerima penghargaan Sastrawan Baru kategori puisi dari majalah sastra triwulanan “Changjak 21”. Enam tahun kemudian, pada 2024, saya menerbitkan antologi puisi berjudul “Merangkul Dua Takdir yang Saling Berpapasan”.

Sampul buku puisi karya Kim Yoon Tae.
Buku ini diterbitkan oleh Deulkkot Publishing, Korea, pada Oktober 2024. Ini merupakan kumpulan puisi pertama saya dalam dua bahasa, Korea dan Indonesia, yang saya tulis bersama Senny Suzanna Alwasilah, penyair dari Indonesia.

Sampul antologi puisi dwibahasa Korea–Indonesia karya Senny Suzanna Alwasilah dan Kim Young Soo.
Dr. Senny Suzanna Alwasilah adalah Ketua “Asian Women Writers Association”. Beliau pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra dan kini menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional Universitas Pasundan di Bandung, Indonesia. Buku yang kami tulis bersama ini merupakan antologi puisi dwibahasa Korea–Indonesia pertama di Korea Selatan yang lahir dari kolaborasi dua penyair. Antologi ini juga menjadi buku puisi berbahasa Indonesia pertama yang masuk ke dalam koleksi Museum Antologi Puisi Korea.

Gedung Museum Antologi Puisi Korea di Kabupaten Inje, Korea Selatan.
‘

Penutup
Bagi saya, keberadaan karya empat penyair dari satu keluarga di Museum Antologi Puisi Korea bukan sekadar tentang menyimpan buku. Di dalamnya tersimpan perjalanan hidup, ketekunan, dan kecintaan kami terhadap puisi. Saya berharap karya-karya tersebut akan terus meninggalkan kesan dan menyentuh hati para pencinta puisi, tidak hanya hari ini, tetapi juga pada tahun-tahun mendatang.
Saya berharap puisi-puisi tersebut dapat dinikmati oleh siapa saja, baik oleh pengunjung yang datang langsung ke museum maupun oleh pencinta sastra yang mengenal koleksinya melalui internet. Dengan begitu, puisi akan terus menjangkau pembaca, melampaui batas jarak dan waktu.
(Ditulis di Kota Sokcho, Korea 31 Oktober 2026)
Lampiran:
- Situs web Museum Antologi Puisi Korea: https://kpmuseum.kr/about/visit
- Alamat Museum Antologi Puisi Korea: 136 Manhae-ro, Buk-myeon, Kabupaten Inje, Provinsi Gangwon, Korea Selatan.
- Informasi mengenai Museum Antologi Puisi Korea merujuk pada situs resmi museum. Sementara itu, keterangan mengenai riwayat hidup para penyair, karya-karya yang diterbitkan, dan proses penyumbangan buku bersumber dari dokumentasi serta keterangan penulis dan keluarga.
- Telepon: +82-33-463-4082.
*Prof. Kim Young Soo, Ph.D. adalah seorang akademisi, profesor, dan penerjemah senior asal Korea Selatan yang mendedikasikan kariernya sebagai jembatan sastra dan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Dia dilahirkan pada tahun 1950 di Seoul, Korea Selatan. Dia berprofesi sebagai Akademisi, Profesor, dan Penerjemah Sastra.
Riwayat pendidikannya, seluruh jenjang pendidikan tinggi dia diselesaikan di kampus rumpun bahasa asing ternama di Korea Selatan, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS): Sarjana (S1) Jurusan Bahasa Malay-Indonesia; Magister (S2) Program Studi Kesusastraan Modern Indonesia, di mana dia secara khusus meneliti karya sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer; Doktor (S3) Jurusan Sastra Bandingan (Comparative Literature) dengan disertasi bertajuk “A Study on Chairil Anwar’s Poems with the Postcolonialistic View“.
Karier dan kontribusi sastra: Kim Young Soo aktif memfasilitasi hubungan bilateral kedua negara melalui jalur sastra, diplomasi, dan media. Penerjemah Lintas Negara: dia menjadi tokoh penerjemah karya esai untuk Komunitas SISAN di Korea Selatan, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto di Indonesia.
Kim Young Soo telah menerjemahkan berbagai buku ke dalam bahasa Korea maupun bahasa Indonesia, di antaranya: Antologi penyair Korea Choi Jun yang berjudul Orang Suci, Pohon Kelapa; Kumpulan puisi karya Moon Changgil berjudul Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api (diterjemahkan bersama Nenden Lilis Aisyah dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia).
Jalur Diplomasi & Media: Kim Young Soo sempat dipercaya menjadi penerjemah resmi pada KTT Korea-Indonesia 1981 (Presiden Chun Doo Hwan dan Presiden Soeharto) serta KTT Korea-Malaysia 1998. Kim Young Soo juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Indonesia di Radio Korea Internasional (KBS) dan melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden B.J. Habibie.




