kosistem Musik Klasik Kita Tidak Seindah Bunyi Musiknya

Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+), kompetisi musik klasik terbesar di Indonesia saat ini telah memasuki tahap akhir. Diselenggarakan di 10 kota sejak Agustus lalu, 7 kota telah terlewati, tinggal Surabaya (7 November), Denpasar, Bali (28 November) dan Jakarta (5 Desember), sebelum babak Grand Final di Jakarta, 11-13 Desember. Di semua kota Ananda Sukarlan bertindak sebagai juri didampingi oleh para musisi klasik muda, semua lulusan minimal S1, dari perguruan tinggi musik Amerika dan Eropa. Ananda sendiri selalu hadir di setiap kota dengan managernya, Chendra Panatan yang juga co-founder serta conceptor dari KPN+ serta direktur Ananda Sukarlan Center. Berikut bincang-bincang Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dengan sang komponis tepat setelah KPN+ di Bumi Serpong Damai, mewakili provinsi Banten, berakhir.

Ananda Sukarlan bersama para peserta Kompetisi Piano Nusantara Plus di Banten, 31 Oktober 2026.

Bagaimana kesan anda tentang pendidikan musik (klasik) di kota-kota yang anda kunjungi untuk Kompetisi Piano Nusantara Plus?

Ananda Sukarlan (AS) : Lumayan maju tapi belum merata, Surabaya dan Medan masih memegang supremasi musik klasik secara kualitas. Sudah banyak musisi klasik yang sudah kuliah dan lulus dari berbagai perguruan tinggi di Eropa (dengan ijazah asli loh, walaupun ada juga sedikit orang-orang yang mengaku memiliki gelar / ijazah dari perguruan tinggi yang belum ter-index di google). Hanya saja banyak yang kemudian “kecantol” dan berkarir di luar negeri, seperti pianis Anthony Hartono atau soprano Alice Cahya Putri yang keduanya kini tinggal dan berkarir di Singapura, pianis Wendelin Kwek yang kini di Boston, mengambil gelar Doktor sambil berkarir. Tapi ada juga pianis-pianis seperti Dr. Edith Widayani (lulusan Eastman, Rochester), Randy Ryan (lulusan Juilliard, New York), soprano Isyana Sarasvati dll. yang sekarang tinggal di Jakarta.

 Statement anda di Instagram dan Thread belum lama ini mengundang kontroversi, bahwa Indonesia menjadi negara dengan kompetisi piano terbanyak di dunia. Apa efek negatif dan positifnya? 

Sekarang ada banyak kompetisi memberi gelar juara, atau medali dengan nama logam dan jenis batu permata (padahal logam dan batu permata tidak sejenis kan?) yang mirip-mirip untuk semuanya. Jadinya semua orang seolah-olah menang, dan sebetulnya peserta itu ikutan untuk “beli piala”. Syarat dan repertoar sangat mudah, bahkan sering tidak jelas. Juri pun sering tidak kompeten bahkan sekarang para “influencer” sering dijadikan juri : yang penting followers nya banyak! Padahal influencer itu justru paling tidak cocok dijadikan juri, karena yang mereka cari adalah sensasi demi viral. Bahkan di luar kompetisi, mereka mencari korban, tanpa cross check apa yang terjadi dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Apapun diviralkan di Instagram, atau sekarang yang lebih toxic untuk dunia seni adalah Thread. Mereka suka bikin framing yang nggak² utk mencari engagement, ada peserta yang protes ke juri, bahkan ada guru yang katanya melakukan pelecehan seksual, tanpa ada pembuktian, mereka hujat ramai-ramai. Kengerian jaman now jadi bertambah. Pembunuhan karakter demi engagement adalah fenomena yg nyata.

Baik KPN+, apalagi di Ananda Sukarlan Award (ASA) yang diadakan 2 tahun sekali dan jauh lebih sulit daripada KPN+, bukan tipe “semua peserta menang”. Tergantung definisi “menang”.  Buat saya, tidak menjadi juara bukanlah kalah. Yang benar-benar kalah adalah yang gugur sebelum bertanding, alias tidak berani. Kalau berkompetisi, apa pun hasilnya, dia adalah pemenang, karena sudah bisa melawan kebimbangan diri sendiri. Tapi ASA, dengan hadiah berbagai beasiswa, memang harus diperebutkan. Kami tidak mau dong menyalurkan beasiswa ke musikus yang jelas tidak berhak.

Pernah saya ketemu juri yang sudah punya agenda atau “titipan” tentang siapa yang harus dimenangkan atau dijatuhkan. Nah kalau begini, jangan sampai yang “kalah” berkecil hati, karena dia kalah dari si juri karena tidak jujur. Sampai saat ini saya bisa menghindari kejadian ini terjadi di KPN+ ; kalaupun ini sampai terjadi, juri itu akan saya blacklist untuk selanjutnya.

Mengapa anda tidak terlalu berpihak kepada para influencers?

Masalahnya, semakin sedikit kita tahu tentang suatu subyek, semakin yakin kita bahwa kita mengerti banyak tentang subyek itu. Padahal banyak sekali yang kita tidak ketahui untuk membuat kita sadar bahwa kita tidak menguasai sebuah subyek. Dan itu membuat para influencer sering memberi “ceramah” melalui vlog, tiktok, dengan pede-nya. Fakta dan nilai moral menjadi nomor sekian, nomor satu adalah jumlah views, likes dan shares. Itu yang terjadi di beberapa les-les atau sekolah musik saat ini.

Bagaimana dengan banyaknya sekolah musik di Indonesia? Apakah kualitasnya memadai?

Nah, saya kan prediksi Indonesia AKAN memiliki kompetisi terbanyak di dunia, tapi Indonesia SUDAH memiliki sekolah musik terbanyak. Lihat saja, hampir di setiap RT atau RW ada sekolah musik. Padahal banyak pendiri yang sama sekali tidak qualified. Kalau membuat klinik, puskesmas, biro jasa hukum, kantor arsitek dibutuhkan kualifikasi ijazah, kenapa untuk musik dan seni tidak? Memang sih buat saya ijazah bukan yang paling penting (walaupun kalau menipu punya ijazah atau gelar sih buatku itu sangat tidak terpuji ya), tapi dengan melalui jenjang akademik, orang-orang yang mau mengajar itu lebih luas pengetahuannya. Juga jangan asal protes kalau di kompetisi muridnya tidak menang (atau muridnya orang lain menang). Seringkali yang protes itu cara berdebatnya cacat logika, dengan false dilemma, ad hominem, anecdotal fallacy dll yang sama sekali tidak mencerminkan intelektualitas dan peradaban dunia seni.

Ada beberapa pemahaman yang sangat umum padahal salah, misalnya : 1. Musik yang lambat itu musik yang mudah. Itu salah besar, karena main lambat itu justru harus bisa fokus dalam berbagai detail. 2. Main piano itu yang penting baca not dan mengerti not mana di tuts mana. Padahal itu anak tangga pertama dari 100 anak tangga dalam menguasai bermain instrumen! 3. Latihan piano itu mainkan saja musiknya dari depan ke belakang supaya lancar. Nah, kita bisa lihat yang paling basic aja deh: 80-90% guru piano tidak bisa mengajarkan bagaimana caranya murid latihan sendiri di rumah. Bukan main musiknya ya, tapi mempersiapkan & mengerti partitur, metodenya, menganalisa musiknya sampai proses akhir memainkannya seutuhnya.

Latihan itu sifatnya pribadi. Analitis. Introspektif, tidak komunikatif. Memahami details. Melakukan kesalahan. Menimbang. Memilih berbagai POV. Beda dengan main untuk guru atau bahkan untuk publik, latihan itu menyerap musik dari partitur dan mencoba mengerti seutuhnya, dan kemudian mengasimilasikan dengan kepribadian kita sendiri.

Anda ditahbiskan sebagai komponis Indonesia paling produktif dalam genre Tembang Puitik, dengan jumlah lebih dari 600 karya dari puisi berbahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia. Tapi popularitas setiap nomor berbeda-beda. Apa saja yang cukup populer dan mengapa?

Sampai sekarang yang paling sering dinyanyikan adalah lagu saya dari puisi Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar atau WS Rendra. Bukan karena para vokalis lebih suka musik yang saya bikin atau kata-katanya, tapi karena nama mereka sudah dikenal. Itu berarti banyak penyair (atau managernya, penerbitnya) kurang mempromosikan nama dan karya mereka. Dengan musik, saya mengharapkan kami bisa membantu memperkenalkan puisi dan sastra ke penonton yang lebih luas. Nah sebetulnya saya minta yang lebih spesifik lagi, misalnya para vokalis Jawa Timur kalau berkompetisi nyanyikan dong tembang puitik dari para penyair Jatim, seperti Nanang Suryadi atau Prof. Tengsoe Tjahjono di Malang, lalu untuk Bali ada Wayan Jengki Sunarta, Tan Lioe Ie atau (alm.) Umbu Landu Paranggi (yang sebetulnya kelahiran Sumba) dan lainnya. Itu membuat identitas sang vokalis lebih kuat, apalagi kalau nanti masuk babak final di Jakarta bahkan kemudian berkarir secara internasional, sang vokalis bisa menyatakan : saya dari Jawa Timur, dan saya bawakan karya seniman Jatim karena memang keren! Nah, para penyair harus aktif juga memperkenalkan karya2nya sehingga para vokalis mengenalnya. Kalau post di IG, tag saya saja jadi saya bisa repost di story yang banyak dilihat para vokalis, misalnya. Intinya dunia sastra dan dunia vokal klasik baru mulai terkoneksi, tapi masih rapuh, sinyalnya masih seperti internet di Indonesia hahaha …

Ananda Sukarlan dalam kegiatan Festival Kata, Malam Anugerah Cerpen Kompas.

 Apakah teknik klasik para vokalis sudah memadai? Apa saja kelebihan dan kekurangan vokalis klasik di Indonesia? 

Nah ini lagi-lagi masalah pengetahuan dan luas (atau sempit)-nya wawasan guru-guru vokal. Sama seperti piano, yang tidak sesederhana memainkan apa yang ditulis, menyanyi itu tidak cukup dengan menyanyi yang “tidak fales” a.k.a hanya fokus di intonasi (walaupun ini aspek yang sangat penting). Teks dari sang penyair itu sama pentingnya, nilai puitik dan metaforiknya justru dimaksimalkan di tembang puitik. Sayangnya, banyak vokalis itu kurang membaca (puisi, cerita fiksi) dan memahami metafora. Juga, tembang puitik bisa meningkatkan kesadaran tentang situasi, jadi program konser itu relevan dengan keadaan. Ada tentang Pagar Laut, Hutan-hutan yang Dibakar, kezholiman penguasa, juga ada puisi-puisi seniman besar zaman Orde Baru yang dipenjara dan disiksa seperti Sabar Anantaguna, Putu Oka Sukanta, Sutikno WS dan lainnya yang sering ditutupi sejarah.

Seberapa populerkah vokal klasik, dibandingkan dengan instrumen klasik lainnya di Indonesia?

Jumlah peserta vokal di KPN+ belum terlalu memuaskan. Mungkin huruf “P” (piano) di KPN+ tidak terlalu menarik para vokalis, padahal pemenang KPN+, instrumen apapun itu, akan mendapatkan golden ticket langsung ke babak final Ananda Sukarlan Award tahun berikutnya. Di ASA sudah, bahkan para vokalis terbaik Indonesia itu praktis semua jebolan ASA seperti Isyana Sarasvati, Mariska Setiawan, Ratnaganadi Paramita, Pharel Jonathan Silaban, Pepita Salim dll.

Seberapa besar peran musikus (sebagai seniman, bukan penghibur) di masyarakat, dan bagaimana posisinya di tengah AI yang kini sangat populer?

AS : Pemusik harus lebih aktif dalam kegiatan nyata, termasuk politik yang mempengaruhi hidup kita semua. Keadaan politik dan hukum memang saat ini tidak kondusif di Indonesia jadi saya memang sama sekali tidak mau terlibat untuk saat ini. Tapi untuk aspek sosial, fundraising misalnya atau paling sedikit meningkatkan kesadaran tentang keadaan yang butuh bantuan, saya selalu aktif. Fundraising itu tidak perlu sendirian, bisa kerjasama dengan badan seperti Rotary Club dimana saya adalah honorary member, atau Yayasan Autis Indonesia dll. Institusi itu selalu bersedia membantu. Kalau untuk meningkatkan kesadaran, bagus tuh misalnya gerakan memakai pakaian adat di kebakaran hutan.

Saya tidak bisa menghindari credit rating Indonesia menurut MSCI bisa saja turun terus sampai setara Zimbabwe, tapi saya bisa mengusahakan rating musik klasiknya naik dengan target setara negara-negara Eropa. Nah menurut saya, kalau semua warganegara fokus saja ke bidangnya, ini lebih baik. Buat apa saya sotoy mengurus ekonomi yang tidak saya kuasai sama sekali? Buat apa ikut komentar soal politik yang sangat rumit? Saya hanya bisa kontribusi memperbaiki aspek kehidupan tertentu sedikit sekali orang, lewat beberapa Yayasan dimana saya adalah anggota atau dewan pengurusnya, tapi sedikit pun masih lebih baik daripada tidak sama sekali, bahkan membuat kehidupan orang lain lebih sengsara dengan korupsi atau membakar hutan, bukan?

Ananda Sukarlan dalam dokumentasi kegiatan di atas kapal Rainbow Warrior.

Memang kita tidak perlu berusaha untuk semua isu. Justru fokus ke satu isu lebih baik, seperti saya sebagai penyandang Asperger’s Syndrome, fokus ke semua soal autisme: peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, galang dana untuk pendidikan anak autis dan disabilitas lainnya. Walaupun secara periodik saya juga fokus ke isu tertentu yang sedang terjadi, misalnya korban pembakaran hutan saat ini yang walaupun katanya cuma ratusan ribu, saya yakin sebetulnya jutaan yang kena, apalagi asapnya sudah sampai ke Malaysia dan Singapura. Saya sedang merencanakan konser penggalangan dana untuk para korban, dan saya mesti sebut, saya bangga diajak Greenpeace tahun 2018 untuk konser di galangan kapal mereka Rainbow Warrior untuk pelestarian hutan di Papua. Greenpeace itu super keren!

Berikut daftar para pemenang KPN+ di BSD (Banten), 31 Oktober kemarin yang lolos ke babak Grand Final di Jakarta : 

USIA DINI A:

Juara 2 – Arissa Raina Prawiso

Juara 3 – Celestine Dahlan

USIA DINI B:

Juara 1 – Moselle Emerald Gun

Juara 2 – Alvaro Aidan Ang

Juara 3 – Reina Anthony

USIA DINI C:

Juara 1 – Wihelmina Willim

Juara 2 – Benedict Denzel Herwindo

Juara 3 – Cherryl Ganska Tan

PEMULA B:

Juara 1 – Keiralyn Riefhanlim Mulyadi

Juara 2 – Jingga Abiyyu Athallah

Juara 3 – Joanna Tiffany Zhang

PEMULA C:

Juara 1:

– Michael Farell Budiono

– Jaden Venzel Arifin

– Ilona Grace Yudistira

Juara 2

– Jeremy Emmanuel

– Grace Leticia Eirene

– Arderich Darmala Prawiso

Juara 3

– Diandra Adriana Lutfiah

– Jenina Nozomi Dinata

– Michelle Adrianna Lie

– Beverlyn Mettakhemadevi Winata

– Shireen Aliyah Kirana

MENENGAH A:

Juara 1 – Chiara Kertalesmana

MENENGAH B:

Juara 1 – Francesco Edyth Lim

Juara 2 – Beverlyn Mettakhemadevi Winata

MENENGAH C:

Juara 2 – Benedicta Elizabeth Munandar & Fendy Lo

Juara 3 – Jarvinia Hannara Sihombing & Celine Dominique Ng

TEMBANG PUITIK SENIOR

Juara 1: – Micheline Louise

LANJUTAN B:

Juara 2 – Clarissa Evelynne Martono

LANJUTAN C:

Juara 2 – Madeleine Grace Lauda

Juara 3 – Jeconia Eloise Hikari Dinata & Joeynathan Arga Damanik