Catatan Tentang Lemahnya Ekosistem Fotografi Indonesia
Oleh: Arik S. Wartono*
Publik sering menyamakan “Fotografi di Indonesia” dengan “Fotografi Indonesia”. Padahal keduanya berbeda. Bahkan, apakah “Ekosistem Fotografi Indonesia” sejauh ini benar-benar ada? Kita selama ini memang punya berbagai lembaga, komunitas, pameran, dan workshop fotografi, namun selama ini tampaknya masih berjalan sendiri-sendiri dan belum mampu membangun wacana tentang Fotografi Indonesia.
Selama ini kita mengira ekosistem fotografi itu ada karena ada festival, ada Kemenekraf yang memfasilitasi dialog Mendengar dari Balik Lensa,¹ ada JIPFest 2026 yang memamerkan 50 karya dari 22 seniman lintas 19 negara di Taman Ismail Marzuki dengan tema Resilience,² ada Indonesia International Youth Photo Festival yang menyerap 1.018 karya dari 380 fotografer muda asal 13 negara,³ ada pameran kolaboratif Jakarta-San Francisco di Museum Bahari,⁴ ada Festival Fotografi Kampus PFI Bandung yang melibatkan 18 kampus.⁵ Semua itu terlihat bergerak, terlihat hidup, terlihat didukung kebijakan.
Tetapi kita mesti mulai sadar: itu semua hanyalah bukti adanya Fotografi di Indonesia, bukan bukti adanya Fotografi Indonesia. Itu adalah rangkaian peristiwa terpisah, transaksional dan reaksioner.
*Bedah Konseptual Istilah “Fotografi Indonesia”*
Secara konseptual, perbedaan istilah “Fotografi di Indonesia” dengan “Fotografi Indonesia” harus dipisahkan secara radikal.
Fotografi di Indonesia adalah kata keterangan tempat. Ia adalah aktivitas memotret yang kebetulan lokasinya di Indonesia. Sifatnya industri. Ia diukur dengan berapa kamera terjual, berapa workshop digelar, berapa likes didapat. Ia tidak butuh sejarah, ia hanya butuh memory card.
Fotografi Indonesia adalah wacana dan identitas. Ia adalah pertanyaan besar: apa yang membuat sebuah foto menjadi Indonesia? Apakah dari cara pandangnya? Apakah dari dekolonisasi terhadap estetika Mooi Indie, Hindia Molek? Bagaimana fotografer kita merespons trauma sejarah, realitas sosial, dan geopolitik pasca-kolonial? Wacana inilah yang memerlukan ekosistem pemikiran, kritikus, sejarawan, kurator, jurnal ilmiah, dan arsip, bukan sekadar ekosistem pasar.
Susan Sontag sudah mengingatkan sejak 1977 bahwa fotografi bukan hanya soal apa yang difoto, tetapi soal bagaimana kita memandang. Cara pandang itu dibentuk oleh sejarah dan ideologi. Jika cara pandang kita masih meminjam kacamata kolonial, maka kita hanya memotret di Indonesia, bukan memotret sebagai Indonesia.⁶
Perbedaan ini juga filosofis. Dalam tradisi klasik, Plato dalam Symposium mengatakan keindahan lahir dari pertukaran kebaikan dalam ruang bersama. Tanpa ruang bersama yang menguji, keindahan hanya menjadi hiasan. Fotografi di Indonesia hari ini adalah hiasan yang indah, tetapi tidak ada ruang bersama yang menguji apakah ia indah sebagai Indonesia.⁷
Bukti Paling Telanjang: Mendur Bersaudara yang Dilupakan Negara
Jika ada satu bukti paling telanjang tentang lemahnya ekosistem fotografi Indonesia, bukan soal minimnya galeri atau kurator, melainkan fakta bahwa sampai hari ini Alex Mendur dan Frans Mendur bahkan belum menjadi Pahlawan Nasional.
Padahal jasa dan kontribusi mereka sangat jelas terhadap pendokumentasian berdirinya negara Republik Indonesia.
Mari kita buka arsip. Alexius Mendur lahir di Kawangkoan, Minahasa, 1907, dan Frans Soemarta Mendur lahir di tempat yang sama 1913.⁸ Pada 1946, di tengah revolusi, keduanya mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Jakarta, kantor berita foto pertama milik Republik.⁹
Dari kamera merek Contax dan Leica itulah republik ini punya bukti visual eksistensinya. Alex Mendur adalah tulang punggung narasi visual kedaulatan Indonesia yang memproduksi ribuan karya fotografi pada masa Revolusi Fisik (1945-1949) hingga era Demokrasi Terpimpin, bahkan setelah film negatifnya pada hari H Proklamasi 17 Agustus 1945 dihancurkan tentara Jepang.¹⁰ Jasa-jasa ikoniknya, seperti foto Jenderal Soedirman ditandu saat perang gerilya, momen pelukan Soekarno-Soedirman di Yogyakarta sebagai bukti solidnya kepemimpinan sipil-militer, dan dokumentasi Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949 yang mengabadikan pengakuan kedaulatan penuh RI, menjadi bukti sejarah paling autentik berdirinya Republik.¹¹
Adiknya, yakni Frans Mendur mengabadikan momen pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56.¹² Tanpa karya fotonya, kita tidak punya bukti detik kelahiran negara ini. Tiga foto ikonik karya Frans Mendur — Bung Karno membacakan naskah proklamasi, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, serta suasana khidmat para pemuda saat moment pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia — menjadi satu-satunya rujukan visual otentik dari peristiwa tersebut. Tanpa ketiga foto ini, bangsa Indonesia kehilangan rekam jejak visual kelahirannya sendiri. Frans Mendur juga mendokumentasikan Agresi Militer Belanda I dan II, Perjanjian Renville, hingga pengakuan kedaulatan.¹³
Arsip-arsip itu kini sebagian besar tersimpan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, di ANRI, dan di keluarga. Negatif kaca dan filmnya nyaris hilang. Alex wafat pada 1984 dalam kesunyian, Frans wafat pada 2009. Sejak 2009, berbagai komunitas fotografi, PFI, dan keluarga mengusulkan mereka sebagai Pahlawan Nasional. Dewan Gelar berkali-kali menolak dengan alasan administratif.¹⁴
Bandingkan dengan negara lain: Robert Capa di Hungaria atau Henri Cartier-Bresson di Perancis diposisikan sebagai pahlawan kebudayaan. Di Indonesia, pendokumentasi kelahiran republik saja tidak dianggap pahlawan. Inilah kegagalan ekosistem yang paling memalukan. Kita tidak punya ekosistem yang mampu menerjemahkan karya fotografi menjadi kesadaran kebangsaan, menjadi kebijakan negara. Ekosistem yang ada hanya mampu menerjemahkan karya fotografi menjadi likes dan sertifikat workshop. Jika sebuah bangsa tidak bisa memuliakan juru potret kelahirannya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa membangun wacana Fotografi Indonesia?
Arsip yang Panjang Tetapi Mata Rantai yang Putus
Secara arsip, kita sebenarnya punya akar yang sangat kuat untuk membangun Fotografi Indonesia. Kita bukan bangsa tanpa akar visual.
Kita punya Kassian Cephas, fotografer pribumi profesional pertama di Indonesia, juru foto Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1870-an yang memotret bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai orang dalam keraton.¹⁵
Kita punya studio Kurkdjian di Surabaya tahun 1890-an yang merekam transformasi kota pelabuhan dan masyarakat urban Hindia Belanda. Ironisnya, arsipnya kini lebih lengkap tersimpan di Tropenmuseum Amsterdam daripada di Surabaya sendiri.¹⁶
Tetapi mata rantai itu putus. Putusnya bukan karena tidak ada foto, tetapi karena tidak ada ekosistem kritik yang konsisten membukukan dan mengkritisi mata rantai itu untuk membangun teori Estetika Fotografi Indonesia.
Akibatnya fotografer muda hari ini berkarya dengan merujuk pada estetika Barat atau Jepang, bukan meneruskan atau mendebat wacana visual pendahulunya. Seperti yang dikritik Edy Purnomo, kita mengalami amnesia visual. Kita punya banyak foto, tetapi tidak punya ingatan fotografis.¹⁷
Absennya lembaga arsip dan riset mandiri adalah bukti paling telanjang. Hilmar Farid, sejarawan dan mantan Dirjen Kebudayaan, mengingatkan tanpa arsip, bangsa ini akan terus mengulang cara pandang kolonial karena tidak pernah punya cara pandang alternatif yang terdokumentasi.¹⁸
Seno Gumira Ajidarma bahkan menyebut fotografi sebagai cara kita menulis ingatan. Jika ingatan itu tidak diarsipkan, maka kita adalah bangsa yang menulis dengan tinta yang mudah hilang.¹⁹
Festival Sebagai Etalase, Bukan Laboratorium Teori
Inilah ilusi ekosistem yang paling berbahaya. Kita punya banyak festival, tetapi festival hanya menjadi etalase, bukan laboratorium teori.
Karya dikumpulkan, dipajang, lalu selesai. Festival jarang berhasil merumuskan atau menelurkan manifesto atau wacana baru yang mengakar pada identitas Fotografi Indonesia itu sendiri.
Roland Barthes membedakan antara studium dan punctum. Studium adalah kemeriahan yang umum, punctum adalah tikaman yang menusuk dan menggugat. Festival kita sibuk dengan studium, kehilangan punctum.²⁰
Yasraf Amir Piliang mengingatkan bahwa di era kontemporer, foto bukan lagi ekonomi benda, tetapi ekonomi tanda. Jika festival hanya menjual benda foto, bukan membaca tanda Indonesia di dalam foto itu, maka ia tidak membangun ekosistem, ia hanya membangun pasar malam.²¹
Solusi Komprehensif: Dari Industri Menjadi Wacana
Lalu apa solusi paling mungkin?
Mandat pertama adalah mandat arsip dan dekolonisasi visual. Kita harus membangun Pusat Arsip Fotografi Indonesia yang independen, bukan di bawah brand kamera. Tugasnya bukan menyimpan file, tetapi meriset ulang cara pandang. Ini adalah kerja dekolonisasi visual seperti yang digagas Ariella Azoulay, bahwa arsip kolonial harus dibaca ulang dari kacamata yang dijajah, bukan yang menjajah. Tanpa ini, kita akan selamanya menjadi objek yang difoto, bukan subjek yang memotret.²²
Mandat kedua adalah mandat kritik dan kurikulum. Kampus fotografi harus berhenti menjadi sekolah keterampilan kamera, dan perlu menjadi sekolah pemikiran visual. Kita butuh lebih banyak kurator, kritikus, penulis, penerbit, dan pengarsip, seperti yang didorong oleh kolektif Raws Syndicate,²³ bukan hanya lebih banyak juru potret. Seperti kata Oscar Motuloh, fotografi Indonesia hari ini terlalu banyak jagoan teknis, terlalu sedikit pemikir visual.²⁴
Mandat ketiga adalah mandat penghubung lintas disiplin dan desentralisasi. Fotografi Indonesia tidak akan lahir jika fotografer hanya bergaul dengan fotografer. Ia harus bergaul dengan sejarawan, antropolog, sastrawan, perupa dan budayawan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Fotografi Indonesia adalah pertanyaan tentang siapa kita. Seperti kata Walter Benjamin, sejarah fotografi adalah sejarah cara manusia melihat dirinya sendiri di tengah perubahan zaman. Jika kita hanya sibuk memotret di Indonesia tanpa pernah bertanya apa itu Fotografi Indonesia, maka kita sedang memotret tanpa pernah melihat diri kita sendiri.²⁵
Jika Mendur bersaudara saja tidak bisa kita jadikan Pahlawan Nasional, jangan pernah bermimpi kita punya ekosistem Fotografi Indonesia. Ekosistem Fotografi Indonesia belum ada dan tidak sedang bergerak secara struktural. Yang ada hanyalah riak-riak kecil dari segelintir pemikir, kurator, dan kolektif independen yang mencoba menyelamatkan wacana ini agar tidak tenggelam oleh derasnya industri Fotografi di Indonesia. Tugas kita adalah menyambung riak-riak itu menjadi gelombang.
Gresik, 8 Oktober 2026
*Arik S. Wartono, astrofotografer, seniman, kurator dan penulis kritik seni, tinggal di Gresik
CATATAN KAKI
¹ Kementerian Ekonomi Kreatif RI, “Kementerian Ekraf Fasilitasi Dialog Ekosistem Fotografi Nasional Lewat Diskusi Mendengar dari Balik Lensa,” _ekraf.go.id_, 2025.
² Vibizmedia, “JIPFest 2026 Perkuat Ekosistem Fotografi dan Talenta Kreatif Indonesia,” 21 September 2026.
³ Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI), “1st Indonesia International Youth Photo Festival 2026,” _fpsi.or.id_, Februari 2026.
⁴ http://Tempo.co, “Museum Bahari Gelar Pameran Fotografi Jakarta-San Francisco Sambut Lima Abad Jakarta,” 30 Juli 2026.
⁵ Pewarta Foto Indonesia Bandung, “Festival Fotografi Kampus 2026: Kolaborasi 18 Kampus,” _Instagram @pfi_bandung_, Oktober 2026.
⁶ Susan Sontag, _On Photography_ (New York: Farrar, Straus and Giroux, 1977), 4.
⁷ Plato, _Symposium_, terj. Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020), 94.
⁸ Oscar Motuloh, “Dua Saudara dari Kawangkoan: Biografi Alex dan Frans Mendur,” _Galeri Foto Jurnalistik Antara_, Jakarta, 2010, 2.
⁹ Soelarko, _Sejarah IPPHOS 1946-1950_ (Jakarta: IPPHOS, 1972), 23.
¹⁰ Soelarko, _Sejarah IPPHOS 1946-1950_ (Jakarta: IPPHOS, 1972), hlm. 23 & 31; Oscar Motuloh, “Dua Saudara dari Kawangkoan: Biografi Alex dan Frans Mendur,” _Galeri Foto Jurnalistik Antara_, 2010, hlm. 2.
¹¹ Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Inventaris Koleksi Foto IPPHOS No. 480729-001, No. 490710-003, No. 491123-007; Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Katalog Arsip IPPHOS 1945-1949.
¹² Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Foto IPPHOS No. 170817-001: Naskah Asli Teks Proklamasi tulisan tangan Soekarno, 17 Agustus 1945, fotografer Alex Mendur.
¹³ Koleksi Foto IPPHOS – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI): ANRI secara resmi menyimpan tiruan (kopi) dari negatif film asli foto proklamasi 1945. Melalui layanan publikasi kearsipan seperti Pusat Jaringan Kepresidenan ANRI, dikonfirmasi secara historis bahwa tiga frame foto karya Frans Mendur ini merupakan satu-satunya rekaman visual otentik dari peristiwa tersebut karena film milik kakaknya, Alex Mendur, telah disita dan dihancurkan oleh tentara Jepang
¹⁴ Tim Peneliti Dewan Gelar, Tanda Kehormatan dan Pahlawan Nasional, “Berkas Usulan Alex Mendur dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional 2010, 2015, 2020,” Kementerian Sosial RI; Lihat juga Pewarta Foto Indonesia, “Mengapa Mendur Bersaudara Belum Jadi Pahlawan Nasional?,” _pfi.or.id_, 17 Agustus 2022.
¹⁵ Wim Toelenaar, _Kassian Cephas: Portrait of Javanese Photographer_ (Yogyakarta: Matabaca, 2015), 12.
¹⁶ Sarah Bosma, Koleksi Kurkdjian Studio Surabaya 1890-1920, Tropenmuseum Amsterdam, No. Inventaris TM-6001.
¹⁷ Edy Purnomo, “Amnesia Visual Fotografi Indonesia,” diskusi dalam Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2024, Jakarta, 8 September 2024.
¹⁸ Hilmar Farid, “Arsip, Kolonialisme, dan Imajinasi Kebangsaan,” Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2022.
¹⁹ Seno Gumira Ajidarma, “Fotografi Sebagai Penulisan Ingatan,” dalam _Kisah-Kisah dari Timur_ (Yogyakarta: Galang Press, 2018), 112.
²⁰ Roland Barthes, _Camera Lucida: Reflections on Photography_ (New York: Hill and Wang, 1981), 26-27.
²¹ Yasraf Amir Piliang, _Dunia yang Dilipat_ (Bandung: Matahari, 2004), 201.
²² Ariella Azoulay, _Potential History: Unlearning Imperialism_ (London: Verso, 2019), 34.
²³ Raws Syndicate, “Mendorong Peran Pendukung di Luar Juru Potret,” _Instagram Reel_, 2025.
²⁴ Oscar Motuloh, “Jagoan Teknis vs Pemikir Visual,” _Jurnal Fotografi Indonesia_ Vol. 2, No. 1 (Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara, 2023): 15.
²⁵ Walter Benjamin, “Karya Seni di Era Reproduksi Mekanis,” dalam _Illuminations: Essays and Reflections_, ed. Hannah Arendt (New York: Schocken Books, 1968), 217.
*DAFTAR PUSTAKA*
Ajidarma, Seno Gumira. “Fotografi Sebagai Penulisan Ingatan.” Dalam _Kisah-Kisah dari Timur_. Yogyakarta: Galang Press, 2018.
Azoulay, Ariella. _Potential History: Unlearning Imperialism_. London: Verso, 2019.
Barthes, Roland. _Camera Lucida: Reflections on Photography_. New York: Hill and Wang, 1981.
Benjamin, Walter. _Illuminations: Essays and Reflections_. Edited by Hannah Arendt. New York: Schocken Books, 1968.
Bosma, Sarah. Koleksi Kurkdjian Studio Surabaya 1890-1920. Tropenmuseum Amsterdam.
Kementerian Ekonomi Kreatif RI. “Kementerian Ekraf Fasilitasi Dialog Ekosistem Fotografi Nasional”. _ekraf.go.id_, 2025.
Motuloh, Oscar. “Dua Saudara dari Kawangkoan: Biografi Alex dan Frans Mendur”. _Galeri Foto Jurnalistik Antara_, Jakarta, 2010.
Motuloh, Oscar. “Jagoan Teknis vs Pemikir Visual”. _Jurnal Fotografi Indonesia_ Vol. 2, No. 1 (2023).
Piliang, Yasraf Amir. _Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme_. Bandung: Matahari, 2004.
Plato. _Symposium_. Terjemahan Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020.
Purnomo, Edy. “Amnesia Visual Fotografi Indonesia”. Diskusi dalam Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2024, Jakarta, 8 September 2024.
Soelarko. _Sejarah IPPHOS 1946-1950_. Jakarta: IPPHOS, 1972.
Sontag, Susan. _On Photography_. New York: Farrar, Straus and Giroux, 1977.
Toelenaar, Wim. _Kassian Cephas: Portrait of Javanese Photographer_. Yogyakarta: Matabaca, 2015.





