Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
PUISI-PUISI CINTA INSANIAH
LELAKI TUA PENJUAL KORAN
DI PAGI BUTA
Masih gelap.
Lelaki tua itu berjalan
dengan setumpuk koran
di atas bahunya.
Pagi belum lahir,
tetapi berita
sudah mencari rumahnya.
Setiap koran
sebuah pintu.
Setiap pintu
sebuah dunia
yang belum tahu
siapa mengetuknya.
Ia berhenti.
Selembar koran
diletakkan di beranda.
Tangan itu
sebentar menyentuh pagi,
sebelum pagi
mengenal tangannya sendiri.
Di dalam rumah
orang-orang nanti membaca,
perang, harga beras,
hujan, kematian.
Dunia masuk
melalui selembar kertas.
Tak seorang pun bertanya
siapa yang membawanya.
Lelaki tua itu berjalan lagi.
Sesekali koran yang tersisa dibuka.
Matanya menyusuri
baris demi baris,
seperti mencari tempat bagi dunia
untuk beristirahat.
Matahari naik.
Koran-koran habis.
Bahunya menjadi ringan.
Di belakangnya
pintu-pintu terbuka.
Orang-orang membaca dunia
di atas meja mereka,
lalu melupakan
tangan yang mengantarkannya.
Lelaki tua itu
terus berjalan.
Pagi telah menjadi
milik semua orang.
Di jalan yang mulai terang,
tak ada nama yang tertinggal
hanya langkah
yang sebentar menjadi tulisan
sebelum cahaya
menghapusnya.
2025, 2026
PEREMPUAN DENGAN BAKUL DI KEPALANYA
Bagaimana sebuah bakul mengingat ladang
setelah padi berubah menjadi rumah-rumah?
Perempuan itu tidak mencari jawab.
Ia menjunjung apa yang ditinggalkan bumi
kepada kedua bahunya.
Di dalam bakul itu,
daun-daun masih membawa embun.
Cabai masih menyimpan matahari.
Bayam masih berbau tanah yang belum selesai berdoa.
Tak ada yang saling mendahului.
Segala yang tumbuh
mengetahui waktu masing-masing.
Orang-orang datang.
Mereka menyebut harga.
Bakul itu menyebut musim.
Mereka menghitung uang.
Bakul itu mengingat hujan.
Di antara keduanya,
perempuan itu tetap diam,
seperti pohon yang tak ikut memilih
ke arah mana angin berjalan.
Menjelang siang,
bakul itu makin lapang.
Aneh.
Yang berkurang hanyalah sayuran.
Bukan ladang. Bukan embun.
Bukan pagi
yang masih tinggal di wajah perempuan itu.
Aku melihatnya berjalan menjauh.
Di atas kepalanya, bakul itu hampir kosong.
Dari banyak rumah
uap nasi naik perlahan.
Anak-anak memanggil ibunya.
Piring-piring mulai berpindah tangan.
Perempuan itu tetap berjalan.
Di atas kepalanya,
bakul itu tetap dijunjung
setinggi pagi.
2025, 2026
KEPADA YANG MENYAPU JALANAN KOTA
Tak ada debu
yang benar-benar berasal dari jalan.
Ia datang bersama daun
yang selesai berbicara dengan musim,
bersama tanah
yang pelan-pelan mengingat akar,
bersama angin
yang tak pernah sanggup
membawa sesuatu
sampai selesai.
Orang itu datang.
Di tangannya, ranting-ranting
yang telah meninggalkan pohon
belajar menjadi sapu.
Ketika ujung-ujung sapu
menyentuh bumi,
hutan seakan membuka kembali
ingatannya.
Daun kering mengenali ranting.
Pasir mengenali tanah.
Debu mengenali angin.
Yang tercerai
tak saling memanggil.
Mereka cukup saling mengingat.
Orang-orang melihat jalan.
Orang itu melihat
apa yang tertinggal
setelah setiap langkah
selesai menjadi langkah.
Satu sapuan. Lalu satu lagi.
Tak ada yang tergesa.
Sebab bumi tak pernah belajar rapi
dalam sekejap.
Menjelang siang,
jalan kembali terbuka.
Anak-anak berlari. Sepeda lewat.
Pedagang mendorong gerobaknya.
Tak seorang pun mendengar
bahwa di bawah telapak kaki mereka,
hutan masih berjalan
pelan-pelan.
Orang itu memanggul sapunya.
Beberapa serat
tertinggal di atas jalan.
Tak ada yang memungutnya.
Sebagaimana
tak ada yang menghitung
berapa banyak hutan
yang diam-diam telah menjadi jalan
agar manusia dapat saling
menemui.
2025, 2026
SAAT AKU DUDUK BERSAMA PENGEMIS
Aku duduk
di sampingnya.
Kami tak saling bertanya
dari mana datang.
Trotoar itu
cukup lebar untuk dua orang
yang sama-sama
sedang beristirahat.
Telapak tangannya
terbuka.
Sesekali
sebuah keping uang
jatuh di atasnya.
Bunyinya kecil.
Seperti sendok
yang menyentuh gelas
di sebuah dapur
ketika pagi baru dimulai.
Orang-orang terus berjalan.
Ada yang menoleh.
Ada yang tidak.
Ada yang berhenti
sebentar,
lalu melanjutkan langkahnya.
Tak seorang pun
membawa
jalan itu pergi.
Aku melihat telapak tangannya.
Garis-garisnya tak berbeda
dengan telapak tanganku.
Barangkali
setiap tangan memang diciptakan
untuk terbuka lebih dahulu,
sebelum belajar menggenggam.
Menjelang sore,
matahari
turun perlahan.
Bayangan kami
memanjang
di atas trotoar.
Sulit membedakan
bayangan orang yang memberi
dengan
bayangan orang yang menerima.
Ketika aku bangkit,
ia masih duduk.
Telapak tangannya
tetap terbuka.
Aku melangkah pulang.
Entah mengapa,
sepanjang jalan, aku merasa
bukan hanya ia yang menunggu
uluran tangan.
2025, 2026
ANAK JALANAN YANG MENGHAFAL DOA
Pagi belum selesai menjadi pagi.
Seorang anak
duduk di dekat dinding masjid.
Di samping lututnya
sebuah kaleng kosong.
Ia menunggu
suara logam
menemukan dasar dirinya.
Orang-orang lewat.
Anak-anak sekolah
membawa seragam
dan pagi yang belum terluka.
Anak itu memandang.
Kemudian perutnya berbicara.
Tangannya terangkat
setinggi dada.
Bukan kepada siapa-siapa.
Atau kepada sesuatu
yang tidak membutuhkan nama.
“Ya Allah,
beri aku roti.
Beri aku tempat berteduh.
Jangan biarkan tangan ini
ditertawakan.”
Doa itu
pernah diajarkan ibunya
di bawah cahaya kecil.
Satu huruf disentuh.
Satu huruf dibaca.
Jari bergerak
di atas halaman,
seperti mencari
pintu yang tidak tampak.
Malam turun.
Hujan membuka
pintu-pintu langit.
Anak itu berlari
ke emper toko.
Kaleng diselamatkan lebih dahulu.
Tubuh menyusul.
Di sudut yang basah
sajadah terbuka.
Mushaf menunggu.
Jari yang siang tadi
menadah kepada manusia
kini berjalan
di atas huruf.
Huruf tidak memberi roti.
Huruf tidak memberi rumah.
Tetapi sebuah nama
menyala di dalamnya.
Dan ruang
yang tidak terlihat
menjadi lebih dekat
daripada dinding.
Di luar
air menguasai jalan.
Di dalam
seorang anak duduk
di hadapan sesuatu
yang tidak dapat dilihat.
Besok pagi
toko-toko membuka mata.
Trotoar kembali
menjadi jalan.
Kaleng kembali
di samping lutut.
Mushaf kembali
ke dalam malam.
Tidak ada yang berubah.
Namun tangan kecil itu
telah mengetahui sesuatu
menadah
bukan sekadar meminta.
Menadah
adalah membuka diri
kepada yang tidak dapat digenggam.
Pagi naik
ke dinding masjid.
Cahaya masuk
ke dalam kaleng kosong.
Sesaat
kaleng itu memantulkan langit.
Anak itu duduk
di tengah lingkaran kecil itu.
Tidak meminta apa-apa.
Tidak memiliki apa-apa.
Hanya sebuah tangan
yang terbuka,
dan langit
yang belum selesai
memasukinya.
2025, 2026
WAJAH YANG KITA LIHAT TANPA PEDULI
Pagi masih menyimpan gelap.
Di kaca toko seorang lelaki
memandangi wajahnya sendiri
yang tidak mengenalnya.
Jalan bergerak.
Kaki-kaki membawa tubuh
menuju nama masing-masing.
Di antara mereka
wajah itu, sepotong tanah
yang lupa
siapa pernah menanamnya.
Aku melihatnya.
Atau sebuah cermin
sedang melihatku
melalui wajahnya.
Angin menyentuh rambutnya.
Debu naik dari jalan.
Sebuah koran terbang
membuka halaman perang
di depan kedua matanya.
Ia tidak membaca.
Perang telah lebih dahulu
tinggal di tubuhnya.
Di sana tidak ada peta.
Hanya luka
yang belum menemukan
negaranya.
Sebuah bus lewat.
Wajah-wajah di balik kaca
muncul, dan hilang.
Begitulah kota menulis manusia
dengan kaca, dengan debu,
dengan lampu merah
yang sebentar memberi waktu
kepada semua orang
untuk tidak saling mengenal.
Aku berjalan.
Bayanganku berjalan lebih dahulu.
Di ujung jalan
lelaki itu masih duduk.
Langit turun ke bahunya.
Seekor burung hinggap sebentar
pada tiang di dekatnya,
lalu pergi membawa langit yang lain.
Aku ingin memanggilnya.
Tetapi nama adalah sesuatu
yang sering kita berikan
setelah terlambat mengenali manusia.
Maka aku diam.
Dan untuk pertama kalinya
diam itu bukan ketidakhadiran.
Di antara aku dan wajah itu
ada jarak yang tidak dapat diukur
oleh jalan.
Jarak itu adalah aku sendiri.
Sore menghapus jejak kaki.
Malam menghapus wajah-wajah.
Tetapi sebuah wajah
tetap menyala di dalam ingatanku,
bukan sebagai wajah seorang lelaki,
tetapi sebagai pintu
yang tiba-tiba terbuka
ke dalam kemanusiaan.
Aku masuk.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya sebuah tangan
yang terulur dari kegelapan,
dan cahaya kecil
yang membuatku melihat
wajahku sendiri di dalamnya.
2025, 2026
YANG MENGANTARKAN JENAZAH TANPA NAMA
Pagi membuka tanah
sebelum membuka hari.
Seorang lelaki membawa peti
melewati kota
yang sibuk menyebut
nama-namanya sendiri.
Di dalam peti sebuah tubuh
telah selesai menjadi nama.
Di luar
toko-toko membuka pintu,
kendaraan menelan jalan,
orang-orang membawa
kunci dan alamat.
Angin menyentuh kafan.
Putih bergerak
seperti halaman
yang menolak ditulisi.
Tanah tidak bertanya
siapa yang mati.
Tanah membuka dirinya.
Darah tidak membawa nama.
Tulang tidak membawa alamat.
Napas pergi
tanpa tanda.
Manusia menulis nama
di atas batu,
alamat di atas rumah,
batas di atas tanah,
lalu semuanya kembali
kepada tanah.
Liang terbuka.
Langit turun
tanpa suara.
Segenggam tanah.
Segenggam lagi.
Tubuh menjadi tanah.
Tanah menjadi akar.
Akar menjadi pohon.
Kelak pohon itu
memberi bayangan
kepada seseorang
yang tak pernah tahu
siapa yang tidur di bawahnya.
Makam diam.
Di bawah diam itu
sebuah nama melepaskan dirinya
dari manusia.
Lelaki itu pulang.
Jalan masih sama.
Tetapi sejak hari itu
setiap tanah yang diinjaknya
terasa lebih dalam.
Setiap wajah
seperti pintu.
Setiap pintu
menghadap tanah.
Dan manusia berjalan
membawa nama
menuju tempat
di mana nama
tak lagi diperlukan.
2025, 2026
AKU MELIHATMU DALAM LUKA ORANG LAIN
Aku melihatmu
pada tangan
yang membawa sekerat roti
melewati hujan.
Roti itu basah.
Tangannya gemetar.
Namun roti tetap dibawanya
seperti sepotong pagi
yang belum sempat dimakan.
Di depan rumah sakit
sebuah jam berdetak.
Di balik kaca
seorang perempuan menunggu.
Jarum jam bergerak
tanpa mengetahui
siapa yang sedang
ditunggu oleh waktu.
Aku melihatmu
pada kursi kosong
di sebelahnya,
pada gelas air
yang tidak disentuh,
pada cahaya putih
yang jatuh ke lantai
tanpa menghangatkan siapa pun.
Di luar
seorang buruh pulang.
Punggungnya membawa hari.
Debu melekat
pada ujung celananya.
Upah terlipat di dalam saku
seperti kertas kecil
yang membawa terlalu banyak
kehidupan.
Seorang anak
berlari mengejar bus.
Tangannya kosong.
Bus bergerak.
Bayangannya
tertinggal di jalan.
Di jendela rumah susun
pakaian-pakaian putih
bergerak ditiup angin.
Dari jauh seperti bendera
yang kehilangan negaranya.
Malam turun.
Aku menutup jendela.
Di kaca
wajahku muncul.
Di belakangnya
wajah-wajah lain
datang dan pergi.
Tanganku menyentuh kaca.
Dingin.
Di balik dingin itu
sebuah tangan lain
masih membawa roti.
2025, 2026
PELUKLAH DUNIA
SEBELUM DUNIA MEMELUKMU
Pagi.
Tubuhku bangun
sebelum namaku.
Jendela terbuka.
Angin masuk
membawa bau tanah
yang masih menyimpan malam.
Aku menyentuh dinding.
Dinding menyimpan
dingin tanganku.
Sebentar
aku tidak tahu
mana yang menyentuh
dan mana yang disentuh.
Di jalan
seorang anak memeluk ibunya.
Tubuh kecil itu
hilang di antara dua lengan,
kemudian terlepas.
Ia berlari.
Ibunya tetap berdiri
dengan tangan
yang masih menyimpan
bentuk tubuhnya.
Aku berjalan.
Pohon menyentuh langit
tanpa memilikinya.
Akar menyentuh bumi
tanpa berpindah.
Burung menyentuh udara
dengan sayapnya,
lalu meninggalkannya
tetap menjadi udara.
Aku duduk
di bawah pohon.
Bayangannya
jatuh ke tubuhku.
Aku tidak mengangkatnya.
Kubiarkan kegelapan kecil itu
tinggal di bahuku.
Malam datang.
Rumah-rumah menutup pintu.
Cahaya satu demi satu
pulang ke dalam rumah.
Aku masih berdiri
dengan kedua tangan terbuka.
Bukan untuk memiliki.
Hanya untuk menerima
apa yang datang
dan melepaskan
apa yang pergi.
Sebab dunia
tidak pernah menjadi milik kita.
Kita hanya sebentar
menyentuhnya
dengan telapak kaki,
dengan mata,
dengan tangan
yang pernah memeluk
dan kemudian
terbuka kembali.
Kelak,
ketika tubuh
kembali kepada tanah,
barangkali tidak ada
yang perlu dibawa.
Cukup cahaya
yang pernah tinggal
di tangan orang lain
setelah tangan kita
melepaskannya.
2025, 2026
SEMANGKUK MIE UNTUK DUA ORANG ASING
Di sudut kedai
uap naik
dari semangkuk mie.
Dua orang asing
duduk
di hadapan
satu lingkaran panas.
Tidak ada nama.
Hanya sendok yang berpindah
dari tangan ke mangkuk,
dari mangkuk ke mulut,
seperti sesuatu
yang mencari jalan pulang
tanpa pernah tahu rumahnya.
Di luar
hujan telah berhenti.
Kaca menyimpan
air yang tersisa dari langit.
Di dalam mangkuk
sepotong daun bawang
bergerak perlahan,
seperti perahu kecil
yang kehilangan lautnya.
Mereka makan.
Uap naik di antara wajah mereka,
menghapus jarak,
lalu mengembalikannya.
Sebuah wajah
muncul di dalam uap.
Wajah lain menjawabnya
tanpa suara.
Barangkali pertemuan
dua manusia
yang saling menemukan
adalah dua kesunyian
yang untuk sesaat
kehilangan
kesendiriannya.
Jam dinding bergerak.
Bus melintas
di luar.
Kota terus membawa
orang-orangnya
seperti arus
membawa nama-nama
yang tak sempat dikenalnya.
Mie semakin sedikit.
Uap semakin tipis.
Dan sesuatu yang tidak disebut
mulai memenuhi meja.
Ketika mangkuk kosong,
mereka membayar
setengah-setengah.
Setengah untuk mie.
Setengah untuk waktu
yang telah mereka habiskan
tanpa memilikinya.
Mereka berdiri.
Pintu terbuka.
Malam masuk
mengambil kembali
cahaya kedai.
Mereka pergi
ke dua arah.
Satu bayangan
memanjang ke utara.
Satu bayangan
hilang di tikungan.
Mangkuk tetap di meja.
Kosong.
Tetapi kekosongan itu
bukan lagi
kekosongan yang sama.
Di dasarnya
masih ada sedikit kuah,
sedikit cahaya,
dan sesuatu
yang tidak memiliki nama
selain:
pernah.
2025, 2026
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




