Merah Putih dan Pekerjaan Kebudayaan
Oleh: Purnawan Andra*
Setiap Agustus, merah putih hadir di hampir seluruh ruang kehidupan kita. Ia berkibar di halaman kantor, sekolah, jalan kampung, rumah-rumah warga, hingga gang-gang kecil. Selama beberapa pekan, warna itu menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari Indonesia.
Bendera merah putih memang identitas negara. Namun, dua warna itu sesungguhnya memiliki kehidupan budaya yang jauh lebih panjang daripada republik.
Dalam Pararaton, panji merah putih telah disebut dalam kisah balatentara Jayakatwang ketika menyerang Singasari. Majapahit juga mengenal panji gula klapa, merah dan putih.
Dalam kehidupan masyarakat, pasangan warna ini hadir dalam bubur merah putih yang disajikan dalam berbagai ritus seperti bersih desa, slametan, dan syawalan. Dalam salah satu tafsir yang berkembang di masyarakat, jenang merah berkaitan dengan ibu bumi, sedangkan jenang putih dengan bapak angkasa. Merah dan putih, dengan demikian, tidak hanya menjadi warna, tetapi bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan dan kesuburan.
Ketika merah putih kemudian menjadi bendera Republik Indonesia, simbol itu memperoleh makna politik baru. Ia menjadi penanda kedaulatan dan identitas sebuah bangsa. Tetapi lapisan makna kultural yang lebih tua tidak serta-merta hilang. Justru di situlah menariknya. Republik ini seperti memberi bentuk politik kepada simbol yang sebelumnya telah hidup dalam pengalaman kebudayaan masyarakat.
Dalam kebudayaan, merah dan putih juga tidak selalu dipahami sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Toto Amsar Suanda membaca keduanya sebagai pasangan paradoks atau dualisme. Seperti kanan dan kiri, atas dan bawah, siang dan malam, keduanya berbeda tetapi saling membutuhkan. Keduanya dapat berdiri sendiri, tetapi pada saat tertentu perlu dipertemukan untuk menghasilkan keseimbangan, harmoni, dan kerukunan. Jika salah satunya hilang, makna keseluruhannya ikut berubah.
Di sini merah putih dapat dibaca lebih jauh sebagai gambaran tentang kesatuan yang tidak dibangun melalui keseragaman. Kesatuan justru lahir karena unsur-unsur yang berbeda dapat ditempatkan dalam hubungan yang memungkinkan semuanya tetap hidup. Perbedaan tidak harus dihapus untuk mencapai persatuan. Yang dibutuhkan adalah tata yang membuat perbedaan tidak berubah menjadi pertentangan yang menghancurkan.
Pewayangan
Cara pandang semacam ini menemukan salah satu ruang ekspresinya dalam kebudayaan pewayangan. Dalam pewayangan, kehidupan bersama tidak hanya dibicarakan melalui pertarungan antara pihak yang benar dan salah. Banyak lakon justru memperlihatkan bagaimana sebuah kerajaan kehilangan keseimbangan ketika kekuasaan, keadilan, kewajiban, dan kepentingan bersama tidak lagi berada dalam tata.
Kita dapat melihatnya dalam Astina menjelang Bharatayuda.Astina bukan kerajaan yang sejak awal tampak sebagai negara gagal. Ia memiliki raja, istana, pejabat, penasihat, pasukan, dan seluruh perangkat kekuasaan. Negara masih berdiri. Pemerintahan masih berjalan. Namun, tata di dalamnya perlahan mengalami kerusakan.
Persoalan Pandawa dan Kurawa tidak berhenti sebagai konflik keluarga. Ia menjadi persoalan negara ketika kepentingan kekuasaan mulai mengalahkan keadilan. Hak dapat dipermainkan, keputusan politik dipengaruhi kepentingan dinasti, sementara mereka yang memahami persoalan tidak cukup mampu menghentikannya. Nasihat masih diberikan, tetapi tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah keputusan.
Bharatayuda akhirnya terjadi. Namun, perang itu bukan awal kehancuran Astina. Ia merupakan akibat dari kerusakan tata yang berlangsung sebelumnya.
Di sinilah pewayangan menawarkan cara lain untuk memahami gagasan tentang negara gagal. Negara tidak pertama-tama gagal ketika istana runtuh, ekonomi hancur, atau tentara kalah. Negara mulai gagal ketika tata kehidupan bersama tidak lagi bekerja. Ketika kekuasaan kehilangan batas, hukum kehilangan keadilan, nasihat kehilangan wibawa, dan kepentingan penguasa mengalahkan kepentingan bersama, negara mungkin masih tampak kuat, tetapi sesungguhnya sedang mengalami keretakan dari dalam.
Tata Kehidupan
Pembacaan ini menjadi relevan ketika kita memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Selama ini kemerdekaan sering dibaca melalui ukuran-ukuran yang mudah dilihat berupa pembangunan, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, teknologi, daya saing, dan posisi Indonesia di tengah dunia.
Semua itu penting. Tetapi sebuah republik tidak hanya membutuhkan kapasitas untuk membangun. Ia juga membutuhkan kemampuan menjaga tata kehidupan bersama.
Sebab Indonesia memang tidak dibangun dari kesamaan. Ia lahir dari perbedaan bahasa, adat, agama, sejarah, pengalaman sosial, dan cara hidup. Persatuan Indonesia sejak awal merupakan pekerjaan kebudayaan yaitu tentang bagaimana berbagai perbedaan dapat hidup dalam satu ruang politik tanpa harus kehilangan identitasnya masing-masing.
Karena itu, kesatuan Indonesia tidak semestinya dipahami sebagai keadaan ketika semua orang berpikir dan berbicara dengan cara yang sama. Kesatuan justru diuji ketika perbedaan muncul. Apakah hukum mampu menjadi ruang keadilan bagi semua? Apakah kekuasaan mampu menahan dirinya? Apakah kritik masih memiliki tempat? Apakah kelompok yang berbeda tetap diperlakukan sebagai bagian dari keseluruhan, bukan sebagai gangguan terhadap keseluruhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada merah putih.
Dua warna itu menyatu tanpa kehilangan perbedaannya. Maknanya justru lahir dari hubungan keduanya. Dalam kehidupan berbangsa, barangkali demikian pula persatuan harus dipahami. Indonesia tidak membutuhkan keseragaman, tetapi tata yang memungkinkan keberagaman menjadi kekuatan bersama.
Maka, pada usia 81 tahun Republik Indonesia, merah putih sebaiknya tidak hanya kita lihat sebagai simbol yang dikibarkan di tiang upacara. Ia dapat menjadi cermin untuk melihat kembali cara kita mengelola kehidupan bersama.
Pewayangan mengingatkan bahwa sebuah kerajaan dapat runtuh bukan karena kekurangan kekuasaan, melainkan karena kehilangan tata. Merah putih mengingatkan bahwa kesatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan menjaga hubungan di antara perbedaan itu agar tetap seimbang.
Barangkali di situlah makna kemerdekaan perlu terus diperbarui. Bukan hanya kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri sendiri, tetapi kemampuan untuk tetap menjadi satu tanpa harus menjadi sama.
Sebab yang membuat Indonesia bertahan bukan semata-mata kekuatan negara, melainkan tata kehidupan bersama yang membuat keberagaman tetap dapat menjadi rumah bagi semua. Itulah makna kemerdekaan bangsa ini sebenarnya, bukan meriahnya perayaan berkibarnya bendera merah putih di mana-mana.
*Purnawan Andra, Pamong Budaya pada Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.





