Seni Mewarga: Catatan Jakarta International Performing Arts (JIPAF) 2026

Oleh: Hikmat Darmawan*

Bagian Kedua dari Dua Tulisan 

Bentuk: AI, Arsip, dan Batas Pertunjukan yang Baur

Bagi sebagian, tubuh selalu bergulat dengan kata. Teater Pungo, dalam Interstice, menghadirkan tubuh fisik dan tubuh yang dibicarakan. Pembicaraan verbal, menggunakan kata-kata. Pertunjukan dimulai dengan ketiadaan yang fisik, sebuah suara mendahului. Beberapa penonton celingukan, dan sang suara mengomentari celingukan itu dan menggarisbawahi peristiwa tubuh: suara yang mengajak bicara biasanya diiringi tubuh yang terlihat.

Itu suara Hilmi, Sang Sutradara, yang kemudian muncul dari belakang tempat duduk, mengajak merenungi bagaimana tubuh dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan, perintah, warisan nilai, juga kostum –hal-hal eskternal. Ini kebetulan dengan pikiran yang sedang saya geluti beberapa minggu ini, bahwa tubuh seringkali tumbuh-terbentuk oleh bahasa. Jadi, secara subjektif, saya sedang nyambung dengan soal-soal yang diangkat oleh Hilmi.

Sang Sutradara bilang, mau membawa sesuatu dulu ke tengah panggung. Lalu ia membopong pemain, seorang lelaki muda tak berbaju atas. Panggung ada area lingkaran, dikelilingi tumpukan baju lelaki. Sutradara meminta penonton menuliskan di lembar Post-It hal-hal yang diwariskan, nilai atau perintah yang karib seumur hidup, lalu menempelkan kertas itu ke tubuh pemain. Pertunjukan kemudian didominasi oleh bagaimana tubuh si lelaki dibentuk-paksa oleh dua sosok perempuan berjilbab hitam.

Ini menarik, buat Saya, karena isu yang lazim tentang regulasi tubuh biasanya adalah betapa tubuh perempuan seringkali didominasi kaum lelaki. Namun, premis dan olah bentuk yang cukup menarik ini agak sendat dan kurang meyakinkan akibat tubuh lelaki pemeran utama, khususnya ketika menjadi subjek tanpa baju, tampak kurang menguasai tubuh dan tampak kaku. Agaknya sang aktor bukan tumbuh dari sanggar tari?

Ketika pertunjukan ini usai, Cici masuk ke dalam arena. Bergoyang Hip-Dut, menyapa para penonton dengan centil-menggoda, dengan tubuh lentur dan plastis seorang penari terlatih. Dia diiringi oleh seorang lelaki yang membawa papan dengan kode QRIS, yang bisa terhubung langsung dengan aplikasi rancangan Patrick, yang bekerja di ponsel kita, merespon geal-geol Cici (atau tubuh mana pun, termasuk tangan saya sendiri) dan membuat bermunculan dekorasi digital dan emoticon yang mengikuti setiap gerak sang tubuh yang terekam.

Penyertaan karya-karya berbasis teknologi digital, sensorik, menyertakan unsur-unsur coding, dan semacamnya dalam JIPAF ini, Saya kira, adalah sebuah signature kurasi Yola. Interaksi tubuh, data, sensor, dan pengolahan digital, plus internet, adalah salah satu wilayah jelajah penciptaan Yola sebagai seniman. Ketika memikirkan strategi meningkatkan ekosistem kesenian pun, sewaktu di Dewan Kesenian Jakarta, Yola sempat menyampaikan gagasan pentingnya Disbud Jakarta memiliki teknologi semacam digital motion capture agar bisa merekam gerakan tari asli dari para maestro tari tradisi Betawi agar Jakarta punya ensiklopedi gerak yang layak. Gagasan yang belum kejadian.

Kembali ke permainan bahasa, kata adalah bagian dari bahasa, tentu. Lalu, bahasa adalah sistem simbol, biasanya untuk membawa pengertian-pengertian. Bentuk bahasa bisa bermacam-macam. Salah satunya tentu saja bahasa kode komputer. Kata dan kode diolah jadi bunyi dalam karya Renick Bell, programmer dari AS yang lama tinggal di Vietnam. Bellnge-DJ dengan cara live coding menggunakan perangkat lunak ciptaannya, pertunjukannya berjudul generik: Improvisation. Olahan kode itu mencakup kutipan-kutipan dari buku John Dewey dan I-Ching (bahasa Inggris), dan pesan-pesan buat penonton yang kadang instruksional.

Saya bertanya pada Yola seusai pertunjuan Renick, “pertunjukan ini apanya yang tari?” Yola, dengan gaya dosen seni, hanya tersenyum tidak menjawab. Sebagai awam, Saya hanya menebak, Oh, bisa jadi segala perubahan lanskap bunyi hasil utak-atik perkakas elektronik dan digital itu adalah pengertian “koreografi-diluaskan” (expanded choreography) yang dianut Yola selama ini, ketika dia juga menata gerak-gerik editing dalam film-tarinya. Lalu, Saya pun ngeh, acara ini menyebut diri festival “Performing Arts“, tak ada dakuan khusus ini platform bagi seni tari kontemporer, bukan?[1]

Tapi, bisa jadi, aspek instruksional pertunjukan ini pun termasuk dalam “koreografi-diluaskan” tersebut. Sebelum pertunjukan dimulai, sesudah sumbangan pertunjukan tari ibu-ibu warga Kramat V, Renick menyapa warga, mengenalkan diri, dan mengajukan permintaan pada para penonton agar apabila mereka merasa ada yang salah dan gagal, sudikah bersorak dan bertepuk tangan. Aspek instruksional itu, bisa juga dong saya anggap mengandung watak koreografi: hakikatnya, sedang menata tubuh penonton.

Aspek menata tubuh penonton, secara cair, juga digunakan oleh 925 Poetica & Try Anggara dalam Improptu – A(I) Conversation With Building di Kuntskring. Hasilnya, banyak momen-momen kikuk. Sebuah ketukan di pintu galeri yang jadi ruang pertunjukan, seorang tokoh kurir Ojol masuk, mengantarkan paket kotak. Sebuah suara mengumumkan, pertunjukan tidak akan dimulai jika kotak belum dibuka oleh penonton. Para penontong gamang, Saya celingukan.

Ketidaktahuan bagaimana bereaksi sebagai penonton berlangsung di sana sini di sekujur pertunjukan itu. Pertunjukan dibangun oleh dua elemen utama: percakapan dengan AI dan tari “konvensional” merespon ruang. Percakapan itu sendiri disusun dari premis kehadiran suara dari masa depan Jakarta (50 tahun yang akan datang, kalau tak salah), yang terjebak mesin waktu tak bisa balik ke masa lalu (yakni, masa kini yang dialami penonton). Suara masa depan itu mencoba mengolah arsip yang ada tentang gedung itu.

Percakapan AI dari tiga sudut ruangan dirancang agar serba sendat dan patah-patah. Mereka mencoba mengajak penonton dan pemain berdialog tentang arsip sejarah dan arsip imajiner gedung kolonial tersebut. Alur pertunjukan memang tidak lancar. Saya tidak tahu persis, mana yang memang hasil rancangan (scripted) dan mana yang kecelakaan belaka. Atau, seperti lazim dalam seni, pertanyaan lebih tepat: apakah segala kewaguan itu memang sengaja dirangkul? Tapi, seringkali, dalam ranah seni begini, relevansi pertanyaan itu pun tipis saja. Jangan-jangan, sebagian dari Anda akan membaca ini sebagai sebuah kenorakan. Biarin.

Persoalan lain: bagian tari yang relatif konvensional untuk merespon ruang, dengan idiom sandal dan unsur gerak yang dinamis (berlari, membanting dan melempar sandal, ritme cepat) terasa terpisah nyaris total dari bagian percakapan wagu yang meracik arsip-premis scifi-dramaturgi. Dengan kata lain, belum terasa padu, masih lebih menonjol kikuknya. Dan belum jernih.

Padahal, metode wagu itu juga dipakai dengan segera oleh Darlane Litaay (Papua), saat memulai pertunjukannya: #Risk #Fragile #Uncertain #Unpredictable #HustleandBustle City Life. Tapi, dalam pertunjukan Darlane, ketakpastian apakah pertunjukannya telah dimulai, terasa sebagai penataan dan pelibatan penonton yang santuy, membersihkan kepala dari keruwetan pertunjukan Improptu dan intensitas gerak dan isu Hydarulic State sebelumnya. Diawali dengan penyiapan AI dan entah apa yang digital di laptop, menata letak kipas, bangku, meja tinggi, menyapa temannya di tempat penonton.

Satu titik, Darlane seperti dikejar waktu, agak bingung dengan setelah Chat GPT dan bertanya pada operator pertunjukan sebelumnya. Kedua temannya sudah ketawa-ketawa, “Drama nih!” Oh, itu bagian dari pertunjukan. Sudah mulai. Beberapa pertunjukan memang meruntuhkan batas awal dan akhir pertunjukan yang lazimnya sepasti batas panggung.

Klinik tubuh Tony Broer dan Wail juga membuyar batas itu, ketika mereka selesai durasional pertunjukan-perjalanan dengan gerobak sampah, lalu menggelar kasur buluk dari tempat sampah lalu tengkurap santai menyaksikan pertunjukan Opera Aperat + Studio Klampisan. Salah satu tubuh di kasur buluk itu bahkan direspon oleh salah satu penampil. Mungkin, dengan kostum “Sahabat” itu, pertunjukan mereka berdua telah dimulai sejak di kamar hotel (?) saat mereka memasang topeng.

Darlane menyetel musik pop Papua setelah memakai ponco plastik pink, menari dengan gerakan tari gaul Papua, tubuhnya bergerak ringan dan pasti. Ruangan menjadi hidup. Di sela-sela, ada obrolan dengan temannya, memberi instruksi blocking sembari terus menari. Di manakah seni bermula dan di mana pula ia berakhir? Seorang seniman mungkin teramat sadar batas dan seringkali menegaskan poin melanggar batas sebagai pijakan berkesenian.

Kapan ia melawan batas, mencairkan batas, atau menciptakan batas baru? Haruskah ia memintas batas selalu? Apakah seorang aktor atau penari masih jadi penampil di dalam dan luar panggung, dalam hidupnya sehari-hari? Apakah potong tumpeng di Balai RW 1 Kalipasir pagi sebelum pertunjukan di Kunstkring itu sebuah hidup nyata atau performance?

Darlane memakai sepatu es dengan pisau peluncur, dan mengeluarkan suling. Lalu memimpin penonton keluar galeri, keluar gedung, menemui hidup dan mengganggu rutinitas keseharian di jalanan sekitar Kuntskring. Sebuah batas berlapis didobrak Darlane lagi: dalam dan luar panggung, dalam dan luar gedung, peristiwa pertunjukan dan hidup biasa. Apakah para penonton itu masih penonton, atau sudah jadi penampil? Darlane mengganggu sekelompok anak muda nongkrong di jalan, juga seorang tukang sapu. Mana yang dramaturgi mana yang respon pada situasi hidup yang ditemui sang penampil?

Seberapa penting seni membongkar batas-batas? Untuk apa? Untuk kebahagiaan sang senimannya saja dan para penontonnya, ataukah untuk kebahagiaan bersama semua orang? Setidaknya, dalam teori? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, sudah terjadi lelaku politik. Saya percaya, politik yang “baik” adalah politik yang berangkat dari pertanyaan kritis dan selalu menghormati ruang bertanya. Saya juga percaya apa kata Romo Mangun dalam Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa: Pertanyaan lebih kudus dari jawaban.

Benda: Boneka, Sepatu Seluncur Es, Speaker, Bendera

Benda-benda pun bisa punya makna politik dalam seni maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kadang yang kita perlukan hanyalah teknik, pertanyaan, atau rancangan yang tepat. Beberapa karya dalam JIPAF 2026 ini berhasil menghidupkan benda-benda.

Pertunjukan boneka selalu magis buat Saya, karena dengan teknik gerak tertentu, sang benda, yakni si boneka, menjadi bernyawa, hidup. Tawa anak-anak SMP 1 Cikini menonton pertunjukan boneka itu pun terasa magis. Padahal, pertunjukan Flying Balloons Puppet Theatre di situ, Arsip yang Berjalan, cukup padat watak simboliknya. Ketika abstraksi metaforik sebuah pertunjukan terlalu jauh terlepas dari komunikasi, bisa jadi yang tersisa adalah gerak, dan unsur-unsur livenesslain.

Saya pun tak terlalu mengerti dan tak berusaha keras memahami makna pertunjukan ini, hanya berserah pada dampak pertunjukan pada indera Saya (kembali pada seni sebagai wahana sensual). Ada boneka, ada buku, ada temali, ada balon merah. Ada musik elektronik menekan. Ada pesan, barangkali sedikit tertangkap oleh Saya: bahwa buku semestinya bisa membebaskan pikiran. Kalau tangkapan Saya ini salah pun, tak apa. Saya bersama anak-anak yang menonton: gembira saja melihat yang ganjil di halaman sekolah tua itu.

Pada pertunjukan Darlane di Kuntskring, yang sangat menarik Saya pastilah si sepatu es yang berjumpa dengan aspal panas Jakarta. Suling dan sepatu es, dua benda representasi Eropa, yang jadi perkakas pengalaman jelang “Senja di Jakarta”.

Benda lain yang signifikan dalam pertunjukan di JIPAF ini buat Saya adalah speaker yang jadi properti pertunjukan Minami Nakayashiki di Teater Kolam TIM serta seantero Plaza dan Promenade di depan kubah heritage Planetarium. Judul karya pertunjukan Minami malam itu, The Swaying Birdcage. Minami juga memulai pertunjukan dengan santai, mengajak berkaraoke. Kostumnya sedikit aneh, tapi kan namanya juga seniman: kaos yang casual, dan gaun dansa/balet biru glitter. Minami mengajak nyanyi bareng penonton, lagu yang sedang popular: Kicau Mania. Lalu, speaker besarnya ia seret sembari lanjut menyanyi.

Di beberapa tempat, terasa benar berat dan sulitnya speaker itu dibawa ke selasar dan sebagainya. Gaun baletnya yang berekor panjang sering keserimpet speaker. Beberapa asisten membantu ketika speaker berat itu diseret ke tempat-tempat sulit. Lagu berganti-ganti, dari elektronik agak Pantura-an, ke play list musik City Pop. Speaker tersambung ke ponsel Minami. Sempat dihalangi Satpam Teater Besar, karena memang sedang ada pertunjukan di dalam, reuni Krakatau vs. reuni Karimata. Acaranya Chandra Darusman, anggota Akademi Jakarta yang baru dilantik.

Sewaktu satu putaran selesai, Minami dan rombongan penonton berpapasan dengan rombongan Wakil Gubernur, Rano Karno, yang rupanya memilih nonton acara tersebut. Apakah perpapasan ini punya makna politik kebudayaan? Mengenai pertunjukan apa di Cikini yang dipilih oleh Wagub hari itu? Silakan saja. Sesampai kembali di Teater Kolam, Minami melepas kaosnya di panggung, dan bersiap menari. Balet. Pengiringnya: soundscape dari rekaman suara-suara burung yang dia rekam di Bandung. Lamat-lamat terdengar suara dari speaker masjid terekam juga. Minami merespon cicit-cicit burung, dengan disiplin balet yang harus menghentak-hentak acak mengikuti para burung bermusyawarah.

Yang terasa kalem tapi lama-lama menjadi benda menarik Saya di hari kedua dan ketiga adalah bendera di halaman Mess. Ia tegak, menyaksikan semua pertunjukan. Para penampil melontarkan kritik kadang keras atau seakan berpolah gila saja di bawah bendera itu. Salah satu penampil Klinik Tubuh merespon sang tiang dan bendera, dengan memberi hormat militer. Sebuah komentar pernah Saya dengar: sering terjadi, diam itu ternyata kosong saja, bukan tanda berisi.

Apa kabar hai bendera? Apakah kau dua hari itu kosong, atau berisi?

Benda-benda dalam karya sepanjang JIPAF 2026 saya rasakan seperti mise en scene dalam film: ia bisa jadi menambah makna, suasana, dalam sebuah karya. Benda-benda itu bisa menjadi sebuah medan ikonisitas, dengan kemungkinan-kemungkinan semiotika. Atau tidak. Bisa jadi, kosong lebih bermakna, atau lebih mampu mengudar rasa.

Ruang: Yang Patah, Luruh, Hilang Berganti?

Dalam sambutan tertulis dari Wakil Gubernur Rano Karno pada pembukaan JIPAF yang dibacakan oleh Kepala Bidang Pemanfaatan Dinas Kebudayaan DKI, Pak Faksi, terucap (kurang lebih): “pilihan lokasi di gedung-gedung heritage di kawasan Cikini semoga akan menautkan masa lalu dan masa kini.” Harapan ini saya anggap penting, semestinya bukan omon-omon atau normatif semata. Jakarta seringkali kehilangan cerita tentang apa dan siapa dirinya, warganya, jatidirinya. Salah satu jawaban gampangan sejak 1990-an adalah menumbuhkan politik identitas. Entah politik identitas etnik/kesukuan, atau politik identitas agama.

Misalnya, bahwa “Jakarta boleh global, tapi identitasnya tetap Betawi”. Apa benar esensi identitas budaya Jakarta adalah budaya etnik? Banyak perdebatan soal ini. Saya menganut pendapat bahwa Jakarta adalah medan budaya dengan identitas yang dinamis, terbangun dari keragaman kenyataan urban, dan identitas etnik Betawi adalah salah satu dari sekian kenyataan tersebut. Tapi, yang jelas penting adalah membangun narasi tentang apa yang membuat Jakarta adalah Jakarta, juga tentang siapakah “orang Jakarta”.

Ruang-ruang di Jakarta adalah sumber cerita lama dan cerita baru. Bangunan tua di Jakarta, apalagi bangunan heritage semestinya bukan sekadar jadi lokasi hantu atau pengabaian seakan nol-cerita-nol-makna sehingga dibiarkan saja luruh jadi puing. Identitas Jakarta, buat Saya, pastilah cair; dan ruang-ruang di Jakarta adalah alur alir identitas cair itu. Identitas yang terbangun dari cerita-cerita. Cerita-cerita orang datang dan pergi, cerita-cerita masa lalu dan masa kini.

Hal ini dielaborasi oleh Kelompok Pojok, dengan pertunjukan BEAUTIFUL CHAOS: KATA WARGA. Tiga pemain menutur pengalaman berbeda tumbuh dan hidup di Jakarta. Blocking memanfaatkan cukup baik halaman dan bangunan Mess uzur itu. Ada seorang tukang sapu, jendela lantai tiga terpakai. Tiga pemain bertutur bergantian dari tiga arah. Menutur Kisah Kerusuhan 1998. Juga pengalaman tumbuh di Kampung Muara Baru.

Aktor penutur Kampung Muara Baru, bertanya pada penonton, “Mau tahu, bagaimana keadaan kampung rumah saya itu?” Lalu, ia mengajak para penonton ke bagian belakang gedung yang sebagian besar telah puing. Tentu saja, ini sebuah pertunjukan, dan puing-puing di belakang gedung Mess adalah simulasi untuk cerita Kampung Muara Baru masa kanak si tokoh yang kini  berai dan tergusur. Sayang sekali, penataan alur naratif pertunjukan ini agak terasa tumpul akibat artikulasi para pemain di bagian yang bertumpu pada kata justru terasa tidak jelas.

Malam terakhir JIPAF 2026, ada pertunjukan Lenong Seuduk, Semati. Grup Lenong ini terdiri dari Prodi Teater dan Etnomusikologi IKJ, dengan etnik para pemain beragam. Semua berbahasa Indonesia gaya Betawi. Secara bentuk, watak “kontemporer”-nya tipis saja. Yang kuat terasa, kontemporerisasi-nya, peng-kini-annya. Sebuah miniatur metropolis, lengkap dengan motor Gojek yang nyelonong kepada penonton. Bu RW mungkin tak tahu sejak kapan orang Manado banyak tinggal di Kramat V, tapi dia asik menonton di bangku plastik, girang gembira bersama warga yang juga beraneka.

Lenong ini menyusun pertunjukan dari premis bahwa Jakarta atau Kota dibangun dari narasi-narasi kecil, seperti nasi uduk dan pojok pertahanan terakhir berjualan. Nasi uduk beneran, bakwan digoreng selama pertunjukan oleh “relawan” yang ditarik dari penonton (apa itu penonton beneran?) dan dibagikan kepada para penonton (banyak yang tak kebagian). Cukup lucu, tapi lebih penting lagi, sungguh menggembirakan. Kapan terakhir kali kita menonton Lenong, secara live?

 Sebagian penonton bergerak ulang alik antara ruang tertutup dan terbuka. Setelah pertunjukan terakhir malam pertama di Teater Kolam (ruang terbuka) Tuti Indra Malaon di TIM, Yola mengungkap rasa senangnya pada acara pembukaan yang dihadiri anak-anak sekolah. Tapi, dia agak menyayangkan, walau suasana di Teater Kolam asyik, penonton kalangan warga kampung sekitar kurang.

Ruang-ruang terbuka di TIM sebetulnya wagu juga: ruang terbuka di sebuah area tertutup (Pusat Kesenian Jakarta TIM). Dulu, ruang-ruang TIM terasa angker, karena dianggap “sarang seniman”. Biar kumuh, yang penting nyeni. Taufik Ismail pernah ngledek pada 1980-an: orang-orang luntang-lantung di TIM mengaku seniman,  tanpa jelas karya mereka apa, satu-satunya yang jelas dari mereka adalah menghasilkan air seni (kencing).

Setelah Revitalisasi yang ricuh, problem utama TIM adalah pengelolaan gaya bisnis properti dari JakPro sehingga banyak ruang seni di situ jadi berharga sewa amat tinggi bagi kebanyakan seniman. Tapi, kehadiran Perpustakaan Jakarta + PDS HB Jassin dan banyak colokan di dinding membuat profil kehadiran pengunjung jadi sangat berbeda, dan saya pribadi cukup menyukai suasana yang lebih beragam kini. Tahu-tahu, Megawati berkomentar bulan lalu, bahwa TIM kini “terlalu borjuis, kembalikan jadi tempat para seniman.” Seniman mana maksudnya —mosok para “seniman air seni” itu?

Sampai di sini, jelas Saya sangat menyukai penggunaan ruang di Mess Puskomlekad di Kramat V no. 7. Saya paling tak nyaman dengan pilihan lokasi di Kuntskring. Saya paham nilai historis lokasi itu bagi sejarah seni (rupa) Indonesia. Memang, terasa alamiah saja memilih tempat itu sebagai lokasi JIPAF 2026.

Namun, suasana kolonial di gedung ini telah agak lama dieksotisasi oleh kelompok Buddha Bar yang sangat eksklusif itu. Saya ke toilet, dan toilet duduknya tidak ada bidet. Saya jadi ingat kejengkelan Saya di toilet-toilet Eropa. Perut mulas Saya seakan terpaksa berhadapan Kolonialisme di Tanah Air sendiri. Patriotisme tai ini saya anggap valid. Bodoamat. Sebelum festival, Yola sempat bilang, “Ini memang salah satu kelemahan kelola bangunan heritage diserahkan kepada pihak swasta: semuanya dipatok mahal dan komersial! Mau loading saja harus bayar.”

Hanya pertunjukan Darlane yang berhasil mendobrak dinding tertutup warisan kolonial itu ketika ia dengan sepatu esnya mengajak penonton keluar ruangan galeri, menuruni tangga, lalu keluar gedung lagi, hingga akhirnya Darlane masuk dan menutup pintu bagi penonton, menempelken wajahnya di kaca pintu masuk, dengan plang “closed“. Seakan Darlane mengajak penonton keluar saja dari gedung kolonial itu, dan jangan masuk lagi.

Yang Saya pribadi merasa kurang “masuk” pada saat menikmati pertunjukan Darlane, Darlane menggunakan seruling untuk menuntun para penonton, mirip dongeng Eropa Pied Piper from Hemelin. Tapi, ya bisa jadi disonansi benda dan lokalitas Jakarta itu disengaja, sebagaimana sepatu esnya.

Ketegangan antara ruang terbuka dan ruang tertutup dalam menyusun medan artistik sebuah pertunjukan juga Saya rasakan dalam ujung perjalanan pertunjukan Irwan di Teater Wahyu Sihombing. Suasana yang artifisial, tatacahaya yang sinematik, properti panggung yang cukup mewah sebagai siluet ketika Saya masuk lalu keluar dari teater, terasa kontras dengan lokasi perjalanan yang penuh kejutan di jalanan. Jika pertunjukan jalan kaki di ruang terbuka terasa sebagai sebuah ritus murung yang berjalan perlahan, potensi pertunjukan di ruang teater terasa amat konvensional sebagai seni yang telah mapan dilembagakan.

Irwan agaknya selalu sadar kontras ruang terbuka dan ruang tertutup dalam karya-karyanya. Ia menjembatani dua ruang itu dengan alat rekam dan menayangkan perilaku serta berbagai intervensi artistiknya. Apa yang terjadi di luar sejak Subuh, dimediasi menjadi rekaman dokumenter yang disorotkan ke layar besar dalam gelap bertingkah cahaya-cahaya dan terang adegan yang direkam. Tapi, seperti Saya katakan tadi, Saya tidak meonton pertunjukan lengkap Irwan.

Isu: Didaktik-Verbalistik Juga Nggak Apa-apa

Untuk dua malam, mess menjadi ruang seni kontemporer yang kritis terhadap berbagai isu sosial-politik-ekologi. Ketika pertunjukan Wayang Kampung Sebelah (dari Solo), Tergusur di Bawah Panji Adil Makmur, Saya tersadar dua hal. Ini wayang kiwari, tak ada tokoh wayang tradisional dari kisah Mahabharata, Ramayana, atau serba carangannya. Malah ada wayang Rhoma Irama, Inul, dan sosok-sosok birokrat dan pejabat yang tipikal kita lihat di televisi atau layar medsos. Sindennya pun nyanyi lagu bergenre blues, reggae, Jazz, pokoknya modern deh. Tapi, lokal banget juga. Menyenangkan penonton tenanan.

Saya tersadar bahwa cara menata penonton malam itu menyalahi pakem wayang kulit selama berabad-abad: penonton didudukkan menghadap bagian dalang dan sinden plus semua pemain musik. Belakang layar jadi panggung depan. Padahal, wayang kulit dimaksudkan sebagai pertunjukan bayangan. Para penonton semestinya menonton layar yang menghasilkan bayang-bayang boneka kulit di tangan dalang. Bukankah “wayang kulit” diterjemah ke Bahasa Inggris sebagai “Shadow Puppet” –sebuah pertunjukan bayangan?

Saya ingat, salah kaprah ini mungkin sejak siaran wayang di TVRI tahun 1990-an, yang demi pakem layar kaca, lebih sering menyorotkan kamera ke bagian layar itu. Di Mess, ruang bagi pertunjukan bayangan itu sangat sempit mepet bangunan. Agaknya memang tidak dirancang untuk ada penonton.

Hal lain yang Saya tersadar: betapa verbalistik dan didaktik bagian kritik keras Sang Dalang pada pemerintah dan masyarakat. Saya kira, inilah estetika ala Realisme Sosialis itu. Sesuatu yang selama Orde Baru nyaris haram dan selalu dileceh oleh “Rezim Lirisime”. Saya tumbuh dengan estetika bentukan rezim tersebut. Saya tidak percaya bahwa estetika Rezim Lirisisme tersebut sama dengan sebuah kekerasan budaya mutlak. Saya hanya merasa kehilangan ranah alternatif yang penting bagi perkembangan seni Indonesia akibat dominasi estetika anti-Realisme Sosialis itu. Dan sekarang, Saya condong tidak percaya bahwa absolutisme rezim Lirisisme yang serbaluhung dan serba-klangenan itu masih relevan.

Dan, wayang bergaya Realisme Sosialis dengan khotbah-khotbah kenegaraan di sana sini itu dipertunjukkan di Mess milik AD, dulunya perpustakaan PKI, dengan beberapa anggota militer muda tampak tiduran di kamar-kamar di dalam gedung waktu Saya ke toilet di bagian dalam gedung. Sebuah ironi yang indah, dan ternyata tak apa-apa. Tak ada sensor. Sebuah perjumpaan gagasan dan pengalaman terjadi, walau sejenak. Tak liris tak mengapa. Begitu terasa sudah terlalu banyak khotbah, Dalang mengeluarkan wayang Rhoma dan Inul, lalu semua berubah jadi suasana konser rakyat, para penonton bergoyang lepas. Vibe keceriaan konser dan didaktisme menerangkan karya juga terasa di Pembukaan, pertunjukan

Di malam penutupan juga ada sumbangan spontan dan susulan. Dari warga, ibu-ibu menari pergaulan lagi. Terakhir, kelompok pemusik dari Papua, mengundang warga, penampil, dan panitia untuk ikut ke lapangan menari tarian pergaulan Tanah Papua. Sebelum tarian pergaulan terakhir, ada lagu mendayu. Dan di pojok lapangan, dua ibu-ibu (mungkin asal Manado) berdansa, syahdu. Bulan pun menyaksi dansa dua Oma yang syahdu itu.

Yang politik kadang hadir dalam dialog budaya antar-negara yang menarik. Persoalannya dalam dialog budaya yang politis demikian, kita harus siap untuk berbeda secara ideologis. Pada hari kedua di area Mess, setelah Beautiful Chaos, pertunjukan kolaborasi Opera Aperta (Ukraina) dan Studio Klampisan (Banyuwangi), terasa sebagai perjumpaan tradisi folk Eropa Timur + respon terhadap budaya pop yang banal + tarian modern yang merespon ruang dengan konvensi panggung yang tak terlalu terlihat eksperimental dalam bentuk. Judulnya, In Flux: No Land for Mothers.

Pertunjukan ini masih terasa berhasrat pada simbolisme. Tapi di bagian tengah, ada bagian yang dengan gamblang menjebak diri jadi propaganda. Ada bagian lagu ratapan (lament) Kiev tentang para korban serangan Rusia. Ada juga bagian jenaka-ironis, setelah mereka joged musik Pantura, lalu para seniman Ukraina mengolah panduan menghindari “roket Rusia” menjadi semacam senam dengan iringan musik Senam Kesegaran Jasmani. Memang Saya tak keberatan seni propaganda. Namun, justru di situ, kita dibetot pada diskursus politiknya sendiri secara langsung, tak bisa berlindung di balik metode simbolisme lagi.

Dalam hal perang Rusia-Ukraina, perkembangan geopolitik terkini, ketika Presiden Zelensky dan pasukannya mendukung tentara Israel dan menyerang kapal Iran, Saya sebagai penonton merasa berseberangan. Tapi sebatas ekspresi seni, perseberangan Saya pun bisa ditarungkan dalam medan ekspresi seni juga. Semoga saja, JIPAF tahun depan bisa mendatangkan seniman dan pemikir seni pertunjukan lebih banyak dan mencakup asal Iran dan Palestina. Dinas Kebudayaan atau Kementerian Budaya memang sering mengingatkan agar platform budaya yang mereka ampu jangan “terlalu politik”.

Tapi, sanggahan klasik itu makin kuat: apa yang tidak politik? Apalagi dalam seni.

Mewarga: Sebuah Politik Seni

Site specific di festival ini bukan semata siasat. Bukan sekadar keterpaksaan karena tidak ada ruang pertunjukan yang layak bagi seni pertunjukan di Jakarta. Walau memang Jakarta punya masalah minimnya ruang pertunjukan yang “layak”, apalagi bagi seni pertunjukan kontemporer dalam impian menjadi kota global papan atas. Bukan pula ini sebuah kegenitan eksotisasi ruang kota dan ruang warga Jakarta, atau apropriasi kolonialistik ruang warga Jakarta.

Pendekatan site specific festival ini sebuah strategi yang saya anggap cerdas untuk merawat politik kewargaan. “Cerdas” di sini tidak dalam konotasi kebaharuan nan cemerlang, tapi lebih dekat dengan pengertian mahir yang lahir dari kematangan kurasi. “Kematangan” di sini tidaklah dalam arti kehalusan dan kecanggihan gagasan kurasi yang telah terasah oleh waktu dan pengetahuan akademik mendalam. “Kematangan” di sini lebih dekat dengan perngertian kapasitas praktik penciptaan yang merupakan hasil pengendapan pengetahuan otentik dan vernakular tentang kota/Jakarta dan seni itu sendiri.

Contoh yang segera terlintas pada benak saya adalah pengalaman saya menonton proses penciptaan Agnés Varda dalam The Beaches of Agnés (2008). Dokumenter dengan gaya esai-visual yang merupakan sebentuk kematangan medium itu menutur Agnes bermain-main dengan bentuk dan gagasan dalam mencipta karya-karya sinematik maupun instalasinya. Menonton Agnés, saya untuk pertama kali mengalami kesadaran bahwa karya-karya avant garde tak perlu terasing dari kenyataan keseharian dan kesadaran orang kebanyakan.

Agnés asyik saja bermain-main dengan bentuk. Tanpa keangkuhan diskursif. Tanpa keberatan beban-beban semiotika. Kalau pun ada teori, itu setara saja dengan benda-benda yang dia temui di jalanan –sebuah bahan asembli penciptaan. Ketika dia menyusun karya instalasi, dia dengan sahaja memilih dan menyusun benda-benda yang dia temui atau yang dia anggap penting secara pribadi. Termasuk benda-benda yang telah dibuang, efemeral, dilewati oleh orang-orang. Atau yang dia anggap menarik dan asyik, memancing kemungkinan-kemungkinan artistik.

Tingkat kematangan gagasan suatu karya atau peristiwa seni teruji dan terbukti justru seperti itu, hemat saya, ketika sang seniman atau sang peristiwa seni mampu memeluk kenyataan manusia secara non-hirarkis, tak ada pembedaan kelas, kapital, dan historisitas para pencipta dengan khalayak majemuk dan berasal dari berbagai kelas. Interseksionalitas bukan hanya teori dan percakapan, tapi jadi praktik menubuh dan meruang.

Lebik baik lagi, menurut saya (saya akui secara ideologis) apabila sang karya/peristiwa seni tidak lahir sekadar dari gelembung diskursus kelas tertentu yang dominan seperti kelompok “skena seni” yang rajin bersirkulasi di galeri-galeri fine art Jakarta, kaum sosialita penggemar healing dan Namaste, atau kelas menengah urban Jakarta yang sering disebut “anak Jaksel“. Secara ideologis, saya menginginkan gelembung-gelembung sosial-budaya itu dipecahkan, dan kelompok-kelompok itu “terpaksa” mensirkulasi diri secara cair.

JIPAF 2026 saya pikir adalah sebuah percobaan yang cukup berhasil dalam aspek ini. Alangkah menyenangkan melihat bagaimana seni pertunjukan kontemporer diboyong dan didudukkan ke tengah warga lokal Cikini dan Kalipasir. “Harusnya begini memang, ya,” kata Yola pada saya, seusai penutupan festival di Kramat V, “seni harus lebih sering dibawa ke pelosok.” Saya berpikir, penggunaan kata “pelosok” di situ menurut saya kurang genah.[2]

Kata “pelosok” seringkali tanpa kita sadari adalah kata yang mengemban bias kelas, yang biasanya saya tampik. Yola tidak pernah meromantisasi dunia rakyat jelata dan kampung kota, setahu saya. Tapi dia juga tak pernah menempatkan diri lebih tinggi atau elitis. Dia lebih sering menempatkan diri sebagai bagian warga demikian, sejajar, sesama. Menjadi bagian otentik dari kehidupan yang merupakan subjek tematik sebagian besar kekaryaannya. Jadi, kalau saya tak keliru, alih-alih sebuah bias kelas, “pelosok” di sini adalah sebuah kasus kata yang kurang pas untuk maksud yang sangat menarik: pemerian ruang-ruang yang jarang dijamah oleh seni kontemporer. Ruang-ruang yang seringkali dianggap bukan habitat alamiah kesenian modern dan kontemporer.

Festival ini selama delapan hari (jika menyertakan pra-festival, 27-30 Juli 2026) menjadi disrupsi kecil-kecil dan tersebar yang mengarah ke dua hal: (1) disrupsi terhadap Perhatian Normatif dan memberdayakan Perhatian Tak Beraturan, dan (2) disrupsi ruang kota di kawasan Cikini-Kalipasir. Kedua disrupsi itu menjadi jembatan ke sebuah aktivasi untuk membangun ruang seni baru, walau hanya sementara. Bangunan-bangunan heritage di kawasan Cikini yang diintervensi/diaktivasi untuk JIPAF kali ini adalah Gedung SMP 1 Cikini, Mess Puskomlekad (Pusat Komunikasi dan Elektronika Angkatan Darat RI), Bale Warga RW 1 Kalipasir, Tugu Kuntskring Palais, dan TIM[3].

Pilihan kurasi penempatan karya pada lokasi-lokasi tersebut berhasil mengoptimalkan watak space making (penciptaan ruang) seni kontemporer di tengah warga. Setidaknya, lokasi-lokasi tersebut menjadi simulasi bagi potensi space making seni yang sebelumnya bisa jadi tak terbayangkan. Pilihan penempatan adalah aktivasi terpilih: penggubahan ruang terbengkalai atau fungsional-minimal[4]  menjadi ruang sensasional (dalam arti, memberi rangsang indrawi maksimal, langsung, dan tak terduga). Seni menjadi metode penciptaan ruang (space making) dari sekadar bangunan yang ada. Seni juga menjadi praktik pembukaan ruang untuk berjumpa dan bercakap berbagai pihak dari latar yang tadinya nyaris mustahil bertemu, apalagi sampai berkolaborasi mencipta.

Di titik ini, seni menjadi sebuah praksis politik kewargaan yang efektif. Lihat saja, misalnya, lokasi Mess. Bangunan itu kini milik TNI AD. Tapi, untuk sekian waktu hingga 1965/1966, gedung itu jadi perpustakaan PKI. Setelah 1965/66, bangunan itu disita oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. Menurut cerita Ibu RW, yang telah mengabdi tiga periode gara-gara “ketaksengajaan” birokratik, sebermula bangunan itu adalah rumah bagi orang-orang rantau, kebanyakan dari Manado. Usia sudah lebih dari seabad, kalau tak salah. Saya sempat bertanya pada Bu RW, kenapa banyak sekali orang Manado di kawasan itu? Bu RW tidak tahu pasti, yang jelas “sudah puluhan tahun begitu.”

Pengalaman warga dua malam di Kramat V itu, misalnya, akan jadi percakapan, kenangan, dan rujukan. Begitulah produksi pengetahuan baru bekerja. Dan setiap kali pengetahuan baru terbentuk, dan bukan sekadar penambahan dan penimbunan fakta-fakta trivial, maka bibit perubahan kritis tertanam dan berkecambah. Menjadi pengetahuan baru tentang seni, kota, dan mungkin juga tentang politik kewargaan (misalnya kesetaraan menikmati seni, atau perlunya ruang aman berekspresi) yang merimpang.

Kesimpulan

Platform ini perlu dilanjutkan. Setiap tahun. Dalam skala lebih luas. Mencakup lima wilayah Jakarta, Jakarta Raya, dan Kepulauan Seribu. Sekaya itu jumlah dan besaran ruang di Jakarta yang dihidupi oleh warga, sebanyak itu pula kemungkinan artistik yang bisa diolah oleh platform seperti JIPAF. Penting bagi Jakarta untuk memilki wahana untuk “mewargakan seni”, dan “menyenikan warga” yang otentik dan kontemporer ini, agar pengetahuan dan kebahagiaan warga semakin beragam dan tak sekadar bercorak konsumtif di mal, ruang-ruang tertutup dan ranah segregatif secara ekonomi.

“Jakarta Kota Global” yang banyak disebut itu (memang jadi misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Jakarta 2025-2045) tak semestinya hanya bermakna Kota Kapitalistik yang motor laju pertumbuhannya semata pertumbuhan bisnis finance dan Ekonomi Konsumsi. Di era Dunia Multipolar kini, model Kota Global itu sedang luruh. Apa tipe Global yang Jakarta inginkan? Seorang aktivis Urban Poor Consortium menawarkan jawab, dalam Pidato Kebudayaan DKJ 2025: Afrizal Malna, “Globalitas yang dipilih Jakarta semestinya adalah Solidaritas Global.”

JIPAF 2025 saya baca sebagai sebuah model kecil, dan cukup berhasil, praktik dan dan aspirasi Global jenis tersebut. Sebuah alternatif wahana Jakarta Banget! yang walau sekilas tampak ganjil di sana-sini bagi keseharian Jakarta, tapi menerbitkan senyum, menawarkan pengalaman “lain”, dan mengupayakan pencairan batas-batas “seni” dan “warga”. Sebuah bentuk solidaritas yang layak masuk dalam percakapan global tentang “seni”, “kota”, dan “warga”.***

*Hikmat Darmawan, Direktur Kreatif Pabrikultur

[1] Saya menikmati juga tebak-tebakan ini, tanpa berusaha mencari verifikasi –saya, entah kenapa, kali ini ingin berkepala batu jadi pengamat yang tak terlalu punya rujukan latar karya yang ditampilkan, hanya mengandalkan apa yang saya punya belaka ketika mengamati dan menulis esai ini.

[2] Di sini, saya sedang melanggar sendiri disiplin jurnalistik yang saya percaya: saya tidak berupaya mengonfirmasi bacaan Saya kepada Yola, melakukan verifikasi. Saya sedang bereksperimen dalam laporan ini untuk tetap terasing, hanya punya akses terbatas, hanya mengandalkan yang dilihat, dialami, dan di tangan, terhadap sisi dalam kurasi dan festival. Dengan demikian, sebisa mungkin saya ada di posisi “hanya penonton biasa” –walau, jelas pula saya penonton yang “kebanyakan pikiran” alias “over-thinking“.

[3] Sebetulnya, TIM tidak akurat disebut sebagai bangunan heritage. Teater Wahyu Sihombing dan Teater Tuti Indra Malaon, misalnya, bukanlah bangunan heritage. Yang secara legal berstatus bangunan heritage adalah Planetarium, yang ironisnya, tidak jadi venue JIPAF kali ini.

[4] Istilah “fungsional-minimal” yang saya maksud adalah penggunaan sebuah ruang/bangunan hanya untuk fungsi-fungsi generik, seperti: Mess hanya untuk tidur, atau sekolah hanya untuk belajar dan pentas seni yang sesuai kurikulum