Nonton Film Odyssey di Open Air Swiss

Oleh: Sigit Susanto

Kamis, 30 Juli 2026 menjelang pukul 21.00 aku naik sepeda ontel menuju Open Air di tepi danau Zug, untuk menonton film bahasa Jerman Die Odysee (Odyssey).

Seorang satpam berseragam biru memeriksa tiketku dan aku berlengggang masuk arena berpagar besi itu.

Kulihat banyak orang sedang menikmati makanan dan minuman di meja-meja berpayung. Maklum suhu udara ekstrim mencapai 32 derajat Celsius rata-rata dalam minggu ini, melampaui Indonesia.

Segera kutoleh ke samping kiri, tampak kursi berderet berundak-undak, sementara layar putih panjang berdiri di depan.

Kuayunkan kaki dan menaiki undak-undakan samping kiri. Terlihat beberapa orang sudah menaruh handuk, ransel, atau kertas pada kursi di deret atas belakang. Aku paham ada beberapa handuk ditaruh di kursi, dugaanku mereka dari berenang di Männerbad, pemandian di danau Zug di sebelah tempat ini.

Sekitar enam deret dari paling atas dan belakang, aku masuki dan kulihat masih ada satu kursi kosong di tengah. Di situ aku duduk.

Kulihat pukul 20.43, para penonton mulai berdatangan. Pukul 21.20 bisa dibilang deret kursi bagian belakang sudah penuh. Aku hitung deret kursi depanku dari ujung kiri ke ujung kanan sekitar 20 orang. Hampir semua kursi dipenuhi pengunjung. Mungkin ada sekitar 200 an penonton.

Pukul 21.30 film dimulai sesuai jadwal. Langit masih terang. Memang di musim panas, langit masih putih ketimbang musim lain. Sebab itu orang di sini paling suka musim panas, karena orang bisa melakukan kegiatan out door lebih lama dari biasanya.

Film durasi 2,5 jam ini tak didahului dengan tulisan judul film, apalagi para pemainnya. Tulisan judul film Die Odysseedan bintangnya baru muncul di akhir film dan sangat singkat.

Adegan pertama langsung ada sosok lelaki berpakaian warrior menggedor-gedorkan tongkat di lantai kayu dengan suara menghentak sangat keras. Esoknya ketika aku dan istri ke tepi danau Männerbad untuk berenang, kenalan baru kami Alexander bilang, “Ada suara keras dok, dok, dok di film itu?” Ya, ia tinggal di seberang jalan raya, tak jauh dari bioskop open air ini.

Film berlanjut muncul lelaki remaja di tepi pantai dan bersembunyi di depan perut patung kuda raksasa yang berdiri miring di tepi laut. Pasukan berkuda dari arah jauh datang dan ketika berada di depan patung kuda, melepaskan anak panah ke arah remaja ini, namun terhindar.

Belakangan wajah anak muda ini sering muncul, ternyata ia sosok putra dari pasangan raja Odysseus dan ratu Penelope bernama Telemachus.

Film beralih di istana Ithaca dan ratu Penelope berambut panjang hitam kelam, langsing, cantik, dan tampak elegan sedang sibuk merenda.

Di istana itu ada seorang lelaki tua, yang satu matanya buta. Ia peternak bernama Eumaios yang menyiksa anjing bernama Argos milik Odysseus serta ditaruh di pekarangan.

Belakangan ketika Odysseus pulang, ia masih menghampiri anjing itu dan anjingnya pun masih mengenalnya.

Kepergian Odysseus dengan pasukan perang membawa beberapa perahu kayu yang didayung dengan pendayung kayu juga. Perahu-perahu warna cokelat itu sangat antik dan terlihat kuno. Secara bentuk mirip perahu jukung di Bali atau Lombok. Tetapi tanpa penyeimbang lonjoran bambu di samping kiri dan kanan. Perahu pasukan Odysseus ini memakai layar merah tua. Jika gelombang bersahabat, layar dinaikkan. Tetapi lebih banyak perahu-perahu tanpa menggunakan layar.

Asesoris pakaian Odysseus dan para serdadunya memakai helm besi, baju rompi besi dan senjatanya tombak serta panah.

Perahu-perahu berisi bekal dan pasukan tempur meninggalkan Ithaca menuju Troya.

Ombak liar mencakar-cakar disertai angin kencang. Perahu oleng dan teriakan di sana sini.

Kuda Troya di Tepi Pantai

Pasukan perang Ithaca mendarat di Troya. Kerajaan ini sungguh besar dan kuat. Tembok besar berkeliling memagari raja dan seluruh pejabatnya.

Berdiri patung kuda di depan pintu masuk istana, sekaligus berada di tepi pantai berpasir putih.

Di dalam perut kuda berisi pasukan elit Odysseus. Terjadi suasana yang sangat menegangkan, karena pihak tuan rumah memanjat tubuh kuda dan menusukkan pedang-pedang panjang nan tajam. Punggung patung kuda bisa ditembus pedang-pedang itu. Suasana di dalam perut kuda lebih mencekam. Sering kali tusukan pedang itu menancap dekat kepala pasukan Odysseus. Sebab itu mereka yang terkurung di perut kuda berusaha menjauh dari punggung kuda.

Perlahan remang menggerayang dan diyakini bahwa orang-orang Troya sudah tidur. Yakin, sudah tak ada kehidupan. Perlahan, dimulai dari Odysseus turun dari perut kuda dengan menggantung di tambang ke bawah. Disusul pasukan lain turun satu persatu.

Di pintu utama istana Troya berdiri penjaga bersenjata. Odysseus menikam penjaga dari belakang, sambil menyumpal mulutnya. Dengan harapan, agar penjaga lain tidak mendengarkan teriakannya. Penjaga demi penjaga berhasil dilumpuhkan. Tetapi penjaga di lantai atas sempat tahu dan memukul tanda alarm.

Bangunlah para penjaga benteng Troya yang lain. Perkelahian berlangsung sengit. Dua pasukan tempur ini mudah dibedakan, karena pasukan Troya seragamnya warna kehijauan, sedang pasukan Odysseus berwarna cokelat tanah. Kedua seragam sama sebagian terbuat dari metal.

Setelah pintu gerbang dibuka oleh Odysseus dan pasukannya di bawah kepala perang Agamemnon merangsek masuk. Betapa besar rombongan pasukan Ithaca masuk istana Troya dan menguasai.

Yang menarik taktik Odysseus menyerbu musuh di saat musuh tidur ini mengingatkanku pada taktik Mao Tze Tung. Mungkinkah Mao meniru dari Odysseus. Teori perang Mao, “Jika musuh maju, maka kita harus mundur. Tetapi jika musuh sedang istirahat atau tidur, maka kita maju untuk menyerang.”

Pada bukuku berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 3, ada perjalanan ke Turki dan mengunjungi Troya.  Pada buku itu disebutkan, bahwa kemenangan Troya harus ditebus dengan kekalahan, gara-gara akal bulus membuat kuda Troya yang dirancang oleh Epeidos. Kuda raksasa dari bahan kayu itu pura-pura dirancang sebagai hadiah simbol para dewa Athena. Pihak Troya menerima dengan suka cita dan setelah kuda raksasa itu diarak masuk kota, pasukan Odysseus juga berpura-pura kembali ke Ithaka, menjelang matahari terbenam. Tak tahunya perahu-perahu itu hanya berputar dan menurunkan jangkarnya lagi. Sementara malam tiba, kuda raksasa dari kayu di tengah kota, memuntahkan pasukan tentara. Armada perahu pun diundang kembali. Troya jatuh dalam kekalahan. Kuda raksasa dari kayu itu sekarang sebagai salah satu ikon berdiri tegak di lokasi bekas kota Troya. Tentu saja kuda Troya yang sekarang ini dibuat pada tahun 1975 oleh seniman Turki bernama Izzet Senemoglu. Para pelancong banyak memotret kuda Troya itu, bahkan memanjat sampai di atas. Aku pun tak ketinggalan, aku panjat kuda Troya itu, ternyata ruangannya berlantai dua. Dari bawah istriku siap memotretku saat aku melongok keluar dari jendela perut kuda. Di ruangan perut kuda itu aku membayangkan sebagai Odysseus dan pasukannya. Kisah perang Troya menjadi mitos berkepanjangan.

 

 

Tetapi bentuk kuda sekarang ini berbeda dari film. Pada film bentuk kuda mirip kuda sungguhan, berwarna kecokelatan dan sepertinya terbuat dari bahan metal. Sedang kuda yang sekarang terbuat dari kayu.

Epik Odyssey yang ditulis oleh Homer pada abad 8 Sebelum Masehi ini dianggap sebagai teks sastra tertua di dunia.

Jika Odyssey lebih fokus ke perjalanan kesasarnya armada Odysseus kembali dari Troya ke Ithaca, Eliad, epik lain dari Homer ini memfokuskan peperangan di Troya selama 10 tahun.

Schliemann, pengusaha Jerman yang tergila-gila Eliad ingin membuktikan dan membuat rumah di lokasi puing-puing Troya. Ekspedisi penggalian antara tahun 1871-1894 menemukan benda-benda berharga dari raja Priamos yang dikenal dengan istilah Treasure of Priam dari periode Troya VI.

Di sekitar reruntuhan kota Troya tumbuh pertanian kapas. Memang daerah ini diperuntukkan sebagai daerah pertanian. Gunung Ida memagari lanskap.

Kembali ke film Odyssey tersebut, pasukan Odysseus meninggalkan Troya untuk kembali ke Ithaca. Dalam perjalanan sampai Ithaca tidaklah mudah. Salah satu hambatan karena medan di laut dengan gelombang ganas dan perbekalan untuk makan terbatas.

Perjalanan pulang sendiri menghabiskan waktu 10 tahun. Sementara Odysseus sedang berusaha pulang dengan sisa pasukannya, di istana Ithaca dikuasai kelompok lain. Bahkan putra tunggalnya Telemachus berseteru dengan sang ibu. Ia mendorong ibunya kawin lagi. Agar ia menjadi raja muda, menggantikan ayahnya. Penelope menolak kawin lagi, ia setia akan menunggu suaminya datang. Meskipun Odysseus telah memberi wasiat, jika ia tak pulang, maka ia bisa kawin lagi. Tetapi sang ibu menolak kawin, bahkan memberikan paku logam berbentuk dewi Athena sebagai jimat untuk Odysseus dan dengan setia menunggu hingga dua puluh tahun lamanya.

Sampai di sini aku teringat buku The Bolivian Diary  tulisan Che Guevara. Ketika Che hendak ditembak pasukan CIA dari Amerika di sebuah ruangan sekolah di Bolivia, ia menitipkan pesan terakhir, agar istrinya kawin lagi. Che tentu paham, orang sekaliber dirinya membuat dilema istri untuk kawin lagi.

Di istana Ithaca tampak Antinoos yang berperangai murka, memusuhi Telemachus serta Penelope. Suasana sering terjadi keributan.

Film ini cukup banyak adegan Flachback, kadang tentang perjalanan Odysseus di lautan, lalu disela suasana di istana Ithaca.

Usai perang pasukan perang yang terdiri dari beberapa grup Yunani kembali. Namun Odysseus tak mengikuti rombongan Agamemnon. Ia mengikuti arah layar angin, ke mana hendak membawanya. Sekalian ia ingin melihat banyak tempat. Tentu saja ini akan memakan waktu lama, selain terdampar di beberapa pulau yang penuh misteri.

Pasukannya terdampar di sebuah pulau dan menguntit banyak domba menuju sebuah gua. Ternyata di dalam gua terdapat raksasa besar bermata satu bernama Kyklop. Kyklop ini anak dewa laut Poseidon. Raksasa ini silau dengn tongkat, sehingga mengamuk dan menghajar semua pasukan. Pada akhirnya pasukan bisa keluar goa dan melanjutkan perjalanan.

Pasukan mendarat lagi di pulau Aiaia, dimana ia diburu oleh Laistrygonen. Odysseus memberi instruksi tidak perlu melewati laut lepas, melainkan berjalan di sepanjang pantai.

Pasukan kelaparan dan berniat mencari makanan. Odysseus menginstruksikan lagi agar hati-hati.

Di pekarangan dijaga beberapa binatang buas, tetapi siluman yang berwujud singa, panter, dan harimau. Odysseus membawa anak panah untuk berburu binatang. Sementara pasukan dipimpin oleh Eurylochos dan menemukan sebuah rumah tua dan bertemu ibu bernama Kirke yang sedang memasak. Awalnya ibu itu ketakutan.

Pasukan menjelaskan rombongan minta makan. Disediakanlah makanan di mangkuk-mangkuk tua. Mereka lahap makan, bahkan tampak rakus. Si ibu ini memutar kepala para pasukan satu-satu, menarik lidah, sungguh horor. Perlahan usai dimakan, semua pasukan bermetamorfosis menjadi babi. Babi-babi itu digiring ke kandang.

Ketika Odysseus membidik seekor kijang dan kijang itu tertembus busur panah, akhirnya tersungkur mati, rupanya kijang itu berubah menjadi manusia.

Odysseus datang mencari pasukannya, tak ditemukan dan minta ibu Kirke untuk mengembalikan pasukannya. Ketika percakapan terjadi, di sebelahnya ada gagak dalam sangkar yang terus berteriak seolah memberi kode, bahwa pasukannya sudah menjadi babi. Si ibu itu melempar sepotong daging ke sangkar, agar burung itu diam. Burung gagak itu sendiri sebetulnya saudara perempuan ibu itu yang berwujud seekor burung. Akhirnya permintaannya dikabulkan. Babi-babi warna kemerahan itu perlahan berubah kembali menjadi manusia. Odysseus disarankan oleh ibu Kirke, supaya bisa menemui Teiresias, tetapi ia hanya pulang sendirian.

Dalam perjalanan menuju Hades, pasukannya perlu membuat upacara korban darah binatang, agar selamat dari bahaya kematian. Usai ritual sakral ini muncul ruh Sinon, yang mengingatkan tak perlu memikirkan perang Troya. Disusul ruh Agamemnon. Hal ini mengagetkan Odysseus, ternyata Agamemnon sudah menjadi arwah. Agamemnon menerangkan, bahwa dirinya telah dibunuh oleh istrinya Klytaimnestra, kembaran Helena. Alasannya Agamemnon telah mengorbankan anaknya Iphigenie dalam perang. Ia juga berpesan kepada Odysseus, agar sepulang nanti tak banyak membicarakan dirinya, bocoran ini hanya dimaksudkan agar Odysseus tahu peristiwanya.

Teiresias menjelaskan rute perjalanan pulang Odysseus. Sisa pasukannya berlanjut berlayar dan mendarat di batu karang Sirenen. Odysseus membiarkan anak buahnya telinganya tersumpal, agar ia bisa mendengarkan lantunan lagu Sirenen.

Kemudian sisa laskar perang ini melewati pulau dan diserang makhluk aneh bernama Charybdis dan Skylla. Mereka datang dari pulau Thrinakia, dewa matahari Helios. Di sini ada adat tak boleh membunuh sapi.

Perjalanan pulang sungguh ganas, badai menghantam dan perahu oleng serta hancur. Semua pasukan tenggelam dan hanya tersisa Odysseus sendiri tinggal di pulau Ogygia yang dihuni peri cantik bernama Kalypso. Odysseus sudah kehilangan ingatan, Kalypso membantu memulihkan ingatan untuk pulang.

Makan bunga padma sebagai obat sekaligus memabukkan. Odysseus meracu, “Di mana aku sekarang? Aku dari mana?”Diingatkan oleh Kalypso, “Kamu raja Ithaca, istrimu Penelope dan anakmu Telemachus. Mereka dengan setia menunggumu.” Untuk pulang dan bahkan disiapkan semacam getek, perahu kayu sederhana yang hanya bisa dinaiki seorang diri.

Odysseus tiba di Ithaca seorang diri dengan tampang seperti gembel. Ia dijuluki sebagai pengemis, pakaian jubah kumal dengan wajah menunduk tertutup kain.

Telemachus tak mengenali si gembel itu sebenarnya ayahnya sendiri. Telemachus akan pergi ke Sparta untuk mencari informasi tentang ayahnya. Telemachus disambut hangat oleh Menelaos dan istrinya Helena. Kisah kuda Troya sempat diceritakan. Kebetulan Odysseus baru saja mendarat dan langsung bergabung ke Sparta. Terjadilah keributan dan Odysseus menyelamatkan anaknya dan pulang ke Ithaca.

Di istana Ithaca Antinoos membuat ulah lagi. Odysseus  berkeliling ke kerumunan membawa mangkuk untuk minta sisa makanan. Pada giliran di depan Antinoos diberi muntahan makanan dari mulutnya ke mangkuk Odysseus. Ketika Odysseus di situ diejek dan dipermalukan, ada yang berteriak, bahwa dalam etika Zeus, dilarang merendahkan pengemis. Sebab dewa bisa bermetamorfosis menjadi manusia biasa.

Keributan membesar hingga saling membakar perabot. Telemachus dikeroyok banyak kelompok. Odysseus dengan jambang putih dan baju jubahnya membela anak sendiri.

Hingga perkelahian tidak reda, keluarlah Penelope. Ia keluar membawa alat panah. Ia membuat sayembara, siapa yang bisa menekuk alat panah tersebut untuk digunakan selayaknya, dianggap sang juara.

Antinoos dengan sombong mencoba dan tak berhasil. Ia anggap sayembara harus diakhiri. Dari arah belakang si gembel berjubah menjawab, belum selesai. Ia maju mencoba meregangkan anak panah dengan tenaga tuanya dan berhasil.

Dari situ Penelope mulai curiga, karena ia tahu yang bisa memakai alat panah itu hanya suaminya. Penelope mendekati Odysseus. Odysseus mengeluarkan logam simbol dewa Athena. Kontan Penelope terharu bertemu suaminya setelah 20 tahun lewat.

Perkelahian berlanjut dan anak panah melesat ke banyak perusuh dari gerombolan Antinoos.

Adegan berpindah ke perahu tua dan tampak Odysseus berangkulan mesra dengan Penelope. Sementara putra mereka semakin besar dan Odysseus bilang, “Kamu penerus raja Ithaca.”

Tamat.

Ini adalah pengalaman pertama bagiku nonton di bioskop open air. Seandainya aku tidak diberi tiket gratis oleh temanku Panos, asal Yunani, mungkin aku tak akan nonton. Harga tiket itu Sfr.16.95 (Sekitar Rp350.000).

Film ini di Eropa mendapat banyak pujian, sekaligus kritikan.

Kritik Ratu Helena Berkulit Hitam

Beberapa media barat seperti Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) di Jerman mengkritik sosok ratu Helena yang pada era Yunani Antik dianggap sebagai simbol perempuan tercantik di dunia berkulit putih terang. Sedang kulit berwarna, cokelat atau hitam dahulu dianggap hamba, kuli, pekerja berat. Tetapi film garapan Christopher Nolan ini sosok Helena diperankan oleh Lupita Nyong`o berkulit hitam.

Media Mitteldeutsche Zeitung di Jerman bahkan memunculkan dua foto Helena disandingkan dengan foto Helena berkulit putih dengan judul artikel Pirang atau Hitam: Debat tentang kecantikan Helena (Blond oder Schwarz: Debatte über die schöne Helena)

Media DerStandart di Jerman menurunkan berita lebih konkret, bahwa Lupita Nyong`o asal Kenya ini pernah mendapatkan Oscar dan dinobatkan sebagai perempuan tercantik di dunia tahun 2014 oleh media People Magazin. Lupita Nyong`o berargumen, “Odyssey merupakan sebuah cerita mitologi, bukan dokumen sejarah.”

Mungkin Nolan menyadari, bahwa kurun waktu ribuan tahun telah terjadi pergeseran memandang nilai-nilai kecantikan. Bukan kulit putih yang di zaman kini dianggap eksotik, cantik, dan indah, kebalikannya justru kulit berwarna, cokelat atau hitam.

Kemungkinan Nolan dan Lupita ingin menonjolkan nilai keseteraan dan antirasisme.

Aktor Matt Damon ke Batang dan Kendal.

Mungkin banyak orang tak tahu, bahwa Aktor Hollywood terkenal itu pada 2018, enam tahun silam blusukan ke desa-desa di dua kabupaten di Jawa Tengah, yakni di kabupaten Batang dan Kendal.

Ia datang bersama Gary White. Mereka berdua merupakan bagian dari pendiri organisasi water.org yang bergerak pada sarana air bersih di berbagai belahan dunia. Diklaim sejak 25 tahun silam organisasinya ini telah membantu sekitar 12 juta warga.

Media Liputan6.com mewartakan bahwa bintang Hollywood Matt Damon pada Selasa, 3 Juli 2018 mengunjungi koperasi di Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kehadirannya mengagetkan warga setempat. Selain di Jakarta, aktor pemeran Odysseus itu tidak melanjutkan perjalanan ke Bali, layaknya turis asing. Mereka justru pada 4 dan 5 Juli 2018 mengunjungi Batang dan Kendal.

 

Misbar di Lapangan Sepak Bola

Sejujurnya sejak aku lihat arena bioskop open air di sini, lamunanku melayang 56 tahun lalu, pada zaman SD di tahun 1970-an. Waktu itu sebagai anak desa, tanpa ada listrik, hiburannya cuma TVRI hitam putih di tetangga. Wayang kulit dan ketoprak untuk orang dewasa.

Bersyukur pabrik Jamu sering promosi ke kecamatan, Boja, kabupaten Kendal, tempat desaku berada. Mereka menyebarkan kertas fotokopian produk jamu terbarunya sambil halo-halo lewat toa. Nanti malam ada film di lapangan sepak bola Ngadibolo. Tontonan bioskop gratis itu dikenal sebagai Misbar, kalau gerimis bubar.

Aku dan teman-teman sebaya jalan kaki melewati desa dan sawah. Jika kami datang terlambat, maka sudah tak kebagian tempat duduk di rerumputan.

Risikonya harus menonton di balik layar, bukan berada di antara layar dan proyektor film. Kalau posisinya sudah begitu, tak heran film berjalan terbalik-balik. Jika ada mobil di jalan raya, maka jalurnya di sebelah kiri, persis di negeri sendiri. Padahal film barat seringnya mobil berjalan di jalur kanan.

Yang paling aneh, jika ada adegan perkelahian. Semua orang memukul lawannya dengan tangan kiri.

Eh, di sini arena open air dianggap sebuah atraksi yang istimewa.

*Sigit Susanto, Sastrawan Indonesia yang tinggal di Swiss