Perfect Days: Narasi Tanpa Kegaduhan
Oleh: Bambang Supriadi ICS*

“Poster film Perfect Days”. Sumber: Wikipedia.
“Bukan selera penonton sinetron.”Kalimat itu mungkin muncul setelah beberapa menit pertama menyaksikan Perfect Days (2023), film karya sutradara Jerman Wim Wenders. Reaksi tersebut dapat dimengerti. Film ini tidak dibuka dengan konflik, kejutan, atau peristiwa yang segera menggerakkan cerita. Sebaliknya, Wenders mengajak penonton mengikuti kehidupan sehari-hari Hirayama, seorang petugas kebersihan toilet umum di Tokyo.
Pada bagian awal, hampir tidak ada peristiwa yang dapat disebut sebagai konflik. Kamera mengikuti Hirayama bangun sebelum matahari terbit, melipat selimut, menyikat gigi, menyiram tanaman, membeli kopi dari mesin penjual otomatis, membersihkan toilet, makan siang di taman, memotret bayangan dedaunan, mendengarkan kaset musik lawas, membaca buku, lalu mengulangi rutinitas yang hampir sama pada hari berikutnya. Wenders sengaja menunda semua hal yang biasanya dianggap penting dalam sebuah cerita.
Pilihan ini tentu mengandung risiko. Banyak penonton terbiasa menghubungkan cerita dengan konflik. Ketika konflik tidak segera muncul, mereka dapat bertanya kapan film ini benar-benar dimulai. Namun pertanyaan itu justru menunjukkan bahwa kita telah terbiasa menilai film dari seberapa cepat ia membangun ketegangan.
Perfect Days menawarkan cara lain. Film ini tidak berusaha menciptakan sensasi dramatik. Yang ditawarkan adalah pengalaman mengamati kehidupan. Adegan-adegan awal disusun dengan pendekatan observasional yang lebih dekat dengan tradisi film dokumenter daripada film fiksi pada umumnya.
Gambar tidak terburu-buru mengarahkan perhatian penonton. Ia tampil mengikuti Hirayama dengan tenang, seolah menerima ritme hidup tokohnya tanpa keinginan untuk mempercepatnya. Durasi shot yang panjang, ritme penyuntingan yang lambat, dan minimnya dialog memberi kesan bahwa film tidak sedang menjelaskan sesuatu.
Kamera bekerja sebagai pengamat, bukan untuk menciptakan sensasi atau memancing emosi secara berlebihan. Ia tidak memaksa penonton melihat apa yang dianggap penting, melainkan memberi ruang bagi setiap tindakan sederhana untuk memperoleh maknanya sendiri. Melalui pendekatan seperti ini, penonton tidak sekadar mengikuti rangkaian peristiwa, tetapi diajak memperhatikan detail-detail kecil yang perlahan membentuk pemahaman terhadap kehidupan Hirayama.
Meskipun sepenuhnya merupakan film fiksi, pendekatan ini membuat Perfect Days terasa sangat meyakinkan. Penonton tidak diperkenalkan kepada Hirayama melalui penjelasan verbal atau kilas balik. Mereka mengenalnya melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus berulang. Cara ia membersihkan kaca toilet, merapikan peralatan kerjanya, menikmati secangkir kopi, atau memotret atau memandangi cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan menjadi dasar bagi pembentukan karakternya.
Pilihan tersebut menunjukkan kepercayaan Wenders terhadap bahasa visual. Banyak film modern menjelaskan tokohnya melalui dialog. Wenders memilih tindakan. Ia membiarkan ritme, gestur, dan keheningan berbicara lebih dahulu sebelum kata-kata. Penonton tidak dipaksa menerima kesimpulan tertentu. Mereka diberi kesempatan untuk memahami Hirayama melalui apa yang mereka lihat.

“Menemukan Keindahan dalam Kesederhanaan.” Sumber: Film Perfect Days.
Pendekatan observasional ini juga menunjukkan bahwa Wenders mempercayai kecerdasan penontonnya. Ia tidak menjelaskan masa lalu Hirayama, tidak mengungkap latar belakang sosialnya secara rinci, dan tidak menyediakan konflik utama sejak awal. Sebaliknya, ia memberi ruang kepada penonton untuk menyusun makna dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan tokohnya. Cara bertutur seperti ini menuntut kesabaran, tetapi juga memberi ruang bagi perenungan.
Dari sudut pandang sinematografi, Perfect Days memperlihatkan bagaimana kamera dapat bekerja tanpa menarik perhatian kepada dirinya sendiri. Franz Lustig tidak menggunakan gerakan kamera yang mencolok atau komposisi yang dibuat-buat. Kamera ditempatkan sebagai pengamat. Durasi shot dipertahankan cukup panjang sehingga setiap tindakan Hirayama dapat berkembang secara alami. Ritme penyuntingannya mengikuti ritme kehidupan tokohnya, bukan tuntutan untuk terus menciptakan ketegangan.
Wenders juga memperlihatkan Tokyo dari sudut yang tidak biasa. Kota yang dikenal karena kecepatan dan kepadatannya tampil tenang, bersih, dan tertata. Toilet umum, yang biasanya dipandang sebagai ruang yang tidak penting, memperoleh perhatian visual yang sama dengan ruang-ruang lain. Film ini menunjukkan bahwa nilai sebuah tempat tidak selalu ditentukan oleh fungsinya, tetapi juga oleh cara kita memandangnya.
Pilihan menjadikan seorang petugas kebersihan sebagai tokoh utama memperkuat gagasan tersebut. Melalui Hirayama, Wenders mengingatkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaannya. Martabat lahir dari cara seseorang menjalankan pekerjaannya: dengan disiplin, ketelitian, dan rasa hormat terhadap apa yang ia lakukan. Dalam Perfect Days, kehidupan yang tampak biasa justru menjadi sumber makna yang paling dalam.
Meskipun demikian, Perfect Days tidak menghilangkan konflik sama sekali. Wenders tetap menghadirkannya, tetapi tidak menjadikannya sebagai penggerak utama cerita. Konflik hadir dalam ukuran yang cukup untuk memperlihatkan sisi-sisi lain Hirayama, tanpa mengubah ritme film yang telah dibangun sejak awal.

“Dua Etos Kerja dalam Satu Ruang.” Sumber: Film Perfect Days.
Benturan pertama muncul melalui Takashi, rekan kerja Hirayama. Ia sering datang terlambat, bekerja tanpa kesungguhan, dan beberapa kali meninggalkan tanggung jawabnya kepada Hirayama demi kepentingan pribadi. Kehadirannya memperlihatkan dua cara memandang pekerjaan. Bagi Takashi, pekerjaan hanyalah kewajiban yang harus diselesaikan. Bagi Hirayama, pekerjaan merupakan bagian dari cara menjalani hidup. Perbedaan itu tidak dijelaskan melalui dialog panjang, tetapi melalui tindakan sehari-hari yang terus berulang.
Konflik kemudian bergerak ke ranah yang lebih pribadi ketika Niko, keponakan Hirayama, datang setelah meninggalkan rumah akibat berselisih dengan ibunya. Kehadirannya mengubah rutinitas yang selama ini berjalan tanpa gangguan. Untuk pertama kalinya, penonton melihat bahwa di balik kehidupan Hirayama yang tenang terdapat hubungan keluarga yang belum sepenuhnya selesai.
Petunjuk mengenai masa lalunya semakin jelas ketika saudara perempuannya datang menjemput Niko. Pertemuan mereka berlangsung singkat dan tidak disertai penjelasan yang panjang. Namun justru karena itu, percakapan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kehidupan Hirayama sebelum ia memilih hidup sederhana sebagai petugas kebersihan.
Wenders menggunakan cara yang sama ketika memperkenalkan tokoh-tokoh lain. Kisah pemilik restoran yang tetap merawat mantan suaminya yang menderita penyakit berat hanya muncul sebentar. Demikian pula dengan Aya. Tidak ada satu pun dari mereka yang memperoleh ruang cerita yang besar. Namun setiap pertemuan meninggalkan jejak emosional yang memperkaya pemahaman penonton terhadap Hirayama.
Yang menarik, tokoh-tokoh pendukung itu tidak pernah mengambil alih pusat perhatian. Mereka tidak dibangun untuk menciptakan konflik besar atau mengubah arah cerita secara drastis. Fungsi mereka lebih sederhana, tetapi justru lebih penting. Kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi penonton untuk melihat sisi-sisi Hirayama yang selama ini tersembunyi.
Hal itu tampak jelas pada adegan ketika Aya mencium Hirayama di dalam mobil setelah mendengarkan kaset musiknya. Dalam film lain, adegan seperti ini mungkin menjadi awal hubungan romantis. Wenders tidak memilih jalan tersebut. Adegan itu hanya berlangsung sesaat, tanpa kelanjutan yang romantis. Namun momen singkat itu cukup memperlihatkan bahwa Hirayama, meskipun memilih hidup dalam kesunyian, tetap memiliki kemampuan untuk menerima kehangatan dan kedekatan dengan orang lain. Kesunyian yang dijalaninya bukanlah penolakan terhadap hubungan antarmanusia.

“Hirayama, Takashi, dan Aya”.Sumber: Film Perfect Days
Cara membangun konflik seperti ini berbeda dari dramaturgi klasik yang umumnya memperbesar ketegangan hingga mencapai klimaks. Wenders justru mempertahankan skala konflik agar tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masalah datang, memengaruhi kehidupan tokohnya, lalu berlalu tanpa penyelesaian yang sepenuhnya tuntas. Begitulah kehidupan berlangsung.
Karena itu, kamera tidak mengubah sikapnya ketika konflik muncul. Pendekatan observasional tetap dipertahankan. Ritme penyuntingan tidak dipercepat. Keheningan tetap menjadi bahasa utama film. Konflik bukan digunakan untuk menciptakan sensasi, melainkan untuk membuka lapisan-lapisan karakter Hirayama sedikit demi sedikit. Melalui pilihan itu, Wenders menunjukkan bahwa perubahan dalam diri manusia tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Sering kali, perubahan justru bermula dari perjumpaan-perjumpaan kecil yang nyaris tidak kita sadari.
Apakah Perfect Days tetap akan dipandang sebagai film yang kuat jika nama Wim Wenders tidak tercantum pada kredit pembukanya? Pertanyaan ini penting karena sering kali reputasi seorang sutradara membentuk cara kita menilai karyanya. Wenders memang telah lama diakui sebagai salah satu tokoh penting dalam sinema dunia. Namun kualitas Perfect Days tidak bergantung pada nama itu semata.
Film ini memiliki dasar estetik yang dapat berdiri sendiri. Pendekatan observasional yang konsisten, ritme yang dibangun dengan sabar, disiplin dalam menggunakan bahasa visual, serta keberaniannya menghindari konvensi naratif yang lazim menjadikan Perfect Days memiliki identitas yang jelas. Kekuatan film ini lahir dari cara seluruh unsur sinemanya bekerja secara selaras, bukan dari reputasi pembuatnya.
Karena itu, berbagai penghargaan yang diterima Perfect Days terasa memiliki dasar yang kuat. Film ini tidak memperoleh pengakuan karena membawa nama besar Wim Wenders, tetapi karena berhasil membuktikan bahwa kesederhanaan pun dapat menjadi sumber pengalaman sinematik yang kaya. Keberaniannya menolak spektakel, mempertahankan ritme yang tenang, dan membangun karakter melalui observasi menjadikan film ini berbeda dari banyak film arus utama.

“Kesunyian dalam Rutinitas”. Sumber : Film Perfect Days
Pengakuan tersebut terlihat dari sambutan yang diterima di berbagai festival film internasional. Koji Yakusho meraih penghargaan Aktor Terbaik pada Festival Film Cannes 2023 melalui permainan akting yang nyaris tanpa ledakan emosi, tetapi mampu menghadirkan kedalaman batin yang meyakinkan. Perfect Days juga memperoleh nominasi Academy Awards sebagai Film Internasional Terbaik mewakili Jepang. Pencapaian itu menunjukkan bahwa kualitas sinema tidak selalu ditentukan oleh besarnya konflik atau kemegahan visual. Kesederhanaan, apabila dikerjakan dengan disiplin dan keyakinan, dapat menghasilkan pengalaman sinematik yang sama kuatnya.
Pada akhirnya, Perfect Days mengingatkan bahwa sinema tidak selalu harus bergerak dari satu konflik menuju konflik berikutnya. Film juga dapat tumbuh dari perhatian terhadap kehidupan sehari-hari. Rutinitas yang tampak biasa dapat menjadi sumber makna ketika dilihat dengan kesabaran dan kepekaan. Keheningan tidak lagi menjadi ruang kosong, melainkan bagian dari cara film ini berbicara kepada penontonnya.
Di situlah letak kekuatan Perfect Days. Film ini tidak berusaha mengubah cara hidup manusia. Ia hanya mengubah cara kita memandangnya. Setelah film berakhir, yang tertinggal bukanlah ingatan tentang sebuah peristiwa besar, melainkan kesadaran bahwa kehidupan sering kali memperlihatkan maknanya justru melalui hal-hal kecil yang selama ini kita lewatkan begitu saja.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.





