Puisi-puisi Bayu Suta Wardianto
Melipat Kampung Masa Kecil
: Nawang Sistiani
di gang kecil dekat jalan raya,
aku pernah menjemur masa kecil
bersama layang-layang yang putus
dan angin sore yang berbau lumpur sawah
perairan sawah menjadi tempat
ikan-ikan kecil berkilau di sela kaki
kami menangkupnya dengan tangan telanjang,
lalu pulang membawa basah
di celana dan tawa yang belum mengenal takut
kepada masa depan
lapangan di ujung kampung
memelihara suara anak-anak
bola kulit lusuh melayang dari kaki ke kaki,
debu menempel di lutut,
matahari jatuh perlahan
di pundak yang belum mengenal sedih
ketika jalan mulai dilebarkan,
truk-truk datang membawa bunyi besi
pematang diratakan perlahan,
rumput dibuang seperti barang usang
kami mulai kehilangan tempat
untuk sekadar duduk menunggu senja
sawah berubah pagar seng
kolam berubah gudang
orang-orang berdatangan dengan sepatu berat
dan jam kerja yang menggantung di leher
kampung tumbuh menjadi deretan kontrakan
yang lembap ketika hujan turun
udara pagi tak lagi membawa
bau tanah basah
yang datang justru asap
dari cerobong yang menyala semalaman
diiringi suara bising bel tanda masuk dan pulang
langit menjadi semakin pendek
di antara tembok-tembok pabrik.
tak ada suara anak bermain bola
tak ada layang-layang tersangkut di kabel
hanya gerbang besar dan satpam
yang memandang orang seperti daftar absen
di beberapa sudut,
masih tersisa pohon kecil
yang tumbuh miring dekat selokan
melihatnya, aku teringat kampung lama
yang perlahan hilang
tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal
sebentar lagi, aku akan melipatnya
melipat kampung masa kecil
memasukannya ke dalam saku jenas lusuh
dan menjualnya di lapak barang bekas.
Tangerang—Purwokerto
Februari, 2026
Sesaat Setelah Aku Memelukmu
sesaat setelah aku memelukmu
lampu-lampu ruko menyala lebih hangat
dan jalan utama yang sepanjang hari dipenuhi klakson
akhirnya terdengar seperti sungai
yang kembali mengenali arah pulang
motor-motor melambat di tikungan pasar cikupa,
pedagang kaki lima menurunkan terpalnya perlahan,
anak-anak berlari di melewati tiang-tiang beton menuju kobong
berpeci dan sarung terikat di antara pinggang yang kurus
senja mengintip di antara kabel-kabel listrik
orang-orang membangun masa depan
dengan suara bor dan debu semen
yang menempel di paru-paru
sepetak sawah satu persatu menghilang
menjadi minimarket, gudang ekspedisi,
dan perumahan bernama asing
yang tak pernah benar-benar mengenal tanahnya sendiri
namun sesaat setelah aku memelukmu,
segala yang tumbuh terlalu cepat itu
mendadak terasa lambat dan dingin
para buruh pulang dari kawasan industri
menatap gang rumah mereka
seperti pelaut melihat mercusuar terakhir
warung-warung kopi mengepulkan percakapan sederhana,
ibu-ibu menyiram halaman
yang tinggal selebar sajadah,
dan aroma makan malam keluar dari sela-sela jendela kecil
seperti doa yang akhirnya menemukan mulutnya
o rumah
betapa luas dirimu
meski hanya berdinding bata
yang belum diplester seluruhnya
di sana orang tidak lagi menghitung
berapa harga tanah per meter,
atau kapan jalan layang selesai dibangun
melainkan seberapa lama tubuh dapat beristirahat
di pangkuan seseorang yang dicintainya
sebab pada mulanya,
tanah ini hanyalah hamparan sore
tempat anak-anak mengejar capung
dan orang-orang hafal nama setiap pohon
kini papan reklame tumbuh
lebih tinggi daripada mangga-mangga tua,
tiang-tiang beton menjulang
memecah langit dengan kabel dan antena
namun sesaat setelah aku memelukmu,
aku mendengar kembali suara jangkrik
yang lama terkubur di antara bunyi mesin proyek.
aku percaya,
tak semua yang menjadi kota
harus kehilangan hatinya
aku bertanya,
apa cinta memang diciptakan
agar manusia tetap memiliki kampung
meski dunia di sekelilingnya
terus berubah menjadi asing
dan ketika napasmu jatuh di bahuku,
aku tahu, bahkan di tengah pembangunan
yang tak selesai-selesai ini,
masih ada tanah yang bersedia disebut rumah
Doa Pulang dari Pabrik
O cerobong-cerobong yang maha tinggi,
mesin-mesin yang maha bising,
lampu lembur yang maha panjang terangnya,
tuntun kami menuju tanggal gajian
yang dijanjikan
Jauhkan kami dari pikiran
untuk berhenti bekerja
dan pulang menjadi manusia biasa
yang menanam cabai dan memberi makan ayam
di halaman rumahnya sendiri
Ampunilah keterlambatan kami
sebab jalanan lebih penuh
daripada isi dompet kami
Kuatkanlah punggung-punggung
yang setiap hari dipanggul target,
dan telapak tangan yang pelan-pelan
kehilangan garis nasibnya
karena terlalu sering bergesekan dengan besi
Jadikan kami tetap bersyukur
meski upah tak pernah benar-benar cukup
untuk membeli waktu istirahat,
untuk membayar kontrakan,
untuk mengirim uang kepada ibu
yang diam-diam menunggu kabar baik
dari kota
O kartu absen yang maha menentukan,
jangan hukum kami
karena lima menit keterlambatan
setelah dua belas jam hidup
yang terasa seperti antrean panjang menuju lelah
Jauhkan kami dari godaan
untuk bertanya
mengapa harga kebutuhan naik lebih cepat
daripada kenaikan gaji
Dan ketika malam tiba
serta tubuh kami roboh di kamar kontrakan
yang sempit dan pengap,
izinkan mimpi datang sebentar saja
sebelum alarm berbunyi lagi
pukul lima pagi
Sebab esok,
kami harus kembali menjadi angka-angka
di antara ribuan seragam
yang berjalan masuk gerbang pabrik
dengan wajah yang perlahan
lupa caranya bahagia
Di Tangerang, di Hadapanmu
: Egy Setiawan
Di Tangerang, di hadapanmu,
aku berusaha menggambar sawah di kepalaku
agar aku bisa sibuk mengejar capung
di pematang yang kini tinggal beton menjulang,
atau duduk sore-sore di tepi pasir
mendengarkan ombak utara
yang dulu asin dan luas
sebelum pagar-pagar laut tumbuh
lebih cepat daripada doa para nelayan
Aku ingin tak terganggu.
Aku ingin melakukan hal-hal sederhana
selain menghitung antrean truk kontainer
dan suara sirene pabrik
yang memekik hingga beranda rumah
Sementara di kontrakanmu,
atau di tubuhmu,
kau terus memelihara napas kota
yang pelan-pelan membuat manusia lupa pulang
charger yang tak pernah tercabut,
jaket dengan aroma matahari,
kartu akses pabrik,
seragam yang mengering bersama debu seng,
gelas plastik kopi instan,
nota belanja,
dan kalender yang penuh lingkaran merah
tanggal lembur, tanggal jatuh tempo,
tanggal rencana resign,
yang tak pernah benar-benar terjadi
Aku sampai di sawah di kepalaku
Namun, sawah itu kini dipenuhi gudang-gudang besar
burung-burung tak lagi turun
karena langit terlalu penuh kabel dan asap
anak-anak bermain layangan
di samping papan proyek
bertuliskan ’Dilarang Masuk’
Matahari turun perlahan
di balik tembok megah kawasan industri,
tetapi tak pernah benar-benar tenggelam
karena jalan-jalan di kota ini
selalu menyala seperti mesin
yang dipaksa terus bekerja
“Aku tidak mengenali kota ini lagi,” kataku.
Kau diam sebentar,
angin membawa bau limbah
dan bising kendaraan jalan raya
“Barangkali kota ini juga tidak mengenali kita,” katamu.
Di kejauhan,
alat berat terus bergerak
seperti tak ada malam,
mengunyah tanah sedikit demi sedikit
Rumah-rumah lama hilang,
kampung dipagari seng proyek,
dan orang-orang pribumi
menjadi penonton
di tanah yang dulu mereka sebut rumah
Langit mulai gelap,
kemacetan tetap menyala.
motor-motor bergerak pelan
seperti arak-arakan panjang manusia
yang kelelahan namun tak punya pilihan lain
selain esok pagi kembali bekerja
Kau melempar batu kecil ke laut
yang tak lagi bisa disebut laut sepenuhnya
aku memandang wajahmu
dan melihat jalan-jalan Tangerang
yang tak pernah benar-benar istirahat
Lalu aku pergi,
membawa suara klakson,
debu proyek,
dan sisa-sisa sawah
yang masih bertahan hidup
di kepalaku.
Aku Pulang setelah Membeli Minyak Goreng
di warung, orang-orang bicara soal harga
seperti sedang membicarakan anggota keluarga yang sakit
anakku sudah tidur
di meja masih ada buku gambar
sebuah rumah dengan beranda luas
dua pohon berbuah lebat
dan matahari yang terlalu besar
aku tidak tahu
siapa yang mengajarinya
menggambar cita-cita
sementara di luar
bensin naik lagi
orang-orang kehilangan kerja
dan mereka
yang seharusnya menjaga sekolah
sibuk menghitung kursi dan jabatan
aku memandangi wajah anakku
yang tidur begitu tenang
seolah tidak ada korupsi
seolah makan siang di sekolah
selalu datang tepat waktu
seolah berita-berita di media sosial
bukan bagian dari hidupnya
aku sadar,
barangkali memang begitu
cara anak-anak menyelamatkan dunia
dengan tidur nyenyak
ketika orang dewasa
gagal menjaganya
aku matikan lampu
dan diam-diam berharap
saat ia besar nanti
tidak mewarisi utang kami,
tidak mewarisi omong kosong kami,
dan tidak mewarisi keras kepala kami
aku hanya berharap
ia mewarisi keberanian
untuk bertanya
kenapa semua ini bisa terjadi
Purwokerto Timur, Juni 2026
—-
*Bayu Suta Wardianto, lahir di Tegal 18 Maret 1998. Menamatkan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (2020) dan S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (2022). Menulis dua buku puisi, Tuhan, Aku Tersesat (Penerbit RKWK, 2020) dan Pada Suatu Musim (Penerbit RKWK, 2023). Kini berkegiatan menjadi peneliti budaya di Lembaga Kajian Nusantara Raya, mengajar sebagai dosen tamu di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan Universitas Amikom Purwokerto.





