Degradasi Topeng Malang: Catatan dari Rumah-Rumah yang Pelan-Pelan Sepi
Oleh: Muhammad Nasai*
Ketika Saya Mengira Topeng Malang Hanya Ada di Pakisaji
Ada masa ketika saya sungguh percaya bahwa Topeng Malang hanya hidup di satu tempat.
Keyakinan itu bukan lahir dari kesimpulan ilmiah, bukan pula dari penelitian panjang, melainkan dari jalur yang sederhana dan umum terjadi: informasi yang tersedia. Apa yang paling sering disebut, paling mudah ditemukan, paling sering muncul di media, perlahan diterima sebagai kenyataan.
Tahun 2013, ketika mulai tertarik menelusuri kesenian tradisi di Malang Raya, saya mendapati satu nama yang terus muncul berulang-ulang dalam pemberitaan, pencarian internet, maupun percakapan dengan beberapa rekan wartawan: Topeng Pakisaji.
Pada masa itu, bagi orang luar yang ingin mengenal Wayang Topeng Malang, jalannya seperti hanya menuju satu alamat.
Sebagai wartawan aktif kala itu, saya cukup terbiasa mencari jejak melalui arsip media, menghubungi narasumber, dan membaca pola pemberitaan. Setiap kali saya mencoba mencari informasi tentang Topeng Malang, nama yang hadir hampir selalu sama. Dari situ saya berangkat, dengan pengetahuan yang masih sangat terbatas dan keyakinan yang belum pernah saya uji.
Perjalanan pertama membawa saya menemui Handoyo—tokoh penari topeng sekaligus pembuat Topeng di Pakisaji. Saya datang sebagaimana seorang wartawan datang kepada narasumber: membawa pertanyaan, alat catat, dan rasa ingin tahu.
Pertemuan itu memberi banyak pengetahuan awal. Saya mengenal istilah-istilah dasar, mulai memahami hubungan Topeng Malang dengan kisah Panji, melihat bentuk-bentuk topeng, mengenali fungsi pertunjukan, dan mendengar cerita tentang perjalanan seni ini dari masa ke masa.

Mbah Jayadi, sesepuh Topeng Precet, mengeluarkan dan lalu mengenakan Topeng Gunungsari “sakral” milik Grup Topeng Precet yang telah puluhan tahun tersimpan di Kotak.
Saya beberapa kali datang dan melakukan wawancara di Padepokan Panji Asmoro Bangun di Jalan Slamet, Pakisaji.
Saat itu saya merasa telah menemukan pintu masuk menuju dunia Topeng Malang, Tetapi saya belum menyadari satu hal penting. Pintu bukanlah seluruh rumah.
Yang saya lihat waktu itu sesungguhnya hanya bagian yang paling terang.
Saya tidak mengetahui bahwa di desa-desa lain, di gang sempit, di rumah-rumah sederhana yang jauh dari jalur utama kebudayaan, ada kelompok-kelompok Topeng lain yang tetap hidup dengan tenang dan nyaris tidak disebut.
Saya belum tahu ada penatah yang masih bekerja dalam senyap. Saya belum tahu ada sesepuh yang tetap menyimpan topeng lama di lemari kayu bercampur dengan baju-baju mereka. Saya belum tahu ada keluarga yang mempertahankan pertunjukan bukan karena pemasukan ekonomi, tetapi karena merasa sedang menjaga titipan leluhur.
Bagi saya saat itu, Topeng Malang identik dengan Pakisaji. Pengetahuan itu bertahan cukup lama. Hingga kira-kira dua tahun berikutnya, pemahaman saya tentang Topeng Malang tidak banyak berubah. Saya mengira apa yang saya lihat sudah cukup mewakili keseluruhan. Mungkin seperti banyak orang lain yang juga percaya bahwa apa yang sering muncul di media adalah apa yang paling besar, paling penting, atau paling hidup.
Padahal budaya tidak selalu bekerja demikian. Yang sering tampil belum tentu yang paling banyak. Yang paling dikenal belum tentu yang paling lengkap. Dan yang paling mudah ditemukan belum tentu satu-satunya yang bertahan.
Menjelang akhir tahun 2013, sekitar bulan Agustus, saya kembali merantau ke Jogja. Penelusuran tentang Topeng Malang terhenti cukup lama. Jarak membuat perhatian saya berpindah pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Tetapi ketertarikan itu tidak benar-benar hilang.
Ada sesuatu yang tertinggal. Entah rasa penasaran atau perasaan bahwa saya belum selesai memahami kesenian ini. Baru pada tahun 2015, ketika saya memutuskan kembali menetap di Malang, pencarian itu saya lanjutkan.
Saya tidak menyangka bahwa keputusan kecil untuk kembali mendalami Topeng Malang justru akan membongkar keyakinan yang selama ini saya pegang. Bahwa selama bertahun-tahun saya hanya melihat satu titik dan mengira itulah seluruh peta. Di titik inilah saya mulai memahami bahwa persoalan kebudayaan sering kali bukan soal ada atau tidak adanya tradisi. Persoalannya adalah siapa yang terlihat dan siapa yang tidak.
Ada kelompok yang menjadi wajah resmi. Ada kelompok yang dikenal banyak orang. Ada yang terus dipanggil untuk tampil. Tetapi di saat yang sama, ada pula yang tetap hidup tanpa pernah masuk pemberitaan.
Tidak karena mereka tidak berkualitas. Kadang hanya karena tidak ada yang datang.
Saya belum mengetahui itu pada tahun-tahun awal. Saya masih percaya bahwa menemukan Topeng berarti datang ke Pakisaji.
Saya belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian perjalanan saya justru akan membawa ke tempat-tempat lain—ke rumah-rumah yang tidak memiliki papan nama, tidak mepunyai pendopo kesenian, ke desa yang tidak tercatat sebagai pusat budaya, kepada para sesepuh yang mula-mula menerima dengan curiga, lalu perlahan membuka cerita yang selama ini tertahan.
Tetapi semua itu belum terjadi. Pada tahap ini, saya masih berdiri di ambang pintu. Masih melihat Topeng Malang sebagai satu rumah. Dan belum menyadari bahwa rumah itu sesungguhnya adalah sebuah kampung besar yang selama ini tidak pernah digambar lengkap.
Peta yang Tidak Pernah Digambar
Tahun 2015 menjadi titik yang mengubah cara saya memahami Topeng Malang.
Berawal permintaan mendiang Bapak untuk tidak lagi merantau, Saya kembali menetap di Malang dengan satu niat sederhana: melanjutkan pendalaman yang sempat terhenti. Tidak ada target besar saat itu. Saya hanya merasa masih ada bagian dari Topeng Malang yang belum saya mengerti. Dua tahun sebelumnya saya telah mengenal Pakisaji, membaca pemberitaan, datang ke padepokan, dan merasa cukup memahami peta kesenian ini.
Tetapi rupanya saya baru mengenal permukaannya. Perubahan itu datang melalui sebuah pertemuan. Perkenalan dengan Yudit Perdananto menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan saya membaca Topeng Malang. Dari dirinya, saya mulai mendengar nama-nama tempat yang sebelumnya nyaris tidak pernah muncul dalam pengetahuan saya tentang budaya Topeng. Jabung. Tumpang. Glagahdowo. Jambuer. Senggreng. Dan masih banyak wilayah lain yang selama ini tidak pernah saya dengar disebut ketika orang membicarakan Topeng Malang.
Yang mengejutkan bukan hanya keberadaan tempat-tempat itu, tetapi kenyataan bahwa di sana Topeng bukan sekadar pertunjukan sesekali. Di beberapa lokasi, Topeng hidup sebagai ingatan keluarga, menjadi bagian dari sejarah kampung, diwariskan melalui hubungan sehari-hari, dan dipertahankan dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Perjalanan kami dimulai.
Karena sama-sama bekerja lapangan, ritme perjalanan menjadi lebih mudah diatur. Yudit saat itu bekerja sebagai Juru Sita Pajak wilayah Jawa Timur dan terbiasa bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Saya sendiri masih aktif sebagai wartawan. Kadang kami berangkat bersama. Kadang membuat janji bertemu di tengah jalan. Kadang masing-masing menyelesaikan pekerjaan lalu bertemu menjelang sore sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah seorang sesepuh.
Perjalanan-perjalanan itu lambat laun mengubah cara saya melihat kebudayaan. Saya mulai menyadari bahwa peta budaya yang selama ini muncul di media sering kali tidak benar-benar menunjukkan kenyataan di lapangan.
Budaya ternyata bekerja seperti jaringan akar. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu terhubung oleh jalan besar. Tetapi tetap hidup.
Ada perjalanan yang berakhir di rumah sederhana dengan ruang tamu sempit dan beberapa topeng tua menggantung di dinding.
Ada yang membawa kami masuk ke halaman rumah yang dipenuhi kayu bahan topeng. Ada yang hanya berupa percakapan panjang ditemani kopi dan cerita yang mengalir hingga malam. Ada pula perjalanan yang ternyata berakhir dengan pertunjukan kecil yang bahkan tidak pernah dipublikasikan.
Saya mulai melihat bahwa setiap wilayah memiliki corak sendiri. Topeng bukan benda yang seragam. Ia hidup mengikuti ruang sosialnya. Di satu tempat, topeng dipertahankan sebagai bagian dari pertunjukan ritual.

Topeng Kuno Gunung Sari Milik grup Gubuk Klakah ini juga memiliki daya magis.. selalu di keluarkan dimomen ritual nyadran punden Gunung Sari di lereng Tengger.
Di tempat lain, ia bertahan sebagai latihan keluarga. Di tempat lain lagi, keberadaannya tinggal jejak—topeng masih ada, tetapi pemainnya sudah berkurang.
Semakin sering berkunjung, semakin terasa bahwa yang selama ini tidak hadir di media bukan karena tidak ada. Mereka hanya tidak dilihat. Perasaan itu perlahan mengganggu saya sebagai wartawan.
Karena saya menyadari bahwa media, termasuk tempat saya bekerja saat itu, secara tidak sadar ikut membentuk persepsi publik tentang budaya. Ketika narasumber yang dipilih terus berulang, publik akhirnya percaya bahwa budaya itu hanya berada di satu tempat.
Padahal kenyataannya jauh lebih luas. Dari situ saya mulai menulis. Setiap perjalanan menjadi catatan. Setiap kunjungan menjadi artikel. Setiap pertemuan menjadi kesempatan memperkenalkan tokoh-tokoh Topeng yang selama ini tidak terdengar.
Artikel-artikel tentang Topeng Jabung mulai terbit. Tulisan tentang tokoh di Tumpang mulai muncul. Nama-nama dari Glagahdowo, Jambuer, Senggreng, dan wilayah lain perlahan ikut hadir dalam pemberitaan.
Saya mencoba menghubungi teman-teman wartawan lain. Saya menunjukkan lokasi. Membagikan kontak. Mengajak mereka melihat sendiri.
Bukan untuk mengganti pusat perhatian, tetapi memperluas pandangan bahwa Topeng Malang tidak berdiri di satu tempat saja.
Pelan-pelan mulai terasa perubahan. Sekitar dua tahun setelah itu, pemberitaan budaya Topeng di Malang mulai lebih berwarna. Nama-nama baru mulai muncul. Liputan tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada satu narasumber. Kelompok-kelompok lain mulai mendapatkan ruang.
Saya tidak tahu seberapa besar dampaknya, tetapi saya percaya dokumentasi adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuat orang tidak hilang.
Di tengah perjalanan-perjalanan itu, saya dan Yudit sering berbicara tentang kemungkinan yang lebih besar. Kami membayangkan suatu saat seluruh perjalanan ini tidak berhenti menjadi artikel koran. Harus ada yang lebih utuh. Sebuah buku.
Sebuah usaha memetakan Topeng Malang bukan sebagai ikon, melainkan sebagai kehidupan. Karena semakin jauh kami berjalan, semakin jelas terlihat bahwa Topeng Malang bukan satu panggung besar. Ia adalah kampung-kampung yang tersebar. Ia adalah rumah-rumah kecil. Ia adalah orang-orang tua yang masih menyimpan cerita. Ia adalah tangan-tangan yang tetap menatah meski pesanan tidak selalu ada.
Dan yang paling penting—ia jauh lebih luas daripada yang selama ini digambar. Perjalanan itu membuat saya mengerti satu hal. Kadang budaya tidak hilang. Kita saja yang terlalu lama melihat dari tempat yang sama.
Rumah-Rumah Sepuh dan Ingatan yang Curiga
Setelah mulai mengenal lebih banyak kantong Topeng Malang, saya perlahan menyadari bahwa tantangan terbesar dalam pendalaman budaya ini bukanlah menemukan alamat atau mencari jadwal pertunjukan. Tantangan sebenarnya justru berada pada sesuatu yang tidak terlihat: membangun kepercayaan. Tidak semua rumah terbuka begitu saja untuk orang yang datang membawa pertanyaan. Tidak semua sesepuh nyaman ketika masa lalu mereka diminta untuk diceritakan kembali. Dan tidak semua orang yang selama ini menjaga Topeng Malang percaya bahwa orang luar datang dengan niat baik.
Pada masa-masa awal berkunjung ke rumah para sesepuh, saya sering merasakan jarak itu. Mereka menerima, tetapi dengan kehati-hatian. Pertanyaan dijawab secukupnya. Percakapan berjalan seperlunya. Ada jeda-jeda panjang di antara obrolan. Ada tatapan yang seperti sedang membaca siapa sebenarnya orang yang datang. Awalnya saya mengira itu hal yang biasa. Saya berpikir mungkin karena perbedaan usia, atau karena saya masih orang baru. Tetapi semakin sering datang, semakin terasa bahwa kehati-hatian itu bukan muncul begitu saja.
Saya tumbuh dengan tata cara Jawa yang sederhana: datang dengan sopan, memperkenalkan diri, tidak tergesa bertanya, lebih banyak mendengar daripada memotong cerita. Kebiasaan itu ternyata cukup membantu. Ditambah lagi, saat itu saya datang sebagai wartawan. Ada identitas kerja yang membuat maksud kedatangan lebih mudah dijelaskan. Tetapi meskipun begitu, penerimaan tetap tidak terjadi dalam sekali pertemuan. Saya belajar bahwa di ruang budaya tradisi, kepercayaan bukan sesuatu yang diberikan. Ia dibangun sedikit demi sedikit.
Ada rumah yang baru mulai membuka cerita setelah kunjungan ketiga. Ada sesepuh yang baru mau menunjukkan topeng lama setelah beberapa kali saya datang. Ada yang mula-mula hanya berbicara soal pertunjukan, lalu perlahan masuk ke sejarah keluarga. Dan ada pula yang baru bercerita setelah malam turun dan obrolan tidak lagi terasa seperti wawancara.
Dari pertemuan-pertemuan itulah saya mulai memahami sebab dari kehati-hatian mereka.
Jauh sebelum saya datang, ternyata sudah banyak orang yang mendatangi rumah-rumah itu. Ada yang mengaku peneliti. Ada yang menyebut dirinya pegiat budaya. Ada yang datang membawa nama komunitas, lembaga, atau kepentingan tertentu. Mereka bertanya banyak hal, mencatat, memotret, mengamati koleksi topeng, bahkan kadang menginap. Tetapi setelah itu banyak yang tidak pernah kembali. Tidak sedikit pula yang meninggalkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Suatu ketika, di sela percakapan yang awalnya biasa, seorang sesepuh mulai membuka cerita yang selama ini disimpan. Dengan nada pelan dan tanpa menyebut nama, ia bercerita bahwa pernah ada orang datang seperti saya—bertanya tentang sejarah, meminta melihat topeng, berbincang akrab berjam-jam. Tetapi di akhir kunjungan, orang itu meminjam topeng dengan alasan dokumentasi atau penelitian. Topeng dibawa pergi dan tidak pernah kembali.
Sesepuh lain punya cerita berbeda. Ada yang merasa dimanfaatkan untuk kegiatan budaya yang ternyata menghasilkan keuntungan material bagi pihak tertentu, sementara mereka sendiri tidak pernah merasakan dampaknya. Ada yang merasa dijadikan pelengkap acara. Ada yang merasa hanya dicari ketika dibutuhkan, lalu dilupakan setelah selesai.
Saya mendengar cerita-cerita itu tanpa banyak bertanya. Karena perlahan saya mulai memahami bahwa yang hilang dari mereka bukan sekadar benda. Yang hilang adalah rasa percaya.
Topeng bagi para sesepuh bukan barang koleksi semata. Banyak di antaranya memandang topeng sebagai bagian dari perjalanan hidup keluarga. Ada yang diwariskan turun temurun dari orang tua. Ada yang menyimpan ingatan pertunjukan puluhan tahun. Ada yang pernah dibawa keliling kampung ketika masa kesenian rakyat masih menjadi ruang perjumpaan masyarakat desa. Ketika topeng itu pergi dan tidak kembali, yang hilang bukan hanya kayu yang dipahat. Ada bagian dari sejarah mereka yang ikut tercerabut.
Mendengar cerita-cerita itu, saya tidak mencoba meyakinkan dengan banyak kata. Saya hanya berusaha konsisten datang sebagaimana niat awal: mendokumentasikan, menulis, dan mengabarkan bahwa Topeng Malang tidak hanya hidup di satu tempat. Saya tidak meminta topeng. Tidak memaksa membuka koleksi. Tidak datang dengan janji besar.
Lambat laun perubahan itu terasa.
Rumah yang awalnya terasa formal mulai berubah seperti rumah keluarga. Obrolan tidak lagi dimulai dengan pertanyaan, tetapi dengan kabar. Kadang saya datang hanya untuk bersilaturahmi tanpa mencatat apa pun. Kadang hanya mendengarkan cerita yang berulang. Kadang ikut duduk melihat mereka memperbaiki topeng atau membicarakan masa lalu.
Di beberapa tempat saya mulai sering menginap. Malam menjadi waktu yang berbeda. Setelah lampu mulai redup dan pekerjaan selesai, cerita-cerita yang tidak muncul siang hari perlahan keluar.

Tentang masa ketika Topeng Malang masih ramai tanggapan. Tentang perjalanan berjalan kaki membawa perlengkapan pertunjukan. Tentang masa ketika satu kampung berkumpul semalam suntuk menonton topeng. Tentang anak-anak yang sekarang memilih pekerjaan lain dan tidak meneruskan latihan.
Saya mulai sadar bahwa sesungguhnya saya tidak sedang belajar tentang Topeng. Saya sedang belajar tentang manusia yang selama ini menjaga Topeng.
Di rumah-rumah itu saya belajar bahwa kebudayaan tidak bertahan karena seminar atau panggung besar. Ia bertahan karena ada orang yang tetap menyimpan kostum meski jarang dipakai, tetap membersihkan topeng meski tidak ada jadwal pentas, tetap mengingat urutan cerita meski penontonnya semakin sedikit.
Dan mungkin karena itu pula para sesepuh menjadi sangat hati-hati. Karena terlalu sering kehilangan membuat orang belajar menjaga. Karena terlalu sering didatangi membuat orang memilih diam.
Dan karena terlalu lama tidak didengar membuat orang hanya membuka cerita kepada mereka yang benar-benar mau tinggal lebih lama.
Para Penjaga yang Tidak Tercatat
Semakin lama saya berjalan dari satu rumah ke rumah lain, semakin saya memahami bahwa kehidupan Topeng Malang tidak hanya bertumpu pada penari atau pertunjukan. Ada dunia lain yang bergerak lebih pelan, lebih sunyi, dan sering kali tidak ikut naik ke panggung. Dunia itu adalah para penatah, pembuat piranti, penyimpan topeng, orang-orang yang menjaga benda-benda budaya tetap hidup meski nama mereka jarang disebut.
Jika pertunjukan adalah wajah yang terlihat, maka para penatah adalah tangan yang membuat wajah itu mungkin hadir.
Saya mulai mengenal mereka tidak melalui acara besar atau festival, tetapi dari halaman rumah, ruang kerja sempit, serbuk kayu yang menempel di lantai, dan suara pahat yang ritmis seperti percakapan panjang dengan bahan yang sedang dibentuk. Di beberapa tempat, ruang kerja dan ruang keluarga tidak benar-benar terpisah. Kayu bertumpuk di sudut rumah. Topeng setengah jadi tertumpuk berdampingan dengan pakaian sehari-hari. Anak-anak berlalu-lalang di antara peralatan kerja. Di sana budaya bukan sesuatu yang dipentaskan—ia menjadi bagian dari hidup sehari-hari.
Ada satu hal yang sejak awal membuat saya sering diam memperhatikan: hampir semua penatah yang saya temui bekerja dengan ketekunan yang sulit dijelaskan dengan logika ekonomi semata.
Mereka tahu pesanan tidak selalu datang, mereka tahu pasar topeng tidak besar, mereka tahu hasilnya sering kali tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan. Tetapi mereka tetap bekerja.
Saya mulai mengenal satu demi satu nama yang selama ini tidak banyak muncul dalam pembicaraan publik. Mbah Parjo di Jabung. Mbah Sukani di Tumpang. Ki Soleh Adipramono di Tumpang. Misri di Jambuer. Lalu generasi yang lebih muda seperti Lyhonk, Mahfud, Roni, Dian, dan beberapa nama lain yang mencoba bertahan di tengah perubahan zaman.
Masing-masing memiliki cara sendiri menjaga Topeng. Ada yang masih bertahan pada teknik lama. Ada yang mulai menyesuaikan bentuk untuk kebutuhan pasar. Ada yang mencoba membuat reproduksi agar topeng lama tidak terus dipakai. Ada yang menerima pesanan apa saja agar dapur tetap menyala.
Tetapi satu hal yang terasa sama: mereka semua bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaan ini tidak sekadar membuat barang. Mereka sedang merawat keberlanjutan.
Pada masa itu, perjalanan saya bersama Yudit mulai memperlihatkan hubungan yang lebih luas antara dokumentasi budaya dan kehidupan para pelaku. Saat dirinya mendapat kepercayaan dari Museum Gubuk Wayang untuk membeli dan mengumpulkan Topeng Malang, ada dampak yang cukup terasa di lapangan. Beberapa penatah yang sebelumnya bekerja tidak menentu mulai mendapat pesanan lebih rutin.
Rumah-rumah yang sebelumnya sepi mulai kembali dipenuhi pekerjaan, kayu dipersiapkan lagi, pahat kembali dipakai setiap hari, Topeng-topeng baru mulai lahir.
Saya masih ingat bagaimana perubahan kecil itu menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan karena tiba-tiba menjadi sejahtera, tetapi karena ada rasa bahwa pekerjaan mereka masih dibutuhkan.
Di beberapa rumah saya mendengar kalimat sederhana yang terus saya ingat sampai sekarang.
“Alhamdulillah, masih ada yang pesan.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi setelah melihat langsung bagaimana panjang proses membuat satu topeng—memilih kayu, menggambar bentuk, memahat, menghaluskan, mengecat, mengeringkan, memperbaiki detail—kalimat itu terasa jauh lebih berat.
Karena di balik satu pesanan, ada keberlangsungan pengetahuan. Ada tangan yang tetap bergerak. Ada keterampilan yang tidak berhenti diwariskan.
Di sela perjalanan itu juga muncul situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Beberapa sesepuh mulai menawarkan topeng lama kepada saya. Sebagian memberikannya dengan sukarela. Sebagian meminta dibeli. Padahal saya tidak pernah datang dengan niat mengoleksi.
Saya sempat kebingungan menghadapi situasi itu. Karena bagi saya, topeng-topeng lama itu bukan benda biasa. Mereka memiliki hubungan panjang dengan pemiliknya. Ada jejak pertunjukan, sejarah keluarga, dan pengalaman yang tidak tergantikan.
Akhirnya saya menyampaikan semuanya kepada Yudit yang memang memiliki perhatian dan ketertarikan mengoleksi wayang dan topeng.
Saya masih ingat satu hal yang saya katakan waktu itu.
Jangan sampai topeng-topeng lama itu keluar dari Malang.
Bagi saya, itu bukan soal kepemilikan.
Saya hanya berpikir bahwa budaya yang tercerabut dari tempat tumbuhnya akan semakin sulit dibaca oleh generasi berikutnya. Jika suatu hari anak cucu para sesepuh ingin mencari jejak keluarganya, setidaknya mereka masih bisa melihat bahwa benda itu tetap berada tidak jauh dari tanah yang pernah menghidupinya.
Pikiran itu muncul karena selama perjalanan saya juga mulai menemukan kenyataan lain yang cukup menyedihkan. Banyak topeng lama sudah tidak berada di tempat asalnya. Ada yang berpindah dan terjual ke luar kota, Ada yang hilang, Ada yang rusak karena penyimpanan yang buruk. Ada yang tidak lagi diketahui keberadaannya.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa koleksi adalah sesuatu yang salah. Tetapi saya mulai melihat bahwa perpindahan benda budaya sering kali terjadi lebih cepat daripada upaya mendokumentasikan sejarahnya.
Topeng berpindah, Ceritanya tertinggal, Dan ketika cerita hilang, benda perlahan berubah menjadi objek yang terlepas dari akar.
Dari titik itu saya mulai semakin yakin bahwa persoalan Topeng Malang bukan semata regenerasi penari atau jumlah pertunjukan, ada persoalan yang lebih sunyi. Siapa yang masih membuatnya. Siapa yang masih menyimpannya. Siapa yang masih merasa bertanggung jawab menjaganya.
Karena pada akhirnya kebudayaan tidak hanya hidup di atas panggung. Ia hidup di rumah-rumah yang tetap menyalakan lampu kerja meski pesanan belum tentu datang besok pagi.
Topeng yang Pergi dari Rumah
Semakin lama saya berada di lingkungan Topeng Malang, semakin sering saya menemukan kenyataan yang pada awalnya tidak terlalu saya pahami. Di beberapa rumah sesepuh, selain cerita tentang pertunjukan yang mulai jarang, murid yang berkurang, atau anak-anak yang tidak lagi melanjutkan latihan, ada satu cerita lain yang terus muncul berulang: cerita tentang topeng yang sudah tidak ada di rumah.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan.
Saya berpikir mungkin itu bagian biasa dari perjalanan benda budaya. Ada yang rusak, diwariskan, dijual, atau berpindah tangan. Tetapi setelah semakin sering mendengar cerita serupa dari tempat yang berbeda, saya mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang berlangsung.
Topeng-topeng lama perlahan bergerak meninggalkan ruang asalnya. Perpindahan itu terjadi dengan berbagai cara. Ada yang dipinjam lalu tidak kembali. Ada yang dijual karena kebutuhan ekonomi. Ada yang diberikan kepada orang yang dianggap lebih mampu merawat. Ada yang berpindah tanpa dokumentasi. Ada pula yang hilang dan tidak pernah benar-benar diketahui ke mana perginya.
Yang menarik, hampir tidak ada sesepuh yang menceritakan kehilangan itu dengan nada marah. Sebagian besar justru bercerita dengan nada yang tenang. Terlalu tenang. Seolah mereka sudah menerima bahwa benda-benda itu memang suatu hari akan pergi.
Tetapi di balik ketenangan itu saya sering merasakan sesuatu yang lain: semacam kesedihan yang sudah terlalu lama tinggal.
Saya pernah duduk berjam-jam mendengarkan cerita tentang topeng yang dahulu selalu dipakai untuk pertunjukan tertentu, tetapi sekarang tinggal nama. Ada sesepuh yang masih mengingat detail ukiran dan warna topengnya, tetapi sudah bertahun-tahun tidak melihat bendanya sendiri. Ada yang menunjukkan foto lama karena benda aslinya sudah tidak berada di rumah. Ada pula yang hanya menunjuk ruang kosong dan berkata pendek bahwa dulu topeng itu disimpan di sana.
Yang hilang sebenarnya bukan benda, Yang perlahan hilang adalah hubungan.
Karena bagi para pemangku Topeng Malang, topeng bukan sekadar properti pertunjukan. Ia menyimpan urutan generasi. Menyimpan tangan siapa yang membuat. Menyimpan siapa yang pernah menari. Menyimpan cerita pertunjukan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam arsip resmi.

Topeng Kelono, milik Grup Topeng Precet, topeng ini diyakini memiliki daya magis.. berpasangan dengan Topeng Gunung Sari pernah hilang di pinjam orang, namun ditarik kembali dengan ritual, akhirnya pulang sendiri dan sudah ada di kotak Topeng.
Ketika topeng itu pergi, sebagian ingatan ikut terangkat.
Di masa-masa itu, situasi yang saya alami juga menjadi semakin rumit. Beberapa sesepuh mulai memberikan kepercayaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ada topeng lama yang tiba-tiba diberikan kepada saya secara sukarela. Ada yang meminta saya membeli karena beras didapur habis. Ada yang menyampaikan bahwa mereka ingin topeng itu berada di tangan orang yang dianggap peduli.
Saya selalu merasa tidak nyaman berada di posisi itu. Karena sejak awal saya tidak pernah datang sebagai kolektor. Saya datang untuk mendengar. Saya datang untuk mencatat. Saya datang untuk memahami. Bukan untuk membawa pulang.
Tetapi saya juga menyadari bahwa penolakan tidak selalu sederhana. Di beberapa rumah, pemberian itu bukan soal transaksi. Ada rasa percaya yang sedang dititipkan. Ada harapan agar benda itu tidak hilang seperti yang sebelumnya.
Dalam situasi seperti itu, saya memilih menyampaikan semuanya kepada Yudit Perdananto yang memang sejak awal memiliki perhatian pada koleksi wayang dan topeng. Saya merasa jika memang benda-benda itu harus berpindah, setidaknya ada kemungkinan untuk tetap berada dekat dengan tempat asalnya.
Saya masih mengingat satu kalimat yang pernah saya sampaikan kepadanya.
“Jangan sampai topeng-topeng lama itu keluar dari Malang.”
Kalimat itu lahir bukan dari gagasan besar tentang pelestarian. Itu lebih seperti kegelisahan sederhana setelah melihat terlalu banyak benda budaya berpindah tanpa arah yang jelas.
Saya membayangkan suatu hari anak cucu para sesepuh ingin mencari jejak keluarganya. Saya membayangkan ada generasi berikut yang ingin melihat topeng yang dulu dibuat kakeknya. Saya membayangkan masih ada kemungkinan mereka menemukannya.
Karena menurut saya, budaya yang tercerabut dari akarnya akan lebih sulit tumbuh kembali.
Saya tahu pandangan itu tidak selalu mutlak benar. Banyak museum dan kolektor yang justru menyelamatkan benda budaya dari kerusakan. Banyak pula orang yang merawat koleksi dengan baik dan membuka akses pengetahuan. Tetapi pengalaman lapangan membuat saya melihat bahwa tidak semua perpindahan benda budaya berjalan dengan kesadaran seperti itu.
Di beberapa tempat, perpindahan justru membuat cerita terputus. Benda selamat. Tetapi konteksnya hilang. Dan ketika konteks hilang, yang tersisa sering kali hanya bentuk. Padahal Topeng Malang tidak pernah berdiri hanya dari bentuk.
Topeng lahir dari hubungan panjang antara pembuat, penari, pemilik rumah, kampung, cerita Panji, ruang pertunjukan, dan ingatan yang diwariskan. Ketika satu bagian dilepas, keseluruhan makna ikut berubah.
Di masa yang sama, saya mulai semakin sering hadir di berbagai kegiatan budaya di Malang. Dari ruang-ruang itu saya perlahan mengenali beberapa nama yang dahulu pernah diceritakan para sesepuh. Nama-nama yang katanya pernah datang, pernah meminjam, pernah membawa topeng, atau pernah mengecewakan.
Saya tidak pernah menguji cerita itu satu per satu. Saya juga tidak pernah datang untuk mengklarifikasi. Bukan karena tidak penting, tetapi karena saya sadar posisi saya bukan hakim yang menentukan siapa benar dan siapa salah.
Yang saya lakukan hanya menjaga jarak.
Saya belajar bahwa di dunia kebudayaan, tidak semua orang yang berbicara paling keras adalah yang paling lama menjaga. Dan tidak semua yang bekerja diam-diam tidak punya arti.
Ada satu peristiwa yang masih saya ingat sampai sekarang. Seseorang yang namanya pernah disebut dalam cerita para sesepuh suatu hari meminta bantuan kepada saya untuk mendapatkan topeng dari wilayah Jabung.
Saya mengiyakan dengan sopan. Dalam istilah Jawa: nggeh-nggeh ora kepanggeh. Bukan karena saya menyimpan penilaian. Tetapi karena saya merasa belum cukup tahu untuk menjadi penghubung.
Saya memilih diam.
Karena setelah berjalan cukup jauh, saya mulai memahami bahwa menjaga budaya bukan hanya soal menyelamatkan bendanya. Tetapi juga menjaga agar hubungan antarorang tidak kembali melukai mereka yang selama ini sudah terlalu sering kehilangan.
*Muhammad Nasai, pegiat seni, fotografer budaya, dan pelestari Topeng Malangan asal Cemorokandang, Kota Malang.




