SPIRIT SASTRAWAN ABDUL WACHID B.S. SEBAGAI SOSOK GURU PUISI
oleh : Tania Rahayu*
Di tengah arus kesusastraan yang hari ini semakin ramai oleh kebutuhan pengakuan, popularitas, dan viralitas sesaat, sosok Abdul Wachid B.S. hadir dengan jalan yang berbeda. Ia tidak membangun puisi sebagai panggung hanya untuk menampilkan diri, melainkan sebagai ruang perenungan yang terus hidup. Dalam banyak kesempatan, ia tampak konsisten mengajarkan bahwa puisi bukan sekadar permainan bahasa atau perlombaan menjadi paling indah dalam merangkai kata. Puisi adalah jalan untuk menemukan makna hidup itu sendiri.
Kesetiaannya terhadap proses pada akhirnya membuat banyak murid mengenal puisi bukan sebagai alat untuk cepat terkenal, tetapi sebagai medium untuk mengolah batin. Di tengah generasi yang sering tergoda membuat karya demi perhatian sesaat, spirit yang diajarkan Abdul Wachid B.S. justru bergerak ke arah yang lebih sunyi, yakni membaca kehidupan secara lebih dalam. Sebab bagi beliau, puisi yang baik bukanlah puisi yang ramai dipuji hari ini lalu hilang esok hari, melainkan puisi yang mampu tinggal lama di dalam pikiran pembacanya.
Hikmah sebagai Intisari Penting Puisi
Bagi Abdul Wachid B.S., puisi lahir bukan semata-mata dari kemampuan teknis menulis, tetapi dari kedalaman perjalanan spiritual seseorang. Jalan spiritual menjadi strategi awal dalam membuat puisi karena puisi pada dasarnya merupakan hasil perjumpaan batin manusia dengan kehidupan (Wachid B.S., 2020). Puisi merupakan refleksi dan sublimasi pengendapan pengalaman dari waktu ke waktu. Penyair tidak cukup hanya melihat dunia dengan mata, melainkan juga harus belajar merasakan dunia dengan kesadaran yang lebih. Melalui proses inilah hikmah muncul sebagai inti penting puisi.
Spirit tersebut membuat puisi tidak hanya menjadi kumpulan kata-kata puitis yang terdengar indah, tetapi juga memiliki makna yang benar-benar hidup. Hikmah yang diperoleh penyair melalui pengalaman hidup, perenungan, kesedihan, maupun kedekatan spiritualnya selanjutnya disalurkan kepada pembaca melalui bahasa. Dengan demikian, puisi menjadi ruang untuk memahami ulang kehidupan. Pembaca tidak hanya menikmati bunyi dan metafora, tetapi juga diajak memasuki pengalaman batin penyair.
Pandangan ini menunjukkan bahwa puisi memiliki fungsi yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan estetik. Puisi menjadi medium penyadaran. Sebab ketika seorang penyair mampu menemukan hikmah dalam hidupnya, maka pembaca pun berkesempatan menemukan refleksi bagi dirinya sendiri melalui puisi tersebut. Artinya, penyair telah berhasil berkomunikasi dengan pembaca melalui karya yang ia ciptakan.
Demikianlah bagaimana saya, sebagai salah satu murid Abdul Wachid B.S., mulai menciptakan karya puisi. Saya tidak secara langsung mendapatkan pengetahuan teknis kepenulisan puisi dari Abdul Wachid B.S. (terlebih saya adalah mahasiswa program studi komunikasi) melainkan justru dari pengalaman hidup yang dibagikan oleh beliau dalam berbagai ruang diskusi. Beliau meyakinkan saya bahwa menulis puisi ini termasuk sebagai suatu bentuk ibadah. Karena itu puisi tidak cukup diciptakan sebagai karya yang indah saja, tetapi betul-betul bermakna.
Pemahaman tentang Sudut Pandang Puisi
Menurut Abdul Wachid B.S. penyair yang baik bukan hanya penyair yang mampu menyajikan kata-kata indah. Penyair yang baik adalah mereka yang mampu membangun sudut pandang figuratif kepada pembaca. Puisi tidak seharusnya selesai hanya dalam sekali baca. Ia perlu meninggalkan ruang renung yang panjang sehingga pembaca dapat kembali memikirkan puisi itu bahkan setelah lembar bacaan ditutup (SKSP, 2021).
Karena itu, puisi dalam pandangan beliau sering dibangun dengan konstruksi yang tidak sepenuhnya langsung. Ada lapisan makna yang harus direnungi ulang oleh pembaca. Namun sayangnya, konstruksi sudut pandang puisi semacam ini tidak selalu mudah dipahami oleh murid-murid. Tidak semua orang terbiasa melakukan perenungan ketika membaca sesuatu. Akibatnya, puisi yang membutuhkan penghayatan sering dianggap rumit atau sulit dipahami. Kecenderungan pemikiran filosofis Abdul Wachid B.S., membuat karya puisinya tidak dapat dipahami secara praktis. Terutama oleh pembaca awam.
Padahal dalam banyak kasus, kesulitan itu bukan terletak pada puisinya, melainkan pada kebiasaan berpikir yang terlalu terburu-buru. Ia meminta pembaca tidak hanya membaca dengan logika, tetapi juga dengan pengalaman batin dan imajinasi. Misalnya, Ilham Rabbani dalam buku Studi Puisi & Dua Impresi menelaah puisi Abdul Wachid B.S. berjudul Alang-Alang.Pembahasan mengenai aspek aku-lirik saja mampu menghasilkan telaah yang cukup panjang serta mengaitkan dengan Sastra Profetik Kuntowijoyo (Rabbani & Hanggana, 2025). Artinya, untuk mengidentifikasi aku-lirik dalam beberapa jenis puisi Abdul Wachid B.S. saja perlu pembacaan yang sedikit lebih dalam. Selain itu, teknik enjambement, jenis metafora, serta unsur sastra lainnya, juga memiliki kekhasan yang tidak sederhana.
Tidak heran jika penyair Fajrul Alam yang juga merupakan anak didik perpuisiannya disebut sebagai ‘mbeling’. Sebutan tersebut muncul baik dari jenis puisi yang diciptakannya maupun dari sikap kepenyairannya yang tidak mengikuti jejak puisi sang guru (Wachid B.S., 2024). Dalam suatu dialog komunitas yang Abdul Wachid B.S. kelola, Fajrul Alam menyebut ia terkadang sulit memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Abdul Wachid B.S. dalam puisinya. Menurutnya puisi-puisi yang dibangun secara sederhana seperti karya Joko Pinurbo justru lebih mudah ia pahami dan ikuti.
Kedekatan dengan Keilmuan Filsafat
Berbeda dengan Fajrul Alam, saya justru cenderung menyukai gaya persajakan Abdul Wachid B.S. Menurut saya, puisi memang sudah semestinya memiliki estetika dalam sajiannya serta makna
yang universal. Puisi juga sebaiknya dapat dipahami secara berbeda oleh masing-masing pembaca dan menyimpan semacam rahasia di balik pesan utama yang dimaksudkan penyair. Seperti halnya yang dikatakan Sapardi Djoko Damono, “Bilangnya Begini Maksudnya Begitu.”
Misalnya, pada salah satu puisi favorit saya, karya Abdul Wachid B.S. berjudul Airmata dalam buku Wasilah Sejoli. Abdul Wachid B.S. menyajikan ragam kata yang bisa dimaknai sesuai keinginan pembacanya. Misalnya pada bait pertama, ‘airmata itu bersumber/dari hati lalu mengalir/dari hati ke hati/melewati celah batu-batu’. Kata airmata bisa dimaknai berbeda-beda oleh pembaca. Airmata dapat dimaknai sebagai kesedihan, kebahagiaan, cinta, atau hal lainnya. Batu-batu dalam puisi itu dilambangkan sebagai sesuatu yang keras, sulit, berat, atau semacamnya. Dalam pemaknaan saya, airmata biasanya hadir setelah melewati sesuatu yang sulit dahulu, apakah perjuangan, penantian, ego, dan sebagainya. Dari beberapa kata saja, pembaca dapat menemukan berbagai kemungkinan makna. Ini menjadi semacam ruang bebas bagi pembaca untuk berpikir dan menganalisis pesan dalam puisi.
Begitu juga dengan puisi berjudul Nun. Kata Nun ini dapat dipahami sebagai huruf hijaiyah yang tidak memiliki arti khusus jika berdiri sendiri. Namun, kata tersebut memiliki makna yang dalam jika dibaca dalam konteks Al-Qur’an. Dalam Surat Al-Qalam, Nun merupakan salah satu huruf muqatta’ah yang maknanya sering ditafsirkan sebagai cahaya (An-Nur). Menurut saya, puisi-puisi Abdul Wachid B.S. memiliki kekuatan yang besar untuk membawa pembaca ke dalam dimensi pemikiran yang jauh dan dalam. Cara berpikir semacam ini sangat bermanfaat di dunia filsafat sebagai salah satu bagian penting dalam ilmu pengetahuan.
Urgensi Puisi dalam Dunia Pendidikan
Keprihatinan Abdul Wachid B.S. terhadap cara masyarakat memahami puisi pada akhirnya berkaitan erat dengan sistem pendidikan. Pola pendidikan yang terlalu menekankan hafalan dan jawaban baku membuat banyak murid kesulitan memahami puisi secara mendalam. Murid terbiasa menerima pengetahuan yang sudah jadi, bukan membiasakan diri untuk berpikir, menganalisis, serta membangun perenungan mereka sendiri terhadap suatu makna.
Akibatnya, puisi sering diajarkan hanya sebagai teks yang harus “dipahami” melalui cara-cara yang kaku (Wachid B.S., 2026). Siswa diminta menemukan maksud penulis, mencari majas tertentu, atau menentukan makna yang dianggap paling benar oleh guru dan buku pelajaran. Dalam kondisi seperti ini, puisi kehilangan ruhnya sebagai ruang interpretasi dan pengalaman batin.
Padahal sejatinya puisi justru penting dalam dunia pendidikan karena mampu melatih kepekaan manusia. Puisi mengajarkan seseorang untuk melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang, memahami simbol, merasakan emosi, dan membangun refleksi terhadap realitas sosial maupun spiritual. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak selalu bisa diperoleh melalui sistem pendidikan yang hanya menekankan hafalan.
Spirit yang diajarkan Abdul Wachid B.S. memperlihatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan manusia yang mampu menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu merenungkan kehidupan. Dalam konteks inilah puisi memiliki urgensi yang besar. Ia bukan sekadar pelajaran bahasa, melainkan latihan untuk membentuk manusia yang lebih peka, lebih reflektif, dan lebih sadar terhadap dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.
lebih sadar terhadap dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.
Referensi
Rabbani, I., & Hanggana, R. (2025). Studi Puisi & Dua Impresi (1st ed.). Yogyakarta: Jejak Pustaka.
SKSP. (2021). Cara Menulis Puisi Cinta Menurut Abdul Wachid B.S. Youtube.com. Retrieved from https://youtu.be/IUURV-TNoI4?si=RkX_TKLKIqI4pemt
Wachid B.S., A. (2020). Creative Writing: Menulis Kreatif Puisi, Prosa Fiksi, dan Prosa Non-Fiksi. (A. Wachid B.S., Abdul Hidayat, Ed.) (1st ed.). Yogyakarta: Cinta Buku.
Wachid B.S., A. (2024). Menulis Puisi dan Cara Pandang Terhadap Realitas. badanbahasa.kemendikdasmen.go.id. Retrieved from https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/4193/menulis-puisi-dan-cara-pandang-terhadap-realitas
Wachid B.S., A. (2026). Menanam Hikmah: Arah Baru Perpuisian Indonesia. kemenag.go.id. Retrieved from https://kemenag.go.id/opini/menanam-hikmah-arah-baru-perpuisian-indonesia-0ZhTV
Tania Rahayu adalah seorang penyair, cerpenis, dan peneliti pada Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




