MEMBACA MAJALAH MUSIK HELOPOP DI ERA SCROLL: CHERRY DISTRICT ROAD TO CHERRYPOP 2026

Oleh : Aulia Febriana*

Sumber: Audia Febriana, 2026

Di tengah kebiasaan membaca yang semakin cepat, di mana orang lebih sering menggulir layar daripada membuka halaman, benda-benda fisik justru perlahan menemukan cara untuk kembali. Kaset mulai dipajang lagi, piringan hitam kembali diputar, dan berbagai merchandise musik kembali dicari, bukan sekadar sebagai alat dengar atau benda pakai, tetapi sebagai sesuatu yang bisa disentuh, disimpan, dan diingat. Di era digital seperti sekarang, majalah musik mungkin terdengar seperti peninggalan masa lalu. Menerbitkan majalah cetak terdengar seperti keputusan yang mungkin terasa paling tidak praktis untuk dihidupkan kembali. Bukan karena orang tidak suka membaca, tetapi karena membaca kini sering diperlakukan seperti lewat di jalan tol, cepat singkat, dan kalau bisa selesai sebelum lampu merah berikutnya. Namun justru dari tempat itulah ia menemukan makna barunya: sebagai ruang bagi cerita yang tidak bisa selesai dalam satu unggahan media sosial.

Pemikiran itu terasa dekat ketika sebuah aktivasi bertajuk Cherry District: Road to Cherrypop 2026 hadir di Zona D Art Gallery, Gelora Inovasi Kreatif UGM. Program ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Cherrypop Festival, sebuah festival musik independen yang selama ini dikenal tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga membangun ekosistem kreatif di sekitarnya. Cherry District menghadirkan ruang selebrasi bagi berbagai praktik kreatif yang tumbuh berdampingan dengan musik: visual, arsip, diskusi, hingga praktik jurnalistik musik. Festival tidak lagi dipahami sekadar sebagai peristiwa hiburan, tetapi sebagai ruang produksi pengetahuan tentang musik itu sendiri. Salah satu gagasan yang muncul, berawal dari “hanya sekadar” aktivitas reportase jurnalistik musik di kalangan anak muda, kemudian bergerak menuju penerbitan majalah upaya membuat arsip yang lebih panjang umur. Namun perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa dokumentasi peristiwa musik tidak selalu cukup jika hanya berhenti pada laporan singkat atau publikasi digital yang cepat tenggelam dalam arus informasi. Hasilnya adalah majalah Helopop yang merupakan hasil lokakarya Pena Skena 2025.

Helopop dan Kembalinya Majalah Musik Cetak

Sumber: Cherrypop.id

Edisi pertama Helopop diedarkan saat Cherrypop Festival 2025 yang berlangsung pada 9-10 Agustus tahun lalu. Cetakannya hanya seratus eksemplar, tanpa ambisi produksi massal. Dalam talkshow Helopop! Bertajuk “Yang Berlanjut Adalah yang Dirawat” pada 3 Maret 2026 di rangkaian acara Cherry District, Balma Bahira bercerita bahwa jumlah tersebut merupakan bentuk optimisme sekaligus percobaan awal. Majalah itu dicetak sebagai semacam test drive untuk melihat bagaimana respons pembaca terhadap majalah cetak di tengah kebiasaan membaca yang serba scroll. Ternyata responsnya cukup mengejutkan, seluruh eksemplar tersebut habis. Entah karena pembacanya benar-benar ingin membaca, atau sekadar ingin menyimpan sesuatu yang terasa langka. Yang jelas, percobaan itu memberi sinyal bahwa majalah musik belum sepenuhnya kehilangan pembaca. Cetakan berikutnya pun tetap diproduksi secara terbatas, hanya lima puluh eksemplar, dan diposisikan sebagai semacam rare item, sesuatu yang memang tidak dimaksudkan untuk diproduksi dalam skala besar. Dijual secara eksklusif selama acara Cherry District 2026 berlangsung.
Mengabadikan yang Biasanya Hilang
Yang menarik dari Helopop bukan hanya bentuknya sebagai majalah cetak, tetapi juga cara mereka memilih tulisan. Menurut Balma Bahira, tim redaksi tidak sekadar mencari tulisan laporan festival. Mereka justru lebih tertarik pada tulisan yang berangkat dari pengalaman personal penulis. Artinya, tulisan di majalah ini tidak selalu berbicara tentang band besar atau headline panggung utama dan dokumentasi yang terkumpul tidak hanya dari satu kota atau satu komunitas musik saja. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang sering tidak dianggap penting, seperti kru yang bekerja di belakang panggung, tentang visual panggung yang hanya terlihat beberapa jam, atau momen ketika penonton tiba-tiba merasa sangat dekat dengan sebuah lagu. Hal-hal semacam ini mungkin tidak cukup sensasional untuk menjadi berita, tetapi justru di situlah cerita tentang musik sering terasa paling hidup.

Pena Skena sendiri membuka open call bagi para penulis yang ingin terlibat dalam majalah Helopop. Setiap tahunnya, sekitar lima puluh lebih pendaftar dari berbagai daerah mengirimkan tulisan mereka. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar lima belas orang yang akhirnya terpilih melalui proses kurasi. Para penulis yang terhimpun datang dari latar kota yang berbeda, membawa sudut pandang yang beragam tentang musik dan peristiwa di sekitarnya. Karena itu, cerita yang terkumpul tidak berhenti pada satu festival atau satu komunitas musik semata, melainkan memotret bagaimana ekosistem musik tumbuh berkembang di berbagai tempat. Dengan cara ini, festival tidak lagi berdiri sebagai satu peristiwa tunggal, tetapi sebagai bagian dari jaringan ekosistem musik yang lebih luas.

Majalah sebagai Arsip

Kesadaran inilah yang kemudian menempatkan majalah bukan sekadar sebagai media publikasi, melainkan juga sebagai arsip. Karena pada dasarnya festival musik adalah peristiwa yang bersifat temporer. Festival musik sering hadir dalam durasi yang terbatas, seperti pesta yang ramai, penuh energi, lalu berakhir begitu saja. Setelah panggung dibongkar dan lampu dimatikan, yang tersisa biasanya hanya foto di ponsel atau potongan video pendek di media sosial. Masalahnya, media sosial memiliki ingatan yang pendek. Apa yang ramai hari ini bisa dengan cepat tenggelam esoknya. Di titik inilah majalah seperti Helopop mencoba mengambil peran yang berbeda. Ia tidak mencoba menjadi yang tercepat, tetapi yang bertahan lebih lama untuk disimpan, dibaca ulang, dan dipahami kembali pada waktu yang berbeda. Di tengah semangat pengarsipan ini, majalah seperti Helopop juga menyisakan pertanyaan tentang siapa yang bisa mengaksesnya, dan sejauh mana ia benar-benar menjangkau publik yang lebih luas.

Edisi kedua Helopop yang tengah dipersiapkan bahkan mulai berkolaborasi dengan ilustrator yang menggambar secara manual. Tema yang diangkat juga cukup relevan dengan kondisi sekarang, bagaimana ekosistem musik bergerak dan beradaptasi di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi. Artinya, mereka tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga mencoba membaca masa kini. Dalam pengertian ini, majalah menjadi semacam jembatan penghubung antara pengalaman festival yang bersifat sementara dengan refleksi personal penulis, sekaligus membuka ruang pembacaan yang lebih luas terhadap perkembangan musik hari ini.

Kehadiran Helopop pada akhirnya memperlihatkan bahwa praktik dokumentasi musik dapat mengambil bentuk yang beragam. Majalah bukan sekadar media nostalgia terhadap masa lalu media cetak. Ia menjadi strategi kultural untuk memperlambat ritme konsumsi informasi yang terlalu cepat. Dengan membuka halaman demi halaman, pembaca diajak untuk berhenti sejenak dari arus scroll yang tidak pernah selesai.

Dalam situasi budaya yang serba cepat, upaya seperti ini dapat dipahami sebagai bentuk perawatan terhadap ingatan kolektif. Musik tidak hanya perlu diproduksi dan dipertunjukkan, tetapi juga dipikirkan, ditulis, dan diarsipkan. Tanpa proses tersebut, banyak pengalaman musikal yang akan hilang bersama waktu.  Pada akhirnya, majalah seperti Helopop mengingatkan bahwa musik bukan hanya tentang bunyi yang didengar pada satu malam festival, tetapi juta tentang bagaimana pengalaman tersebut dipahami, dicatat, dan dirawat agar tetap hidup dalam ingatan budaya.

 

*Audia Febriana, Mahasiswa Magister Tata Kelola Seni, Pascasarjana ISI Yogyakarta