Instalasi Tembikar Lingkungan
Oleh: Nurhasna Isnaini*
Pada tanggal 10-12 April 2026, saya dan teman-teman mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan studi ekskursi ke Banyuwangi, Jawa Timur. Studi ekskursi dilakukan di Taman Gandrung Terakota yang menjadi bagian dari Jiwa Jawa Resort. Dimiliki oleh bapak Sigit Pramono yang juga menjadi dosen pengampu mata kuliah Pengelolaan Wisata Budaya selain ibu Yohana Ari Ratnaningtyas. Pada mata kuliah Wisata Budaya, kami belajar mengenai pengelolaan desa wisata berbasis komunitas. Wisata Berbasis Komunitas (Community-Based Tourism) merupakan suatu pendekatan dalam pengembangan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam proses perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatannya, dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Tata kelola wisata berbasis komunitas dilihat tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga sisi artistik budayanya.
Taman Gandrung Terakota menjadi salah satu bentuk tata kelola budaya suku Osing, yang merupakan suku asli Banyuwangi, yang berada di desa Osing. Gandrung merupakan seni pertunjukan tradisional khas Banyuwangi yang berakar pada konteks agraris dan ritual, berkembang menjadi hiburan rakyat, serta kini berfungsi sebagai simbol budaya daerah. Kesenian ini mengandung nilai historis, sosial, dan estetika yang kuat, sekaligus mencerminkan kemampuan tradisi untuk bertransformasi tanpa kehilangan akar budayanya, termasuk sebagai wujud ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Dewi Sri atas kelimpahan hasil panen dan kesejahteraan yang diberikan. Dalam perspektif teori wisata berbasis komunitas budaya, seni pertunjukan seperti Gandrung tidak hanya dipahami sebagai tontonan, melainkan sebagai praktik hidup yang terikat pada ritme sosial komunitas, sehingga keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya yang melahirkannya.
Terakota, yang juga dikenal sebagai tembikar atau tanah bakar, merupakan salah satu jenis keramik yang dibuat melalui proses pembakaran pada suhu relatif rendah (di bawah atau hingga sekitar 1.000 derajat Celsius). Istilah terakota (terra cotta dalam bahasa Italia atau terra cocta dalam bahasa Latin) merujuk pada warna kemerahan yang dihasilkan dari proses pembakaran serta karakter permukaannya yang berpori. Bentuk-bentuk terakota seperti figur penari Gandrung, ayam, padasan atau gentong, serta kendi dapat dengan mudah ditemukan di area taman maupun persawahan. Sebanyak 1.000 patung penari Gandrung yang terbuat dari Terakota tersebar di wilayah Taman Gandrung. Hal ini memicu perasaan magis yang membuat saya kagum saat melihatnya. Dalam kerangka dimensi budaya pemberdayaan, kehadiran simbol-simbol ini juga berkaitan dengan hak atas makna budaya dan upaya menjaga nilai simbolik agar tidak tereduksi oleh komodifikasi

Konsep Taman Gandrung Terakota menggunakan tembikar yang berbeda dengan keramik, karena mengusung nilai-nilai relasi alam dan manusia yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Selain itu, terakota juga dapat menjaga nilai lingkungan yang berada dalam ekosistem Taman Gandrung. Hal ini menjadi representasi filosofi keberlanjutan yang menekankan keseimbangan antara praktik budaya, material alami, dan pelestarian lingkungan dalam satu kesatuan ruang yang harmonis. Jika dikaitkan dengan teori pemberdayaan wisata berbasis komunitas, Taman Gandrung Terakota menjadi contoh yang penting tentang bagaimana pengelolaan destinasi dapat melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam proses produksi, distribusi, dan pemaknaan budaya, sehingga tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta keberlanjutan sosial dan lingkungan secara seimbang.
Selain patung terakota penari Gandrung, budaya Osing lain juga hadir dalam ekosistem Taman Gandrung Terakota, yaitu Rumah Osing asli yang dipindahkan ke kawasan tersebut dan kini difungsikan sebagai kafe Java Banana serta Waroeng Taman Gandrung Terakota. Ukiran pada rumah Osing mencerminkan perpaduan budaya Banyuwangi dan Madura yang harmonis, terlihat dari ragam motif serta ornamen yang menggabungkan nilai estetika, simbolik, dan identitas kedua tradisi tersebut dalam satu kesatuan visual. Hal ini menjadi wujud integrasi antara pelestarian arsitektur tradisional dengan fungsi kontemporer, yang tidak hanya menjaga keberlanjutan warisan budaya Osing, tetapi juga mengaktifkannya kembali sebagai ruang sosial dan ekonomi yang relevan dengan kebutuhan masa kini.

Budaya Banyuwangi juga kuat hadir pada Barong Banyuwangi yang terdapat di Taman Gandrung Terakota dan Jiwa Jawa Resort. Banyak yang bilang Barong Banyuwangi terlihat sama dengan Barong Bali. Tetapi banyak yang belum tahu bahwa terdapat perbedaan di antara keduanya. Barong Banyuwangi menggunakan warna-warna primer berbeda dengan Barong Bali yang warnanya lebih beragam. Lalu, terdapat kubah di atas kepala Barong Banyuwangi yang menggambarkan adanya pengaruh akulturasi agama Islam yang masuk ke wilayah Banyuwangi dan berinteraksi dengan tradisi lokal masyarakat Osing. Barong Banyuwangi juga memiliki sayap yang tidak dimiliki oleh Barong Bali. Sayap tersebut dimaknai sebagai simbol pelindung dan kebaikan.

Tata kelola seni dan budaya yang dibawakan Jiwa Jawa tidak hanya itu saja. Fasilitas amphitheater yang dimiliki Jiwa Jawa Resort dan Taman Gandrung Terakota menjadi ruang dimana pelestarian budaya Gandrung dipertunjukkan, dengan adanya Sendratari Meras Gandrung. Dalam waktu 1 minggu, pertunjukan dilakukan sebanyak 3 kali, sehingga dalam 1 tahun menjadi sebanyak 134 kali pertunjukan. Hal ini menjadi bentuk konkret dari strategi pengelolaan budaya yang berkelanjutan, di mana pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai atraksi wisata, tetapi juga sebagai mekanisme pelestarian, regenerasi seniman, serta penguatan identitas budaya lokal secara konsisten dan terstruktur. Lebih jauh, praktik ini menunjukkan bagaimana seni pertunjukan dapat ditempatkan dalam konteks pariwisata yang tetap menjaga integritas artistik dan keterkaitannya dengan ritme sosial komunitas, sehingga mampu menghindari risiko komodifikasi berlebihan dan kelelahan budaya.
Nurhasna Isnaini – Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta




