Arsip Visual Fotografi Koleksi Melani Setiawan
Oleh Mikke Susanto*
Dulu kita sering mengandalkan teks untuk mengingat masa lalu. Entah dalam bentuk prasasti, lontar, buku sejarah, sms, WhatsApp, atau mungkin teks kuratorial. Namun ada satu jenis ingatan yang bekerja dengan cara berbeda yakni fotografi. Arsip visual berupa fotografi tidak menjelas-jelaskan seperti halnya arsip tekstual. Justru di dalamnya menunjukkan hal-hal yang menuntut kita pandai dalam menggali data dan fakta. Arsip visual mungkin tidak selalu sistematis, tetapi justru di situlah kekuatannya.
Foto menyimpan detail yang sering luput dari tulisan atau teks. Ekspresi wajah, jarak antar tubuh, cara seseorang berdiri di depan kamera atau benda tergmabar jelas di sana. Bahkan suasana ruang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata dapat dengan mudah dimanifestasikan dalam foto. Hal-hal “kecil” yang tak tertulis ini justru penting sekaligus membentuk pengalaman.
Arsip visual sebagai bagian dari tiga jenis arsip lain: tekstual dan audiovisual adalah sumber pengetahuan. Semua arsip jelas membantu kita membaca ulang peristiwa, membuka kemungkinan tafsir baru, mengoreksi ingatan yang sudah mapan ataupun mengajarkan kita kesadaran tentang masa depan.
Di Indonesia, praktik pengarsipan visual masih relatif lemah. Banyak peristiwa seni yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Atau terdokumentasi, tetapi tersebar dan tidak terkelola dengan sistematis. Di tengah situasi ini, kehadiran arsip fotografi yang dikelola secara konsisten menjadi sangat berarti. Di sinilah kerja seorang individu bisa menjadi penting dan menentukan.

Buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive
Arsip Visual dalam Buku Melani
Peluncuran buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive pada 21 Juni 2025 di Pascasarjana ISI Yogyakarta menjadi momen penting. Buku ini memuat 4.031 foto pilihan. Jumlah ini berasal dari lebih dari 100.000 arsip foto yang dikumpulkan Melani sejak 1977. Sebuah kerja panjang yang tidak banyak dilakukan secara konsisten di Indonesia.
Buku ini dikemas dalam tiga volume. Secara fisik, tampilannya sangat menarik dan mencuri perhatian. Sampul keras, cetak penuh warna, dilengkapi kemasan dengan blok hotprint emas pada judul buku. Warna-warnanya terang dengan nada warna fosfor: kuning, oranye, dan merah jambu. Ketiganya dibungkus dalam kotak hijau fosfor. Dari luar saja, buku ini sudah terasa sebagai objek yang “hidup”, elegan dan secara fisik juga kuat.

Buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive. Foto: Mikke Susanto
Namun daya tarik utamanya bukan hanya pada aspek visual kemasannya. Struktur isi buku ini juga penting. Setiap foto dilengkapi caption, komentar seniman, catatan personal. Bahkan ada sketsa dan drawing karya perupa pada beberapa halaman. Di bagian akhir, tersedia indeks nama dan peristiwa. Ini memudahkan pembaca menelusuri jaringan relasi.
Buku ini sederhananya adalah album foto. Tetapi ini jelas bukan album yang sederhana. Kemasannya saja sudah demikian menarik, apalagi materinya telah menjadi arsip sejarah. Lebih dari itu, buku ini menyimpan narasi yang luar biasa. Narasi tentang dunia seni rupa Indonesia selama hampir enam dekade antara 1970-2024.
Di dalamnya, kita menemukan berbagai situasi. Pameran, diskusi, kunjungan studio, juga momen santai dan percakapan informal dilakukan oleh Melani. Kebersamaan semacam ini tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. Apalgi kisah dalam buku sejarah. Di sinilah nilai etnografis buku ini terasa sangat kuat.
Foto-foto ini memperlihatkan ekosistem seni rupa Indonesia. Seniman, kurator, kolektor, galerist, hingga pekerja di balik layar hadir dalam satu ruang visual. Dari setiap foto saja, kita bisa melihat bagaimana mereka berinteraksi dan berkolaborasi. Dan rupanya foto-foto ini memunculkan banyak pertanyaan, semisal: Siapa yang sering muncul bersama? Bagaimana posisi tubuh dalam ruang sosial? Apa saja yang diwacanakan sesama mereka?

Isi buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive. Foto: Mikke Susanto
Di luar itu semua, buku ini juga membuka kemungkinan membaca perilaku penonton. Cara orang melihat karya, cara mereka berkumpul, cara mereka berjejaring dan cara mereka berpakaian atau bertingkah laku adalah ragam studi perilaku yang bisa dimaknai. Hal-hal semacam ini jarang dibahas, tetapi sangat menentukan dalam dunia seni visual. Dari tahun ke tahun kita melihat berbagai hal dari satu aspek ini saja.
Dengan hadirnya buku ini, arsip visual menjadi lebih “aman”. Ia tidak lagi tercecer. Arsip menjadi dan memiliki bentuk baru. Mudah dan bisa diakses kapan pun. Sekaligus arsip-arsip foto dalam buku ini bisa menjadi rujukan. Sebuah terminal bagi siapa saja yang ingin menelusuri sejarah dan wacana seni rupa Indonesia.
Kebiasaan Memotret Melani
Di balik arsip besar ini, ada kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang. Melani selalu membawa kamera. Ke mana pun ia pergi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Menariknya, kamera yang digunakan bukan selalu perangkat canggih. Pada masa awal, ia justru mengandalkan kamera pocket analog. Pilihan ini praktis. Ringan. Mudah digunakan. Tidak mengganggu situasi sosial.
Kamera ini memungkinkan Melani untuk berada sangat dekat dengan peristiwa. Ia tidak memotret dari jarak jauh. Paling-paling sejauh 3 meter maksimal. Melani terus berada di dalam, bersama orang-orang yang ia kenal maupun tidak diketahuinya. Ini membuat foto-fotonya terasa intim.
Perkembangan teknologi juga tercermin dalam struktur buku. Volume pertama mencakup periode 1977–2005, menggunakan kamera analog. Volume kedua 2006–2010, beralih ke kamera digital. Volume ketiga 2011–2022, menggunakan kamera ponsel. Pembagian ini menunjukkan perubahan cara melihat dan berinteraksi.

Foto Mikke Susanto, Melani Setiawan dan Agus Dermawan T.

Melani Setiawan bersama para pematung API di Jakarta. Foto koleksi Melani Setiawan
Proses pengarsipan pun tidak berhenti pada pengambilan gambar. Setelah memotret, Melani memberi penanda pada foto. Angka-angka kecil bertebaran di sana sini. Ini membantu mengingat siapa saja yang ada di dalam bingkai. Namun ingatan tidak selalu cukup.
Ia sering bertanya pada rekan-rekan, termasuk pada saya. Mengonfirmasi identitas mereka semua. Keterlibatan orang lain untuk melengkapi informasi detil proses ini menarik. Arsip tidak dibangun sendirian, tetapi partisipasi orang lain menjadi point penting. Inilah yang namanya kerja kolektif-partisipatif.
Dari sini terlihat bahwa Melani memiliki posisi yang unik. Ia bukan fotografer profesional dalam arti formal. Ia juga bukan akademisi seni. Namun justru dari posisi ini, ia memiliki akses yang luas. Lebih cair. Lebih personal. Lebih dekat dengan komunitas.
Kamera, dalam praktiknya, menjadi semacam “senjata sosial”. Dengan kamera, ia masuk ke dalam jaringan. Merekam. Mengingat. Dan secara perlahan membangun arsip yang kini menjadi sangat penting.
Pelestarian Arsip Visual
Setelah arsip dipublikasikan, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana menjaganya? Buku memang membuat sebagian arsip menjadi lebih aman. Semua sudah terdokumentasi dan tersebar. Bisa dibaca banyak orang kapanpun. Namun di sisi lain, arsip visual yang bersifat fisik tetap membutuhkan perhatian nih.
Foto-foto Melani–terutama yang bersifat analog–rentan rusak. Waktu, suhu, dan kelembaban bisa memengaruhi kondisi fisik. Arsip digital pun tidak sepenuhnya aman. Ia bergantung pada sistem penyimpanan dan teknologi yang terus berubah. Karena itu, pelestarian menjadi penting. Ini bukan hanya soal teknis. Tetapi juga soal tanggung jawab. Apakah arsip visual ini akan tetap dikelola secara personal oleh Melani? Atau mungkin di masa depan akan dialihkan ke lembaga?

Melani Setiawan. Repro Selasar Sunaryo Art Space
Di sinilah peran institusi menjadi relevan. Museum, arsip nasional, maupun terkhusus lembaga seni seperti galeri, art center perlu mengelaborasikan diri. Mereka masing-masing tentu memiliki infrastruktur untuk penyimpanan jangka panjang. Namun proses ini membutuhkan negosiasi, konfirmasi tentang kepemilikan dan hak cipta. Termasuk tentang akses dan tata cara mengontrolnya.
Lebih jauh, arsip fotografi seperti ini memiliki nilai yang melampaui kepentingan pribadi Melani Setiawan. Itu semua adalah bagian dari memori kolektif seni rupa Indonesia. Melani merekam perubahan sosial, tradisi, lanskap budaya dan ragam pelaku yang tidak pernah sekalipun dilakukan oleh orang lain sebelum 1970. Melani telah “mengorbankan diri” bagi kita semua. Sekaligus merangkumnya menjadi sebuah buku yang sulit ditandingi.
Identitas & Partisipasi
Di luar itu semua, foto-foto atau arsip visualnya juga berperan dalam pembentukan identitas. Ia merepresentasikan budaya para perupa dan stakeholdernya bekerja. Arsip ini menunjukkan bagaimana suatu masyarakat melihat dirinya sendiri. Dalam konteks ini, arsip Melani jelas berkontribusi pada pembentukan identitas seni rupa modern dan kontemporer Indonesia.
Yang tidak kalah penting adalah munculnya kesadaran tentang arsip berbasis partisipasi. Usulan dan proses mengarsip tidak harus selalu datang dari negara. Justru ketika individu dan komunitas bisa berperan aktif itulah yang dinamakan kemandirian publik. Dari praktik “kecil” seperti yang dilakukan Melani inilah, sejarah sering kali terselamatkan. Melani sekaligus berperan sebagai “jurnalis fotografis” yang tekun, konsisten dan “tahan banting”.
Intinya, buku ini memberi contoh konkret bahwa ketekunan individu dapat berdampak besar. Ia telah membuka kemungkinan bagi praktik serupa di masa depan. Terutama dalam konteks dunia seni yang semakin kompleks dan global. Tanpa arsip yang memadai, banyak peristiwa akan hilang. Namun dengan arsip-arsip visual fotografi Melani seperti ini, kita tidak hanya menyimpan masa lalu, namun juga membangun fondasi untuk membaca masa depan.
Pada akhirnya, “kerja” Melani Setiawan yang dilakukan hampir 7 dekade ini menunjukkan satu hal penting: mengarsip adalah bentuk perhatian. Dan perhatian, jika dilakukan terus-menerus, dapat berubah menjadi warisan budaya yang sangat berharga. Dari seorang ibu kita bisa berharap lahirnya seniman besar.
—
*Mikke Susanto, Pengarsip Seni, founder Dicti art Lab dan Staf Pengajar ISI Yogyakarta





