Pemanfaatan Daur Ulang Limbah Kaca sebagai Bahan Baku Aksesoris Kostum

Oleh Surya Ramadhan Sudarto*

“Head piece” dan Patung Kaca
(sumber Dokumen Pribadi)

Kaca, sebagaimana apa yang telah kita ketahui merupakan bahan transparan multifungsi yang kerap digunakan untuk berbagai kebutuhan tertentu mulai dari arsitektur, peralatan rumah tangga, memasak, bahkan alat penelitian laboratorium. Jenis dan rupa kaca terbentuk lantaran adanya perbedaan proses kimiawi yang dikhususkan untuk mengatasi beragam persoalan, tentu saja hal ini menjadi siasat bagi produsen untuk meminimalisir pengeluaran dana yang akan membengkak jika tidak tepat sasaran pada hasil produksi dan terbagi menjadi beberapa fungsi seperti durabilitas atas gesekan, pemuaian panas, pelapis material, dan penambah estetika. Varian dari ragam rupa kaca terdiri dari kaca sodalime, kaca borosilikat, aluminosilikat, kuarsa, timbal, tempered, laminasi, patri, serta kaca cermin.

 Salah satu dari jenis kaca yang kerap dijumpai pada keseharian kita tak lain merupakan kaca sodalime. Materialnya tersusun atas pasir silika (SiO2), soda abu (natrium karbonat, atau Na2CO3), dan batu kapur (kalsium karbonat, atau CaCO3) yang dilebur bersama pada suhu tinggi, dan kerap ditambahi beberapa bahan seperti pewarna dari beragam oksida logam untuk menghasilkan ragam warna tertentu. Ragam mineral yang biasa ditambahkan sebagai campuran pewarna alami kaca antara lain adalah 

  • Besi (Fe): Menghasilkan warna hijau, coklat, atau kebiruan (tergantung tingkat oksidasi).
  • Kobalt (Co): Memberikan warna biru tua atau biru tua yang sangat pekat.
  • Kromium (Cr): Menghasilkan warna hijau zamrud atau hijau tua.
  • Mangan (Mn): Menghasilkan warna ungu, kecoklatan, atau merah muda, dan sering digunakan untuk menghilangkan warna besi.
  • Tembaga (Cu): Menghasilkan warna merah (kupro oksida), biru, atau hijau.
  • Emas (Au): Digunakan untuk menghasilkan warna merah rubi (juga dikenal sebagai Cranberry glass).
  • Nikel (Ni): Menghasilkan warna coklat, ungu, atau abu-abu.
  • Titanium (Ti): Seringkali menghasilkan warna kuning kekuningan atau coklat.

Sementara itu, salah satu jenis kaca lain yang sering dijumpai seperti borosilikat tersusun atas material pasir silika (SiO2), boron trioksida (B2O3), soda abu (Na2O atau K2O), dan alumina. Komposisinya yang mengandung boron trioksida minimal 5%, memberikan ketahanan termal tinggi hingga 500°C – 1.400°C, hal ini memberikannya keunggulan atas ketahanan benturan dan juga bahan. Kaca borosilikat sering dijumpai pada wadah cairan laboratorium kimia seperti Pyrex, atau wadah makanan kaca untuk pemanggangan oven dan sedotan kaca yang dapat digunakan kembali.

Seperti apa yang diutarakan pada situs Oto.com, total kapasitas produksi industri kaca lembaran nasional sendiri telah menghasilkan 2,9 juta ton per tahun, namun tampaknya sumber daya pengelolaan limbah kaca di negara kita masih belum memadai secara merata dan menimbulkan persoalan ekologis tersendiri. Mengingat masa penguraian bahan tersebut mencapai hingga lebih dari 4000 tahun lamanya. Hal ini menjadi persoalan serius pada lingkungan yang akan berdampak pada kesehatan kita, umat manusia kedepannya. 

Namun, bagi Ivan Bestari Minar Pradipta, hal ini justru menjadi proses kreatif dalam memanfaatkan permasalahan struktural menjadi sebuah bentuk karya seni yang bernilai tinggi. Dalam studio miliknya yang bernama Otak-Atik Studio berkecamatan di Wirobrajan, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia memproses limbah-limbah kaca menjadi beragam bentuk karya tiga dimensi menggunakan teknik flameworking. Flameworking merupakan salah satu teknik pengolahan kaca dengan cara melelehkan batang atau tabung kaca menggunakan api yang terfokus (torch/obor) pada suhu tinggi, dengan bantuan gas tertentu. Proses ini melibatkan alat-alat utama seperti tabung Oksigen berukuran 6 kubik, gas LPG berukuran 3 kilogram, selang konektor antar gas dan obor flameworking yang dapat mengatur tekanan gas Oksigen serta gas LPG demi menjaga kestabilan suhu serta intensitasnya. Sementara itu, peralatan pendukung yang menyokong pengolahan limbah kaca antara lain adalah; pinset dengan variasi bentuk dan ukuran, papan grafit, batang besi kecil yang digunakan sebagai punty atau penarik kaca yang tengah leleh untuk membuat batangan kaca dengan cara ditarik, gunting bedah lingkar, gunting besi, vermiculite, glass wool, dan kacamata didymium untuk menghilangkan kilau pijar kuning pada obor ketika api bersinggungan dengan permukaan kaca. Di sisi lain, sumber limbah kaca yang digunakan berasal dari variasi botol alkohol, minuman, sirup, juga limbah kaca medis Pyrex untuk penggunaan jenis kaca borosilikat yang terbuat dari silika, dan boron trioksida, sehingga jenis kaca ini mampu untuk beradaptasi dengan panas secara lebih stabil lantaran memiliki koefisien muai panas yang sangat rendah dan memiliki durabilitas atas kejutan termal (perubahan suhu drastis) hingga sekitar 165˚C. 

Ivan Bestari memulai prosesnya dengan pemurnian kaca dari debu, stiker, serta kerak kotoran, menggunakan sabun dan sikat kawat cuci piring. Sering kali, ia melakukan dua hingga tiga kali pemurnian melalui air mengalir, dan juga perendaman material di dalam baskom. Setelah dikeringkan dan dirasa tidak adanya sisa noda atau kerak yang tertinggal, botol-botol tersebut kemudian dipecahkan dalam balutan kain agar pecahan kaca tetap tertahan dan menjadi potongan yang lebih kecil agar lebih mudah untuk diubah menjadi batangan kaca. Hal ini menjadi tahap penting pada proses selanjutnya lantaran tanpa adanya pemurnian, sisa-sisa debu dan stiker yang tertinggal pada botol atau permukaan kaca akan mengakibatkan adanya kotoran dan abu pada keseluruhan bidang pembakaran. Diikuti dengan perubahan warna bawaan kaca yang akan terlihat kusam dan kotor ketika dingin nantinya. 

Setelah bahan baku dan alat pendukung tertata, ia mulai memutar regulator tabung LPG untuk memantik nyala api pada obor, kemudian membuka kenop obor yang disambungkan melalui selang LPG dan saat gas keluar dari mulut obor, Ivan mulai memantik api dengan korek. Menghasilkan kobaran api yang masih tak terarah dan memiliki suhu rendah sebelum terkontaminasi oleh oksigen. Setelah api terbentuk dan masih terbakar secara acak, oksigen disalurkan melalui tabung penampung 6 kubik dengan mengatur stabilitas laju tekanan gas  pada flow meter agar mendapati suhu ideal yang dapat mengarahkan laju api menjadi tajam lurus serta panas membiru. Semakin banyak paparan oksigen pada gas LPG, maka semakin tajam dan panas pula api yang terbentuk. Dan semakin banyak paparan LPG yang keluar, semakin besar dan luas pula diameter pembakaran api.

Pemanasan kaca dilakukan dari jarak terjauh titik bakar api ke permukaan kaca secara perlahan yang terus diputar-balikkan demi pemerataan panas dan meminimalisir kejutan termal yang membuat kaca pecah dan meledak. Tahapan ini dilakukan hingga permukaan kaca perlahan menyala dan mengeluarkan warna oranye-kekuningan dan mulai meleleh seperti madu. Lalu, gagang besi ditempelkan ke dalam pijar kaca yang leleh kemudian ditarik keluar secara perlahan dari pijar api yang membuat fase muai panas terjadi dan memadatkan kaca ke dalam bentuk batangan panjang. Perlu diperhatikan bahwasannya menarik kaca leleh terlalu cepat akan menyebabkan terputusnya sambungan dari sumber utama bakaran dan menghasilkan ujung lancip yang akan membahayakan keselamatan. Maka dari itu, kunci dari tahapan awal ini adalah fokus akan proses pemuaian panas pada batangan kaca yang ditarik dan kesabaran akan proses penarikan lelehan kaca. Kumpulan batang kaca yang telah dingin kemudian digunakan untuk melakukan tahap pembentukan tiga dimensi suatu objek. Layaknya merajut dengan benang, teknik flameworking memiliki kesamaan cara pengerjaan dengan hal tersebut, meliuk-liuk, membuat rongga, dan tumpuan jaringan, hanya saja medium benang pada teknik rajut digantikan oleh batang-batang kaca. 

Meskipun tidak selamanya memiliki tumpuan penyangga, namun acapkali Ivan Bestari menambahkan penyangga tambahan menggunakan kaca berwarna bening untuk mengikat struktur agar tidak putus dan meleleh lantaran radiasi panas yang menjalar ke permukaan bagian yang lain. Pembentukan komponen-komponen paling kecil dilakukan paling awal sebagai fondasi awal dari struktur aksesori maupun karya patung yang dibuat oleh Ivan Bestari. Seperti kegiatan menanam padi yang bergerak mundur, teknik pembakaran flameworking memiliki kerentanan atas kerusakan bagian terkecil oleh laju pijar api yang searah dengan posisi struktur tersebut. Maka dari itu komponen-komponen tersebut dilakukan secara terbalik dari yang paling kecil nan detil, menuju komponen terbesar yang terhubung melalui batangan kaca ditengah. Tidak hanya berbasis pada teknik yang disebutkan sebelumnya, variasi lain dari pengerjaan Ivan terhadap limbah kaca memiliki kemiripan dengan menenun jaring ikan. Berawal dari ujung batang kaca yang dilelehkan batang kaca lain pada 6 titik melingkar yang saling simetris, kemudian 2 dari tiap titik diperpanjang hingga bertemu satu sama lain. Setelahnya, dari sela-sela pertemuan dua titik tersebut diberi lelehan batang kaca satu sama lain untuk menjadi tumpuan jaring dan sudut awal di atasnya. Hal ini terus dilakukan hingga mencapai bentuk utuh layaknya buah ciplukan dan dijadikan sebagai anting. Adapun variasi warna yang digunakan dapat beragam tergantung atas ketersediaan jenis warna pada limbah yang digunakan, dan juga kreatifitas Ivan atas pengerjaannya. Beberapa hasil karyanya yang lain berupa headdress atau aksesori kepala yang menyerupai kumpulan daun, liontin kalung, anting bercorak tulang daun, daun utuh, jaring laba-laba, tetesan air, dan bentuk-bentuk abstrak lain. Ia berkata bahwa “justru bentuk-bentuk biomorfik kayak jaring laba-laba, atau spora jamur itu yang paling stabil menopang strukturnya, apalagi kalau make kaca sodalime dan torchnya masih yang standar kayak gini dan gak ada sambungan asetilennya.”

Ivan Bestari sendiri telah meraih beberapa prestasi atas hasil jerih payahnya selama 16 tahun berkecimpung di dunia kesenian. Perjalanannya yang berawal dari usahanya untuk mereduksi dan memanfaatkan limbah botol-botol bekas, kini telah membuahkan hasil dan membawanya dalam beberapa pameran kolektif, tunggal, seminar, hingga undangan internasional ke Turki, Berlin, dan Salem, New Jersey dimana dirinya melakukan ajang demo percobaan untuk unjuk kemampuan. Tak bisa dipungkiri, ketenaran Ivan Bestari Minar Pradipta juga membawa dirinya untuk menjadi narasumber atas segala kerja keras dan usahanya dalam rubrik Kompas, Tempo, CNN, Detik Jateng, Berita Inspira, Sangkring, Mongabay, Tribun Jogja, hingga National Geographic. 

Tidak selesai sampai disitu, karya seni kacanya pun dapat ditemui pada Viavia Jogja, Palka Art Craft yang berada di daerah Prawirotaman, hingga Bandar Udara Internasional Yogyakata. Ia menuturkan bahwa penjualan aksesoris buatannya dalam sebulan dapat menyentuh hingga 20-30 buah dengan rentang harga penjualan Rp. 150.000- Rp. 280.000 per buah nya. Berbicara soal aksesoris, karya patungnya pun telah terjual dengan rentang harga lebih variatif. Mulai dari Rp. 139.000 hingga jutaan rupiah. Ivan Bestari sendiri mengatakan bahwa ia terbuka akan kolaborasi dan pesanan khusus. “Aku santai kok, selama memang jelas dan terarah tinggal kontak atau mampir aja ke studio Otak-Atik.” Tuturnya.

*Surya Ramadhan Sudarto, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.