Puisi-puisi Suminto A. Sayuti
RAMADHAN, 1 (1)
Lapar adalah kenyang yang sempurna. Karbohidrat pun terurai masuk ke saraf-urat. Perut pun kosong sarat berisi. Vitamin sukma berbait-bait puisi. Senandung diri sepanjang siang hingga sorehari. Japa-mantra tergelar hingga dinihari. Lapar pun menyempurnakan diri. Kenyang sukma dalam anyaman ketupat dan lontong doa.
RAMADHAN, 1 (2)
Bayang diri terlipat di selimut kelam. Semesta pun cahaya. Memetakan sisa jalan usia. Trotoar pun terbuka tanpa hambatan. Senandung mendung. Di ruang-ruang dada. Bersama tiktok jam dan gerimis bermula. Sebait kidung puja-puji. Ada di lembar pertama. Penuh cinta.
RAMADHAN, 2 (1)
Dahaga adalah haus yang membuka mata air. Lalu hidupmu pun menghilir. Menjemput tepian akhir. Batas antara cahaya fajar dan senja yang pijar. Remah dan sampah mengapung. Menyela batu-batu. Bersama kiambang dan ganggang. Doa dan mantra semesta pun membubung. Dahaga adalah haus yang membuka mata air. Diri pun menjemput tepian akhir.
RAMADHAN, 2 (2)
Lembayung mega patah-patah. Mengapung di bawah langit barat. Matahari pun susut. Dahaga pun larut dalam kolak doa. Dalam manis madu ziarah diri. Erat genggam dua telapak tangan. Bersama kumandang puji-puja.
Sampai jua diri di sini. Di tepian laut, di tepian hati yang pantang surut. Lalu perjalanan pulang. Lorong tak lagi panjang. Bersekutu dengan waktu. Bersama selembar daun salam. Dan semesta yang mengaminkan.
RAMADHAN, 3
Inilah frasa dan klosa matematika. Bilangan pun bergantung pada penyerta. Juga penandanya. Kali ataukah akarnya. Tak terhingga pun demikian adanya. Antara nol dan tak terhingga. Sebingkai kaca di tengahnya. Aku pun cuma residu angka. Tak habis dibagi. Tak juga bisa dikuadratkan. Hasilnya cuma alir doa dan puja-mantra. Hulunya udara. Hilirnya tiktok arloji dalam rongga dada. Hidup pun serupa wacana tanpa alinea.
RAMADHAN, 4
Angka-angka membilang hari. Mengukur sisa umur. Pada perjalanan yang cuma sebentar. Memetakan tujuan. Tanjakan demi tanjakan. Juga kelokan dan turunan. Jalanan aspal berlobang. Juga trotoar yang penuh penjaja tiban. Di bawah rinai gerimis sore. Terhidang secangkir kopi tawar. Rest area terbuka tanpa penjaga.
RAMADHAN, 5
Angin utara yang jinak. Angkat diri jadi selembar daun. Jadi seserpih mega. Di atas langit Merapi. Senandung puji-puja. Pada malam-malam bercahaya. Pijar diri menyulut api. Golak magma di perut bumi.
RAMADHAN, 6
Matahari pagi Merapi. Meruap kabut di jalan pendakian. Tepi kanan tepi kiri. Pal-pal jarak menuju puncak. Diri pun tegak menatap konapi langit. Cakrawala jauh dan lengkung tangga bidadari. Diri bangkit dalam diri. Sejoli jiwa tunggal makna. Dalam dekap erat puja-puji. Kidung papa sarat makna.
RAMADHAN, 7
Hari-hari ini serupa tanah. Gembur dan subur membuat benih tertabur bakal berkecambah.Gemah ripah. Apa dan kapan pun. Semi dan melimpah ruah. Di mana dan kepada siapa yang mau berjapa-mantra.
Diri pun serupa benih. Telanjang dan pipih. Bertapa dan memecah diri. Menyela pori-pori. Bagi yang punya matahati. Benih sejati.
Serupa kecambah. Diri pun membelah dan melepas kulit ari. Julur akar menyongsong hijau pucuk daun. Mengelupas hari. Tanpa igau tanpa risau. Sisanya cuma ngungun bersama lembayung senjahari.
RAMADHAN, 8
Huruf-huruf menyulam kata. Konsonan dan vokal berebut tempat. Kerna satu huruf dalam kata, tuah makna terbawa serta. Ada kasih sayang dan cinta. Ada rindu tak habis dikata. Kesumat dan dendam pun lumat dalam alun kata. Jeda antara menyisa ruang bagi puji-puja. Juga mantra selengkung cakrawala. Hidup pun serupa dan menjadi pasang surut kata. Frasa dan klosa. Juga alinea dan wacana. Semesta membaca dan menabur salam. Semesta diri tak henti mengaminkan.
RAMADHAN, 9
Hari-hari serupa jembatan gantung. Dua tepian ditautkan. Antara kabut pagi dan lembayung sore Merapi. Antara hulu dan hilir kali. Antara langit dan bumi. Antara bumi dan samodra. Lengkung cakrawala dan pelangi senja. Diri meniti ruas-ruas bambu. Tegak jiwa tanpa was-was kalbu. Kuning dan putih telur menyatu dalam teraan umur. Cangkang pun wadah sebelum menetas. Sebelum ciap dihisap dan ditiup semesta. Diri pun runduk di bawah daun-daun doa.
RAMADHAN, 10
Kita bungkus ngungun diri dengan lembar-lembar daun hari. Sejatinya hari. Gerimis turun pun di lereng Merapi. Sesuai rencana diri berhenti di sini. Sebelum puncak. Membaca peta perjalanan. Bersama angin sepoi. Diri membaca diri. Melipat hari-hari. Kumandang puja puji. Bait-bait puisi langit. Biar diri tetap tegak bangkit. Menapaki sisa jarak. Pal-pal tepian jalan yang membilang. Lipatan daun hari mencatat seakan abadi. Mendengar dalam diam. Sisanya cuma gumam.
RAMADHAN, 11
Titik kecil penyerta huruf. Di atas atau di bawah. Satu, dua, ataupun tiga. Itulah dirimu berada dan menjadi. Langit Merapi. Biru lembayung. Udara lembab. Ruap aroma tanah disaput embun. Jalan sunyi. Jalan diam tak berucap. Gagap di labirin sunyi.
RAMADHAN, 12
Tak ada suara. Sisanya cuma napas diri. Panjang dan dalam. Menembus langit. Suara bibir cuma pantulan gema. Suara hati menembus tabir. Ketika membaca huruf dan kata. Diri sedang dibaca. Daun dan ranting pun runduk. Tanpa kata-kata. Apalagi tanda-tanda baca. Sarat puja puji. Angin pun meniti jejak-jejak sunyi. Bait-bait abadi puisi diri.
RAMADHAN, 13
Ini sebuah Tepian. Berbatu dan kerakal hijau lumutan. Juga hitam pasir keabuan. Mega-mega patah di langit. Luas laut dan cakrawala jauh. Sampan pun labuh. Engkau tulis di atas pasir bergaris-garis. Sebuah pantai Tanpa Nama. Lalu terbaca hikayat purba. Engkau pun belajar mengeja. Tentang asal-mula. Membaca dan menulis nama-nama. Engkau pun kembali ke rumah Kata.
Kita pun pejalan larut. Di terang cahaya. Tapi tak siang. Di kelam tanpa cahya. Tapi tak malam. Kita ada di antaranya. Tepian waktu. Menuju samodra Minang Kalbu.
RAMADHAN, 14
Ini saatnya berbagi lebih lagi. Lewat berbagai kenduri. Kita undang para tetangga. Juga handai taulan tercinta. Tak lagi sebatas anak cucu. Juga saudara dekat kita.
Kita deraskan larik-larik kitab puisi. Sepanjang siang sepanjang kelam. Kita kumpulkan tanah lempung. Alir air. Nyala api dan segar angin. Dalam satu bejana suasana. Diri dan ruh melintas samodra dan benua.
RAMADHAN, 15
Seekor serangga merayap di tepian selokan. Sepasang burung terbang ke Utara. Menghirup aroma belerang. Mencelupkan diri ke air. Kepak sayap menyingkap tabir.
Ada raung tatawarna. Ada ruang berbagi rupa. Hijau dan tosca. Plankton-plankton masa lampau. Lalu lereng bukit. Rerumputan dan pepucuk pepohonan. Kita pun di antaranya.
Di sisi-sisi delapan penjuru angin. Berkaca diri di garis-garis air. Lalu gelembung-gelembung hidup. Kita pun kembali ke awal-mula. Api air bumi angin. Kita pun membaca dan dibaca. Selokan menghilir di bawah lengkung cakrawala. Ayat-ayat tergelar. Buat kembali ke Tanah Asal.
RAMADHAN, 16
Kata-kata membiarkan vokal bersuara. Serupa jalar akar mencari sumber air. Menyingkap cadar. Tak hanya katup bibir. Konsonan menyingkir. Vokal menembus tabir. Di dalam kata kamu ada. Ruang dan raung warna. Berebut tempat. Setiap saat. Merah hitam kuning putih. Semua kata menuju palagan. Meninggalkan tepian. Huru-hara sunyi dalam diri. Dalam dada. Suasana tercipta. Keris ketemu kerangkanya.
RAMADHAN, 17
Sehabis tanjakan lalu tikungan dan rata jalan. Lalu simpang empat. Lalu satu kiblat. Siapa menanti di ujung jalan. Sebatok air kelapa muda terhidang di meja. Juga jajan pasar seadanya. Lepas sudah dahaga diri di tengah kemarau basah. Diri pun julang pohon jati kampung. Belitan jalar akar di bawah bongkah tanah. Menjaga pupus daun dan kuncup bunga rekah.
RAMADHAN, 18
Sepotong cahaya menyela tirai. Kamar tempat terbaring diri. Hari-hari tak pernah capai. Membilang angka yang hampir selesai.
Sepotong cahaya hinggap di kelambu ranjang. Isyarat pun tersingkap bagi harap. Sebelum tumbang di ujung rembang.
Sepotong cahaya dan sepasang mata di wajahmu. Aku pun menghirup aroma sorga. Dan kita berdua saja. Merenda kembali hari-hari berlalu.
RAMADHAN, 19
Engkau pun sepetak sawah. Tempat bidadari menjaga marwah. Menebar gabah. Demi hidup kini dan lusa. Demi diri dan anak cucu di hari nanti. Maka engkau pun sebidang tanah. Tempat kutebar benih. Biar tumbuh dan berakar. Pohon kesabaran. Kembang mekar mewangi. Berbuah tandan kebajikan. Karna lumpur dan airmu adalah kesuburan. Lumbung masa depan pun terbuka. Musim demi musim. Panen pun tiada habisnya. Semesta menebar salam. Dan mengaminkan.
RAMADHAN, 20
Engkau pun sepetak sawah. Tempat Dewi Sri menjaga marwah. Menebar gabah. Demi hidup kini dan lusa. Demi diri dan anak cucu di hari nanti. Maka engkau pun sebidang tanah. Tempat kutebar benih. Biar tumbuh dan berakar. Pohon kesabaran. Kembang mekar mewangi. Berbuah tandan kebajikan. Karna lumpur dan airmu adalah kesuburan. Lumbung masa depan pun terbuka. Musim demi musim. Panen pun tiada habisnya. Semesta menebar salam. Dan mengaminkan.
Engkau pun bumi. Tempat bijian tumbuh. Kecambah bagi masa depan. Demi hidup kini dan nanti. Maka engkaupun sebidang pekarangan. Tempat tempat diri nyiapkan biji-biji tumpang sari.
Engkau juga sebidang tanah. Tempat diri mendirikan rumah. Pondasinya batuan keyakinan. Tiangnya pohon kesetiaan. Dindingnya anyaman kesabaran. Dan atapnya rumbia keteguhan. Maka engkaupun sebidang batur. Tepat diri menambat umur.
Tapi kini engkau sebuah pusara. Gundukan tempat anak cucu menyemai rindu. Dan aku pun hujan yang tumpah. Menghilir. Menuju muara akhir. Merumahkan gelisah. Menunggu hari-hari selesai menghitung mimpi. Dari penjumlahan hingga pembagian. Bersama anak cucu. Bersama doa berayat rindu. Menujumu. Menuju-Mu.
RAMADHAN, 21
Angin pun landai dan dingin udara dini. Atap-atap hari berebut tempat. Menyela perdu rumput dan jelatang. Berebut kilasan cahaya. Sepenggal waktu menyeruak pori-pori tanah hunian. Puing diri tak pernah hilang bayang.
——
Suminto A. Sayuti lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober 1956. Pada dekade 1970-an saat tergabung komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam berbagai forum diskusi sastra, pementasan puisi dan teater. Kala itu, di kalangan seniman Yogya, Suminto dikenal sebagai pemuda yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh dunia sastra sejak ia masuk Yogya pada tahun 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, ia eksis di dunia sastra.
Suminto yang Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan, dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerpen, esai sastra, dan sebagainya.
Di antara karya Suminto A. Sayuti :
- Kumpulan Sajak Malam Tamansari
- Resepsi Sastra
- Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra
- Ensiklopedia Sastra Indonesia
- Evaluasi Teks Sastra (2000, terjemahan The Evaluation of Literary Texts karya Rien T. Segers)
- Semerbak Sajak (2000)
- Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000)
- Berkenalan dengan Puisi (Gama Media, 2002)
Penghargaan :
- Kedaulatan Rakyat Award, Bidang Kebudayaan (2005)
- Anugerah Sastra Yayasan Sastra Yogyakarta (2014)




