Memasak Identitas, Merebut Posisi: Simbolisme Hierarki dan Trauma dalam Karya Tari Kontemporer Lu Olang

Oleh Favio Soares Pinto*

Foto pertunjukan tari kontemporer “Lu Olang” karya Elvin Anderson di Galeri Seni But Muchtar Pascasarsaja ISI-Yogyakarta. Sabtu,13 Desember 2025. Foto: Screen Shot 2026-03-21 at 12.58.08 AM.png. Sumber: https://drive.google.com/drive/folders/1zzjda-qs079COwPPuTCtfCbJy6WnN2LZ)

Deskripsi karya: Pertunjukan diawali dengan seorang perempuan berdiri di tengah panggung gelap. Ia berada di atas empat bangku kayu kecil, tepat di bawah sorotan lampu panggung (spotlight) yang terang dan membentuk lingkaran. Perempuan itu mengenakan pakaian tradisional berwarna gelap bergaya Tionghoa dan memegang tumpukan empat mangkuk putih dengan kedua tangan di depan dada. Penari perempuan itu meletakkan mangkuknya di atas bangku, lalu melakukan gerakan seolah sedang mengaduk sesuatu memberi kesan seperti sedang memasak. Tak lama kemudian, empat penari lain muncul dan masuk panggung. Mereka memegang sumpit di tangan kanan dan bergerak layaknya orang yang sedang makan dan mengaduk masakan. Bunyi yang dihasilkan dari sumpit-sumpit tersebut seirama dengan irama musik. 

Adegan berikutnya menampilkan suasana berbeda di panggung yang sama, kini diterangi cahaya biru yang dramatis. Penari perempuan berada di tengah, tampak sedang melakukan gerakan memasak. Ia dikelilingi oleh empat penari lain yang mengenakan pakaian serupa berwarna gelap. Beberapa di antara penari duduk di lantai, sebagian duduk di bangku, dan ada pula yang berdiri di sekelilingnya. Masing-masing memegang mangkuk putih dengan gerakan seolah sedang makan. Keseluruhan gerakan menciptakan estetika gerak yang simbolik dan abstrak. Suasana masih diselimuti pencahayaan biru dramatis yang sama, namun pola lantai kini berubah mengikuti gerakan para penari. Di sebelah kiri, seorang penari pria berdiri di atas sebuah bangku kayu dan tampak berinteraksi dengan penari perempuan yang menjadi pusat di tengah panggung. Penari perempuan itu tetap berdiri dengan posisi lengan sedikit terbuka. Komposisi berikutnya menghadirkan pencahayaan chiaroscuro yang tajam, memusatkan perhatian penonton pada gerakan-gerakan yang terjadi pada waktu yang sama (beberapa gerakan serentak).

Pada adegan selanjutnya, seorang penari menjadi pusat perhatian, berdiri tinggi di atas bangku kayu sebagai titik fokus, sementara empat penari lain mendampingi dengan gerakan lengan yang kaku dan serempak. Pencahayaan berubah menjadi merah dramatis, ditambah lampu sorot tunggal yang menciptakan kesan fokus intens serta ketegangan ritual di dalam ruang studio minimalis. Empat penari berdiri di atas bangku kayu masing-masing, tersusun berdekatan sehingga menciptakan kesan vertikal yang menyatu, sementara seorang penari kelima berdiri terpisah di lantai. Mereka tampak sedang berlomba untuk naik ke atas bangku; tiba-tiba ada yang berhasil mencapai puncak, sementara yang lain jatuh dan saling merebut posisi tertinggi.

Adegan selanjutnya menyorot seorang penari di posisi sentral, berdiri di atas sebuah bangku sambil mengangkat bangku. Beberapa penari lainnya bergerak dengan langkah satu per satu, beralih dari posisi duduk, berdiri, lalu berjalan kembali. Latar panggung yang polos dan minimalis diterangi oleh pencahayaan hangat yang dramatis. Pertunjukan “Lu Olang” diakhiri dengan adegan bersuasana cahaya merah. Lima penari ditempatkan berdekatan di dalam sorotan lampu melingkar yang memusatkan perhatian penonton pada gerakan sentral mereka. Para penari tampak terlibat dalam sebuah ritual yang terjadi pada waktu yang sama atau peragaan makan yang digayakan, menggunakan properti sumpit yang menyampaikan hubungan mendalam dengan penggambaran budaya Tionghoa.

Presfektif penulis sebagai penonton: Karya Lu Olangmerupakan tari kontemporer. Menurut Kusumastuti 2025, unsur-unsur pertunjukan dalam karya tersebut menciptaan tari komtemporer tampak jelas menurut prasyarat adanya kesiapan dan kemampuan dalam menemukan serta menyajikan kebaruan-kebaruan, baik dalam gagasan, konsep, maupun teknik gerak. Melalui penggunaan pencahayaan dramatis dan panggung yang minimalis, membangkitkan kesan keintiman dan misteri, serta menonjolkan harmoni gerakan(koreografi) para penari. Seorang penari berperan sebagai tokoh sentral, sementara keempat penari lain mengelilinginya dengan mengangkat kursi kayu tinggi di atas kepala dalam gerakan yang serentak. Komposisi ini menggambarkan realitas beban, hierarki sosial, atau ingatan sejarah, menggunakan objek fisik sederhana untuk menyampaikan narasi yang kuat dan abstrak. Para penari tampak terlibat dalam aktivitas ritual atau komunal yang melibatkan properti sederhana seperti bangku kayu, mangkuk dan sumpit, menyampaikan pengalaman tradisi budaya Tionghoa dalam karya Lu Olang.”

Pertunjukan tari kontemporer ini menampilkan gaya yang kuat melalui komposisi simetris dan eksperimental yang bersifat ritual simbolik. Beberapa adegan mengesampingkan detail latar belakang sosial demi menekankan keintiman dan ketegangan dalam momen kolektif yang terlepas dari budaya politik. Menempatkan para penari di sebuah ruang yang sederhana ditandai oleh cahaya. Gerakan secara dinamis di mana lima penari memanfaatkan ruang dan pencahayaan yang tajam untuk menciptakan kesan ketegangan suasana. Dibalut dalam cahaya yang kuat, pertunjukan ini menekankan isu tentang warisan budaya. Karya ini menampilkan interaksi antara geometri fisik tubuh manusia dengan objek-objek sederhana, yang menghasilkan bayangan di dinding dengan kesan dramatis. Gerakan lengan yang dinamis membentuk bayangannya pada dinding kosong menjadi bukti bahwa properti sederhana dapat dimanfaatkan untuk menciptakan fokus yang kuat pada gerak. Setiap adegan menghadirkan gerakan eksperimental yang mengeksplorasi hubungan antara keseimbangan. Komposisi antaradegan mengeksplorasi hierarki dan dinamika sosial secara kuat melalui furnitur bangku kayu sederhana yang berfungsi simbolis. Koreografer menempatkan unsur-unsur pertunjukan yang sangat kontras untuk menghadirkan gerakan yang mendalam, sehingga memicu refleksi lebih jauh tentang otoritas, beban mental, serta trauma. Panggung dibalut dalam cahaya merah, menciptakan suasana surealis sekaligus menghadirkan ketegangan dramatik tentang beban kehidupan. Karya ini bermakna untuk menggambarkan peristiwa masa lalu sekaligus mengkritisi hal-hal yang tersirat di baliknya. Menurut Elkins (2003), kritik seni saat ini berada dalam “krisis di seluruh dunia” dan “sekarang para kritikus lebih tertarik pada ambiguitas, netralitas, dan deskripsi yang bernuansa” daripada penilaian yang tajam seperti di masa lalu.

KaryaLu Olangdengan artistik minimalis dan simbolismenya yang kuat, dapat dibaca sebagai sebuah representasi artistik yang mendalam tentang dinamika sosial, hierarki, dan memori kolektif dari komunitas Tionghoa di Indonesia. Referensi ini memberikan contoh dan kerangka berpikir tentang bagaimana seni pertunjukan digunakan untuk merefleksikan isu sosial-politik. Hartati sebagai seorang koreografer memberikan contoh nyata bagaimana karya tari kontemporer Indonesia menggunakan simbol (seperti jerami dan gerakan) untuk mengkritisi kebijakan dan kondisi sosial-politik (dalam hal ini, era Reformasi). Karya ini memperkuat argumen bahwa karya seni bagian dari tradisi artistik yang kritis.

Koreografer terinspirasi oleh kerusuhan 1998 dalam menciptakan karya “Lu Olang”. Peristiwa ini adalah yang paling dikenang karena skalanya yang besar dan traumatis. Bermula dari krisis moneter dan ketidakpuasan politik terhadap rezim Orde Baru, kemarahan massa dialihkan menjadi serangan yang sistematis terhadap etnis Tionghoa di Jakarta, Solo, dan Medan. Dampak peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia hingga saat ini. The Conversation Indonesia dalam narasi sejarah menyatakan bawah Masyarakat Non-Tionghoa lebih menganggap kerusuhan terjadi karena faktor eksternal: krisis ekonomi dan ketidak puasan atas pemerintahan Suharto. Pada intinya, konflik di masa lalu merupakan hasil dari politik kolonial, kesenjangan ekonomi, dan praktik politik identitas yang memecah belah. Saat ini, upaya untuk terus membangun persatuan dan kesetaraan masih terus berjalan.

Analisis Karya: Elvin Anderson sebagai koreografer dalam penciptaan karya Lu Olang, terdapat pengalaman empiris yang menjadi landasan atau wacana untuk memperkuat karyanya. Koreografer yang memiliki garis keturunan Tionghoa ini menggambarkan karya Lu Olangdengan simbolisme sebagai kritik terhadap sejarah dan realitas masa lampau. Semiotika dalam karya ini sebagai satu bentuk representasi pada dasarnya adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, namun kepada yang lain. Karena sifat dasarnya itulah, maka representasi sering dipermasalahkan ihwal kemampuannya untuk bisa menghadirkan “sesuatu” di luar dirinya, karena seringkali representasi malah beralih menjadi “sesuatu” itu sendiri. Jurang yang terbentuk antara representasi dan yang direpresentasikan ini seringkali terlupakan oleh manusia.

Adshead menunjukkan bahwa analisis sesungguhnya melekat dalam segala bentuk apresiasi seni; analisis merupakan dasar pengetahuan dan pengalaman serta berfungsi untuk memperluas pengetahuan itu dan memperkaya pengalaman itu. Tidak hanya penonton, tetapi koreografer, penari, kritikus, rekonstruktor, dan notator semuanya memanfaatkan keterampilan analitis dan berbagi konsep yang sama meskipun penggunaan akhir mereka mungkin berbeda. Pemikiran Maritson kemudian dilanjutkan untuk memperkuat landasan pemikiran koreografer sebagai bentuk tanggung jawab atas karya ini. Marison, menyoroti sejarah kekerasan terhadap etnis Tionghoa pada masa kolonial Belanda, memberikan dasar historis untuk analisis tentang “memori kolektif” dan akar konflik. Pertunjukan ini menggunakan properti sederhana (mangkuk, sumpit, bangku kayu) dan manipulasi ruang (ketinggian, formasi) untuk mengeksplorasi tema-tema yang sangat relevan dengan masalah yang telah terjadi, seperti kesenjangan, asimilasi paksa, trauma kekerasan, dan perjuangan untuk mempertahankan identitas. 

  1. Hierarki dan Perebutan Posisi (Kelas Sosial dan Kesenjangan)

Adegan di mana para penari “berlomba untuk naik ke atas bangku; tiba-tiba ada yang berhasil mencapai puncak, sementara yang lain jatuh dan saling merebut posisi tertinggi.” Adegan ini menggambarkan metafora paling eksplisit untuk kompetisi dan kesenjangan sosial dan ekonomi. Bangku kayu di sini bukan hanya properti, tetapi simbol status. Hubungan dengan masalah dalam karya ini untuk merefleksikan bagaimana etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang secara sejarah ditempatkan sebagai perantara ekonomi oleh kolonial Belanda, sering kali berada di posisi yang lebih tinggi secara ekonomi, tetapi posisi itu rapuh dan terus-menerus diperebutkan. “Jatuh” dan “saling merebut” menggambarkan ketidakstabilan posisi tersebut, serta bagaimana tekanan dari luar (krisis ekonomi, politik) dapat dengan mudah menjatuhkan mereka dari “puncak.”

  1. Beban Tradisi dan Memori Kolektif

Karya ini menghadirkan gambaran yang sangat kuat tentang beban. Adegan ini merepresentasikan oleh empat penari mengelilingi seorang tokoh sentral sambil “mengangkat kursi kayu tinggi di atas kepala mereka dalam sebuah gerakan ritual yang sejalan dengan gerakan eksperimental.” Beban di sini bisa diartikan sebagai beban untuk mempertahankan identitas dan tradisi budaya Tionghoa di tengah tekanan asimilasi (seperti pada masa Orde Baru). Adegan ini juga bisa menjadi beban trauma kolektif dari peristiwa kekerasan (seperti 1998) yang harus dipikul oleh generasi berikutnya. Pengangkatan bangku secara ritualistik menunjukkan bahwa ini bukan sekadar beban fisik, tetapi warisan sejarah yang harus diakui dan diingat.

  1. Isolasi dan Tekanan Sosial

Panggung minimalis, bayangan tajam, dan para penari yang terkurung dalam satu sorotan cahaya menciptakan rasa isolasi, pengawasan, dan tekanan. Merepresentasikan kondisi sosial etnis Tionghoa yang sering merasa “terisolasi” atau berada di bawah pengawasan publik. Kampung Tionghoa di masa kolonial, kebijakan yang membatasi ekspresi budaya, dan posisi mereka sebagai “kambing hitam” dalam krisis membuat mereka seolah-olah selalu berada di panggung yang sempit dengan sorotan tajam yang tidak bisa dihindari. Cahaya merah dramatis bisa diartikan sebagai simbol ancaman, amarah, atau trauma kekerasan.

  1. Dinamika “Kita” dan “Mereka”

Formasi yang sering menempatkan satu tokoh sentral terpisah dari yang lain, atau yang lainnya berada di posisi lebih rendah (duduk) mengelilingi tokoh yang berdiri, menggambarkan dinamika hubungan yang kompleks. Dimaknai sebagai hubungan antara individu dan komunitas, atau antara komunitas Tionghoa dengan masyarakat pribumi di sekitarnya (ada jarak, ada pengawasan, ada ketegangan). Tokoh sentral yang “tetap tidak bebas bergerak” sementara yang lain bergerak di sekelilingnya bisa melambangkan posisi yang defensif, kaku, dan selalu menjadi pusat perhatian yang rentan.

  1. Gerakan Makan sebagai Metafora Akulturasi dan Konflik

Penggunaan properti makan (mangkuk putih, sumpit) secara konsisten adalah kunci. Gerakan “seolah sedang memasak” dan “makan” bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Berikut adalah hubungan konteks dengan karya ini:

  • Akulturasi: Tindakan “memasak” bisa diartikan sebagai proses pencampuran dan adaptasi budaya. Apa yang dimasak? Mungkin identitas baru. 
  • Konflik: Adegan di mana bunyi sumpit seirama dengan musik menciptakan estetika, tetapi bisa juga terdengar sebagai suara yang mengancam atau seperti ketegangan yang ritmis.
  • Kelangsungan Hidup: Pencarian dan aktivitas makan adalah metafora dasar untuk bertahan hidup, merefleksikan bagaimana isu ekonomi selalu menjadi inti dari ketegangan antarkelompok.

Seorang koreografer dalam karya Lu Olang” menunjukkan kreativitas yang tinggi. Menurut Nurdiyana dan Indriyani kreativitas akan muncul pada individu yang memiliki motivasi tinggi dan hanya berkembang dalam proses penciptaan baik dalam ukuran besar maupun kecil. Dalam proses kreatif ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain: lingkungan, fasilitas, keterampilan, identitas, otoritas, orientasi dan apresiasi. Dalam konteks karya “Lu Olangyang dianalisis dengan latar belakang etnis Tionghoa mampu memanfaatkan identitas sebagai sumber inspirasi utama, lingkungan sosial-politik sebagai konteks yang membentuk pengalaman kolektif, serta keterampilan dan otoritas untuk mengolah simbol-simbol sederhana menjadi narasi yang sarat makna tentang memori kolektif. Keseluruhan faktor ini menunjukkan bahwa kreativitas bukan sekadar bakat individu, tetapi berkembang melalui proses yang dipengaruhi oleh konteks, dukungan, dan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Kesimpulan: Karya tari kontemporer ini, meskipun tidak secara eksplisit menceritakan adegan kerusuhan atau kebijakan diskriminatif, secara efektif menangkap rasa, tekanan, dan struktur dari pengalaman minoritas Tionghoa di Indonesia. Melalui bahasa koreografi yang abstrak dan minimalis, pertunjukan ini berhasil mengangkat tema-tema besar: 

  • Hierarki yang rapuh akibat warisan kolonial dan persaingan ekonomi.
  • Beban memori yang diwariskan dari generasi ke generasi.
  • Isolasi dan pengawasan yang menjadi ciri hubungan sosial yang penuh prasangka.

Karya Lu Olang menggunakan properti sederhana seperti bangku kayu, mangkuk dan sumpit, menunjukkan bahwa konflik dan hubungan yang kompleks tidak selalu harus diceritakan secara literal. Justru dengan abstraksi, tema tentang trauma, hierarki, dan beban tradisi dapat dirasakan secara emosional dan intelektual oleh penonton, mengajak mereka untuk merenungkan memori kolektif yang masih membekas hingga saat ini. 

*Favio Soares Pinto, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Sumber Referensi : 

  • Hartati (Koreografer). (2025). Jarum Dalam Jerami (Pertunjukan Tari). Dipentaskan di Pesta Raya, Esplanade, Singapura. Diberitakan oleh Berita Harian. 
  • Marison, W. (2020, Januari 23). Kali Angke dan Tragedi Pembantaian Etnis Tionghoa oleh BelandaKompas.com. Diakses dari https://megapolitan.kompas.com
  • Piliang, Y. A. (2003). Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Yogyakarta: Jalasutra.
  • Giersdorf, J. R., & Wong, Y. (Eds.). (2002). Introduction. Dalam The Routledge Dance Studies Reader (edisi ke-1). London: Routledge.
  • Elkins, J. (2003). What happened to art criticism?. Chicago, IL: Prickly Paradigm Press.
  • The Conversation. (2024, Juli 7). Pemerkosaan massal Mei 1998: Narasi sejarah yang terbelah antara Tionghoa dan Non-Tionghoa. The Conversation Indonesia. Diakses dari https://theconversation.com   
  • Kusumastuti, Nungki. (Februari, 2025). Tati Indonesia dan Sejarahnya. Jakarta: PT Gramedia.
  • Nurdiyana & Indriyani, (Mei, 2023). Etnokoreologi Kajian Melalui Ilmu Antropologi Dan Seni Tari. Yogyakarta: Jejak Pustaka.