Persepsi Ekologi Olafur Eliasson
Oleh Nurhasna Isnaini*
Pameran bertajuk “Your Curious Journey” oleh seniman asal Islandia-Denmark, Olafur Eliasson, yang diselenggarakan di Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara) mulai 29 November 2025 hingga 12 April 2026 ini mengajak kita untuk merasakan sensasi rasa penasaran ketika melangkah masuk ke dalamnya. Sejak memasuki ruang pamer, saya disambut oleh “Adrift Compass” (2019) yang terlihat sederhana saat pertama kali dilihat. Namun, lebih dari itu, karya “Adrift Compass” merupakan simbol makna dari perjalanan jauh Eliasson, termasuk perjalanan yang ia tempuh dari Islandia ke Denmark.
Pameran ini menjadi salah satu agenda Eliasson dalam tur keliling pamerannya di Asia Pasifik, yang menjadikan Indonesia salah satu wilayah penting dalam sirkulasi karya dan gagasan ekologis yang dibawanya. Dalam konteks ini, pameran tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk menampilkan karya seni, tetapi juga sebagai ruang sosial dan budaya yang mempertemukan seniman, institusi, dan publik dalam membentuk makna karya, sebagaimana dijelaskan Pierre Bourdieu dalam teori field of cultural production.
Tajuk “Your” dalam judul pameran ini mengajak kita sebagai pengunjung untuk ikut terlibat dalam merasakan sensasi elemen-elemen yang ada di kehidupan kita dan sekitarnya. Beberapa karya yang menampilkan ilusi optik melalui bayangan, cahaya, dan warna memancing seluruh pancaindra kita untuk merasakan keingintahuan bagaimana kehidupan kita dan sekelilingnya bekerja, seolah mengajak pengunjung untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka lihat: apakah itu nyata, atau hanya persepsi yang dibentuk oleh cahaya dan sudut pandang.

Dalam kerangka teori diskursus dan kekuasaan Michel Foucault, pengalaman ini menarik karena memperlihatkan bahwa penglihatan tidak pernah sepenuhnya netral; cara kita memahami realitas selalu dibentuk oleh medium, kondisi, dan sistem representasi yang mengaturnya. Dengan demikian, Eliasson tidak sekadar menyajikan efek visual, melainkan juga menggugat asumsi bahwa persepsi manusia bersifat objektif.
Ketika saya berjalan menyusuri pameran, terdapat karya yang menggugah saya terinstal di dinding yang luas, diselimuti lumut asli dari wilayah dingin yang bertajuk “Moss Wall” (1994). Karya ini memanfaatkan lumut rusa kutub (reindeer lichen) asli dari daerah beriklim dingin yang dipasang menutupi dinding museum, sehingga menghadirkan aroma serta tekstur alami ke dalam ruang pamer. Melalui karakter simbiosis antara jamur dan alga yang dimilikinya, karya ini mengajak pengunjung untuk mengamati perubahan warna dan bentuk, sekaligus merefleksikan keterkaitan dalam ekosistem.

Dalam perspektif kritik seni kontemporer, Moss Wall dapat dibaca sebagai bentuk refleksi atas relasi manusia dan alam, sekaligus sebagai pengingat atas krisis ekologis yang semakin memperlebar jarak antara manusia modern dan lingkungan hidupnya. Kehadiran material organik di dalam ruang museum juga menarik secara institusional, karena museum yang lazimnya identik dengan kontrol, preservasi, dan sterilisasi justru diinterupsi oleh unsur alam yang hidup, rapuh, dan berubah.
Pengalaman paling menarik bagi saya adalah ketika memasuki ruangan yang dipenuhi cahaya kekuningan, yaitu karya “Yellow Corridor” (1997). Di dalam ruang tersebut, penglihatan saya terasa berubah, seakan-akan dunia hanya terdiri dari satu spektrum warna. Sensasi ini membuat saya menyadari bahwa cara kita melihat dunia sangat bergantung pada kondisi yang membentuk persepsi kita. Termasuk salah satu karyanya yang berjudul “Yellow versus Purple” (2003) yang membuat cahaya menjadi bias melewati lensa kaca prisma yang menghasilkan banyak lingkaran dan gradasi warna dan bayangan. Di karya ini Eliasson mengubah penggunaan praktikal dari jenis lensa yang umum dipakai di mercusuar menjadi sebuah pengalaman estetis.

Sama halnya dengan karya “Kaleidoscope” yang membuat penglihatan kita terfragmentasi, karya-karya ini menunjukkan bahwa persepsi visual bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan pengalaman yang terus dinegosiasikan oleh tubuh, ruang, cahaya, dan posisi pengamat. Dalam kerangka Foucault, Eliasson seolah memperlihatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai “kebenaran visual” sesungguhnya merupakan hasil konstruksi dari sistem representasi tertentu. Dengan demikian, karya-karya ini tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga kritis terhadap cara modernitas memahami penglihatan sebagai sesuatu yang stabil dan objektif.

Selain itu, terdapat karya yang menarik bagi saya dengan narasi ekologisnya, yaitu “The glacier melt series 1999/2019” (2019), yang merupakan seri 30 cetakan foto yang mendokumentasikan pencairan gletser. Karya ini dipotret langsung oleh Eliasson menggunakan pesawat kecil. Di tahun 2019, Eliasson menghadiri sebuah upacara peringatan untuk mengenang gletser Islandia pertama yang secara resmi dinyatakan punah di tahun 2014 di usia 700 tahun yang bernama gletser Okjökull. Karya ini mengingatkan kita fakta bahwa tanpa adanya aksi perubahan, semua gletser di Islandia diprediksi akan punah dalam waktu 200 tahun. Melalui karya ini, Eliasson tidak hanya menghadirkan dokumentasi visual, tetapi juga memposisikan seni sebagai medium yang menghubungkan pengalaman estetis dengan isu publik, khususnya krisis iklim.
Dalam pendekatan cultural studies ala Raymond Williams, karya seni dapat dipahami sebagai bagian dari praktik budaya yang terkait erat dengan realitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seri ini tidak hanya menyampaikan fakta ekologis, tetapi juga membangun kesadaran afektif bahwa bencana lingkungan bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan bagian dari kondisi dunia yang sedang kita hidupi bersama.

Karya “Beauty” (1993) merupakan salah satu karya yang, menurut Eliasson, dapat dipahami oleh semua orang. Secara mendasar, karya ini terbentuk dari perpaduan kabut air yang sangat halus dengan sorotan cahaya yang menghasilkan spektrum menyerupai pelangi. Menurut Eliasson, kehadiran pelangi tersebut memberikan pemahaman kepada pengunjung bahwa terciptanya warna yang istimewa bergantung pada relasi antara indra penglihatan, tetesan air, dan cahaya. Dalam ruang gelap, karya ini hadir layaknya tirai cahaya spektral yang dapat muncul maupun menghilang, bergantung pada posisi dan sudut pandang pengunjung. Hal ini menegaskan bahwa pengalaman visual setiap individu bersifat unik, sebagaimana Olafur menyatakan bahwa tidak semua orang dapat melihat pelanginya, sehingga apa yang dilihat oleh setiap orang pun menjadi berbeda-beda.
Di titik ini, Beauty menunjukkan bahwa makna karya tidak berada semata pada objek, melainkan lahir melalui partisipasi tubuh pengunjung. Pengalaman estetis menjadi bersifat relasional dan imersif, sehingga pengunjung tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan bagian aktif dari pembentukan makna. Pembahasan semacam ini selaras dengan kritik seni kontemporer yang melihat karya instalasi imersif bukan hanya sebagai pengalaman visual, tetapi juga sebagai ruang refleksi tentang bagaimana identitas dan pengalaman individu terbentuk melalui relasi dengan ruang sosial yang dihuninya.
Karya terakhir sebelum saya keluar ruang pamer, saya dibuat kagum oleh karya “Life is Lived Along Lines” (2009), yang menunjukkan bahwa perubahan sudut pandang dapat membentuk ulang pengalaman manusia, yang tidak hanya mempertemukan individu dengan hal-hal baru, tetapi juga dengan dirinya sendiri melalui esensi emosional yang muncul dari partisipasi dan interaksi dengan sesama makhluk hidup. Hal ini mengingatkan kita pada relasi manusia dengan seluruh makhluk hidup di muka bumi, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga hubungan tersebut secara berkelanjutan agar ekosistem dapat terus berlangsung secara harmonis.
Dalam konteks kritik seni kontemporer, karya ini dapat dibaca sebagai bentuk refleksi atas relasi manusia dengan lingkungan dan sesama, sekaligus sebagai kritik halus terhadap cara hidup modern yang cenderung memisahkan manusia dari jaringan ekologis yang menopang kehidupannya. Eliasson dengan demikian tidak hanya mengaktifkan persepsi, tetapi juga mengaktifkan kesadaran etis.
Secara keseluruhan, “Your Curious Journey” bukan hanya menampilkan karya visual yang memukau, tetapi juga menghadirkan pengalaman sensorik yang membuat pengunjung terlibat secara emosional dan reflektif. Olafur Eliasson berhasil menciptakan perjalanan yang bukan hanya tentang melihat karya seni, melainkan juga tentang merasakan, mempertanyakan, dan memahami bagaimana kita memaknai ruang, cahaya, dan pengalaman. Lebih jauh, pameran ini menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berfungsi sebagai jembatan antara praktik artistik dan wacana publik, khususnya dalam isu lingkungan, persepsi, dan relasi manusia dengan alam.
Dalam konteks ini, Museum MACAN tidak hanya menjadi ruang display, tetapi juga berperan sebagai institusi budaya yang membangun legitimasi simbolik atas narasi ekologis global di hadapan publik Indonesia. Dengan demikian, Your Curious Journey dapat dipahami bukan hanya sebagai pameran estetis, tetapi juga sebagai praktik kritik ekologis dan pengalaman reflektif yang mempertemukan seni, tubuh, ruang, dan kesadaran sosial secara bersamaan.
—-
*Nurhasna Isnaini, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





