Di antara Cinta dan Kata: Refleksi Penyair dalam Mawaddah

Oleh Abdul Wachid B.S. 

 

1. Pengantar

Kata mawaddah dalam bahasa Arab secara leksikal berarti cinta yang mendalam, kasih yang tumbuh karena kehendak dan kesadaran ruhani, bukan sekadar ketertarikan emosional maupun fisik. Dalam Al-Qur’an, kata ini muncul dalam konteks relasi suci antara suami dan istri, sebagaimana dalam QS Ar-Rum [30]: 21: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah.” Namun, makna mawaddah melampaui sekadar relasi perkawinan. Ia menyentuh inti dari cinta insani yang penuh kelembutan, pengorbanan, dan ketulusan, baik kepada pasangan, orang tua, sahabat, bahkan kepada Tuhan.

Pemilihan judul Mawaddah untuk antologi puisi saya, bukan semata-mata pertimbangan estetika, melainkan sebuah pernyataan ontologis: bahwa cinta adalah salah satu dimensi terdalam dari keberadaan manusia. Cinta yang direkam dalam puisi-puisi ini bukanlah cinta yang menggelegak dalam euforia sementara, melainkan cinta yang menyelinap dalam renungan, dalam diam, dalam doa, bahkan dalam luka. Ia bukan hanya tentang rasa memiliki, tetapi juga tentang memberi ruang dan mengikhlaskan. Cinta sebagai jalan spiritual, cinta sebagai kesadaran eksistensial.

Puisi adalah medium yang paling mungkin untuk mengungkap cinta seperti ini. Bahasa sehari-hari terlalu terbatas, terlalu terburu-buru untuk menangkap nuansa halus dari getar hati manusia. Dalam puisi, cinta mendapatkan kehadirannya, bukan sekadar sebagai isi, tetapi sebagai nafas dari kata-kata itu sendiri. Seperti dikatakan oleh penyair dan esais asal Meksiko, Octavio Paz, Poetry is not only a means of expression, it is a presence; “Puisi bukan hanya sarana ekspresi, melainkan sebuah kehadiran” (Octavio Paz, The Bow and the Lyre, hlm. 14).

Dengan semangat inilah, Mawaddah hadir: sebagai upaya menghadirkan cinta dalam kata, dan kata dalam cinta.

2. Puisi sebagai Jalan Cinta dan Perjalanan Diri

Dalam menulis puisi, penyair kerap menemukan dirinya bukan sekadar sebagai penggubah kata, melainkan sebagai peziarah batin. Kata demi kata dalam puisi tidak datang begitu saja dari permukaan pikiran, melainkan muncul dari kedalaman pengalaman eksistensial yang kerap tak terucapkan dalam bahasa biasa. Di sinilah puisi menjadi jalan sunyi, tempat jiwa berkaca pada dirinya sendiri.

Menulis puisi adalah momen pertemuan antara pengalaman batin yang paling personal dengan bahasa yang paling universal. Pengalaman cinta, kehilangan, harap, dan pasrah menyatu dalam bentuk pengucapan yang, meski sering metaforis dan simbolik, justru memperjelas kehadiran makna. Dalam konteks ini, puisi menjadi ruang kontemplasi yang menyucikan. Ia bukan sekadar penghibur atau pelipur lara, tetapi jendela bagi jiwa untuk memandang ulang dirinya, menemukan cahaya di antara keraguan dan luka.

Cinta yang hadir dalam puisi bukan sekadar cinta kepada makhluk atau sesama, melainkan mencakup cinta yang merentang ke arah spiritual. Ia menjadi cara memahami hidup, menafsirkan penderitaan, dan menegaskan harapan. Cinta yang seperti ini tidak mencari imbalan, tetapi justru membersihkan diri dari ego. Penyair Jalaluddin Rumi pernah menulis, Through love all that is bitter will become sweet, through love all that is copper will be gold.”; “Melalui cinta, segala yang pahit menjadi manis, melalui cinta, segala yang tembaga menjadi emas” (Rumi, Mathnawi, Terj. Reynold A. Nicholson).

Di sinilah letak cinta dalam puisi: bukan sebagai objek yang diraih, melainkan sebagai perjalanan menuju Yang Mahacinta. Maka menulis puisi adalah juga menulis ulang diri sendiri, membangun rumah kesadaran, dan mempersembahkan suara hati kepada Yang Esa. Dalam pengucapan itulah, puisi menjelma zikir: hening namun menggetarkan, sederhana tetapi menukik, lirih sekaligus abadi.

3. Struktur Tematik Antologi

Buku puisi Mawaddah disusun bukan semata berdasarkan kronologi penciptaan puisi, melainkan atas dasar gerak tematik yang mencerminkan perjalanan cinta dalam spektrum yang luas. Delapan bagian dalam buku ini mencerminkan kedalaman serta keragaman wajah cinta: dari cinta yang paling personal hingga cinta yang bersifat spiritual dan universal.

Setiap bagian memotret satu fragmen perjalanan batin manusia. Bagian pertama misalnya, banyak menyuarakan cinta sebagai kegembiraan awal perjumpaan, kebeningan hati dalam menatap wajah yang dicinta. Lalu berkembang pada bagian-bagian berikutnya menjadi pengalaman yang lebih kompleks: tentang kehilangan, penantian, doa, sampai pada penyerahan total kepada Tuhan. Puisi-puisi itu tidak statis; ia hidup dan bergerak, seperti cinta yang tumbuh dan mendewasakan jiwa.

Cinta dalam antologi ini tidak berhenti pada relasi antar-individu. Ia terus meluas menjadi cinta sosial, cinta kepada sesama, bahkan cinta kepada mereka yang terluka dan tertindas. Dalam konteks ini, cinta menjadi bentuk empati yang konkret. Kahlil Gibran pernah menulis, Love gives naught but itself and takes naught but from itself.; “Cinta tidak memberi kecuali dirinya sendiri dan tidak mengambil kecuali dari dirinya sendiri” (Gibran, The Prophet). Maka cinta sejati, dalam pandangan ini, adalah yang menjelma menjadi pengorbanan dan kesadaran sosial.

Bagian-bagian terakhir dari antologi ini mengarah pada dimensi ilahiah. Cinta dilihat sebagai jalan pulang, sebagai titik temu antara kehendak manusia dan kasih Tuhan. Di sinilah puisi-puisi menjelma seperti doa: lirih, khusyuk, dan penuh harap. Tema cinta menjadi spiritualitas itu sendiri.

Apa yang disampaikan dalam antologi ini bukanlah cinta yang mengawang dan terlepas dari realitas, tetapi justru sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: cinta kepada pasangan, cinta dalam keluarga, cinta yang diuji oleh waktu dan keadaan, dan cinta yang mendamba keselamatan dan keberkahan. Dalam konteks ini, antologi Mawaddah tidak sekadar menjadi karya sastra, tetapi juga cermin bagi pembaca yang tengah meniti jalan cinta dalam hidupnya masing-masing.

4. Konsep Mawaddah dalam Perspektif Qur’ani dan Insani

Kata mawaddah berasal dari akar kata wadda yang berarti kasih atau cinta. Dalam Al-Qur’an, kata ini muncul dalam beberapa ayat dengan makna kasih sayang yang lembut, stabil, dan penuh ketulusan. Salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam konteks relasi cinta adalah QS Ar-Rum: 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu mawaddah dan rahmah.

Ayat ini menegaskan bahwa cinta sejati bukan hanya berlandaskan pada ketertarikan atau nafsu sesaat, melainkan atas dasar mawaddah (kasih sayang yang tumbuh) dan rahmah (belas kasih yang aktif). Dalam konteks ini, cinta adalah anugerah ilahi yang mengandung dua dimensi: keindahan dan tanggung jawab. Cinta menjadi sesuatu yang sakral karena menghubungkan dua jiwa untuk saling menyempurnakan dalam ketenteraman (sakinah).

Sebagai penyair, saya merasakan bahwa mawaddah bukan hanya konsep teologis, tetapi pengalaman eksistensial. Ia tumbuh dalam keseharian, dalam tatapan yang setia, dalam diam yang saling memahami, dalam pengorbanan kecil yang tak pernah dituntut balasan. Mawaddah menjelma menjadi kehadiran yang membersamai tanpa pamrih.

Di tengah fragmen-fragmen puisi dalam buku ini, saya mencoba menerjemahkan nilai-nilai Qur’ani itu ke dalam bahasa puitik. Cinta tak hanya dimaknai sebagai getar perasaan, tetapi juga sebagai amanah, bahkan sebagai jalan menuju ketulusan yang lebih tinggi. Dalam kehidupan nyata, cinta sering kali diuji oleh waktu, jarak, dan keadaan. Tetapi justru dalam ujian itulah mawaddah memperlihatkan dirinya: tetap tumbuh, tetap berakar, meski tanpa gemuruh.

Dalam makna ini, cinta adalah karunia dan sekaligus tanggung jawab. Sebuah amanah yang dititipkan Allah kepada dua jiwa untuk dipelihara dan dikembangkan. Di sini, saya memahami bahwa menulis puisi tentang cinta bukan hanya perkara estetika, tetapi juga etika. Bahwa setiap kata tentang cinta harus disucikan dari banalitas, dan diarahkan pada kebaikan yang lebih besar.

Sebagaimana ditulis Ibn Arabi, al-mahabbah hiya al-din al-haqiqi; “Cinta adalah agama yang sejati” (Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah). Maka puisi-puisi dalam Mawaddah adalah bagian dari keyakinan saya bahwa cinta sejati adalah jalan spiritual, jalan kembali kepada Yang Maha Cinta.

5. Estetika Puisi dan Pilihan Gaya Ekspresi

Menulis puisi bagi saya bukanlah sekadar menyusun kata indah, melainkan menciptakan ruang di mana kata menjadi cermin dari ruh yang tersembunyi. Dalam Mawaddah, saya menempuh jalan puisi yang berpijak pada estetika lambang, alur enjambement, dan koherensi imaji. Ketiganya saya pandang sebagai metode untuk menyingkap cinta bukan sebagai narasi sentimental, melainkan sebagai hikmah yang menyelinap di balik peristiwa.

Simbol atau lambang dalam puisi saya bukanlah hiasan semata, melainkan pintu masuk menuju pemaknaan yang lebih dalam. Sebuah lambang tidak dipilih karena bunyinya indah, tetapi karena sejarah spiritual dan eksistensial yang dikandungnya. Saya berupaya agar setiap lambang memiliki kedalaman, seperti air yang tenang di permukaan, tetapi mengalir deras di bawahnya. Misalnya, kata “mata” dalam beberapa puisi bukan semata indera penglihatan, tetapi lambang kesadaran batin, bahkan cermin ruhani.

Pembarisan puisi saya cenderung menggunakan teknik enjambement, yaitu aliran larik yang tidak berhenti di ujung baris, tetapi mengalir ke baris berikutnya. Teknik ini saya anggap lebih selaras dengan arus batin cinta yang tidak patah, tidak kaku, dan tidak mudah ditentukan batasnya. Dalam cinta, sebagaimana dalam puisi, jeda tak selalu berarti berhenti; ia bisa jadi adalah tarikan nafas sebelum lompatan makna.

Kekonsistenan dalam membangun imaji juga menjadi perhatian. Imaji dalam puisi saya tidak dibiarkan tumbuh liar, tetapi diarahkan untuk tetap dalam koridor tema dan makna. Saya meyakini bahwa keindahan bukan hasil dari tumpukan metafora yang memukau, melainkan dari kesatuan batin antara kata dan jiwa yang mengucapkannya. Oleh karena itu, saya berusaha menjaga agar setiap citraan dalam puisi Mawaddah hadir dalam jalinan makna yang koheren, tidak mengambang.

Di balik semua itu, saya meresapi cinta melalui pendekatan sufistik. Cinta, dalam perspektif ini, bukan sekadar relasi antar-manusia, tetapi jalan menuju pengenalan diri dan Tuhan. Sebagaimana Jalaluddin Rumi menulis, “Cinta adalah jantung alam semesta. Ia adalah rahasia antara pencipta dan yang dicipta” (Rumi, Mathnawi). Dalam puisi, saya mencari jejak cinta sebagai pengalaman yang menyucikan dan meninggikan, bukan merendahkan.

Bahasa dalam puisi saya bukanlah alat, melainkan medan zikir. Di sanalah saya mengakrabi huruf demi huruf sebagai jejak dari Nama-Nya. Sebagaimana disebutkan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah: “Kata-kata yang berasal dari hati akan sampai ke hati, sedangkan yang berasal dari lidah hanya sampai ke telinga” (Madarij al-Salikin). Maka dalam menulis, saya tidak hanya mendengarkan bunyi kata, tetapi juga gema batinnya.

Puisi, pada akhirnya, menjadi jalan untuk menemukan ruh dari kata. Di dalamnya saya menyelami makna, menyaring pengalaman, dan mengucapkannya kembali dengan harap: semoga ia menjadi cermin bagi pembaca untuk melihat cinta yang lebih jernih.

6. Refleksi Proses Kreatif Penyair

Setiap puisi yang lahir dari hati saya tidak datang dari ruang yang hampa. Ia tumbuh dari lapisan-lapisan pengalaman hidup, ziarah batin, dan pergulatan makna yang panjang. Proses kreatif dalam menulis Mawaddah bukan sekadar kerja artistik, tetapi lebih menyerupai zikir, yakni pengingatan yang dalam terhadap Sang Sumber Segala Cinta. Menulis puisi dalam konteks ini adalah perjalanan spiritual, sebuah bentuk ibadah batin yang mempertemukan luka, harap, dan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam pengalaman manusiawi yang paling personal: mencinta.

Saya meyakini bahwa puisi bukan hanya bentuk komunikasi, tetapi juga ziarah. Dalam setiap larik yang saya tulis, ada semacam usaha untuk menyentuh makna yang melampaui kata, menyentuh “suara yang tak terdengar” sebagaimana dikatakan Rainer Maria Rilke: Poetry is the language of the unsayable”; Puisi adalah bahasa dari yang tak terucapkan (Rilke, Rainer Maria. Letters to a Young Poet. Trans. Stephen Mitchell. New York: Vintage, 1984, hlm. xvii).

Dorongan untuk menulis puisi dalam Mawaddah datang dari ruang batin yang sunyi namun bergemuruh. Cinta yang saya alami, baik sebagai manusia biasa maupun sebagai hamba yang selalu rindu kepada Tuhannya, telah menuntun saya untuk mengekspresikannya melalui simbol, imaji, dan irama yang tak bisa saya ungkap dalam bentuk lain. Menulis puisi menjadi cara saya untuk berdialog dengan diri dan menyentuh yang tak tampak, sebagaimana Jalaluddin Rumi menyatakan: When the soul lies down in that grass, the world is too full to talk about.”; “Ketika jiwa rebah di rerumputan itu, dunia ini terlalu penuh untuk dibicarakan” (Barks, Coleman, trans. The Essential Rumi. New York: HarperOne, 1995, hlm. 4). 

Proses kreatif ini pun melibatkan keterhubungan saya dengan tradisi tasawuf dan pemaknaan cinta sebagai bentuk tajalli, penampakan sifat-sifat Ilahi dalam kehidupan manusia. Dalam puisi-puisi Mawaddah, saya tidak hanya menulis tentang cinta, tetapi berusaha menghidupinya dalam bentuk kata. Karena seperti dikatakan oleh Paul Valéry, A poem is never finished, only abandoned.; Sebuah puisi tak pernah selesai, hanya ditinggalkan (Valéry, Paul. Dikutip dalam: Wimsatt, W. K. & Beardsley, M. C. The Verbal Icon. Lexington: University of Kentucky Press, 1954, hlm. 5). 

Saya pun merasa demikian: setiap puisi dalam buku ini adalah percobaan yang terus tumbuh. Ia tak pernah sungguh selesai, karena cinta pun tak pernah selesai didefinisikan. Maka Mawaddah menjadi semacam taman zikir dan perjalanan: ruang di mana saya sebagai penyair bukan hanya menulis, tetapi sekaligus belajar untuk mencintai dengan lebih jernih dan jujur.

7. Penutup: Cinta sebagai Jalan Pulang

Pada akhirnya, seluruh puisi dalam Mawaddah tidak lain adalah upaya untuk menangkap jejak cinta yang senantiasa mengalir dalam kehidupan manusia, baik yang tampak dalam relasi antar-individu maupun yang tersembunyi dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Menulis puisi adalah menyusuri lorong-lorong ruhani yang tak selalu terang, tetapi di dalamnya ada percik cahaya yang bisa menuntun pulang.

Cinta, dalam makna terdalamnya, adalah panggilan kembali kepada asal mula jiwa. Sebagaimana disampaikan oleh Ibn Arabi, “Cinta adalah agama dan kepercayaanku”, karena melalui cinta-lah segala bentuk sekat menjadi luluh, dan manusia mengenali hakikat dirinya dalam hubungan dengan Yang Maha Cinta (Ibn Arabi, Tarjuman al-Ashwaq, dalam Chittick, William. The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi. Albany: SUNY Press, 1983, hlm. 234).

Melalui puisi, saya berusaha merawat kesadaran akan cinta sebagai jalan pulang itu. Setiap bait yang ditulis dalam Mawaddah adalah sebentuk persembahan jiwa, bukan untuk memamerkan rasa, tetapi untuk mengajak siapa pun yang membacanya menyelami kembali makna cinta yang lebih hakiki. Cinta yang bukan sekadar hasrat, tetapi yang memurnikan niat dan menumbuhkan rahmah.

Saya percaya bahwa puisi dapat menjadi semacam ziarah batin. Seperti halnya doa, puisi memungkinkan kita untuk menepi dari kebisingan dunia dan menengok ke dalam. Seorang penyair sufi Persia, Hafiz, berkata: I wish I could show you when you are lonely or in darkness the astonishing light of your own being.”; “Aku berharap bisa menunjukkan kepadamu, saat engkau merasa sepi atau dalam kegelapan, cahaya luar biasa dari keberadaanmu sendiri” (Hafiz, The Gift: Poems by Hafiz the Great Sufi Master, trans. Daniel Ladinsky. New York: Penguin Compass, 1999, hlm. 36).

Dengan harapan seperti itu pula, saya menulis buku ini. Mawaddah bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan lantunan yang saya tujukan kepada siapa pun yang sedang mencari makna cinta, baik dalam bentuk kasih pada sesama, kesetiaan dalam relasi, maupun cinta yang mengarah ke Sang Kekasih Sejati. Semoga pembaca dapat menemukannya bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai pengalaman batin yang hidup.

Karena pada akhirnya, cinta selalu menemukan jalannya. Dan puisi adalah salah satu jalur sunyi yang bisa menuntun kita pulang. ***

—-

*Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.