Kurasi, Koleksi, dan Ruang Ingatan di Museum Mpu Purwa
Oleh Pramita Dewi Safitri*
Sejarah tidak hanya hadir melalui buku, tetapi juga melalui ruang. Di museum, masa lalu tidak pernah tampil secara utuh sebagaimana adanya. Ia hadir melalui serangkaian pilihan: apa yang dipamerkan, apa yang disimpan, dan apa yang tetap berada di balik ruang penyimpanan. Proses inilah yang dikenal sebagai kurasi. Dalam praktik permuseuman, kurasi bukan sekadar kegiatan teknis mengelola koleksi. Ia merupakan praktik yang menentukan bagaimana sebuah masyarakat melihat dan memahami masa lalu.
Dengan cara ini, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda. Ia juga menjadi ruang di mana ingatan kolektif dibentuk. Artefak yang ditampilkan di ruang pamer akan mempengaruhi cara pengunjung membayangkan sejarah, sementara artefak yang disimpan di balik ruang konservasi tetap berada di luar jangkauan pengalaman publik.
Di Museum Mpu Purwa, persoalan kurasi semacam ini dapat terlihat dengan cukup jelas. Museum yang berada di kawasan Perumahan Griya Santa di tengah Kota Malang ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dari masa klasik Jawa Timur. Koleksi yang dimiliki museum sebagian besar berupa arca batu, fragmen bangunan candi, serta artefak lain yang berkaitan dengan tradisi Hindu–Buddha di wilayah Malang Raya.
Benda-benda tersebut menjadi jejak penting dari sejarah panjang kawasan ini. Melalui arca dan artefak batu yang dipamerkan, pengunjung dapat melihat bagaimana praktik religius, seni pahat, dan kehidupan budaya berkembang di wilayah Malang pada masa lampau.
Namun ruang pamer museum tidak pernah mampu menampilkan seluruh koleksi yang dimiliki sebuah institusi. Berdasarkan data yang disampaikan melalui media sosial resmi museum, Museum Mpu Purwa memiliki sekitar 167 artefak dalam koleksinya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 50 artefak yang dipamerkan di ruang pamer.
Artinya, sebagian besar koleksi justru disimpan di ruang konservasi atau ruang penyimpanan khusus yang tidak dapat diakses oleh pengunjung umum. Ruang tersebut biasanya hanya dapat dimasuki oleh peneliti atau pihak yang memiliki kepentingan akademik tertentu.

Gambar 1. Arsip Arca yang ditemukan oleh warga Arjosari (2026).
Situasi ini menunjukkan bahwa apa yang terlihat oleh pengunjung museum sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan warisan yang dimiliki oleh institusi tersebut. Pengalaman pengunjung ketika berada di dalam museum dibentuk oleh keputusan kuratorial: koleksi mana yang dipilih untuk tampil di ruang pamer dan koleksi mana yang tetap berada di ruang penyimpanan.
Dalam wawancara dengan Pak Norman, Pamong Budaya Ahli Pertama di museum tersebut, dijelaskan bahwa beberapa artefak tidak dipamerkan karena kondisinya sudah kurang baik atau detailnya tidak lagi lengkap. Kerusakan pada artefak baik karena faktor usia maupun kondisi lingkungan membuat sebagian koleksi dianggap kurang representatif untuk ditampilkan kepada publik. Selain itu, keterbatasan ruang pamer juga menjadi alasan mengapa museum tidak dapat menampilkan seluruh koleksi yang dimilikinya.
Di sinilah praktik kurasi bekerja. Pengelola museum harus mempertemukan berbagai pertimbangan sekaligus: kebutuhan konservasi, keterbatasan ruang, serta upaya menyusun narasi sejarah yang dapat dipahami oleh pengunjung. Dalam kajian museum, praktik semacam ini sering disebut sebagai “politics of display” cara institusi budaya mengatur bagaimana objek ditampilkan sehingga membentuk makna tertentu bagi publik.
Di Museum Mpu Purwa, ruang pamer didominasi oleh artefak monumental seperti arca dan fragmen candi. Benda-benda tersebut memang memiliki daya tarik visual yang kuat sekaligus nilai historis yang tinggi. Kehadirannya membantu pengunjung membayangkan perkembangan peradaban Hindu–Buddha di Jawa Timur.
Salah satu artefak yang langsung menarik perhatian pengunjung ketika memasuki museum adalah arca Brahma Catur Muka. Arca ini memiliki empat wajah yang menghadap ke empat arah mata angin. Dalam interpretasi Buddha, figur dengan empat wajah sering dimaknai sebagai simbol perlindungan dan keberuntungan. Empat wajah tersebut melambangkan kewaspadaan yang menjangkau seluruh penjuru sekaligus kehadiran kekuatan spiritual yang menjaga keseimbangan dunia.

Gambar 2. Arca Brahma Catur Muka (2026).
Penempatan arca ini di bagian awal ruang pamer memberi kesan simbolis bagi perjalanan pengunjung. Ia seolah menjadi figur yang menyambut setiap orang yang memasuki ruang sejarah tersebut. Dari sudut pandang kuratorial, penempatan artefak yang kuat secara visual di bagian awal ruang pamer juga membantu membangun pengalaman awal bagi pengunjung museum.
Koleksi lain yang menarik perhatian adalah arca Ganesha yang ditemukan di kawasan Bunulrejo. Arca Ganesha dari Bunulrejo tersimpan dalam kondisi tidak utuh. Ketika ditemukan, bagian tubuhnya sudah terbelah dan hanya sebagian fragmen yang masih tersisa. Potongan lainnya tidak lagi diketahui keberadaannya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah artefak tidak selalu utuh hingga sampai ke ruang museum.
Beberapa penjelasan arkeologis menduga bahwa pemecahan arca tersebut kemungkinan bukan sekadar akibat kerusakan alami. Dalam sejumlah konteks sejarah di Jawa, penghancuran arca kadang dilakukan secara sengaja sebagai simbol pembatalan perjanjian politik atau penanda berakhirnya kekuasaan lama oleh penguasa baru. Jika dugaan ini benar, maka kerusakan pada arca Ganesha tersebut tidak hanya mencerminkan proses pelapukan waktu, tetapi juga menyimpan jejak dinamika politik yang pernah terjadi di masa lampau.

Gambar 3. Ganesha Bunulrejo (2026).
Ketiadaan sebagian fragmen arca tersebut juga mengingatkan bahwa banyak peninggalan arkeologis yang sampai kepada kita dalam keadaan tidak lengkap. Museum kemudian menjadi tempat dimana fragmen-fragmen sejarah itu dirawat dan ditafsirkan kembali, meskipun sebagian ceritanya mungkin telah hilang bersama bagian artefak yang tidak lagi ditemukan.
Selain artefak batu, museum juga menghadirkan narasi sejarah melalui diorama. Di lantai dua museum, pengunjung dapat menemukan visualisasi kisah Ken Dedes, yang merupakan putri dari seorang brahmana bernama Mpu Purwanata. Dalam cerita yang dikenal dalam tradisi sejarah Jawa, Ken Dedes diculik oleh penguasa Tumapel, Tunggul Ametung, ketika ayahnya sedang bersemedi.

Gambar 4. Diorama Tunggul Ametung menculik Kendedes (2026).
Rangkaian diorama kemudian memperlihatkan perkembangan cerita yang melibatkan tokoh Ken Arok, yang dalam tradisi sejarah Jawa dikenal sebagai tokoh yang kemudian mendirikan kekuasaan baru di Tumapel. Melalui diorama, kisah-kisah yang tercatat dalam naskah sejarah divisualisasikan sehingga lebih mudah dipahami oleh pengunjung.
Kehadiran artefak dan diorama tersebut memperlihatkan bagaimana museum bekerja sebagai ruang yang menyusun narasi sejarah melalui benda dan visualisasi.
Namun di balik ruang pamer yang ada saat ini, tersimpan pertanyaan yang cukup penting. Jika museum ini menyimpan lebih dari seratus artefak, sementara yang dipamerkan hanya sebagian kecil, maka ruang pamer yang ada tentu belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kekayaan koleksi tersebut.
Sebagai museum yang menyimpan berbagai arca penting dari kawasan Malang dan sekitarnya, Museum Mpu Purwa memiliki potensi besar sebagai pusat pengetahuan tentang sejarah arkeologi Jawa Timur. Banyak artefak yang masih berada di ruang penyimpanan sesungguhnya menyimpan kemungkinan cerita yang belum hadir di hadapan publik.
Dalam konteks ini, persoalan ruang pamer menjadi hal yang patut dipertimbangkan lebih serius. Dukungan pemerintah daerah untuk memperluas atau mengembangkan ruang pamer dapat membuka kemungkinan bagi lebih banyak koleksi untuk ditampilkan. Dengan ruang yang lebih memadai, museum tidak hanya dapat memperlihatkan lebih banyak artefak, tetapi juga menyusun narasi sejarah yang lebih kaya dan berlapis.
Hal ini menjadi penting karena museum pada dasarnya bukan hanya tempat menyimpan benda masa lalu. Ia adalah ruang dimana khalayak umum dapat berjumpa dengan sejarahnya sendiri. Di ruang semacam ini, masyarakat dapat meninjau kembali kilas balik perjalanan waktu, ketika setiap artefak dan benda prasejarah hadir sebagai saksi bisu dari kehidupan dan jejak sejarah para leluhur yang pernah membentuk peradaban di wilayah ini.
Ketika ruang pamer mampu menghadirkan lebih banyak koleksi, pengalaman memahami sejarah pun menjadi lebih luas. Artefak yang sebelumnya tersembunyi di ruang penyimpanan dapat kembali hadir sebagai bagian dari cerita tentang peradaban yang pernah berkembang di wilayah ini.
Dan mungkin disanalah salah satu tantangan terbesar museum hari ini: bagaimana menjaga warisan masa lalu, sekaligus menghadirkannya kembali agar tetap dapat dibaca oleh masyarakat masa kini.
——
*Pramita Dewi Safitri, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





