Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
PUISI-PUISI IHSAN
KESADARAN MELIHAT ALLAH
MELIHAT DENGAN MATA HATI
Di balik kelopak mata,
ada embun yang tak pernah menguap.
Ia bukan milik pagi,
berasal dari dalam
suluk yang lama tersembunyi.
Aku menyimak bayang-bayang
di atas permukaan air kendi,
tak ada wajah,
hanya gemetar cahaya
menyebut Nama-Mu dalam diam.
Burung-burung terbang ke arah timur,
suara mereka
bergema di dalam dada.
Segalanya menjelma gema,
hutan, langit,
bunyi lesung di sore hari.
Bila kelopak terkatup,
yang datang
samudra luas
tempat segala rupa
luluh ke satu warna.
Di situ
mata yang tersembunyi
mulai bening,
dan yang tampak
menjadi isyarat
kehadiran-Mu
dalam setiap daun yang jatuh,
dalam desir angin
yang tak bernama.
2025, 2026
LANGIT DI DALAM DIRI
Aku berjalan di tepian pagi.
Sawah basah memanggil namaku
dengan lidah embun.
Kucari langit di atas kepala,
ia bersembunyi.
Kumasuki dadaku yang hening,
ia bernafas di sana.
Awan menyentuh ingatan
seperti ibu membasuh wajah anaknya.
Burung-burung tak pergi,
mereka berputar di jantung sunyi,
membangun sarang
di ruang yang tak bertepi.
Pernah aku merintih pada jarak.
Kupikir Engkau jauh
sejauh ufuk yang tak tersentuh langkah.
Lalu hujan turun tanpa suara,
mengetuk daun jati,
menyusup ke akar,
dan tanah memeluknya
seperti kekasih lama.
Harum bangkit dari gelap bumi.
Siapa yang jauh
bila wangi itu berasal dari dalam?
Pada sepertiga malam
aku membuka jendela
yang tak menghadap arah mana pun.
Angin tak bergerak,
tetapi dadaku berlayar.
Cahaya tak datang dari luar.
Ia tumbuh
seperti matahari
yang disembunyikan di dada.
Dan ketika aku berhenti mencari,
pintu-pintu gugur sendiri.
Yang tersisa
hanyalah keluasan,
berputar,
memeluk,
menjadi.
2025, 2026
WUDHU JIWA
Ia duduk hening
di tepi tempayan bambu.
Air dari kendi
menitis perlahan,
rahmat yang jatuh
setitik demi setitik,
namun tak pernah habis.
Setiap titis
menjadi panggilan.
Setiap jatuh
menjadi pulang.
Yang tersentuh bukan kulit,
bukan wajah
yang tampak di permukaan air,
bukan kaki
yang pernah jauh berjalan,
yang luluh
adalah jarak
yang lama ia pelihara
antara dirinya
dan Sumber.
Air jatuh.
Rahmat jatuh.
Jarak luruh.
Cahaya bekerja dari dalam,
tanpa suara,
tanpa isyarat,
seperti fajar
yang tak meminta tepuk tangan.
Ia merasa dirinya mengalir,
entah ke mana,
lalu sadar,
ia tak pernah pergi.
Embun dini hari
menyentuh dahinya.
Air di luar.
Air di dalam.
Rahmat di luar.
Rahmat di dalam.
Nama itu ia sebut
tanpa bunyi,
dan setiap huruf
menjadi mata air.
Mata air menjadi sungai.
Sungai menjadi laut.
Laut kembali menjadi setitik air
di kendi tua itu.
Ia duduk.
Air menitis.
Rahmat mengalir.
Tak ada sajadah,
namun bumi berputar dalam dadanya.
Tak ada tangan terangkat,
namun langit turun
menjadi nadi.
Wudhu itu terus terjadi,
di antara napas yang datang
dan napas yang pulang.
Ia tak lagi membasuh apa pun.
Ia telah menjadi air.
Air yang mencintai Sumbernya.
Air yang kembali
tanpa pernah berpisah.
2025, 2026
CERMIN YANG TAK MEMANTUL
Pagi datang
tanpa suara.
Angin subuh
melintas pelan
di atas daun jati
yang menggenggam
embun terakhir.
Aku adalah embun itu,
tidak memantulkan apa pun,
kecuali langit
yang tak tersentuh.
Di hadapan cahaya
aku tak berkedip,
tak berkilau.
Bening
adalah caraku
meniadakan diri.
Agar yang memandang
tak menemukan wajahku,
hanya keluasan
yang tak bertepi.
Matahari naik.
Daun itu kering.
Tak ada jejak.
Aku pulang
tanpa nama.
2025, 2026
JEJAK EMBUN
Aku tak lagi memandang
dengan mata.
Hati yang diseka
embun malam
membuka arah.
Bayang tak mengguncang.
Yang sejati
tak tinggal dalam bentuk,
ia berdenyut
di kedalaman sunyi.
Wayang di layar
hanya lintasan cahaya.
Satu gerak
tanpa wajah,
tanpa suara.
Pohon di kejauhan
tegak
seperti isyarat
yang tak bersandar
pada apa pun.
Laut terhampar,
sebuah cermin
yang tak selesai
menyebut nama.
Kabut pagi
adalah aksara
yang larut
sebelum dibaca.
Batu pun bergetar
dalam diamnya;
cahaya lama
bersembunyi
di balik rupa.
Kini aku menunduk
pada setiap yang ada.
Segala yang tampak
hanya jejak embun,
sebelum matahari
menyebut
Asal.
2025, 2026
KESADARAN DILIHAT ALLAH
YANG LEBIH DEKAT DARI URAT LEHER
Setiap pagi
aku terbangun oleh suara burung,
atau mungkin rinduku sendiri
yang mengetuk jendela
sebagai embun.
Pernah kusangka Kau jauh,
tinggal di bait-bait suci
yang hanya disentuh
oleh tangan yang terpilih.
Pernah kubayangkan Kau tinggi,
di balik langit
yang berselimut kabut.
Namun Kau hadir
tanpa jarak,
dalam ayunan lesung
di dapur ibu,
dalam gugur daun jati
di halaman rumah tua.
Kau menyapaku
lewat gemetar lampu minyak,
dan memandangku
dengan sepasang cahaya
yang tak pernah terpejam
meski aku memalingkan wajah.
Aku lelah.
Dunia seperti kota tua
yang kehilangan alamat.
Tetapi nadi ini tetap berdetak,
ada yang menjaganya
dari dalam sunyi.
Kini kusadari kehadiran itu
lebih dekat dari segala sebutan,
lebih halus dari napas sendiri.
Saat namamu kusebut perlahan,
aku seperti menyentuh kelopak bunga
yang tak ingin kugugurkan.
Dan di balik setiap detak,
ada pandangan
yang lebih dulu
menemukanku.
2025, 2026
TAK ADA HIJAB SELAIN DIRI SENDIRI
Subuh berdiri di ambang rumah.
Cahaya menunggu
tanpa mengetuk.
Di halaman,
bayang tubuhku masih panjang,
ia selalu lebih dulu tiba
ke mana pun aku melangkah.
Pernah kusangka
Engkau tersembunyi
di balik ketinggian
yang tak dapat kusentuh.
Kukejar arah ke atas,
sementara kakiku sendiri
enggan beranjak dari pusatnya.
Setiap langkah
meninggalkan jejak namaku
di tanah yang basah.
Jejak itu mengeras,
menjadi pagar
yang pelan-pelan mengurung.
Cahaya tidak menjauh.
Ia hanya menunggu
hingga bayangku
tak lagi kujadikan wajah.
Angin lewat,
menggeser sedikit tirai pagi.
Di situ terasa
ada ruang
yang tak membutuhkan suaraku.
Aku berdiri lebih tenang.
Membiarkan panjang bayang
menyusut sendiri
ketika matahari naik
tanpa diminta.
Barangkali
yang disebut hijab
bukanlah jarak,
bukan pula rahasia yang tinggi,
ia adalah bayang
yang terus kubela
sebagai diri.
Dan pagi terus berjalan,
mengajariku
cara berkurang
tanpa kehilangan.
2025, 2026
DEDAUNAN ITU
Dedaunan itu
gugur perlahan,
seakan hijau tak lagi sanggup
menyimpan rahasia langit
di tubuhnya.
Di halaman rumah tua,
di bawah nyiur yang sabar menunggu angin,
lesung terbaring
seperti luka yang telah akrab
dengan waktu.
Daun-daun jati turun satu-satu,
aksara yang selesai
menunaikan bunyinya.
Aku duduk di tanah yang retak,
mendengar bumi bernapas
melalui dengung jangkrik
dan kecapi jauh
yang dipetik sunyi
oleh tangan tak terlihat.
Ada suara mengalir
dari bambu yang patah,
dari asap dapur
yang menulis doa ke udara,
dari kolam
yang menyimpan gemetar bulan
di permukaannya yang hening.
Engkau menjelma
di sela anyaman bakul,
pada padi yang dipanggul
menuju tangan petani,
keringatnya mengkilap
seperti ayat yang belum selesai dibaca.
Engkau turun
ke rekahan tanah,
menjadi ruang bagi benih
untuk percaya
pada gelapnya sendiri.
Dedaunan itu terus jatuh.
Bukan sebagai akhir,
namun sebagai jalan pulang
ke akar yang tak pernah pergi.
Setiap gugur
membuka ruang di dahan.
Setiap layu
mengosongkan diri dari nama.
Angin membacanya lirih,
bumi mengamininya pelan.
Dan aku
yang semula ingin memahami,
perlahan ikut luruh,
menjadi tanah
bagi rahasia
yang tak selesai
ditulis oleh musim.
2025, 2026
AKU MENGIRA
Kukira
menyebut nama-Mu sebentar
sudah cukup
menjadi doa.
Kukira
datang terlambat
lalu duduk sejenak
di sajadah yang dingin
telah bisa disebut pulang.
Aku berjalan
seperti tamu
yang tak ingin terlalu lama
di rumah-Mu sendiri.
Kupanggil Engkau
pelan,
lalu bergegas kembali
kepada urusanku.
Engkau
seperti ambang pintu,
rendah,
diam,
tak pernah berpindah.
Telapak kakiku sering
hanya singgah setengah.
Aku berdiri
di antara luar dan dalam,
membawa ragu
yang tak selesai kupeluk.
Engkau tetap di sana,
menunggu tanpa suara.
Pelan-pelan kusadari,
pulang bukan perkara jarak,
bukan pula perkara waktu.
Pulang adalah
keberanian
menyerahkan langkah
sepenuhnya.
Di ambang yang sederhana itu
aku belajar
menjadi kecil,
agar bisa benar-benar masuk.
2025, 2026
SEPERTI NAPAS
Hujan semalam
meninggalkan jejak di tanah halaman.
Genangan kecil
menampung langit yang terbalik.
Awan berjalan
di bawah kakiku,
seakan aku
yang berada di atas cermin-Mu.
Aku melangkah pelan,
tanah seperti
menyimpan bisikan
yang tak selesai diucapkan.
Sawah di seberang rumah
lama tak ditanami.
Airnya diam,
seperti mata
yang tak pernah terpejam.
Embun di ujung daun
menahan bulatnya sendiri,
antara jatuh
dan kembali.
Wajahku lewat sekejap
di permukaannya,
kecil,
tanpa nama,
seperti tamu
yang lupa dari mana datangnya.
Tak ada seruan.
Tak ada larangan.
Hanya diam
yang memeluk setiap gerak.
Langkah tetap bergerak.
Napas keluar-masuk.
Dan di antara keduanya
Engkau
seperti napas
yang tak pernah
meninggalkanku.
2025, 2026
—–
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




