Langit yang Menunduk di Dalam Diri (Refleksi Puisi dalam Dimensi Iman, Islam, dan Ihsan)
Oleh Abdul Wachid B.S.*
I. Pendahuluan: Kegelisahan dalam Lanskap Puisi Indonesia
Puisi Indonesia modern, sejak tonggak Chairil Anwar hingga generasi kontemporer, telah menjelajahi beragam tema, dari individualisme eksistensial hingga kritik sosial. Namun dalam ranah puisi religius, terdapat satu kegelisahan yang terus saya rasakan, yaitu jarangnya penyair yang secara konsisten menyelami dan merefleksikan nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan ke dalam struktur batin puisinya. Banyak puisi yang bertema ketuhanan atau spiritualitas tampak indah secara metaforis, namun kerap berhenti pada kesan mistik atau ekspresi simbolik yang tidak merujuk kepada laku keberislaman yang konkret.
Ekspresi religius dalam puisi acap kali hanya menjadi “hiasan spiritual”, bukan “saksi ruhani”. Lalu di mana posisi iman yang menyeluruh? Di mana letak Islam sebagai amal lahir-batin? Dan bagaimana ihsan, sebagai bentuk terdalam dari kesadaran akan kehadiran Tuhan, dipraktikkan dalam setiap larik puisi? Padahal, dalam sabda Rasulullah ﷺ, dimensi-dimensi ini terikat dalam satu bangunan kesempurnaan agama:
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji jika mampu. Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8)
Namun, realitas puisi kita belum banyak menggambarkan keseimbangan itu. Ada puisi yang berbicara tentang “cahaya”, tetapi tidak menjelaskan dari mana cahaya itu bersumber dan kepada siapa ia kembali. Ada pula puisi yang menyebut “sujud”, tetapi tak pernah membawa pembaca memahami makna berserah dalam keseharian yang islami.
Oleh karena itu, dalam esai ini saya ingin mengajukan gagasan bahwa puisi, dalam pandangan saya, dapat dan seharusnya menjadi ruang syahadah, dzikir, dan tafakur yang otentik, yakni sebuah ibadah estetik yang tidak hanya memoles kata menjadi indah, tetapi juga menghadirkannya sebagai pernyataan iman, latihan keberislaman, dan penghayatan ihsan. Menulis puisi berarti menghadirkan diri sebagai hamba, bukan hanya sebagai seniman; menulis bukan sekadar mencipta keindahan, tetapi menundukkan ego agar kata menjadi saksi atas keberadaan dan kebergantungan kita kepada Allah.
II. Mengapa “Langit Diri”? Konsep, Simbol, dan Refleksi
Dalam wacana spiritual dan sastra, “langit” kerap dimaknai sebagai ruang transenden, alam tinggi yang jauh di atas, tempat turunnya ilham, wahyu, atau pengetahuan dari yang Ilahi. Namun dalam konteks puisi ini, saya ingin menawarkan pergeseran simbolik: bahwa langit bukan sekadar entitas luar yang menjulang, tetapi ruang batin yang menunduk ke dalam, sebuah medan keheningan tempat pertobatan, kerinduan, dan kesadaran spiritual mulai bertunas.
Simbol “langit” dalam puisi sering kali dipakai untuk memberi efek estetika: langit biru, langit malam, langit kosong, semuanya menawarkan gambaran visual atau suasana perasaan. Tetapi jika hanya berhenti di sana, simbol hanya menjadi ornamen, bukan kesaksian. Bagi saya, dalam puisi yang lahir dari iman, simbol tidak boleh netral. Ia harus membawa bobot makna eksistensial. Maka, “langit diri” adalah simbol penundukan ego, di mana makhluk tidak lagi menengadah ke langit luar, tetapi menyaksikan langit dalam diri, tempat di mana takbir dan istighfar saling bersahutan di ruang ruhani.
Puisi yang memuliakan langit tetapi melupakan “keberhambaannya” adalah puisi yang estetis tetapi tidak etis secara spiritual. Sebab, seperti ditulis oleh Martin Lings dalam What is Sufism (1975:40), “The outward journey through the cosmos must become an inward journey to the center of the soul.” (“Perjalanan lahiriah melintasi kosmos harus menjadi perjalanan batin menuju pusat jiwa.”)
Dalam perspektif itu, puisi menjadi perjalanan ke dalam, bukan ke luar; ia adalah bentuk tafakur, bukan sekadar kontemplasi. Maka, langit yang menunduk dalam puisi saya adalah lambang kesadaran bahwa segala yang tinggi harus tunduk pada Yang Mahatinggi.
Al-Qur’an sendiri memberikan pelajaran bahwa langit pun “takluk” kepada perintah Tuhan.
“Kemudian Dia menuju kepada langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan patuh.’” (QS. Fussilat [41]: 11)
Ayat ini memperkuat makna bahwa langit bukan hanya tempat metafisis, melainkan metafora kepatuhan makhluk. Jika langit saja tunduk, mengapa manusia yang penuh keterbatasan dan kelupaan, justru mengangkat kepala terlalu tinggi dalam puisi-puisinya?
Dengan demikian, simbol “langit diri” adalah wujud tafsir puisi terhadap syahadah eksistensial: bahwa tugas puisi bukan menampilkan keindahan langit, melainkan mengajak diri agar mau menunduk bersama langit, kembali sebagai hamba. Itulah ihwal dari tafakur yang bernilai zikir.
III. Menulis Puisi sebagai Ibadah: Tiga Tarikan Napas
Menulis puisi, bagi saya, bukan sekadar aktivitas estetis, tetapi ibadah ruhani yang bergerak dalam tiga tarikan napas: iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya bukan hanya kategori dalam kajian akidah, melainkan fondasi eksistensial yang menghidupkan puisi sebagai ruang kesaksian dan penghambaan.
1. Iman sebagai Fondasi Puisi
Iman bukan sekadar perasaan percaya kepada Tuhan dalam level personal, melainkan kesaksian eksistensial bahwa seluruh hidup adalah deklarasi tauhid. Dalam hal ini, puisi yang ditulis oleh seorang mukmin tidak bisa bebas nilai. Ia adalah pancaran dari syahadah yang tak hanya diucapkan di lisan, tetapi dihayati dan dihidupkan dalam setiap kata.
Sebagaimana ditulis oleh Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an (2004, jilid 1, hlm. 39) : “Keimanan bukanlah semata-mata keyakinan batin, melainkan perubahan total dalam sikap hidup dan cara berpikir.”
Dalam kerangka itu, puisi bukan hanya refleksi rasa, tetapi juga manifestasi nilai: bagaimana kata menjadi wujud dari kesadaran bahwa hidup ini hanya sementara, dan bahwa segala keindahan pun harus kembali kepada Sang Mahaindah.
2. Islam sebagai Praksis Kreatif
Jika iman adalah fondasi batiniah, maka Islam adalah struktur praksis dari proses kreatif. Menulis puisi dapat menjadi ibadah jika memenuhi syarat spiritualnya: ada niat, tazkiyah (penyucian diri), dan ikhtiar penuh kesungguhan. Penulis puisi tidak sekadar memainkan kata, tetapi membersihkannya dari syahwat ego dan menjadikannya sebagai medium amal salih.
Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam menulis puisi, niat menjadi pembeda utama antara puisi yang hanya ingin mengesankan dan puisi yang benar-benar ingin mengingatkan. Tazkiyah menuntut penulis untuk melewati medan mujahadah, melawan keinginan untuk pamer, provokatif, atau nihilistik. Islam sebagai praksis menjadikan menulis sebagai tahapan amal, bukan sekadar proses kreatif.
3. Ihsan sebagai Puncak Puisi
Dalam Hadis Jibril yang masyhur, Nabi ﷺ menjelaskan makna ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8)
Inilah puncak dari puisi yang lahir dari iman dan dijalani dengan Islam, yakni puisi yang ditulis dengan penuh kehadiran ruhani. Dalam kerangka ihsan, kejujuran puitik tidak berarti membongkar aib atau menelanjangi emosi, melainkan menghadirkan ketelanjangan batin di hadapan Allah. Puisi bukan lagi soal gaya, tetapi soal niat yang dibersihkan dan pengalaman yang dibuka dengan penuh keikhlasan.
Dengan ihsan, penyair menulis seolah ia sedang berdiri di hadapan Yang Maha Melihat. Maka, puisi yang benar-benar jujur tidak perlu dibumbui retorika palsu; ia cukup menjadi doa yang dilafalkan diam-diam dalam bait-bait yang rendah hati.
IV. Puisi sebagai Doa yang Menubuh
Puisi, bagi saya, bukan sekadar barisan kata yang ditata indah, melainkan doa yang menubuh, yakni doa yang hidup, berdenyut, dan menjelma dalam tubuh dan kesadaran penulis serta pembacanya. Dalam pendekatan ini, puisi tidak berhenti sebagai teks estetika, melainkan menjadi laku spiritual yang mengajak merenung, merasa, dan tunduk.
1. Bukan Sekadar Teks, Melainkan Penghayatan
Banyak orang membaca puisi seperti membaca lukisan: mengagumi bentuk, memilih diksi favorit, atau memuji metafora yang mengejutkan. Tetapi bagi saya, puisi seharusnya menembus batas itu, mengajak pembaca menundukkan hati, bukan sekadar menganggukkan kepala.
Sebagaimana Al-Ghazali menyebut dalam Ihya’ Ulumuddin (Jilid 4, hlm. 379), ketika bicara tentang dzikir yang hadir: “Dzikir yang sejati bukan pada lisan, melainkan yang menetap dalam qalbu dan menyinari perilaku.”
Dalam konteks ini, puisi yang lahir dari “langit diri” tidak hanya ingin didengar atau dibaca, tetapi dihayati sebagaimana doa yang penuh khusyuk. Maka, setiap bait adalah upaya untuk menghadirkan Allah, menyebut-Nya, dan menyaksikan kasih-Nya.
2. Contoh Konkret: Puisi “Seperti Napas”
Berikut adalah salah satu puisi saya yang ditulis dalam suasana hening dan reflektif:
SEPERTI NAPAS
Hujan semalam
meninggalkan jejak di tanah halaman.
Genangan kecil
menampung langit yang terbalik.
Awan berjalan
di bawah kakiku,
seakan aku
yang berada di atas cermin-Mu.
Aku melangkah pelan,
tanah seperti
menyimpan bisikan
yang tak selesai diucapkan.
Sawah di seberang rumah
lama tak ditanami.
Airnya diam,
seperti mata
yang tak pernah terpejam.
Embun di ujung daun
menahan bulatnya sendiri,
antara jatuh
dan kembali.
Wajahku lewat sekejap
di permukaannya,
kecil,
tanpa nama,
seperti tamu
yang lupa dari mana datangnya.
Tak ada seruan.
Tak ada larangan.
Hanya diam
yang memeluk setiap gerak.
Langkah tetap bergerak.
Napas keluar-masuk.
Dan di antara keduanya
Engkau
seperti napas
yang tak pernah
meninggalkanku.
2025, 2026
Puisi ini lahir dari pengalaman keseharian yang sangat sederhana: hujan, genangan, sawah yang kosong, embun yang menahan diri sebelum jatuh. Saya tidak sedang berbicara tentang Tuhan secara konseptual. Saya hanya memotret peristiwa kecil yang tampak biasa. Namun dalam kebiasaan itulah tersimpan rahasia kehadiran.
“Langit yang terbalik” dalam genangan kecil bukan sekadar citraan visual. Ia adalah pembalikan cara pandang. Yang tinggi memantul dalam yang rendah. Yang jauh hadir dalam yang dekat. Saya teringat firman Allah dalam QS. Qaf: 16 bahwa Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Kedekatan ini bukan kedekatan jarak, melainkan kedekatan wujud. Ia tidak berada di luar diri sebagai sesuatu yang harus dicari jauh ke langit, tetapi menyertai setiap detak dan gerak.
Genangan kecil itu menjadi cermin kesadaran. Di sana, langit tidak lagi berada di atas, tetapi berada di bawah kaki. Perspektif dibalik agar ego runtuh. Manusia tidak lagi merasa berada di pusat. Ia hanya penapak tanah yang memijak pantulan.
Ketika saya menulis embun yang berada “antara jatuh dan kembali”, saya sedang membaca keadaan manusia. Kita hidup di antara. Di antara lahir dan pulang. Di antara waktu dan keabadian. Al-Qur’an menyebut manusia diciptakan dalam keadaan campuran dan diuji (QS. Al-Insan: 2). Posisi antara itu adalah ruang ujian sekaligus ruang kesadaran. Di sanalah iman tidak diteriakkan, tetapi dirasakan sebagai getaran yang halus.
Wajah yang lewat sekejap di permukaan embun (kecil dan tanpa nama) adalah peristiwa peluruhan diri. Dalam QS. Al-Baqarah: 115 disebutkan bahwa ke mana pun kita menghadap, di situlah wajah Allah. Ayat ini bukan sekadar penegasan teologis, melainkan kesadaran ontologis bahwa seluruh realitas adalah tanda. Sawah yang lama tak ditanami, air yang diam, embun yang menahan bulatnya: semuanya bukan benda mati dalam makna spiritual. Semuanya adalah ayat dalam bentuk lain.
Karena itu, dalam puisi ini tidak ada seruan dan tidak ada larangan. Saya tidak hendak menghadirkan Tuhan sebagai pengawas yang menakutkan. Pengalaman ihsan yang saya rasakan lebih menyerupai diam yang memeluk setiap gerak. Seperti dalam hadis Jibril, kesadaran bahwa Dia melihat bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk menyadarkan.
Bagian akhir puisi menjadi titik yang paling personal:
“Dan di antara keduanya
Engkau
seperti napas
yang tak pernah
meninggalkanku.”
Metafora napas berkelindan dengan ayat tentang peniupan ruh (QS. Al-Hijr: 29). Hidup manusia bermula dari tiupan Ilahi, dan setiap tarikan napas adalah pembaruan amanah itu. Napas tidak terlihat, tetapi tanpanya kehidupan berhenti. Ia tidak bersuara, tetapi menghidupkan. Ia tidak memaksa, tetapi menentukan.
Di situlah saya memahami kehadiran Ilahi bukan sebagai sesuatu yang eksternal, melainkan sebagai fondasi eksistensi. Ia tidak datang dan pergi. Ia menyertai. Ia menopang. Ia menghidupi.
Dengan demikian, Seperti Napas bukanlah puisi yang mengutip Al-Qur’an secara tekstual, tetapi menyerap ruhnya. Wahyu tidak saya jadikan slogan, melainkan horison makna. Puisi menjadi ruang tadabbur: ruang untuk menyelami kembali kedekatan yang sebenarnya telah ditegaskan oleh wahyu.
Saya percaya, puisi religius tidak perlu berbicara dengan suara gemuruh. Ia cukup menjadi bisikan. Sebab dalam bisikan itulah hati lebih mudah mendengar. Dan mungkin, dalam setiap langkah dan setiap napas yang keluar-masuk itu, kita akan menyadari bahwa kehadiran-Nya tidak pernah berjarak, tidak pernah meninggalkan.
3. Tujuan Spiritualitas Puisi: Dari Estetika ke Perenungan
Tujuan utama puisi seperti ini bukanlah untuk memukau pembaca, melainkan untuk mengajak mereka ikut larut dalam kesadaran spiritual. Pembaca tidak ditempatkan sebagai penikmat pasif, melainkan sebagai peserta dalam dzikir yang tenang. Dalam proses ini, terjadi pergeseran dari puisi sebagai tontonan ke puisi sebagai pengalaman ruhani.
Martin Lings (Abu Bakr Siraj ad-Din), dalam bukunya What is Sufism? (1975:42), pernah menyatakan: “Poetry at its best does not describe the sacred; it participates in it.” “Puisi yang sejati tidak mendeskripsikan hal-hal suci; ia berpartisipasi di dalamnya.”
Inilah yang saya maksud dengan puisi sebagai doa yang menubuh: ia tidak hanya bicara tentang ketuhanan, tetapi berdialog dengan-Nya.
V. Bahasa yang Bercahaya: Menolak Gaya Gelap dan Simbolisme Kosong
Dalam lanskap puisi religius modern Indonesia, seringkali ditemukan bahasa yang berlebihan dalam simbolisme dan estetika, yang kadang-kadang justru menjauhkan makna spiritual ke dalam kekaburan dan kerumitan yang membingungkan. Saya mengajukan kritik bahwa bahasa puisi tidak seharusnya menjadi labirin bagi pembaca, melainkan cermin jernih yang memantulkan hikmah dan kebenaran batin.
1. Kritik atas Gaya Simbolik Berlebihan
Simbol dalam puisi memang memiliki fungsi estetika dan filosofis yang penting. Namun, seperti ditegaskan oleh T.S. Eliot, simbolisme haruslah “hidup dan berfungsi dalam konteksnya”, bukan sekadar permainan kata tanpa arah.
Eliot menyatakan dalam Tradition and the Individual Talent (1919): “The progress of an artist is a continual self-sacrifice, a continual extinction of personality.” “Kemajuan seorang seniman adalah pengorbanan diri yang terus menerus, sebuah pemadaman kepribadian.”
Dalam konteks puisi religius, ini berarti bahasa harus mengabdi pada pesan ilahiah, bukan ego kreatif yang mengaburkan makna.
Sering kali, puisi berbahasa “gelap” dan “mistis” tanpa arahan konkret membuat pembaca tersesat, tidak menemukan pesan yang menguatkan iman atau etika. Ini berlawanan dengan tujuan puisi yang saya anut sebagai ruang dzikir dan tafakur.
2. Strategi Kebahasaan: Menjaga Diksi dari Kekaburan
Bahasa puisi harus menghindari ambiguitas yang tidak produktif. Diksi yang digunakan perlu diarahkan agar imaji tidak hanya mengejutkan, tetapi mengantarkan pada hikmah dan kesadaran baru.
Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Ad-Dalal (hlm. 12) menegaskan pentingnya kesederhanaan dan kejelasan dalam bahasa spiritual: “Bahasa yang sederhana dan jelas membuka pintu hati untuk memahami hakikat.”
Dengan menjaga bahasa tetap jernih, puisi menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai iman, Islam, dan ihsan tanpa mengorbankan keindahan.
3. Nilai-nilai Bahasa Spiritual: Bahasa yang Menyadarkan
Bahasa spiritual yang saya dukung bukan bahasa yang sekadar menakjubkan secara estetis, melainkan bahasa yang membangkitkan kesadaran batin dan menggerakkan hati kepada perubahan positif.
Imam Al-Haddad dalam Risalat al-Mu’allim (hlm. 34) menulis: “Words that awaken the soul are worth more than words that merely delight the ear.” “Kata-kata yang membangunkan jiwa jauh lebih bernilai daripada kata-kata yang hanya menyenangkan telinga.” Ini menegaskan posisi bahasa puisi sebagai wahana pembangkit kesadaran spiritual, bukan sebagai pelarian estetika yang kosong.
Dengan demikian, puisi religius yang bermakna harus menghindari kegelapan bahasa yang tidak jelas dan simbolisme yang kehilangan makna praktis. Ia harus menampilkan bahasa yang bercahaya, mampu menerangi jiwa dan menjadi cermin batin yang menguatkan iman, memandu laku Islam, dan memancarkan ihsan.
VI. Refleksi Diri Penyair Muslim dalam Zaman Sekarang
Menulis puisi bagi penyair Muslim bukanlah sekadar aktivitas seni atau media dakwah dalam arti formal, melainkan lebih mendalam sebagai ruang kesaksian batin yang jujur dan otentik. Puisi menjadi medium ekspresi yang menampakkan perjalanan spiritual sekaligus estetika, sebuah tempat di mana iman dihadirkan tanpa retorika kosong.
1. Menulis Bukan Dakwah, tetapi Kesaksian
Penyair Muslim “tidak mesti” menjadi dai atau mubaligh, tetapi dalam tulisannya terdapat kesaksian pribadi yang mendalam tentang pengalaman iman. Seperti yang diungkapkan oleh Rumi: “Let yourself be silently drawn by the strange pull of what you really love. It will not lead you astray.” “Biarkan dirimu diam-diam ditarik oleh tarikan aneh dari apa yang benar-benar kau cintai. Itu tidak akan menyesatkanmu.” (Rumi, The Essential Rumi, 1995)
Puisi menjadi wadah di mana rasa cinta kepada Tuhan dan refleksi batin bisa dituangkan tanpa harus memaksa menjadi ceramah.
2. Kesadaran Identitas: Integrasi Iman dan Kreasi
Seorang penyair Muslim harus menerima tanggung jawab ganda: estetika dan spiritual. Menurut Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Islam modern: “Islam is not only a system of beliefs but a comprehensive way of life that integrates spiritual, ethical, and intellectual dimensions.” “Islam bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi cara hidup komprehensif yang mengintegrasikan dimensi spiritual, etika, dan intelektual.” (Rahman, Islam, 1979)
Ini berarti puisi tidak boleh memisahkan iman dari kreativitas. Keduanya harus berjalan beriringan agar karya yang lahir bukan sekadar seni kosong, melainkan juga ekspresi keimanan yang hidup.
3. Tujuan Akhir: Jalan Pulang dan Jejak Taubat
Puisi menjadi sarana bagi penyair untuk menulis jalan pulang ke hadirat Tuhan. Dalam bahasa sufistik, puisi adalah “ruang pulih” di mana jiwa bisa menata kembali kesadaran spiritualnya. Seperti kata Jalaluddin Rumi: “The wound is the place where the Light enters you.” “Luka adalah tempat di mana Cahaya memasuki dirimu.” (Rumi, The Essential Rumi, 1995)
Dengan demikian, puisi adalah jejak taubat yang terus-menerus, sebuah proses yang membuka ruang dialog antara penyair dan Pencipta secara mendalam dan personal.
Dalam refleksi ini, penyair Muslim masa kini diharapkan mampu menulis dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab spiritual dan estetiknya. Menulis puisi bukan sekadar menyusun kata, tetapi meneguhkan perjalanan iman dan ihsan dalam setiap baris yang terlahir.
VII. Penutup: Jalan Sunyi, Langit yang Menunduk, dan Diri yang Bersujud
Puisi, sebagaimana telah dijelaskan, tidak seharusnya berhenti pada dimensi estetika semata. Ia dapat dan seharusnya menjadi jalan spiritual yang menghidupkan iman, membumikan laku Islam, dan mengantarkan pada ihsan, sebuah ibadah estetik yang melahirkan kesadaran paling dalam. Dalam kata-kata Rainer Maria Rilke:
“Be patient toward all that is unsolved in your heart and try to love the questions themselves, like locked rooms and like books that are now written in a very foreign tongue.” “Bersabarlah terhadap semua yang belum terjawab di dalam hatimu dan cobalah mencintai pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, seperti ruang-ruang terkunci dan seperti buku-buku yang kini ditulis dalam bahasa yang sangat asing.” (Rilke, Letters to a Young Poet, 1929)
Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa puisi adalah perjalanan batin yang penuh kesunyian dan ketidakpastian, namun penuh harapan dan penemuan diri.
Harapan saya, buku puisi Langit Diri dapat menjadi pelita kecil di tengah gelapnya lanskap puisi yang kerap kehilangan arah dan makna sejati. Sebuah ruang di mana keindahan bukan sekadar rupa, melainkan doa dan pengabdian yang hidup.
Sebagai penutup, saya berdoa agar: “Setiap bait yang ditulis menjadi tangga kecil, yang mengantarkan jiwa kepada ampunan dan ridha-Nya.”
Semoga puisi menjadi sujud yang tak berujung, dalam hening yang memerdekakan. ***
—
*Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto.




