Pentingnya Sastra Lisan dalam Sejarah

Membaca Denyut Nadi dalam Rahim Waktu Ketika Aksara Kehilangan Nafasnya

Oleh: Gus Nas Jogja*

Sejarah sering kali kita bayangkan sebagai deretan angka tahun yang dingin, barisan nama raja yang telah membatu, dan tumpukan kertas kusam yang berbau debu perpustakaan. Kita telah lama terjebak dalam mitos bahwa kebenaran masa lalu hanya sah jika ia terpahat di atas batu prasasti atau tertuang dalam tinta emas manuskrip. Namun, di hadapan keheningan perpustakaan yang megah itu, muncul sebuah pertanyaan yang menggetarkan batin: Jika sejarah hanya milik buku dan prasasti, lalu untuk apa puisi ada? Untuk apa nyanyian pengantar tidur itu bertahan melintasi milenium?

Sastra lisan adalah detak jantung sejarah yang terlupakan. Ia adalah “Arsip Langit” yang disimpan dalam memori kolektif manusia, ditransmisikan melalui getaran pita suara, dan dihidupkan kembali oleh nafas setiap generasi. Jika manuskrip adalah jasad sejarah, maka sastra lisan adalah ruhnya. Ia tidak butuh kertas untuk bertahan, ia hanya butuh telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merawat.

Ontologi Suara: Sabda sebagai Awal Mula

Dalam lensa filsafat, suara mendahului aksara. Dan, dalam tradisi spiritual Timur maupun Barat, dunia diciptakan melalui “Suara” atau “Firman” (Logos). Suara adalah energi murni, sebuah getaran yang menghubungkan dimensi transenden dengan realitas material. Sastra lisan—dalam bentuk mitos, legenda, mantra, dan epik—adalah upaya manusia untuk menyelaraskan diri dengan getaran kosmik tersebut.

Martin Heidegger pernah berujar bahwa “Bahasa adalah rumah bagi Ada atau Being).” Dalam sastra lisan, rumah itu tidak dibangun dari semen dan batu, melainkan dari resonansi. Ketika seorang penutur lisan atau pendongeng menceritakan asal-usul sebuah nagari, ia tidak sedang menyajikan data statistik; ia sedang melakukan tindakan ontologis. Ia sedang menghadirkan kembali masa lalu ke dalam kekinian atau nunc stans.

Di sini, sejarah bukan lagi linearitas yang mati, melainkan siklus yang terus berputar. Puisi ada bukan untuk menghias sejarah, melainkan untuk memberikan makna pada fakta. Tanpa puisi, sejarah hanyalah tumpukan tulang belulang kejadian; dengan puisi, tulang-tulang itu dibungkus daging, dialiri darah emosi, dan diberi nafas kehidupan.

Estetika Memori: Melampaui Kaku-Kaku Prasasti

Prasasti memiliki keterbatasan: ia statis. Ia berbicara tentang kekuasaan yang ingin mengabadikan dirinya sendiri dalam kebekuan. Namun, sejarah manusia yang sesungguhnya adalah sejarah yang cair. Sastra lisan seperti Pangkur dalam tradisi Jawa, Kaba di Minangkabau, atau Iliad di tanah Yunani sebelum dituliskan—memiliki kemampuan untuk beradaptasi.

Walter Ong dalam karyanya Orality and Literacy  menegaskan bahwa masyarakat lisan memiliki cara berpikir yang agregatif, bukan analitik. Mereka tidak membedah realitas, mereka merangkulnya. Sastra lisan adalah bentuk dekolonisasi terhadap dominasi teks. Jika teks bersifat eksklusif—hanya bisa diakses oleh mereka yang terdidik—maka lisan bersifat demokratis. Ia adalah milik rakyat yang tangannya kasar karena mencangkul tanah, namun lidahnya manis karena merawat tradisi.

Seorang arkeolog sombong menertawakan nenek tua yang bercerita tentang naga yang menjaga mata air desa. “Itu hanya dongeng, Kek!” katanya sambil memegang fragmen keramik. Namun, ketika kemarau panjang tiba dan sungai mengering, sang arkeolog kehausan. Sang nenek menunjuk pohon beringin tua yang keramat, tempat ‘naga’ itu bersemayam dalam mitosnya. Akar pohon itulah yang menyimpan air. Di sana, sang arkeolog menyadari: dongeng sang nenek menyelamatkan nyawa, sementara keramik di tangannya hanya bisa mencatat kematian.

Narasi Spiritual: Doa yang Menjadi Sejarah

Dalam perspektif spiritual, sastra lisan sering kali mewujud dalam bentuk doa dan mantra. Inilah sejarah yang bersifat esoteris. Sejarah bukan hanya tentang penaklukan wilayah, tetapi tentang penaklukan batin. Sastra lisan mencatat pergulatan manusia dengan Yang Ilahi melalui metafora yang paling puitis.

Para mistikus seperti Rumi atau Hamzah Fansuri menggunakan puisi lisan untuk menyampaikan kebenaran yang tidak sanggup ditampung oleh nalar prosaik. Puisi adalah satu-satunya bahasa yang mampu membicarakan Tuhan tanpa memenjarakan-Nya dalam definisi. Jika sejarah resmi mencatat kapan sebuah rumah ibadah dibangun, maka sastra lisan mencatat kerinduan manusia yang sujud di dalamnya.

Sejarah lisan adalah sejarah tentang rasa. Dan rasa, sebagaimana kita tahu, adalah kompas yang lebih akurat daripada kompas magnetik mana pun dalam memetakan arah peradaban.

Kritik Terhadap Literasi Budaya yang Sempit

Kita sering menganggap remeh “dongeng sebelum tidur”. Padahal, di dalam dongeng itulah nilai-nilai moral dan etika sebuah bangsa ditanamkan. Literasi budaya tidak boleh hanya diukur dari angka melek huruf, tetapi dari “melek makna”.

Jika kita membuang puisi dari sejarah, kita kehilangan dimensi kemanusiaan. Kita akan menjadi bangsa yang tahu segalanya tentang masa lalu, tapi tidak merasakan apa-apa. Kita akan menjadi teknokrat sejarah yang hafal tanggal proklamasi, tapi lupa akan getaran keberanian yang membuat suara sang proklamator bergetar.

Puisi ada karena ia adalah tempat perlindungan terakhir bagi kebenaran yang tidak disukai oleh para penguasa. Prasasti bisa dihancurkan, buku bisa dibakar, manuskrip bisa dimakan rayap, namun sebuah puisi yang telah meresap ke dalam ingatan rakyat tidak akan pernah bisa dimusnahkan. Suara adalah satu-satunya benda yang tidak bisa dipenjara.

Menenun Kembali Suara yang Hilang

Sebagai pelengkap, mari kita kembalikan kehormatan pada mulut-mulut yang bercerita. Sastra lisan bukanlah masa lalu yang tertinggal, melainkan masa depan yang sedang berbisik. Sejarah yang sejati adalah dialog antara yang tertulis dan yang terucap.

Jika prasasti adalah tubuh, dan manuskrip adalah pakaian, maka puisi lisan adalah jiwa yang membuatnya bergerak. Kita menulis bukan untuk menghapus suara, melainkan untuk merayakan resonansinya. Karena pada akhirnya, di hari ketika semua buku telah lapuk dan semua batu telah hancur menjadi debu, manusia akan tetap duduk melingkar di depan api unggun, saling bertukar cerita, dan menyadari bahwa sejarah mereka tersimpan aman dalam sebuah bait puisi yang tak kunjung usai.

Membangun Peradaban Tanpa Fondasi Batu

Jika sejarah adalah sebuah bangunan, maka para sejarawan ortodoks sibuk mengukur ketebalan dinding batu bata. Namun, sastra lisan adalah “Arsitektur Angin”. Ia tidak terlihat, namun ia memberikan sirkulasi kehidupan. Ia adalah struktur yang menopang atap kebudayaan tanpa perlu membebani bumi dengan fondasi yang angkuh.

Hannah Arendt,  dalam diskursusnya mengenai kondisi manusia, menekankan bahwa tindakan dan ucapan atau action and speech adalah cara manusia menampakkan dirinya di ruang publik. Sastra lisan adalah aktualisasi dari “penampakan” itu. Ketika seorang pelantun Sinrilik di Makassar atau Warahan di Lampung mulai membuka mulutnya, ia sedang membangun sebuah teater sejarah yang tidak membutuhkan panggung fisik. Panggungnya adalah imajinasi kolektif pendengarnya.

Di sinilah letak keajaiban filosofisnya: Sastra lisan membuktikan bahwa sesuatu yang tidak berwujud bisa jauh lebih kekal daripada materi. Prasasti bisa mengalami erosi, namun metafora dalam sebuah sajak rakyat akan terus diperbarui oleh lidah-lidah baru. Ia mengalami proses “re-kreasi abadi”.

Dekonstruksi Prasasti: Satire Atas Kesombongan Teks

Mari kita menilik sebuah satire tentang keangkuhan aksara.

Seorang Raja memerintahkan para juru tulisnya untuk mencatat setiap kemenangannya di atas lempengan tembaga paling murni. Ia ingin sejarah mengingatnya sebagai sang penakluk abadi. Berabad-abad kemudian, lempengan itu ditemukan oleh seorang petani, namun tulisannya telah aus dimakan asam tanah. Sang petani menggunakan lempengan itu sebagai penutup lubang saluran air. Namun, di desa yang sama, anak-anak kecil masih menyanyikan lagu tentang seorang raja yang kejam yang dikalahkan oleh kecerdikan seekor kancil. Nama sang raja di tembaga telah hilang, namun sifat buruknya abadi dalam lagu anak-anak. Sejarah resmi kehilangan subjeknya, namun puisi rakyat menyelamatkan moralitasnya.

Puisi ada untuk mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana kemenangan itu dirasakan oleh mereka yang kalah. Teks sering kali menjadi alat propaganda penguasa, namun sastra lisan adalah “Ruang Bawah Tanah” di mana kebenaran yang jujur sering kali yang pahit disembunyikan dalam bentuk simbol dan tamsil.

Liturgi Sunyi: Puisi sebagai Jembatan Transendental

Secara spiritual, sastra lisan berfungsi sebagai liturgi. Dalam masyarakat adat, sejarah asal-usul manusia tidak dibaca seperti laporan berita, melainkan dilantunkan seperti zikir. Ada irama (ritme) yang bersifat hipnotik. Irama ini bukan sekadar estetika, melainkan teknologi spiritual untuk membuka pintu memori purba.

Frithjof Schuon, seorang tokoh tradisi perenial, menyatakan bahwa simbolisme adalah bahasa dari Intelek Ilahi. Sastra lisan kaya akan simbolisme yang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke dalam prosa sejarah. Puisi adalah satu-satunya bentuk bahasa yang berani mendekati bibir jurang “Yang Tak Terkatakan”.

Jika manuskrip mencatat bahwa “terjadi gempa bumi pada tahun sekian”, puisi lisan akan menggambarkannya sebagai “Naga Bumi yang sedang menggeliat karena sedih melihat ketidakadilan”. Mana yang lebih benar? Secara empiris, mungkin manuskrip. Namun secara eksistensial, puisi lisan menangkap esensi penderitaan manusia yang tertimpa gempa tersebut jauh lebih dalam daripada sekadar angka di atas kertas.

Menjaga Api Puisi di Tengah Badai Aksara

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa sejarah yang hanya bersandar pada buku adalah sejarah yang pincang. Ia kehilangan dimensi audial, emosional, dan spiritualnya. Puisi ada bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penjaga gawang moralitas sejarah.

Kita tidak boleh membiarkan sejarah hanya menjadi milik para filolog yang berkutat dengan mikroskop di ruang kedap udara. Sejarah harus tetap menjadi milik para penyair, para pendongeng, dan para ibu yang bersenandung di ambang pintu malam. Karena hanya dalam suaralah, sejarah tetap hangat. Hanya dalam puisilah, sejarah tetap memiliki jantung yang berdenyut.

Bacalah prasasti untuk mengetahui apa yang terjadi, namun dengarkanlah puisi untuk mengetahui siapa kita sebenarnya. Karena sejarah tanpa sastra lisan adalah tubuh tanpa bayangan, dan peradaban tanpa puisi adalah perjalanan tanpa lagu.

Fonosentrisme Spiritual: Suara sebagai Prasasti Cahaya

Dalam kedalaman metafisika, kita harus mengakui adanya sebuah otoritas yang disebut “Fonosentrisme Spiritual”. Jika tradisi Barat modern (sejak era Renaisans) mengalami pemujaan berlebih terhadap teks —grafosentrisme–, maka tradisi Timur dan masyarakat adat tetap memegang teguh kesakralan suara. Bagi mereka, tulisan hanyalah “bayangan dari bayangan”.

Jacques Derrida, meski dikenal sebagai bapak Dekonstruksi yang memuja teks, ironisnya mengingatkan kita bahwa suara memiliki kedekatan ontologis dengan “kehadiran” atau presence. Saat sebuah sejarah diucapkan melalui puisi lisan, masa lalu tidak sedang “diceritakan kembali”, melainkan sedang “dihadirkan kembali”.

Di dataran tinggi Tibet atau di pedalaman Papua, sejarah penciptaan dunia tidak dibaca dari buku manual; ia dilingkari oleh asap api unggun. Suara sang pencerita adalah jembatan cahaya yang menghubungkan sel-sel memori leluhur dengan genetik generasi masa kini. Di sini, sejarah adalah biologi spiritual.

Seorang kurator museum memamerkan sebuah tengkorak kuno dengan label: “Subjek X, Era Paleolitikum”. Ia menjelaskan struktur rahangnya dengan data laser yang presisi. Di sudut ruangan, seorang penyair lisan bergumam: “Itu bukan Subjek X. Itu adalah sang pengembara yang mati karena merindukan rumahnya di balik gunung.” Sang kurator marah, “Mana buktinya?” Sang penyair menjawab: “Rahangnya sedikit terbuka, bukan karena evolusi, tapi karena ia mati saat sedang menyanyikan lagu kerinduan yang hingga kini masih kami nyanyikan di desa.” Sang kurator terdiam, menyadari lasernya bisa menghitung kepadatan tulang, tapi gagal menangkap gema kerinduan.

Literasi Batin: Puisi sebagai Penjaga Kewarasan Sejarah

Kita harus bertanya dengan jujur: Apa yang tersisa dari sejarah jika kita membuang aspek emosionalnya? Kita hanya akan memiliki sejarah yang kering, sejarah yang bisa digunakan oleh para diktator untuk membenarkan kekejaman melalui angka-angka pertumbuhan.

Puisi ada untuk menjadi “Rem Darurat” bagi sejarah. Ketika sejarah resmi mulai berjalan terlalu cepat menuju industrialisasi dan penghancuran alam, sastra lisan membisikkan peringatan melalui mitos tentang pohon-pohon yang bisa menangis dan sungai yang memiliki roh. Literasi budaya yang sejati adalah kemampuan untuk membaca “teks yang tak tertulis” di wajah alam dan di kerutan dahi orang-orang tua.

Sejarah milik buku adalah sejarah tentang kekuasaan. Sejarah milik puisi adalah sejarah tentang kemanusiaan. Buku mencatat siapa yang memerintah, tapi puisi mencatat siapa yang mencintai, siapa yang berkorban, dan siapa yang tetap menari meski dalam belenggu.

Maka, sebagai penyempurna dari narasi panjang ini, mari kita pahami bahwa aksara dan suara bukanlah musuh. Tulisan adalah pelabuhan, namun suara adalah samudera. Kita butuh pelabuhan untuk beristirahat, namun kita butuh samudera untuk benar-benar mengerti arti perjalanan.

Sejarah yang utuh adalah sejarah yang dibaca dengan mata, namun didengarkan dengan jiwa. Puisi ada agar sejarah tidak kehilangan kelembutannya. Ia ada agar kebenaran tidak menjadi senjata yang melukai, melainkan menjadi air yang menyembuhkan.

Jika suatu saat peradaban kita runtuh dan semua perangkat digital maupun kertas kita musnah, hanya satu yang akan menyelamatkan identitas kita: Puisi yang tersimpan di dalam memori. Selama masih ada satu manusia yang mampu melantunkan sebuah bait tentang keindahan fajar di tanah airnya, maka sejarah bangsa itu belum benar-benar berakhir. Kita adalah makhluk bercerita atau Homo Narrans, dan di dalam cerita itulah, keabadian bersemayam.

Estetika Kelestarian: Ketika Gema Lebih Abadi daripada Batu

Dalam heningnya malam yang paling dalam, kita menyadari sebuah kebenaran yang melampaui logika material: batu prasasti akan aus, namun gema dari sebuah sajak luhur akan terus memantul di dinding-dinding gua batin manusia. Kita sering keliru menganggap bahwa “yang tertulis” adalah “yang tetap”. Padahal, tulisan sering kali menjadi penjara bagi makna. Ia mengunci kata dalam bentuk yang statis, sementara Sastra Lisan membiarkan makna tersebut bernapas, tumbuh, dan bermutasi sesuai dengan kedalaman zaman yang ia lalui.

Dalam visi filosofis, ini adalah apa yang disebut sebagai “Keadilan Epistemologis”. Memberikan ruang bagi sastra lisan dalam sejarah adalah upaya untuk memulihkan hak-hak mereka yang tak memiliki akses ke mesin cetak atau birokrasi literasi. Jika sejarah hanya milik buku, maka kita sedang melakukan pengasingan massal terhadap miliaran jiwa yang mewariskan kebijaksanaan melalui dongeng, kidung, dan pepatah-petitih.

Literasi Spiritual: Menembus Batas-Batas Kertas

Sejarah lisan adalah sebuah “Geometri Roh”. Ia tidak butuh koordinat geografis yang kaku untuk menentukan lokasi kebenaran. Puisi ada untuk mengingatkan bahwa ada wilayah-wilayah dalam jiwa manusia yang tidak bisa dipetakan oleh survei arkeologis mana pun. Bagaimana kau memetakan rasa rindu seorang istri nelayan yang menanti suaminya pulang melalui nyanyian doa di pinggir pantai? Bagaimana kau mencatat getaran ketakutan seorang prajurit dalam manuskrip militer yang hanya bicara tentang strategi dan jumlah kavaleri?

Di situlah sastra lisan bekerja. Ia mengisi “Lubang Hitam” sejarah. Ia adalah lem yang menyatukan fakta-fakta yang tercerai-berai menjadi sebuah narasi yang bermartabat. Tanpa puisi, sejarah adalah catatan tentang apa yang kita lakukan; dengan puisi, sejarah adalah kesaksian tentang apa yang kita rasakan.

Seorang pakar linguistik modern mencoba menerjemahkan sebuah mantra kuno ke dalam bahasa pemrograman untuk mencari algoritma kekuatannya. Ia bangga karena telah mendigitalkan setiap suku kata. Namun, ketika ia membacanya di depan komputer, tak ada yang terjadi. Seorang dukun tua tertawa di sudut gubuknya, “Anak muda, kau punya tubuh katanya, tapi kau kehilangan ‘ruh’ suaranya. Mantra itu tidak bekerja karena kau membacanya dengan otak, bukan dengan napas yang terhubung ke akar pohon di luar sana.” Sang pakar punya data, tapi sang dukun punya ‘koneksi’.

Simfoni Penutup: Mengukir di Atas Air, Menulis di Atas Angin

Sebagai penutup dari ziarah intelektual sepanjang ribuan kata ini, mari kita kukuhkan sebuah janji: bahwa kita tidak akan membiarkan puisi mati di tangan sejarah yang dingin. Kita akan terus menjadi penenun suara, penjaga api cerita, dan perawat memori yang cair.

Sejarah bukan hanya tentang apa yang ditinggalkan dalam bentuk benda, tetapi tentang apa yang dibawa dalam bentuk nilai. Jika suatu saat seluruh buku di bumi ini musnah, dan semua prasasti hancur menjadi pasir, manusia akan kembali pada fitrahnya: saling berbisik tentang cinta, keberanian, dan pengabdian di bawah payung bintang.

Puisi ada karena ia adalah napas sejarah. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tanah yang kita injak dengan langit yang kita tuju. Tanpanya, kita hanyalah peziarah yang kehilangan peta batin, pengembara yang lupa jalan pulang ke rumah suaranya sendiri.

Itu saja!

 

Rujukan Filosofis & Literasi Budaya

Ong, W. J. (1982). Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. Methuen. (Dasar filosofis perbedaan budaya lisan dan tulisan).

Heidegger, M. (1971). Poetry, Language, Thought. Harper & Row. (Hubungan antara esensi bahasa dan keberadaan manusia).

Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. University of Wisconsin Press. (Metodologi ilmiah menjadikan tradisi lisan sebagai sumber sejarah yang sah).

Eliade, M. (1954). The Myth of the Eternal Return. Princeton University Press. (Tentang bagaimana mitos lisan menghadirkan waktu sakral).

Sweeney, A. (1987). A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. University of California Press. (Konteks sastra lisan di dunia Melayu/Nusantara).

Finnegan, R. (1970). Oral Literature in Africa. Oxford University Press. (Studi monumental tentang fungsi sosial dan sejarah dalam sastra lisan).

Lord, A. B. (1960). The Singer of Tales. Harvard University Press. (Membahas proses komposisi lisan dan bagaimana memori bekerja dalam epik besar).

Ricoeur, P. (2004). Memory, History, Forgetting. University of Chicago Press. (Filosofi tentang bagaimana memori kolektif dan sejarah saling bersinggungan).

Tedlock, D. (1983). The Spoken Word and the Work of Interpretation. University of Pennsylvania Press. (Pentingnya performa suara dalam memahami teks-teks kuno).

Zulpan, A. (2020). Literasi Budaya dan Identitas Nusantara. Jurnal Kebudayaan. (Analisis tentang bagaimana tradisi lisan membentuk jati diri bangsa Indonesia).

Derrida, J. (1967). Of Grammatology. Johns Hopkins University Press. (Kritik terhadap hubungan antara tulisan, suara, dan kehadiran).

Schuon, F. (1984). The Transcendent Unity of Religions. Quest Books. (Perspektif tentang simbolisme universal dalam tradisi lisan).

Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press. (Diskusi tentang tindakan, ucapan, dan keabadian dalam ruang publik).

Benjamin, W. (1968). The Storyteller. Illuminations. (Esai klasik tentang memudarnya tradisi lisan di era modernitas).

Lancy, D. F. (1996). Playing on the Mother-Ground. Guilford Press. (Studi antropologis tentang bagaimana budaya lisan membentuk kognisi dan memori sejarah anak).

Assmann, J. (2011). Cultural Memory and Early Civilization. Cambridge University Press. (Tentang bagaimana memori budaya dibentuk melalui pengulangan lisan).

Finnegan, R. (1992). Oral Traditions and the Verbal Arts. Routledge. (Panduan komprehensif mengenai interpretasi sastra lisan).

Goody, J. (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press. (Analisis tentang persinggungan antara budaya tulis dan lisan).

Nagarajan, S. (2006). The Orality of Oral Tradition. Journal of Folklore Research. (Menegaskan kembali keunikan performa lisan sebagai teks yang hidup).

Pramoedya Ananta Toer (1980). Bumi Manusia. (Sebagai pengingat kultural tentang bagaimana sejarah ‘lisan’ rakyat sering ditindas oleh sejarah ‘tulis’ penguasa kolonial).

—–

*Gus Nas Jogja, Budayawan.