Anugerah Kebudayaan untuk Bupati, Walikota, dan Purnawirawan Wartawan, 2026

Oleh Agus Dermawan T.*

Sepuluh Bupati dan Walikota menerima Anugerah Kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia Pusat. Tiga mantan wartawan juga dijunjung sebagai juara. Upacara besar dilakukan di lapangan Masjid Raya Albantani, Kota Serang, Banten, pada Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026, yang dihadiri sejumlah menteri Ketua MPR, dan anggota DPR.

———–

SEJAK September 2025 tim penilai AK-PWIP (Anugerah Kebudayaan – Persatuan Wartawan Indonesia Pusat) mengamati dokumen, kliping berita dan berbagai laporan dari 416 kabupaten dan 98 kota. Dari situ lalu ditemukanlah puluhan Bupati dan Walikota yang mempunyai perhatian dan passion besar terhadap pelestarian, pengembangan dan pemajuan kebudayaan daerahnya. Mereka lalu diminta untuk mengirimkan proposal. Dari puluhan itu lalu terseleksi 10 Bupati dan Walikota, yang kemudian didudukkan sebagai finalis AK-PWIP. 

Logo Hari Pers Nasional 2026. (Sumber: Agus Dermawan T)

Wajah sepuluh Bupati, Walikota serta tiga mantan wartawan yang menerima Anugerah Kebudayaan – Persatuan Wartawan Indonesia Pusat 2026. (. (Sumber: “Iwhan Gimbal” Sudarwanto Budi Raharjo).)

Sepuluh Kepala Daerah yang terpilih tersebut lantas diundang maen ke PWI-Pusat/Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta pada 9 Januari 2026. Di hadapan lima juri: Ahmad Munir (Ketua Umum PWI Pusat), Nungki Kusumastuti (budayawan, penari, pemain film), Sudjiwo Tejo (budayawan, dalang, penulis, pemain film), Yusuf Susilo Hartono (wartawan senior, perupa, penyair), serta Agus Dermawan T (budayawan, kritikus seni, penulis sastra) mereka membuat presentasi. 

Dengan sejumlah perangkat budaya yang dibawa mereka menjelaskan program dan pencapaian. Dan berusaha menjelaskan betapa “kebudayaan adalah ruh” yang mengkoridori kehidupan sosial dan politik warga yang dipimpinnya. 

“Tanpa kebudayaan, adab luhur akan luntur. Tanpa kebudayaan, semua wilayah akan lungkrah. Tanpa budaya yang berakar, kehidupan akan ribet dan kasar. Dan – ini yang tak kalah penting – tanpa pemanfaatan media seperti pers, sosialisasi kebudayaan tidak akan pernah beres,” simpul presentasi mereka.

Maka inilah sepuluh Bupati dan Walikota yang menjadi pemenang Anugerah Kebudayaan PWIP 2026. 

– Walikota Malang (Jawa Timur), Dr. Ir Wahyu Hidayat, M.M, dr. 

– Walikota Samarinda (Kalimantan Timur), Dr. H. Andi Harun.

– Walikota Mataram (Nusa Tenggara Barat), Dr. Mohan Roliskana, S.Sos., MH.

– Bupati Lampung Utara (Lampung, Sumatera), Dr. Ir. Hamarton Ahadis, M.Si.

– Bupati Temanggung (Jawa Tengah), Agus Setiawan, S.E.

– Bupati Manggarai (Nusa Tenggara Barat), Heribertus Gerardus Laju Nabit, SE, MA.

– Bupati Blora (Jawa Tengah), Dr. H.Arief Rohman, S.IP, M.Si.

– Bupati Labuhan Batu (Sumatera Utara), Dr. Maya Hasmita, Sp. OG, MM.

– Bupati Manokwari (Papua Barat), Hermus Indou, S.IP, MH.

– Bupati Padang Pariaman (Sumatera Barat), Dr.H.John Kenedy Azis, SH, MA.

Reputasi sepuluh Bupati dan Walikota 2026 ini menyusul pencapaian 48 pemimpin daerah lain, yang sudah dinobatkan sebagai ”jawara budaya” tahun 2016, 2020, 2021, 2022 dan 2023.

Menarik dicatat, tahun ini AK-PWIP juga memilih para purnawirawan wartawan yang tiada henti bekerja di ranah budaya. Sehingga kebudayaan terus bergerak tanpa jeda. Pemenang kali ini adalah:

– Seno Joko Suyono (Bekasi, Jawa Barat) mantan wartawan Majalah Tempo. Pendiri dan penggerak Komunitas BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival).

– Rahmi Hidayati (Tangerang Selatan, Banten), mantan wartawan Bisnis Indonesia. Pendiri dan penggerak Komunitas KPBI (Perempuan Berkebaya Indonesia).

– Henri Nurcahyo (Surabaya, Jawa Timur), mantan wartawan Surabaya Post. Pengelola Brangwetan.com dan Komunitas Panji.

*

Amat banyak yang bisa diceritakan dari hasil pertemuan Dewan Juri dengan para Bupati dan Walikota yang akhirnya menjadi jawara. 

Di Samarinda ada Kampung Tenun. Kampung ini bukan sekadar sentra produksi, tapi ruang hidup, ruang pembelajaran dan ruang pengembangan ekonomi kreatif. Walikota Andi Harun menjelaskan itu dengan seksama, sambil memberi perspektif masa depannya. 

Gerbang Sangkareang di Kota Mataram, Lombok. (Sumber: Dokumen).

Walikota Lampung Utara Hamartoni Ahadis menulis tagline “Cangget Bakha.” Tagline lama ini diformat dalam bentuk peristiwa yang mempertemukan muda-mudi masa kini di bulan purnama. Di tangan anak muda, kebudayaan tradisional Lampung berdenyut dalam dinamika.

Arif Rohman terus mempertahankan budaya dan seni di Kabupaten Blora. Dari yang fisikal seperti barongan, tayub, wayang kulit, sampai yang spiritual seperti tradisi Samin Sedulur Sikep. Kabupaten ini dengan manis mengisyaratkan betapa warganya berumus hidup arif bijaksana. 

Kota Mataram di bawah pimpinan Mohan Roleskana menjadi ternama. Jalan popularitas hanya satu: pintu gerbang Sangkareang yang menjunjung arsitektur lumbung Suku Sasak. Bangunan megah dalam ornamentasi modern yang mengantar simbol-simbol kebajikan segenap penduduknya.

Memikat apa yang dipresentasikan Bupati dan Walikota finalis Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026. Kesregepannya dalam membuat proposal (sehingga melambar sampai 80 halaman), kesigapannya membuat video, serta kesiapannya menghadapi dewan juri kala presentasi, memberikan penjelasan bahwa mereka memang pemimpin pilihan. Kebudayaan nyata dijadikan ruh utama. 

Rumah kaki seribu di Manokwari, Papua. (Sumber: Dokumen)

Kehadiran Walikota Malang Wahyu Hidayat dengan puluhan kuliner kebanggaan, hentakan Bupati Temanggung Agus “Gondrong” Setyawan dengan beratus grup kuda lumping, pelaksanaan program inspiratif “Gerakan Empati Masyarakat Sahabat Anak Hebat” Bupati Labuhan Batu Maya Hasmita, menawarkan pengetahuan baru.

Pengagulan kebudayaan Minang Padang Pariaman oleh Bupati John Kenedy Azis, penjelasan Bupati Manggarai Heribertus Gerardus Laju Nabit tentang eksositas Mbaru Gendang, serta cerita meriah Festival Teluk Doreh Suku Arfak dari Bupati Manokwari Hermus Indou, sangat membesarkan hati, dan menggoda kaki untuk tamasya ke sana.

Munculnya para Bupati dan Walikota pilihan 2026 ini meyakinkan saya bahwa Indonesia masih sangatlah Raya. 

*

Di sela-sela keasyikan memilih Kepala Daerah itu, Panitia Anugerah Kebudayaan membuka ladang apresiasi baru. Yakni menjunjung reputasi pensiunan para wartawan yang tak henti berjuang di lapangan kebudayaan.

“Pemilihan ini selaras dengan aspirasi pers. Tanpa wartawan, pers pasti berhenti. Tanpa kebudayaan, pers dan masyarakat akan pucat pasi. Oleh karena itu mantan wartawan yang terus menghidupkan kebudayaan, harus diangkat tinggi-tinggi,” kata Yusuf Susilo Hartono, Direktur Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.

Maka inilah profil tiga mantan wartawan penerima Anugerah Kebudayaan itu.

Seno Joko Suyono dan warisan budaya

Seno Joko Suyono, kelahiran Malang 18 Februari 1970, mendirikan komunitas BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival) pada tahun 2012. Bersama Romo Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ, Imam Muhtarom dan Yuke Darmawan mereka menjadikan BWCF sebagai ruang perjumpaan lintas iman, lintas profesi dan lintas generasi. 

Komunitas ini mempersilakan penulis, budayawan, aktivis, serta perkumpulan kreatif dari berbagai daerah dan negara untuk terlibat. Dalam sangat banyak kegiataan BWCF, Seno dominan sebagai kuratornya. Bahkan ia juga bersibuk sebagai pencari dana, ketika dana Indonesiana mendadak tidak lagi dikucurkan pada 2025.

Seno Joko Suyono dengan tropi Anugerah Kebudayaan Abyakta, yang dirancang oleh pematung Agus Widodo. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Sejak 14 tahun silam BWCF telah mengadakan festival tahunan dengan mengangkat tema seputar arkeologi dan filologi. Berbagai simposium diadakan, dengan mengundang pakar dari dalam dan luar negeri.

“Tahun 2026, sekitar November, gelaran BWCF akan mengangkat tema numismatik, atau mata uang kuno Nusantara. Juga sejarah perdagangan era Sriwijaya sampai Majapahit,” ujar Seno, yang tercatat sebagai master filsafat STF Driyarkara, dosen kritik teater di Institut Kesenian Jakarta, 

BWCF nyata sangat berperan dalam pelestarian nilai dan warisan  budaya, dengan mengangkat tema-tema yang berakar dari kearifan lokal, sejarah dan spiritualitas Nusantara. Seperti tradisi lisan, naskah kuno dan kebudayaan agraris. Semua aktivitas yang beruntun itu digerakkan oleh Seno, mantan wartawan Majalah Tempo, penulis buku filsafat, drama, novel dan puisi.

Di tangan Seno Joko Suyono BWCF progresif dan berdampak kiprahnya, sehingga Pemerintah DI Yogyakarta cum Sri Sultan Hamengku Buwono X berkenan memberikan Anugerah Kebudayaan, tahun 2022.

Dengan kebaya Rahmi Hidayati berlari

Rahmi Hidayati kelahiran Dumai, pesisir timur Provinsi Riau, 26 Januari 1968, suka sekali dengan kebaya Jawa. Kesukaan ini lalu berkembang. Lalu kebaya dari berbagai suku ia perhatikan. Bahkan sampai kebaya encim, yang dikenakan oleh perempuan Tionghoa di Nusantara. “Ternyata kebaya itu pakaian asli wanita Indonesia. Dan ternyata, nyaman dan sama sekali tidak ribet cara memakainya,” tuturnya.

Pada suatu siang, ketidak-ribetan itu ia buktikan. Seusai dari diskusi kebudayaan di suatu tempat, saya nebeng mobilnya untuk menuju hotel tempat saya menginap. Dengan kebayanya ia menyetir cekatan. Sambil meluncur Rahmi bercerita bahwa dengan kebaya semacam itu ia pernah menyetir dari Pamulang, Jawa Barat, sampai ke Padang di Sumatera Barat. Bahkan ia juga mendaki gunung-gunung tinggi dengan kebaya.

Rahmi Hidayati. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Rahmi, magister Manajemen Fakultas Ekonomi UI, sarjana Ilmu Komunitas UI, adalah “Ratu Kebaya Sejati”. Sejak menjadi wartawan koran Bisnis Indonesia dan Tabloid Wanita Indonesia, ia berupaya menggerakkan wanita Indonesia untuk berkebaya. Dan itu digaungkan pada 2014, dengan memperkenalkan kebaya ke generasi muda. Maka berdirilah PBI, atau Perempuan Berkebaya Indonesia. Tahun 2017 PBI menggelar “1.000 Perempuan Berkebaya” di Jakarta. 

Gebrakan ini dilanjutkan di Alun-alun Kabupaten Pekalongan lewat festival “Perempuan Berkebaya” yang diikuti 17.000 perempuan. Pada tahun 2019 ia menggelar Kongres Kebaya Nasional, yang diikuti 3.000 orang. Dari kongres itu muncul usulan Hari Kebaya Nasional 24 Juli, dan pendaftaran kebaya ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia. Pada tahun 2023 kebaya menembus Istana Kepresidenan lewat peragaan cantik “Istana Berkebaya”.

Setelah kebaya diterima secara nasional, ia menyosialisasikan kebaya ke masyarakat internasional. Di antaranya lewat acara “Kebaya Goes to United State” (2017), “Kebaya Goes to Tokyo” (2018), “Kebaya Goes to Bangkok” (2019). Dengan kebaya Rahmi Hidayati tidak henti berlari.

Henri Nurcahyo terus berpanji

Henri Nurcahyo, kelahiran Lamongan (Jawa Timur) 22 Februari 1959. Selepas pensiun sebagai wartawan Harian Memorandum, majalah Jakarta-Jakarta dan Harian Surabaya Post, ia bergiat di komunitas kesenian. Utamanya di Komunitas Panji.

“Saya bergerak di area ini karena cerita Panji saat ini kurang dikenal oleh masyarakat. Padahal cerita-cerita Panji adalah pusaka sastra lisan dan tulisan. Himpunan cerita yang lahir sejak zaman Kadiri abad ke-12, dan populer pada era Majapahit, abad ke-14,” kata Henri.

Henri Nurcahyo. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Ia pun membentuk komunitas Seni Budaya BrangWetan. Ia menggelar aneka lomba, perkuliahan di perguruan tinggi, penerbitan buku, dan pementasan. Termasuk memperkenalkan lagi cerita Panji di berbagai media massa. Dampak dari pengenalan ini, cerita Panji tersebar di seluruh daerah Nusantara. Bahkan dikenal di Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar. Maka tahun 2007 digelarlah Simposium Internasional Budaya Panji di Malang. Tahun 2008 di Trawas dan Candi Jolotundo, Jawa Timur.

“Orang sedunia tahun gedung teater Imax Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah. Tapi orang tidak tahu bahwa Keong Emas yang divisualkan itu bermula dari dongeng Panji,” kata Henri.

Yang menarik, Henri Nurcahyo, pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo dan penulis buku-buku seni, ternyata alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. ***

—-

*Agus Dermawan T.  Juri Anugerah Kebudayaan Bupati/Walikota se Indonesia versi Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, 2020, 2021, 2022, 2023, 2026.