Mengeja Gerak bersama Alexis Jestin

Oleh Razan*

Jika gerak saya bayangkan sebagai kata, maka saya bayangkan pula proses menyusun gerak seperti ketika seseorang menata bahasa. Ada saat ketika ia terasa jelas, ada saat ketika ia terdengar ganjil, dan pada saat lain justru kosong. Pertanyaannya pun bergerak ke wilayah yang serupa: sejelas apakah gerak itu diucapkan, kata apa yang dipilih, dan bagaimana ia dirangkai? Apakah sebagai perintah, cerita pendek, puisi, atau sesuatu yang kehilangan arti di tengah jalan.

  Pertanyaan-pertanyaan ini menyertai saya ketika saya bersama dua belas peserta lain mengikuti workshop bertajuk EKSPLORASI: Last Chapter of the Artventure “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, yang dibawakan oleh Alexis Jestin dari UNDERDOG Project. Workshop ini menjadi ruang bagi saya untuk kembali belajar mengucapkan gerak dari tubuh sendiri, mengeja ulang sesuatu yang selama ini saya anggap telah saya kuasai, hingga kegundahan muncul sebagai jeda yang tak bisa saya abaikan.

Alexis Jestin datang ke Solo, Indonesia, melalui keterlibatannya dalam program Artist-In-Residence yang difasilitasi oleh Studio Plesungan. Selama dua pekan, kegiatannya berpusat pada dua hal: berlatih pencak silat dan mengajar workshop tari. Secara profesional, Alexis bekerja sebagai penari, koreografer, sekaligus direktur UNDERDOG Project, yang ia kelola bersama kolega lainnya. Saat ini ia tinggal di Prancis dan aktif bekerja dalam ranah tari kontemporer di seputar Eropa, baik untuk karya-karyanya sendiri maupun sebagai penari bagi koreografer lain.

Di balik latar belakang tarinya, Alexis merawat ketertarikan yang berkelanjutan pada bela diri. Ia memulai dari Judo, berlanjut ke muay thai, krav maga, dan lainnya yang tidak tersebutkan oleh saya, sebelum akhirnya datang ke Indonesia untuk belajar pencak silat. Rangkuman singkat ini tentu tidak merangkum praktiknya yang telah berjalan lebih dari dua dekade, namun sebagai bayangan yang melatari susunan materi latihan yang ia bagikan selama workshop.

Workshop dibuka dengan rangkaian pemanasan yang berfokus pada pengolahan raga. Peserta mengikuti gerak yang diperagakan Alexis, sederhana namun intensif. Polanya memudahkan peserta untuk menghidupkan otot dan saraf, meskipun kerap terbelit oleh kehilangan keseimbangan, kekacauan koordinasi, atau napas yang tertinggal. Sesekali ia memberi ruang bagi peserta untuk menelusuri kemungkinan gerak dari badannya masing-masing, meskipun tetap dalam lingkup arahan yang Alexis berikan. Arahan gerak sering dimulai dari satu bagian badan yang spesifik, lalu meluas ke bagian lain. Pemanasan ini efektif untuk menyiapkan badan sebelum diajak bergerak lebih jauh. Sejauh pengamatan saya, pemanasan semacam ini jarang dilakukan secara konsisten dan dengan perhatian yang setara oleh banyak penari di Solo.

Salah satu pemanasan yang dilakukan saat workshop berlangsung (Dok. Studio Plesungan)

Kebebasan Yang Tidak Netral

Pertanyaan mulai muncul ketika melakukan gerak bebas. Meskipun pemilihan atas gerak yang dilakukan oleh peserta disebut “bebas”, kebebasan ini terasa mengganjal karena arah yang ditawarkannya tidak pernah benar-benar netral. Tafsir atas “kebebasan” yang ditawarkan mengerucut pada dorongan bergerak lebih besar dan lebih cepat, dilaraskan pada perluasan lingkar gerak. Tubuh diajak untuk menguasai ruang dan mengumpulkan semua kemungkinan gerak yang mungkin-ada, sebuah pola yang kerap muncul dalam latihan atau workshop berbasis tradisi tari modern Eropa.

Dalam silaunya cahaya kebebasan gerak ini, pertanyaan mulai bermunculan: kebebasan semacam apa yang sedang dicari? Atas dasar apa kebebasan ini dilakukan? Mengapa kebebasan ini harus melaju lebih cepat dan mengembang memenuhi ruang, bahkan jika itu berarti mengambil kebebasan gerak orang lain? Apakah luasan tafsir akan kebebasan ini membuka kemungkinan untuk memilih sebaliknya? 

Pertanyaan-pertanyaan ini bergandengan seperti gerbong kereta yang melaju cepat, menumpuk tanpa sempat berhenti.  Pada momen ini, pikiran justru bekerja seperti penjara yang paling ketat. Sembari berusaha leluasa dari penjara pertanyaan, saya mencoba melihat dari berbagai sisi dan kesempatan. Saya mendapati bahwa ada kesengajaan untuk tidak memberikan kami kesempatan untuk berada di pikiran terlalu lama, atau bahkan sama sekali. Pada salah satu latihan, kami dibagi menjadi dua kelompok dan secara bergantian bergerak selama tiga puluh menit. 

Tiap peserta memiliki “pemerintah”-nya masing-masing sebagai pasangan, yang akan memerintahkan peserta untuk mengganti pola gerak. Baik itu ragam gerak, kecepatan, besaran, ekspresi, semua aspek dari gerak harus sepenuhnya berganti ketika pemerintah memerintahkan untuk berganti pola gerak dengan kata “switch!” atau mengembangkannya dengan kata “develop!”. Tentu perintah ini tidak terjadi dalam jeda yang nyaman. Ia justru ditembakkan secepat mungkin, seketika penari mulai menciptakan pengulangan dan pola geraknya. Tidak ada kesempatan untuk mengulang hal yang sama selama tiga puluh menit. Setelah selesai, pemerintah kemudian menjadi yang diperintah, menerima ganjaran atas kekejamannya di sesi sebelumnya.

Mau tidak mau, perasaan yang terjadi selama tiga puluh menit mengeluarkan ingatan yang mengendap di dalam diri. Waktu yang digunakan dengan intensitas penuh memberikan keadaan yang memaksa ingatan untuk lepas menjadi gerak. Tubuh saya menjadi seperti karpet yang sedang dibersihkan. Prosesnya mengeluarkan seluruh debu masa lalu beserta ingatan dari mana debu itu berasal, termasuk yang sudah begitu lama dan sempat terlupakan. 

Tidak ada kesempatan untuk menimbang gerak apa yang lebih tepat, apa lagi yang belum dilakukan, pun untuk menemukan alasan di balik munculnya gerak seperti ini. Walaupun begitu, badan ini terus melakukan sesuatu. Ketegangan yang datang dari tekanan untuk patuh kepada pemerintah masing-masing menciptakan gelagat dan keputusan yang tidak mengakar pada pikiran. Tubuh menjadi sepenuhnya terkendali oleh naluri. 

Pada satu sisi, menarik untuk menyadari kesombongan saya dan pikiran saya yang sebetulnya sangat bergantung pada naluri tanpa disadari. Walaupun begitu, pertanyaan tentang kepatuhan di bawah tekanan tanpa ruang untuk berpikir kritis tetap tertinggal, dan saya menunda jawaban yang tergesa-gesa.

Momen workshop bersama Alexis Jestin di Studio Plesungan (Dok. Studio Plesungan)

Menemukan Rambatan

Selain latihan individual, Alexis membagi peserta ke dalam duet, trio, quartet, hingga kerja kelompok besar. Bagian ini menjadi titik di mana kebebasan gerak mulai menemukan alur dan jalurnya. Bekerja dengan orang lain memberi arah untuk meniti “kebebasan” gerak yang sebelumnya membutakan, sehingga kebebasan tidak begitu terasa mengutuk. Arah ditentukan bersama, saling memantik gerak antara satu dengan yang lain.

Sebagian latihan kelompok dikenalkan sebagai permainan yang terinspirasi dari bela diri, sebagian lain diarahkan sebagai proses kreatif untuk membangun koreografi. Percakapan mulai terasa sebagai dorongan yang lebih nyata untuk bergerak, baik itu dikerjakan sebagai percakapan yang ternaskah, maupun dilakukan sebagai bincang-bincang spontan. Tubuh diajak untuk tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan, lalu menyampaikan sesuatu berdasarkan apa yang ia terima. Meskipun percakapan tidak selalu berjalan lancar dan harmonis, kebebasan gerak tidak lagi terasa tanpa marka. Gerak menemukan rambatannya pada garis percakapan yang digambar bersama oleh anggota kelompok.

Paten yang Mateni 

Kerja kelompok itu kemudian berganti dengan latihan yang bagi saya menjadi yang paling sulit. Bukan karena ia menguras tenaga atau menuntut teknik yang rumit, melainkan karena sesi ini meminta saya mematenkan identitas sebagai sebuah teks. Alexis mengajak kami menyusun naskah perkenalan diri yang kemudian harus dibacakan dengan suara dan gestur yang setebal, sebesar, dan seyakin mungkin. Alexis mengarahkan kita untuk menyampaikan identitas kami sampai pada lapisan yang otentik dan intim, dengan kepribadian yang lantang dan penuh percaya diri. Identitas terasa seperti merek yang profilnya harus ditawarkan dengan yakin agar menarik, seperti vendor yang sedang pitching ke perusahaan besar.

Tema identitas ini segera menyulam kembali pertanyaan-pertanyaan lama di kepala saya, hingga tubuh saya kembali terasa ditekan. Saya tidak tertarik menyampaikan identitas diri dengan cara seperti ini, karena usaha mengukuhkan identitas terasa seperti membanggakan tembok yang justru berdiri di depan diri saya sendiri. Ia mengajak kami untuk menyuarakan identitas dengan cara yang lantang sekaligus intim. Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah pelantangan ini menuntut saya untuk menyuarakan identitas dengan nada yang merdu, dengan memilih kepingan hidup tertentu, misalnya sebagai laki-laki yang tumbuh dewasa di rumah tanpa sosok perempuan, atau sebagai anak yang tidak hadir di pemakaman ayahnya sendiri?

Atau apakah berarti sisi semacam itu tidak perlu saya tampilkan sebagai sesuatu yang membentuk jati diri, karena ia justru tak terdengar cerah? Apakah saya harus menyusun definisi atas diri seputih mungkin, sehingga tidak memerlukan yang hitam dalam diri saya? Bagaimana caranya meletakkan bayangan yang melekat pada diri? Identitas mencoba mengukuhkan “saya” pada sepotong daging yang bertabur DNA warisan leluhur. Dengan begitu, identitas yang paten terasa mateni1 jati dalam diri yang terus berubah karena ia hidup. Tabir identitas ini tanpa disadari menghalangi tatapan matahari untuk menghangatkan belukar jati diri yang mengakar, bergantung pada suburnya tanah yang carut dan kotor.

Penjajah Dibalik Lidah

Saya akui ada keengganan dalam diri saya untuk membahasakan identitas karena kerasnya bingkai yang menentukan bagaimana ia perlu mengucapkannya, dan saya terlalu gelisah untuk berdamai dengan bingkai itu. Adapun demikian, kegelisahan ini saya kira tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Beberapa hari sebelum workshop, saya membaca tulisan Abdul Karim berjudul Mardika yang dibagikan oleh Bapak Halim HD melalui WhatsApp. Tulisan tersebut menjelaskan dengan padat, bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai perangkat penjajahan.

Tulisan tersebut menyatakan bahwa penjajahan paling awet tidak selalu dapat dilihat dari apa yang tertancap di tanah, melainkan dari apa yang tertancap di lidah. Tulisan ini sedikit terasa getir, karena sembari membaca saya dapat merasakan lembutnya penjajah yang bersemayam di dalam lidah saya sendiri, mengatur arah dan pergerakannya. Penjajahan lewat bahasa bekerja dengan ketajaman yang halus, menyilet hubungan seseorang dengan rumah pikirannya.

Penjajahan tidak sekadar mengubah kata-kata, tetapi juga mengusir pikiran dari rumahnya sendiri. Tak seperti penjajahan yang kerap digambarkan berlangsung di tengah medan perang, penjajahan lewat bahasa justru terjadi di ruang kelas dan sekolah, kini diperkuat oleh media sosial. Ia memaksa bukan melalui senjata, melainkan melalui tawa dan cibiran yang membuat kita malu pada bahasa yang tumbuh dari tanah sendiri. Maka bukan tidak mungkin lidah kita yang putus itu dipotong dengan silet yang berada di tangan kita sendiri.

Tulisan Abdul Karim membekas, terutama ketika saya menyadari bahwa dalam konteks workshop ini bahasa tidak berhenti di lidah, melainkan menjalar ke seluruh tubuh. Latihan gerak dengan teks monolog, percakapan yang dibangun melalui gerak, mempertebal kesan bahwa workshop ini berangkat dari pemahaman bahwa gerak adalah kata, dan rangkaiannya menyampaikan suatu bahasa.

Apakah ini berarti kami sedang disilet? Saya kira belum tentu. Bisa jadi, hubungan saya dengan rumah pikiran saya memang telah terputus sejak kedatangan saya pada hari pertama, dan workshop ini sekadar menjadi sorotan yang membuatnya tampak dengan lebih jelas.

Slowly-Slowly

Saya membuat jalan keluar dari kekusutan yang saya buat sendiri dengan menyikapi workshop ini sebagai sebuah proses bahasa yang bagi saya baru. Sebagai bagian dari pembelajaran, menjadi tanggung jawab saya untuk memahami kerangka gramatika dari bahasa yang dibagikan. Saya mencoba mempelajari kebakuannya, sembari tetap memperhatikan cara kerja di balik kerangka tersebut, agar ia dapat dikerjakan kembali sebagai kerangka baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan saya.

Salah satu acuan saya pada bagian ini adalah pengalaman mengikuti latihan gerak bersama Mbah Suprapto Suryodarmo di Galeri Seni Rupa TBJT, bersama penari-penari dari CCDC Taiwan. Saya memperhatikan bahasa Inggris yang ia gunakan ketika berbicara. Jika dinilai dengan standar baku, bahasa Inggrisnya mungkin akan dianggap tidak fasih, bahkan berantakan. Meskipun begitu, sebagai orang Indonesia, saya mendengar kata-kata yang ia ucapkan bukan sebagai ujaran yang tanpa kerangka.

 Dari kalimat-kalimatnya, saya merasakan adanya dasar kerangka bahasa Inggris yang cukup teratur untuk dipahami oleh mereka yang bertumpu pada bahasa Inggris baku, sekaligus cukup sederhana bagi orang Indonesia dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas. Di balik kesederhanaan itu, bahasa yang ia gunakan ditopang oleh kerangka bahasa Jawa dan Indonesia, yang menjadi krusial dalam menyampaikan perumpamaan, alegori, serta konteks yang sulit dijangkau apabila hanya bergantung pada bahasa Inggris baku.

Salah satu contoh sederhana yang masih sering saya dengar ketika berlatih bersama Bapak Sitras Anjilin dan Bapak Agus Bimo (murid dan rekan baik mbah Suprapto Suryodarmo) adalah ungkapan “slowly, slowly”. Ungkapan ini biasanya muncul pada momen ketika suatu gerak atau aktivitas yang sedang berlangsung perlu dihentikan secara bertahap, dengan cara “pelan-pelan”. 

Dalam kerangka bahasa Inggris yang baku, pengulangan kata “slowly-slowly” dapat dianggap tidak tepat, karena bahasa Inggris tidak dirancang untuk menekankan makna melalui pengulangan. Namun, hal ini menjadi menarik ketika ditarik ke dalam konteks bahasa Indonesia, khususnya kepekaan budaya Jawa. Perbedaan antara “pelan-pelan” dan “pelan” atau “perlahan” tidak semata terletak pada arti harfiahnya, melainkan pada rasa yang dikandungnya. 

Hal ini mungkin berkaitan dengan nalar masyarakat Jawa yang tidak hanya bertumpu pada kebenaran bentuk (bener), tetapi juga pada ketepatan situasional (pener). Sesuatu dapat benar secara struktur, namun belum tentu tepat dalam rasa dan konteksnya. Mbah Prapto tampaknya menyadari bahwa meskipun bahasa Inggris yang ia gunakan tidak sepenuhnya patuh pada kaidah baku, justru pada ketidakpatuhan itu ia menemukan ketepatan dalam menyampaikan maksud.

Saya mencoba melatih keluwesan yang saya pelajari dari strategi berbahasa Mbah Prapto ke dalam pengalaman saya di workshop ini. Seperti frasa yang kerap Alexis ucapkan di dalam kelas, tiap jengkal gerak tubuh saya merupakan upaya untuk “bermain dengan serius”. Saya berusaha belajar dari bambu yang lentur namun tidak mudah terbawa angin, dari lumpur yang cair namun tidak mudah menguap. Selayaknya Raden Saleh yang mendesain beschaafd atau beskapnya sendiri, karena ia tidak sepenuhnya merasa Eropa maupun Jawa, saya mencoba mengenakan untaian kata-kata yang terasa lebih pas namun tetap pantas. Saya kira ini menjadi pelajaran yang berharga, sekaligus satu tahap untuk bekerja dengan krisis-krisis dalam diri.

Presentasi hasil workshop di Wisma Seni TBJT (Dok. Studio Plesungan)

Jelas-Jelas Tidak Jelas

Workshop ini saya manfaatkan sebisa mungkin untuk kembali belajar mengeja gerak dengan jelas. Alexis mencurahkan seluruh energinya untuk menajamkan gerak yang dibuat oleh masing-masing peserta. Saya tertegun oleh komitmen yang ia perlihatkan melalui perhatian yang teliti. Ia membaca, lalu mengajukan kemungkinan atas bunga gerak yang dilakukan peserta.  Dari pembacaan itu, Alexis tidak menawarkan bentuk yang sepenuhnya berbeda. Fokusnya adalah mengerjakan ulang gerak yang sudah ada agar menjadi padat dan jelas. Sesekali ada bagian yang ia potong dan buang, meskipun tidak selalu. Tampaknya ia menilai gerak tersebut terlalu bertele-tele.

Barangkali tawaran gerak yang diberikan Alexis tidak selalu selaras dengan keinginan peserta. Namun demikian, upayanya dalam menajamkan gerak justru memperlihatkan adanya ketidakjelasan pada keinginan atau dorongan yang mendasari gerak peserta, sehingga gerak tersebut terasa menggantung dan tidak jernih.Sembari memperhatikan Alexis yang sedang menajamkan gerak dengan penuh semangat, saya mulai memilah dua hal di kepala saya. Keduanya muncul menjadi semacam dua frasa berikut: ketidakjelasan yang jelas, dan jelas-jelas tidak jelas.

 Saya mencoba memahami bahwa sumber ketidakjelasan yang kerap “diserang” oleh Alexis bukanlah jenis ketidakjelasan yang jelas, yang rujukannya bagi saya mengarah pada tata cakap ala Solo. Tata cakap ini sebetulnya berangkat dari niat atau maksud yang jelas dari dalam, lalu diekspresikan melalui wujud yang meliuk atau memutar. Akibatnya, susunan kata terasa melengkung dan majal. Kata tidak menjelma tombak lurus yang tajam menghunus.

Pengalaman “jelas dalam ketidakjelasan” sebagai bahasa gerak saya temukan dalam Tari Klasik Gaya Surakarta. Proyeksi geraknya selalu menghindari garis lurus yang tajam dan kaku antara titik awal dan akhir, namun justru memberi perhatian besar pada titik-titik di antaranya, untuk menemukan aliran lengkung yang pas. Ia seperti bercakap sambil mengarungi sungai, di mana liku-likunya menjaga arus agar tidak terlalu deras, menciptakan hubungan antara hulu dan hilir melalui lekukan yang terjaga.

Dalam workshop ini, Alexis justru menerkam poin kedua: “ketidakjelasan dalam menjelaskan”. Gerak yang saya maksud pada poin ini adalah gerak yang muncul di permukaan tubuh tanpa kesiapan dari dalam. Dorongan yang mendasarinya tidak cukup kuat untuk mengampu gerak secara kokoh. Ketidakjelasannya mengakar dari dalam, menyebabkan gerak menjadi terlalu cepat lapuk karena tidak cukup padat untuk menciptakan getaran yang meruang. Kalau begitu, dari mana asal ketidakjelasan ini? 

Saya duga salah satu sumber ketidakjelasan ini muncul dari panduan Alexis untuk mendasarkan koreografi peserta pada signature move (gerak khas). Gerak khas ini ia rujuk sebagaimana penari breakdance kerap memiliki satu gerak yang terus ia ulang sebagai penanda dirinya. Saya sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa saya memiliki satu gerak semacam itu, namun pada akhirnya saya memilih gerakan yang paling saya kuasai secara teknis dan paling mudah saya akses pengalaman rasanya. Menjelang presentasi, justru saya mendapati bahwa “gerak khas” ini menjadi jebakan yang licin, baik disadari oleh Alexis atau tidak.

Presentasi hasil workshop di Wisma Seni (Dok. Studio Plesungan)

Gerak Yang Kelu di Lidah

Arahan untuk mendasarkan koreografi pada signature move justru menguak satu sisi ironi pada banyak penari: predikat “penari” tidak serta-merta menjamin bahwa seseorang memahami gerak yang sesuai dengan tubuhnya sendiri. Gerakan khas malah menampakkan kerenggangannya dengan tubuh yang melakukannya. Ia tampak seperti sepotong pakaian yang tidak muat, atau justru terlampau besar bagi pemiliknya sendiri. Kekhasan itu meleset, seperti kaos bertuliskan kata-kata yang arti katanya tidak dipahami oleh orang yang mengenakannya.

Alih-alih menjadi cara untuk memperlihatkan potensi terbaik, “metode” gerakan khas ini justru menyingkap kerak di balik ketiak. Gelar pendidikan tari formal yang tersemat di namanya pun tak bisa menjamin bahwa ia mawas terhadap tubuhnya sendiri, atau bahwa gerakan khas yang ia pilih berangkat dari “kata-kata” yang sungguh dipahami oleh tubuhnya. Gerak pun terasa kelu di lidah. Keasingan ini membuat gerak gagal menjembatani rasa.

Charging Energy

Sebagai halte terakhir dari pembicaraan tentang bahasa di dalam workshop ini, Alexis memperlihatkan satu elemen yang saya kira sangat relevan ketika tubuh diandaikan sebagai wahana komunikasi: energi. Arahannya tidak terbatas pada arti kalimat-kalimat yang ia ucapkan, melainkan juga tersalur melalui energi yang menyertai kehadirannya. Energi ini tidak hanya ia lontarkan lewat suara lantang ketika mengajak kami untuk lebih bersemangat, tetapi juga terpancar dari keberadaan tubuhnya sendiri.

Dalam hal ini, saya membayangkan Alexis sebagai sebuah mesin tenaga—atau, mungkin lebih tepatnya, sebuah charger, yang hingga kini belum saya temukan padanan maknanya dalam bahasa Indonesia. Pada lapis pertama, charger saya pahami sebagai perangkat yang mentransfer energi kepada peserta: sesekali melalui aliran yang stabil, lebih sering lewat setruman yang melejit. 

Ia memastikan baterai setiap peserta tidak kosong, sehingga durasi enam jam tidak terasa berlarut-larut. Pada lapis kedua, charger juga bermakna sebagai penyerang, dan watak inilah yang paling kentara memperlihatkan bahasa bela dirinya. Ia terus “menyerang” kami melalui gerak dan gestur yang cepat, memaksa kami untuk tetap waspada dan terus memperhatikan.

Selain itu, ia juga men-charge kami dengan cara menarik energi kami keluar, seakan energi yang ia setrumkan ke tubuh kami dipancing untuk mengalir kembali ke tubuhnya. Mengajar secara intensif selama lima hari jelas bukan perkara mudah, dan pancingan ini menjadi beralasan agar putaran energi di dalam ruang tetap berjalan. Peserta ditantang untuk cermat mengelola energi, sekaligus tidak lupa membagikannya kembali kepada Alexis dan sesama peserta. Kadang upaya ini berhasil, meskipun energi tersebut diekspresikan melalui bahasa yang tidak selalu dipahami Alexis. 

Hal ini menarik, namun datang dengan catatan yang tebal dan bergaris bawah: bagaimana dan sejauh mana energinya dapat menyentuh dan merasuk ke tubuh lain, dan sebanyak apa energi yang pantas dipancing untuk diberikan kepadanya? Tentu, karena ia energi, cara paling pas adalah dengan merasakannya, dengan sadar bahwa setiap tubuh adalah baterai energi yang berbeda.

Alexis dapat saya lihat sebagai sosok yang bermurah hati dengan energinya; baterai yang ia miliki cukup besar untuk menyokong seluruh peserta workshop. Saya kira keterbukaan semacam ini jarang saya temui dalam proses pedagogis di Solo. Percakapan kerap berlangsung satu arah, menjadikan pihak lain pasif dan tidak memiliki ruang untuk mengolah energi yang ia terima, apalagi membagikannya kembali. Pelestariannya kini mencetak generasi domba yang tidak punya keberanian untuk menyusun pertanyaan, bahkan sejak di kepalanya sendiri.

Pemanasan bersama Alexis ketika workshop di mulai (Dok. Studio Plesungan)

Energi menjadi elemen mendasar dalam proses pengejaan kata dan berbahasa lewat gerak di workshop ini. Jika tubuh adalah sebuah rongga mulut, maka gerak bukan sekadar bunyi yang dikumur, melainkan ucapan yang benar-benar menempuh jarak. Alexis dengan tekun terus mengajak kami agar gerak tidak berhenti dan habis dikunyah sendiri, tetapi benar-benar dilepas untuk menjangkau lawan bicara; tubuh lain, ruang, dan publik yang menyaksikan. Dalam pengertian ini, energi menjadi gelombang suara yang menghantarkan kata agar tidak gugur di tengah jalan. Agar mata tidak jatuh ke lantai, jari-jari tidak layu dan rontok, dan dorongan dari dalam tidak retak karena pikiran yang belum tuntas.

Workshop ini usai dengan kesadaran yang tertanam bahwa setiap tubuh adalah bahasa, yang terus menemukan kalimat-kalimat baru sembari belajar mengejanya. Tidak seperti tulisan di atas kertas yang dapat dihapus, gerak yang ditorehkan tidak dapat ditarik kembali dan akan terekam dalam ruang-waktu. Maka, kejelasan gerak tidak lagi semata menyoal keindahan bentuk atau keberanian mengambil ruang, melainkan menyangkut tanggung jawab dalam menyatakan sesuatu.

—–

2 Februari 2026

1 Kata “mateni” berasal dari kata “pati” atau “mati”, yang juga merupakan kata induk dari kata “paten”. Saya merujuk pada luasan kata “mateni” yang berarti mendiamkan, memadamkan, atau membunuh. Arti yang sering saya temui dalam percakapan sehari-hari dalam bahasa Jawa ngoko.

—–

*Razan adalah seorang seniman yang berbasis di Solo, Indonesia. Ia lulus dari Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia mulai menekuni praktik tari pada tahun 2010, belajar melalui beragam ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Sejak berpindah ke Solo, ia terus mengembangkan praktik artistiknya melalui pendampingan berkelanjutan bersama Melati Suryodarmo yang dimulai pada tahun 2018. Praktiknya memandang tubuh sebagai ruang fisik sekaligus temporal, di mana gerak menjadi percakapan antara jantung dan jiwa, antara cahaya dan bayangannya. Konsep rasa memegang peran sentral dalam karyanya sebagai sebuah sistem persepsi yang membuka akses pada ingatan tersembunyi dan pengetahuan naluriah. Melalui kerja lintas wahana seperti tari, seni performans, film, dan fotografi, ia meninjau kembali sejarah untuk menelusuri sensasi dan pengalaman rasa yang kerap terabaikan oleh budaya arus utama kontemporer.