Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso
Oleh Gus Nas Jogja*
Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi optik dalam alam semesta yang terus mengalir.
“Rahasia untuk memanen keberhasilan terbesar dan kenikmatan terbesar dari keberadaan adalah: hiduplah dengan berbahaya! Bangunlah kota-kotamu di lereng Gunung Vesuvius!”
— Friedrich Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft.
Nietzsche tidak sedang menyarankan kita untuk bunuh diri secara fisik, melainkan untuk membunuh “kenyamanan mental” yang membuat kita menjadi manusia kawanan (herd mentality). Hidup berbahaya adalah hidup yang berani menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan kegembiraan.
Anatomi Sastra Vivere Pericoloso adalah sebuah undangan untuk kembali menjadi manusia yang utuh melalui tajamnya kata-kata. Di dunia yang dikepung oleh algoritma prediktif dan narasi-narasi instan yang menjanjikan kebahagiaan ataupun kemapanan palsu, hidup yang berbahaya melalui sastra dengan diksi puitis adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa.
Kita tidak dipanggil untuk menjadi penyair ruang tamu yang hanya memuji warna bunga atau keindahan vasnya. Kita dipanggil untuk menjadi saksi badai, menyadari bahwa setiap huruf yang kita susun adalah pertaruhan nyawa spiritual. Sebagaimana pesan terakhir dari para penjaga api literasi:
“Pilihlah hidup yang berbahaya, karena di sana—di ambang jurang, di tubirnya—kau tidak hanya melihat kedalaman, tetapi kau belajar bagaimana caranya menumbuhkan sayap.”
Penalaran Etika dan Pengutaraan Estetika di Ambang Jurang
Mengapa kita harus hidup berbahaya? Karena perdamaian yang sejati bukanlah ketiadaan konflik, melainkan kehadiran keberanian untuk menegakkan keadilan di tengah badai. Martin Luther King Jr. –Penerima Nobel Perdamaian 1964– memberikan anatomi penting bagi konsep ini. Beliau mengajarkan bahwa ada bahaya yang lebih besar daripada ancaman kematian: yaitu bahaya diamnya orang-orang baik di tengah kejahatan.
Hidup berbahaya berarti berani keluar dari zona nyaman moral. Ini adalah hidup yang dipilih oleh Nelson Mandela –Peraih Nobel Perdamaian 1993, yang menyadari bahwa kebebasan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma oleh penindas; ia harus direbut melalui kehidupan yang penuh risiko. Dalam anatomi ini, bahaya bukan lagi ancaman fisik, melainkan “ketidaknyamanan sosial” yang muncul saat seseorang berdiri melawan arus ketidakadilan.
“Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemenangan atasnya. Orang yang berani bukanlah dia yang tidak merasa takut, tetapi dia yang menaklukkan rasa takut itu.”
— Nelson Mandela.
Di sebuah masa di mana kenyamanan telah disembah sebagai Tuhan baru dan kepastian dianggap sebagai hak ilahi, frasa Vivere Pericoloso—hidup yang menyerempet bahaya—muncul bukan sekadar sebagai slogan provokasi politik, melainkan sebagai sebuah anatomi sastrawi, spiritual, dan yuridis. Ia adalah sebuah gugatan terhadap narasi yang “terlalu steril”, sebuah perlawanan estetis terhadap jiwa-jiwa yang memilih membusuk dalam keamanan bahasa daripada mekar dalam risiko metafora.
Dalam sastra, hidup berbahaya berarti berani menuliskan apa yang dilarang oleh nurani yang pengecut. Sebagaimana renungan Albert Camus –Penerima Nobel Sastra 1957, sastra bukanlah hiburan bagi mereka yang ingin lari dari dunia, melainkan alat untuk terjun ke tengah-tengah penderitaan manusia. Namun, di balik keberanian itu, muncul sebuah lapisan gelap: Mens Rea—niat jahat yang sering kali bersembunyi di balik jubah hukum yang kaku.
Perjamuan di Lereng Gunung yang Bergetar
Alkisah, di sebuah negeri yang sangat aman, penduduknya membangun dinding yang sangat tebal untuk menghindari angin, hujan, dan ide-ide baru. Mereka makan makanan yang sudah dipasteurisasi dan berpikir dengan pikiran yang sudah disensor oleh algoritma kenyamanan.
Suatu hari, seorang pengembara datang membawa obor dan menari di tepi jurang yang membatasi desa mereka. Kepala desa berteriak, “Hati-hati! Kau akan jatuh! Hidup itu untuk dijaga, bukan untuk dipertaruhkan!”
Si pengembara berhenti sejenak, menatap mereka dengan mata yang berkilat api, lalu menjawab: “Tuan, kalian mengira kalian sedang menjaga hidup, padahal kalian hanya sedang mengawetkan kematian. Kalian tidak jatuh karena kalian sudah berada di dasar, terkubur oleh ketakutan kalian sendiri. Aku menari di tepi jurang agar aku tahu bahwa aku masih memiliki keseimbangan. Bahaya adalah bumbu yang membuat napasku terasa manis.”
Malam itu, gunung meletus. Penduduk desa terjebak dalam dinding mereka sendiri yang kokoh, sementara si pengembara sudah tahu cara berlari di antara aliran lava karena ia sudah lama mempelajari bahasa bahaya.
Mens Rea: Hantu di Balik Teks Hukum
Dalam anatomi hidup yang berbahaya, kita sering berbenturan dengan sistem hukum yang hanya mampu menyentuh permukaan. Mens Rea atau guilty mind adalah jantung dari setiap pengadilan, namun dalam praktiknya, ia sering kali menjadi alat bagi kekuasaan untuk menjerat nurani. Sastra Vivere Pericoloso hadir untuk membedah niat ini. Ia mempertanyakan: apakah seseorang yang mencuri roti karena kelaparan memiliki Mens Rea yang sama dengan penguasa yang mencuri masa depan bangsa melalui kebijakan ekstraktif?
Hukum sering kali pincang karena ia terpaku pada Actus Reus atau “perbuatan nyata” tanpa mampu menyelami kedalaman spiritual dari motivasi manusia. Anatole France –Penerima Nobel Sastra 1921– secara satir pernah menulis: “Hukum, dalam keagungannya yang setara, melarang orang kaya maupun orang miskin untuk tidur di bawah jembatan, mengemis di jalanan, dan mencuri roti.” Di sinilah keadilan menjadi pincang; ia memperlakukan ketidaksetaraan dengan standar kesetaraan yang palsu.
Anatomi vivere pericoloso juga dapat ditemukan dalam pemikiran Albert Camus –Penerima Nobel Sastra 1957. Dalam esainya The Myth of Sisyphus, Camus berargumen bahwa hidup adalah absurd. Menghadapi absurditas ini tanpa melarikan diri ke dalam agama yang buta atau bunuh diri filosofis adalah bentuk tertinggi dari hidup yang berbahaya.
Hidup yang berbahaya adalah hidup seorang “pemberontak” atau “The Rebel”. Pemberontak adalah dia yang berkata “tidak” pada ketertindasan, meskipun ia tahu bahwa perlawanan itu membahayakan posisinya. Bagi Camus, kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita berani menatap mata monster absurditas dan terus menari.
Hukum yang Pincang dan Keadilan yang Menepi
Ketika hukum kehilangan jiwanya, ia hanya menjadi sekumpulan prosedur yang melindungi mereka yang memiliki kuasa untuk menuliskan hukum tersebut. Aleksandr Solzhenitsyn –Penerima Nobel Sastra 1970– mengingatkan kita bahwa masyarakat yang hanya berpegang pada hukum tanpa moralitas adalah masyarakat yang merosot.
Hukum yang pincang adalah hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke samping dan ke atas—ke arah penguasa dan kawan sejawat pemegang kuasa. Sastra Vivere Pericoloso adalah upaya untuk meluruskan kaki keadilan yang pincang tersebut. Ia menuntut agar hukum tidak hanya menjadi teks yang dingin, melainkan napas yang memberikan perlindungan bagi yang lemah.
“Keadilan yang tertunda adalah keadilan yang ditolak, tetapi hukum tanpa nurani adalah kejahatan yang dilegalkan.”
— Renungan atas pemikiran para pejuang keadilan.
Hakim dan Timbangan yang Berlubang
Alkisah, di sebuah pengadilan yang sangat megah, seorang hakim memegang timbangan yang terbuat dari emas. Namun, timbangan itu memiliki lubang kecil di bagian bawahnya. Setiap kali orang kaya menaruh koin emas di sana, koin itu jatuh ke dalam laci sang hakim, membuat timbangan tetap terlihat seimbang meski bebannya berat sebelah.
Seorang penyair yang dituduh “hidup berbahaya” karena puisinya, berdiri di depan hakim dan berkata: “Tuan, kau mengadili perbuatanku, tapi kau tidak pernah mampu mengadili niatku (Mens Rea). Kau melihat aku melanggar aturanmu, tapi kau buta terhadap caramu melanggar nurani dunia.”
Hakim itu tertawa, “Di sini kita bicara tentang pasal, bukan tentang nurani.”
Penyair itu menjawab, “Itulah sebabnya keadilanmu pincang. Kau punya kaki hukum yang kuat, tapi kau tidak punya kaki moral untuk berjalan menuju kebenaran. Kau hanya berdiri diam di atas tumpukan kertas, sementara dunia di luar sana sedang terbakar.”
Spiritualitas Bahaya: Menghidupkan Sastra yang Berdenyut
Anatomi ini juga berakar pada pemikiran Ernest Hemingway –Penerima Nobel Sastra 1954. Baginya, menulis adalah keberanian untuk menatap maut tanpa kehilangan kehormatan. Dalam konteks hukum, hidup berbahaya berarti berani menjadi “pembangkang sipil” atawa civil disobedience ketika hukum itu sendiri sudah menjadi alat penindasan.
Wislawa Szymborska –Penerima Nobel Sastra 1996– menunjukkan bahwa hidup berbahaya bisa berarti tetap setia pada “ketidakpastian” daripada menyerah pada dogma yang kaku. Keadilan yang sejati sering kali ditemukan di luar gedung pengadilan, di dalam percakapan sunyi antara manusia yang saling menghargai martabat.
Spiritualitas Bahaya: Menemukan Tuhan di Tengah Badai
Dalam visi spiritual, hidup berbahaya berarti melepaskan berhala-berhala kepastian. Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14 –Penerima Nobel Perdamaian 1989, sering menekankan bahwa keterikatan pada hasil adalah sumber penderitaan. Anatomi vivere pericoloso dalam tasawuf atau mistisisme timur adalah “mati sebelum mati”.
Keberanian untuk melepaskan ego adalah risiko terbesar yang bisa diambil manusia. Ketika seseorang berani hidup tanpa pelindung ego, ia berada dalam kondisi yang paling berbahaya bagi sistem dunia yang materialistik, karena ia tidak lagi bisa disuap dengan kenyamanan atau diancam dengan kemiskinan.
“Tragedi yang sebenarnya bukanlah kematian, melainkan apa yang mati di dalam diri kita saat kita masih hidup.”
— Albert Schweitzer
Anatomi Sastra Vivere Pericoloso pada akhirnya adalah undangan untuk memulihkan keadilan yang pincang. Kita tidak dipanggil untuk menjadi penonton saat hukum digunakan untuk membelenggu kebenaran. Kita dipanggil untuk masuk ke tengah arena, membedah niat jahat (Mens Rea) para penindas, dan menawarkan narasi baru yang lebih manusiawi.
Pilihlah hidup yang berbahaya: hidup yang berani mempertanyakan keabsahan hukum yang tidak adil. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak pasal yang kau patuhi, melainkan berapa banyak kebenaran yang kau bela saat semua orang memilih untuk diam.
—-
Catatan Kaki dan Rujukan ilmiah
Albert Camus, The Rebel. Menghadapi hukum yang absurd dengan pemberontakan moral.
Mens Rea vs Actus Reus: Prinsip fundamental hukum pidana yang dalam praktiknya sering kali dipelintir untuk kepentingan politik.
Anatole France, The Red Lily. Kritik tajam atas kesetaraan semu di hadapan hukum.
Bung Karno, Vivere Pericoloso. Keberanian sebuah bangsa untuk menentukan hukumnya sendiri di atas tanahnya sendiri.
Nelson Mandela (Nobel Perdamaian 1993): Contoh nyata bagaimana “kejahatan” menurut hukum kolonial adalah tindakan tertinggi menuju keadilan manusia.
Camus, A. (1951). The Rebel. Paris: Gallimard.
France, A. (1894). Le Lys rouge. Paris: Calmann-Lévy.
Solzhenitsyn, A. (1974). The Gulag Archipelago. Harper & Row.
Szymborska, W. (1996). View with a Grain of Sand. Harcourt Brace.
Hart, H.L.A. (1961). The Concept of Law. Clarendon Press. (Tentang hubungan antara hukum dan moralitas).
—–
*Gus Nas Jogja, Budayawan.





