Pos

Tubuh yang Cair dalam Persimpangan Budaya

Oleh: Brusheila Devi Proboyasti* Kritik atas “Bedhaya Hagoromo” dalam Indonesian Dance Festival 2024 Pada 2 November 2024, rangkaian Indonesian Dance Festival (IDF) 2024 resmi dibuka di Jakarta. Festival dua tahunan yang telah lama menjelma menjadi ruang penting bagi perkembangan tari kontemporer, baik di kancah nasional maupun internasional, pada festival tersebut mengusung tema “Liquid Ranah”. Tema […]

Arsip dan Masa Depan Sejarah Musik Indonesia

Oleh Abad Akbar*   Arsip menjadi jembatan antara masa kini dan masa lalu. Melalui arsip kita mampu memahami apa yang pernah terjadi maupun apa yang tidak terjadi. Sering kali foto atau surat yang tiba-tiba kita temukan memunculkan kembali berbagai kenangan tentang suatu masa. Begitulah pentingnya peran arsip dalam kehidupan kita. Terlepas dari itu, kehadiran arsip […]

Menari dalam Perubahan Zaman

Oleh Purnawan Andra* Hari Tari Internasional setiap 29 April sering kita rayakan dengan panggung, kostum, dan pertunjukan yang tertata rapi. Tari tampil sebagai sesuatu yang indah, terlatih, dan layak ditonton. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana nasib tari di tengah perubahan kehidupan kita hari ini? Apakah ia masih hidup sebagai […]

Musik Klasik Bukan Antek Asing: Sebuah Catatan Ananda Sukarlan dari Lampung & Samarinda

Oleh Ananda Sukarlan* Sebagai seorang komponis dan pianis klasik yang mendalami tradisi Bach, Tchaikovsky dan Debussy, saya percaya bahwa musik bukan hanya hiburan dan hiasan kehidupan tetapi esensi kehidupan itu sendiri — bahasa universal yang melampaui batasan geografi, budaya, dan waktu. Selama bertahun-tahun tampil baik untuk penonton berjumlah besar, konser daring tanpa penonton langsung (terutama […]

Mendekonstruksi Konstruksi Makna Lengger Lanang

Oleh Purnawan Andra* Lengger selama ini sering dipahami sebagai sesuatu yang seolah-olah sudah jelas. Ia adalah tarian rakyat Banyumasan yang lekat dengan tubuh perempuan, hadir dalam ritus, tumbuh dari lanskap agraris, dan mengakar dalam ingatan kolektif. Lengger menari untuk panen, untuk kesuburan, untuk menjaga hubungan antara manusia dan alam.  Dalam banyak ingatan kultural, lengger adalah […]

Peta Buram: Membaca Wajah Perteateran Kota Malang

Catatan dari Forum Serat, DKM Malang — 15 April 2026 Oleh Yusuf Munthaha* Ada sesuatu yang menarik ketika Bayu Kresna Murti menyebut peta perteateran Malang sebagai “invisible map” — peta yang ada, tapi sulit dibaca. Bukan karena petanya hilang. Tapi karena kita mungkin belum cukup serius duduk bersama untuk menggambarnya. Forum Serat yang digelar Dewan […]

Memasak Identitas, Merebut Posisi: Simbolisme Hierarki dan Trauma dalam Karya Tari Kontemporer Lu Olang

Oleh Favio Soares Pinto* Deskripsi karya: Pertunjukan diawali dengan seorang perempuan berdiri di tengah panggung gelap. Ia berada di atas empat bangku kayu kecil, tepat di bawah sorotan lampu panggung (spotlight) yang terang dan membentuk lingkaran. Perempuan itu mengenakan pakaian tradisional berwarna gelap bergaya Tionghoa dan memegang tumpukan empat mangkuk putih dengan kedua tangan di […]

Sinau Nge Jazz Sebagai Ruang Sosial dan Rhizomatik

Oleh Gutryans Purba* Perkembangan musik jazz di Indonesia pada saat ini dapat dikatakan mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Jika melihat ke belakang, sejarah jazz di Indonesia pernah diwarnai oleh kehadiran tokoh-tokoh penting yang bahkan mampu menembus kancah internasional. Nama-nama seperti Bill Saragih, Jack Lesmana, dan Bubi Chen merupakan contoh musisi yang menjadi bukti perkembangan jazz […]

Ekosistem Kreatif Masuk ke Ruang Cendekia GIK UGM

Oleh Ahmad Zamzami* Dalam beberapa tahun terakhir, Cherry Pop Festival berkembang menjadi salah satu festival musik independen yang cukup menonjol di Indonesia. Berangkat dari skena musik alternatif Yogyakarta yang sejak lama dikenal dinamis, festival ini tidak hanya menghadirkan panggung pertunjukan musik, tetapi juga membangun jejaring budaya yang lebih luas di sekitarnya. Kehadiran berbagai komunitas kreatif mulai dari […]

Pertunjukan Tanpa Sutradara: Ritual, Liminalitas, dan Performatifitas Tubuh di Pantai Parangkusumo

Oleh Ramanda Noviandri* Angin malam di Pantai Parangkusumo terasa lebih dingin dari biasanya. Pasir masih menyimpan sisa panas siang hari, tetapi udara laut yang bergerak pelan membuat tubuh merinding. Malam itu adalah Selasa Kliwon, salah satu malam yang dianggap memiliki energi spiritual kuat dalam kosmologi Jawa.  Saya datang bukan sebagai peziarah, juga bukan sebagai wisatawan. […]