Pos

Hari yang Berbahaya: Krisis Makna dan Kehidupan yang Menjadi Biasa dalam Puisi Beno Siang Pamungkas

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ketika Hidup Terasa Baik-Baik Saja Ada masa dalam hidup ketika segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tragedi yang memaksa kita berhenti. Tidak ada kehilangan besar yang membuat dunia runtuh seketika. Hari datang dan pergi dengan tertib, pekerjaan selesai sesuai jadwal, tubuh relatif sehat, relasi sosial tidak sedang retak. […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Kuasa Dolar, Air Mata Telenovela, dan Minyak Venezuela

Elegi Petrodollar di Atas Pusara Kedaulatan Oleh Gus Nas Jogja* Uang, khususnya dolar, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sebuah janji. Namun, dalam ekosistem kapitalisme global, dolar AS telah bermutasi dari sekadar alat tukar menjadi teologi yang menuntut kepatuhan mutlak. Jika Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan atau creatio ex nihilo, maka Federal Reserve di Amerika […]

Masyarakat, performance art dan Dunia Performatif

Oleh Purnawan Andra*   Belakangan ini, semakin sulit membedakan antara pertunjukan seni (performance art) dan kehidupan sehari-hari. Bukan karena seni semakin hidup di tengah masyarakat, melainkan karena kehidupan sosial itu sendiri bergerak seperti sebuah pertunjukan.  Sikap, emosi, kepedulian, bahkan penderitaan, hadir di ruang publik sebagai sesuatu yang dipamerkan, dinilai, dan segera digantikan oleh peristiwa lain. […]

Acep Zamzam Noor dan Puisi sebagai Jalan Tarekat Kultural

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Posisi Acep dalam Peta Sastra Indonesia Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960, dan merupakan putra sulung dari KH Ilyas Ruhiat, seorang kiai ternama di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Pengaruh lingkungan pesantren sangat kuat dalam kehidupan awalnya, dengan praktik tarekat dan zikir harian, sehingga […]

Syair Braen: Dari Doa Ritual menuju Etika Sosial dan Tasawuf Komunal

Oleh Abdul Wachid B.S.* Syair Braen: Doa, Perempuan, dan Ingatan Kolektif Jawa-Islam Syair Braen tidak dapat dipahami hanya sebagai teks atau pertunjukan. Ia adalah ingatan yang dilagukan. Ia hidup dalam tubuh orang-orang desa, dalam suara perempuan, dan dalam situasi-situasi genting ketika hidup berhadapan langsung dengan batasnya: kematian, sakit, kehilangan, dan harapan yang digantungkan sepenuhnya kepada […]

Ngalah, Ngalih, Ngelih, Ngantuk

Arsitektur Kesadaran dalam Perjalanan Menuju Kosong Oleh: Gus Nas Jogja* Mukadimah: Empat Gerbang Menuju Jati Diri Dalam jagad pemikiran Jawa, eksistensi manusia tidak dipahami melalui *diktum Cartesian* _“Cogito Ergo Sum”_ yang maknanya “Aku berpikir maka aku ada”, melainkan melalui sebuah laku rasa yang dinamis dan melingkar. Hidup adalah sebuah orkestra perpindahan energi yang dirangkum dalam […]

Mens Rea Patung Macan Kediri: Dari Ilusi Estetik ke Delusi Birokrasi

Oleh: Gus Nas Jogja*   Catatan Kuratorial   Pendahuluan: Singa yang Salah Identitas Di sebuah persimpangan jalan di Kediri, atau mungkin dalam imajinasi kolektif kita yang paling liar, berdiri sebuah patung macan. Namun, ini bukan sembarang macan. Ini adalah macan yang tampak seperti sedang mengalami krisis eksistensial—wajahnya lebih mirip kucing yang baru saja melihat tagihan […]

Bang Jaya Arjuna dan Keberanian yang Mendahului Zaman

Oleh: Selwa Kumar*   Pada awal tahun 2000-an, ketika banyak orang masih nyaman dalam diam, Bang Jaya Arjuna sudah memilih berdiri di ruang terbuka: taman-taman kota Medan. Diskusi-diskusi kritis tentang kekerasan, lingkungan, dan ruang publik ia gelar bersama para aktivis, berpindah dari satu taman ke taman lain—dari Taman Beringin hingga Taman Ahmad Yani di Jalan […]

Desa, Bencana dan Politik Liyan

Oleh: Purnawan Andra*   Bencana sering kita pahami sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba. Hujan deras, tanah longsor, banjir bandang, atau kebakaran hutan kerap dijelaskan sebagai akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Penjelasan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ia belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam. Dalam banyak kasus di Indonesia, bencana bukan semata […]