Pos

The Burning Season, Musim Bakar-bakar Hutan

Oleh: Pietra Widiadi* (Founder Pendopo_Kembangkopi, wadah belajar warga Lereng Gunung Kawi di Malang, dan ketua Yayasan Borneo Nature Indonesia, Palangkaraya) The Burning Season (1994) menempatkan Chico Mendes sebagai tokoh sentral yang memperlihatkan bagaimana keingintahuan (curiosity) terhadap kehidupan sehari-hari dapat berkembang menjadi kesadaran kritis dan perjuangan sosial-ekologis. Chico digambarkan berasal dari keluarga petani-pekebun karet di Brasilia […]

Pangeran Kecil, Totto-chan dan Sekolah Kita

Oleh: Punawan Andra Setiap awal tahun ajaran, ada pemandangan yang hampir selalu berulang. Pagi-pagi, anak-anak datang dengan seragam baru, sepatu yang masih bersih, tas yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka. Sebagian berjalan dengan penuh semangat. Sebagian lainnya menggenggam tangan orang tua lebih erat, bahkan menangis ketika harus berpisah di gerbang sekolah. Hari pertama sekolah […]

Pertemuan Imajiner Ki Hadjar Dewantara dengan The Beatles

Oleh: Bambang Supriadi ICS   Ada kebohongan yang sudah terlalu lama diterima sebagai kebenaran. Bahwa orisinalitas lahir begitu saja. Bahwa para seniman besar suatu pagi bangun tidur, lalu dunia berubah karena mereka memiliki ilham yang tidak pernah dimiliki orang lain. Omong kosong. Setiap nada yang mengubah sejarah, setiap lukisan yang mengguncang zaman, serta setiap film […]

Kultus Panda Sampai Langit ke-Tujuh

Oleh : Agus Dermawan T.* Catatan perjalanan. Dari survey wisata, mengunjungi pusat penangkaran panda, sampai ke taman patung para seniman modern dan kontemporer di mal ternama. Seni tinggi dicemplungkan ke dalam komunitas donat, guochao, es krim dan Prada. Tiongkok punya gawe memang luar biasa. ————- PADA bulan Juli 2026 satu biro travel di Jakarta mengajak […]

Ekologi Sastra di Banyumas

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Ruang yang Dibuka oleh Sebuah Narasi Kampus. Esai Bayu Suta Wardianto berjudul “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas”, yang dimuat di  borobudurwriters.id pada 14 Mei 2026, menarik perhatian pada satu ruang yang dalam beberapa dekade terakhir menonjol dalam perkembangan sastra Banyumas: kampus. Pilihan itu memiliki dasar historis. Sejak […]

Merah Putih dan Pekerjaan Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra* Setiap Agustus, merah putih hadir di hampir seluruh ruang kehidupan kita. Ia berkibar di halaman kantor, sekolah, jalan kampung, rumah-rumah warga, hingga gang-gang kecil. Selama beberapa pekan, warna itu menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari Indonesia. Bendera merah putih memang identitas negara. Namun, dua warna itu sesungguhnya memiliki kehidupan budaya yang […]

Mengenal Kuliner Khas Kepulauan Talaud Sulawesi Utara

Oleh: Hari Suroto* Kepulauan Talaud terletak di paling utara Indonesia, berbatasan langsung dengan Filipina. Kepulauan Talaud memiliki kuliner khas yang yang diolah secara tradisional berbahan pangan lokal seperti keladi, kelapa, kacang merah, dan ikan laut. Bagi masyarakat Talaud, keladi bersama sagu adalah makanan pokok. Tanaman keladi di Talaud ditanam di sawah maupun kebun. Pada masa […]

Rumah Proklamasi dan Ingatan Bangsa Membangun Kembali Simbol Kemerdekaan atau Membangun Masa Depan Sejarah Indonesia?

Oleh: Asfarinal* “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Kalimat yang sering dikutip dari Bung Karno tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang penghormatan kepada manusia, tetapi juga kepada ruang-ruang tempat sejarah bangsa itu dilahirkan. Sebab sejarah tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu memiliki panggung, memiliki lanskap, memiliki bangunan yang menjadi […]

Memerdekakan Seniman, Memerdekakan Kesenian

Oleh: Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum.* Setiap Agustus, kita kembali mendengar lagu lama, melihat merah-putih berkibar, dan mengucap “merdeka” hampir otomatis. Namun peringatan mungkin justru bermakna ketika kita berhenti sejenak dari perayaan, lalu menengok republik dengan pandangan lebih jernih—dan, kalau perlu, sedikit nakal. Dari kegelisahan itulah, esai ini lahir: refleksi satiris tentang seniman dan dunia kesenian, […]

Trilogi Konseptual Abdul Wachid B.S.: Memetakan Sastra Pencerahan, Sastra Hikmah, dan Sastra Santri dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh: KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto S.*   Pendahuluan Di tengah mekanisasi digital dan riuh-rendah algoritma yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari, kesusastraan religius kita masih kerap ditempatkan dalam dikotomi yang kurang produktif. Kritik sastra modern yang bertumpu pada nalar sekuler acap kali memandang curiga karya yang lahir dari pengalaman keagamaan. Karya semacam itu mudah […]