Pos

Trust

Oleh: Mudji Sutrisno SJ*   “Trust” = kita hidup berdasarkan ini. Contoh-contoh: driver, pilot, orang tua, guru. Kini yang riil sedang terjadi perang saling menyandera (mengunci), mengancam antara kepentingan (interest) versus nilai (value). Bila kelompok kepentingan (‘nya’ sendiri + gerombolan) menuding orang-orang nilai sebagai partisan nilai, malah harus disyukuri sebab itulah ciri dasar nilai yaitu […]

Kreativitas Olah Budaya

Oleh: Mudji Sutrisno SJ*   Kreativitas kebudayaan merupakan misteri dari tetap tumbuhnya kemanusiaan ketika peradaban dihadapkan pada ujian-ujian sejarah. Ujian itu, misalnya, kekejaman politik; penindasan hak asasi; pemasungan alam pikiran merdeka; pengontrolan dan penghapusan pikiran-pikiran kritis dan perbedaan pendapat; dan humanisasi proses-proses bermasyarakat. Tapi, mengapa merupakan misteri? Pertama: karena ruang lingkup kemampuan-kemampuan manusia berada pada […]

Rusaknya Bahasa: Epistemologi Krisis dan Semiotika Absurditas

Oleh: Gus Nas Jogja* Esai ecek-ecek ini saya tulis sebagai sebuah tinjauan filosofis terhadap Katastropi Linguistik yang belakangan ini marak di seluruh platform media, yang pada akhirnya saya simpulkan sebagai Panggung Kekacauan dari Logos Universal ke pekikan Ad Hominem. Bayangkan saja, sebuah panggung debat di media elektronik, disiarkan langsung tanpa sensor. Di tengah perdebatan tentang […]

November Rain, Nostalgia Kesedihan dan Dunia yang Menuntut Terlalu Banyak

Oleh: Purnawan Andra*   Bagi banyak orang Indonesia yang tumbuh pada dekade 1990–2000-an, November Rain bukan sekadar lagu rock balada dengan durasi panjang. Ia bekerja sebagai artefak emosional yang mengikat memori kolektif—tentang sekolah, radio malam, krisis ekonomi, atau sekadar ruang-ruang kecil tempat seseorang bersembunyi dari kekacauan zaman. Lagu ini bertahan bukan karena romantisme semata, melainkan […]

Membaca Pesan Garis Lucu pada Drama NU: Telaah Kritis-Filosofis Berbasis Akar Konflik, Tasawuf, dan Anekdot Satiris Gus Dur, Mahbub Junaidi, dan Gus Mus

Oleh: Gus Nas Jogja* Tulisan ini menyajikan pembacaan transendental terhadap konflik-konflik kontemporer di dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU), yang kini tengah menghadapi Mujahadah Struktural paling kompleks: pergulatan antara sanad keilmuan dan nafsu ammarah institusional. Tulisan ini menegaskan tesis bahwa Garis Lucu NU yang diwariskan oleh Gus Dur, Gus Mus, dan Mahbub Junaidi adalah Epistemologi Absurditas […]

Drama PBNU dan Kedewasaan Umat: Sebuah Eksplorasi Dialektika Syuriah dan Tanfidziah

Oleh: Gus Nas Jogja*   Esai ini mengeksplorasi dialektika kepemimpinan dalam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), khususnya ketegangan konstruktif antara Dewan Penasihat Spiritual (Syuriah) dan Dewan Pelaksana Teknis (Tanfidziah). Dinamika internal ini tidak hanya bersifat struktural-administratif, tetapi bergeser pada isu-isu krusial yang menyentuh ushul (prinsip) keagamaan dan siyasah (politik-ekonomi) organisasi, seperti kontroversi mengundang cendekiawan yang […]

Sastra sebagai Pendidikan Profetik: Refleksi atas Pemikiran Moh. Roqib dan Karya Ahmad Tohari

Oleh: Abdul Wachid B.S* I. Pendahuluan Sastra sejak lama tidak hanya dipandang sebagai seni untuk dinikmati secara estetik, tetapi juga sebagai medium untuk menanamkan nilai, moral, dan budaya dalam kehidupan manusia. Moh. Roqib dalam Pendidikan Sastra Profetik: dalam Karya Ahmad Tohari (Pesma An Najah Press, 2024:v-x) menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun karakter […]

Nisan, Artefak Kecil yang Menjaga Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra*   Cirebon selalu digambarkan sebagai kota pelabuhan yang terbuka. Dari masa awal pembentukannya, wilayah ini sudah menjadi tempat bertemunya berbagai budaya, seperti Jawa, Sunda, Arab, Gujarat, Tionghoa, dan tradisi pesisir Nusantara. Namun sering kali kita memaknai Cirebon hanya lewat cerita besar tentang kesultanan, perdagangan, dan tokoh-tokoh politik agama. Padahal, jejak kebudayaan yang […]

Paugeran dalam Dialektika Demokrasi dan Monarki Epistemologi Kompromi: Yogyakarta sebagai Daerah Eksepsional

Oleh: Gus Nas Jogja*   Yogyakarta berdiri di atas janji yang berat: mempertahankan monarki di tengah demokrasi. Janji ini ditegakkan oleh Paugeran yang stabil. Jika sumber Paugeran dirusak, maka legitimasi monarki (dan Keistimewaan) akan runtuh, sejalan dengan prediksi bahwa rakyat akan memilih Nomokrasi murni dan mencabut UUK DIY. Lestarinya Kesultanan dan Kadipaten sebagai Ranah Adat […]

Sajak-sajak Isbedy Stiawan Z.S.

BERAPA JAUH berapa jauh diukur dengan jarak antara pertemuan dan berpisah : aku dan kau, didindingi oleh hujan amat deras bersama adzan dari masjid sebelah jalan itu; – Tuhan Maha Besar bisa menembok setiap pertemuan atau untuk batal sebagai bara, barangkali, yang menjadi pagar bagi kedua pasukan. “Tuhan yang menunda peperangan itu, karena izinNya kota […]