Ketika Bunyi Tidak Lagi Datang Dari Depan: Teknologi, Ruang dan Cara Baru Mendengar
Oleh Mukhlis Anton Nugroho*
Saya tidak pernah menyangka bahwa salah satu perubahan paling mendasar dalam kebudayaan kita hari ini justru terjadi melalui cara kita mendengar. Ia tidak datang sebagai revolusi besar yang diumumkan dengan gegap gempita, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan yang pelan-pelan menempel pada tubuh. Kita mendengar musik melalui earbud yang langsung menancap di telinga, menonton film dengan bunyi yang berputar di sekeliling kepala, bermain gim dengan audio yang membuat kita menoleh ke kanan dan kiri, lalu memasuki ruang pertunjukan yang mulai meninggalkan panggung frontal sebagai satu-satunya orientasi.
Perubahan ini tampak sepele, tetapi sesungguhnya menyentuh hal yang sangat mendasar, bahwa bunyi tidak lagi sekadar hadir sebagai sesuatu yang datang dari depan. Ia kini hadir sebagai lingkungan. Ia mengitari, menyelimuti, mengarahkan perhatian, bahkan diam-diam mengubah cara tubuh memahami ruang. Dalam konteks inilah karya Nabuh Immersive menjadi menarik, bukan semata karena ia menawarkan pertunjukan yang berbeda, tetapi karena ia bisa dibaca sebagai sampel dari gejala yang lebih besar, yaitu bagaimana seni bunyi kontemporer sedang berusaha menjadikan ruang bukan sekadar wadah, melainkan bagian dari komposisi itu sendiri.
Mendengar yang Berubah: Dari Sumber Bunyi ke Lingkungan Bunyi
Dalam tradisi pertunjukan yang lebih lama, hubungan antara bunyi dan pendengar biasanya dibangun secara frontal. Sumber bunyi berada di depan, sementara penonton diarahkan menghadap ke titik yang sama. Model ini menghasilkan tata persepsi yang stabil; ada pusat, ada arah, ada sumber yang jelas. Dalam struktur seperti itu, mendengar cenderung dipahami sebagai aktivitas menerima. Telinga menerima gelombang suara, lalu tubuh menyesuaikan dirinya dengan pusat yang telah ditentukan.
Tetapi perkembangan teknologi audio menggeser situasi itu. Bunyi hari ini tidak selalu lagi diperdengarkan dari satu arah. Ia dapat dipecah ke banyak kanal, didistribusikan ke berbagai titik, dipindahkan secara panoramik, atau dirancang agar terasa datang dari lokasi yang bahkan tidak benar-benar ada. Di titik inilah mendengar berubah dari sekadar menerima suara menjadi mengalami ruang.
Kajian psikoakustik sejak lama menunjukkan bahwa manusia tidak mendengar hanya dengan telinga, tetapi juga dengan sistem persepsi yang membaca selisih waktu kedatangan bunyi, intensitas, frekuensi, dan pantulan ruang. Albert Bregman, misalnya, dalam Auditory Scene Analysis, menjelaskan bagaimana telinga dan otak bekerja sama memisahkan, mengelompokkan, dan memberi makna pada lapisan-lapisan bunyi yang hadir secara bersamaan. Artinya, bunyi yang kita dengar tidak pernah hadir sebagai data mentah. Ia selalu sudah diproses oleh tubuh sebagai pengalaman.
Di sinilah istilah seperti immersive sound, spatial audio, dan sound movement menjadi semakin penting. Ketiganya sering dipakai dalam wacana teknologi dan seni kontemporer, tetapi kerap juga diperlakukan seolah-olah sama. Padahal, di balik istilah-istilah itu, ada pergeseran besar dalam cara kita memahami bunyi. Jika sebelumnya bunyi lebih banyak diperlakukan sebagai objek dengar, kini bunyi dipahami sebagai sesuatu yang dapat membentuk orientasi, suasana, bahkan kesadaran ruang.
Barry Blesser dan Linda-Ruth Salter dalam Spaces Speak, Are You Listening? menegaskan bahwa ruang akustik bukan sekadar latar pasif, melainkan struktur sosial dan budaya yang memengaruhi bagaimana manusia berinteraksi. Ruang berbicara melalui resonansi, gema, jarak, dan arah. Dalam pengertian ini, tata suara tidak lagi hanya berurusan dengan ‘bagaimana agar terdengar jelas’, tetapi juga dengan ‘pengalaman seperti apa yang sedang dibangun’.
Maka, pembicaraan tentang bunyi hari ini sesungguhnya bukan lagi sekadar urusan teknologi, melainkan juga urusan antropologi indrawi. Ia berkaitan dengan bagaimana manusia modern dilatih untuk hidup di dalam sistem-sistem audio yang semakin kompleks. Kita bukan hanya menjadi pendengar, tetapi juga penghuni dari lingkungan bunyi yang dirancang.
Antara Spasialisasi dan Sound Movement
Di tengah maraknya pembicaraan tentang audio imersif, ada satu persoalan yang perlu dijernihkan: tidak semua bunyi yang mengitari tubuh dapat disebut sebagai gerak bunyi. Ada perbedaan penting antara spatialization dan sound movement, dan perbedaan ini justru menentukan apakah pengalaman yang dihasilkan berhenti sebagai efek teknis atau berkembang menjadi pengalaman estetik yang lebih dalam.
Spasialisasi adalah teknik. Ia berkaitan dengan distribusi bunyi ke dalam ruang melalui penempatan speaker, pengaturan kanal, atau pemetaan sinyal. Dengan spasialisasi, bunyi dapat dibuat terasa hadir di banyak titik, dapat dipindahkan dari kiri ke kanan, dari depan ke belakang, bahkan dari atas ke bawah. Sistem ini, secara teknis, sangat efektif untuk membentuk ilusi arah. Dunia film, gim, dan pertunjukan kontemporer sangat bergantung pada strategi ini.
Namun sound movement bukan sekadar bunyi yang dipindahkan. Ia lebih dekat pada pengalaman ketika bunyi terasa hidup di dalam ruang. Bukan hanya terdengar dari banyak arah, tetapi seolah memiliki dinamika sendiri: datang, menjauh, bertumpuk, berputar, berpendar, atau menggeser pusat perhatian tanpa sepenuhnya terasa mekanis. Jika spasialisasi adalah prosedur, maka sound movement adalah kualitas pengalaman.
Pembedaan ini penting karena teknologi sangat mudah menciptakan pesona. Speaker yang diletakkan di empat sudut ruangan, misalnya, dapat menghasilkan pengalaman yang memukau. Tetapi pesona tidak selalu sama dengan kedalaman. Bunyi yang berpindah antar speaker belum tentu menghasilkan ruang yang benar-benar hidup. Dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebatas ilusi gerak yang sangat rapi, sangat terkontrol, dan karenanya cepat terbaca sebagai sistem.
Di titik ini, Nabuh Immersive menjadi contoh yang berguna. Karya Merak Badra Waharuyung ini tidak hanya memanfaatkan sistem quadraphonic, tetapi juga berusaha memadukan instrumen tradisi dengan bunyi elektronik dalam satu medan akustik. Yang menarik, karya ini tidak sekadar ingin membuat penonton mendengar suara dari berbagai arah, tetapi ingin menggeser orientasi dengar itu sendiri. Penonton tidak lagi ditempatkan sebagai pihak yang menatap dan mendengar dari kejauhan, melainkan sebagai tubuh yang berada di tengah konfigurasi bunyi.
Sebagai gagasan, ini penting. Ia menunjukkan bahwa bunyi hari ini semakin dipahami bukan hanya sebagai materi temporal, tetapi juga sebagai materi spasial. Namun justru karena itu, pertanyaannya perlu dibuat lebih tajam: apakah pengalaman yang dibangun sungguh-sungguh menciptakan sound movement, atau baru sampai pada tataran spasialisasi? Apakah bunyi dalam karya semacam ini benar-benar hidup sebagai medan, atau ia masih terasa sebagai sinyal yang berpindah menurut desain?
Pertanyaan itu bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional. Sebab dalam kebudayaan audio masa kini, ada kecenderungan kuat untuk menganggap semua yang terasa baru pasti juga terasa lebih dalam. Padahal tidak selalu demikian. Bunyi yang sangat terprogram kadang justru terasa terlalu patuh. Ia mengejutkan, tetapi tidak mengguncang. Ia memukau, tetapi tidak selalu mengubah.
Dalam pengalaman bunyi yang lebih kompleks, yang sering kali justru terasa kuat adalah unsur-unsur yang tidak sepenuhnya tunduk pada sistem: resonansi yang memanjang, beating antarfrekuensi, timbre yang saling bertumpuk, atau perubahan fokus dengar yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Dengan kata lain, bunyi terasa hidup bukan hanya karena diarahkan, tetapi juga karena diberi kemungkinan untuk terjadi.
Tradisi, Teknologi, dan Pengetahuan Baru tentang Ruang
Yang membuat pembicaraan ini semakin menarik adalah kehadiran tradisi di dalam eksperimen Nabuh Immersive. Ketika gamelan Jawa, Bali, dan Banyuwangi dipertemukan dengan sistem audio spasial dan bunyi elektronik, kita tidak hanya sedang menyaksikan pencampuran gaya. Kita sedang menyaksikan perubahan cara membaca tradisi itu sendiri.
Selama ini, tradisi sering dipahami secara sempit; sebagai sesuatu yang diwariskan, dijaga, lalu dipentaskan kembali. Tetapi dalam praktik seni kontemporer, tradisi mulai dibaca sebagai material pengetahuan. Ia bukan hanya kumpulan bentuk lama, melainkan gudang cara mendengar, cara berelasi, cara merasakan waktu, dan cara membangun ruang. Dalam kerangka ini, pertemuan tradisi dengan teknologi bukan sekadar strategi estetis, tetapi juga medan uji: sejauh mana kualitas-kualitas organik dari praktik musikal masih dapat hidup ketika dimasukkan ke dalam sistem yang sangat terkontrol?
Karya Merak menarik karena memperlihatkan ambisi itu. Ia tidak hanya bicara tentang nada, tetapi juga tentang timbre, harmonik, resonansi, dan bahkan kemungkinan mikrotonal yang lahir dari perjumpaan beberapa sistem pelarasan. Ia juga mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip interlocking seperti imbal, timpalan, dan kotekan ke dalam konteks ruang. Dalam hal ini, relasi musikal yang sebelumnya banyak bergantung pada tubuh antarpemain digeser menjadi relasi antartitik bunyi dalam ruang. Ini adalah lompatan konseptual yang layak dicatat.
Namun di situlah pula kritik perlu bekerja. Ketika pola-pola musikal yang lahir dari hubungan tubuh dipindahkan ke dalam logika kanal dan speaker, kita perlu bertanya: apa yang bertambah, dan apa yang mungkin berkurang? Apakah relasi sosial dalam musik menjadi lebih luas karena dibentangkan ke ruang, atau justru menyusut menjadi relasi teknis antar sistem? Apakah teknologi membuka lapisan pengalaman baru, atau secara halus menggantikan kepekaan tubuh dengan presisi desain?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar pembaruan tidak berhenti pada kemasan. Sebab hal yang paling mudah di era sekarang adalah terlihat mutakhir. Yang jauh lebih sulit adalah menghasilkan pengetahuan baru tentang bagaimana manusia mengalami dunia. Di situlah seni bunyi seharusnya memberi sumbangan: bukan hanya menghadirkan efek, tetapi membantu kita memahami perubahan dalam relasi antara tubuh, ruang, dan teknologi.
Maka, mungkin pelajaran paling penting dari karya Nabuh Immersive bukan semata ada pada pertunjukannya, melainkan pada persoalan yang dibukanya. Ia mengingatkan bahwa bunyi hari ini tidak lagi cukup dipahami sebagai sesuatu yang terdengar. Bunyi kini diprogram, dipindahkan, disebarkan, dimediasi, dan dirancang agar menghadirkan lingkungan pengalaman tertentu. Karena itu, kita memerlukan bahasa yang lebih jernih untuk membedakan mana bunyi yang sungguh membangun ruang, dan mana yang hanya didistribusikan di ruang.
Pada akhirnya, yang sedang berubah bukan hanya tata suara, tetapi juga cara manusia menempatkan dirinya di dunia. Kita hidup di masa ketika bunyi semakin dekat dengan tubuh, tetapi juga semakin dimediasi oleh sistem. Kita mendengar lebih banyak, lebih detail, lebih intim, tetapi sekaligus lebih mudah diarahkan oleh desain. Maka, tugas kebudayaan hari ini bukan hanya menikmati semua kemungkinan itu, tetapi juga mengujinya dengan pertanyaan yang jernih: bunyi macam apa yang sedang kita ciptakan, ruang macam apa yang sedang kita bangun, dan tubuh macam apa yang sedang kita latih untuk hidup di dalamnya.
—-
*Mukhlis Anton Nugroho. Mahasiswa Program Doktoral Pengkajian Seni Musik, Institut Seni Indonesia Surakarta.




