Puisi-puisi Sihar Ramses Simatupang
CALIGULA: SEBUAH SITUS
“bulan, aku inginkan bulan”
Kau dengarkah suara itu, yang bersatu dengan gending dan gong ekstase malam.
Nafsu-nafsu telah menari di atas pentas kita dan sinis tawa Caligula akan siap merambat pada pintu dan rumah-rumah
Memasuki sejarah Caligula, awas, rohnya akan bergegas memasuki tubuhmu, membuncah nafsumu, dengan pekik kemenangan, siap menyuapkan bau tirani – penasaran pada abad dan masa.
Katalog-katalog kematian telah tersusun rapih di atas meja, dan kau akan tenggelam dalam perbudakan nafasmu.
Menjadi algojo, menari-nari di panggung tubuh yang baru.
Di kamar kita, gending dan gong ekstase malam kembali diperdengarkan.
Setia menjemput bayi-bayi dan orangtua
: pada setiap pintu…
1996
BUNGA-BUNGA TAK MEKAR
nyatanya, hingga saat ini pun
aku masih melihat bunga-bunga tak bermekaran
kecuali lumut yang tumbuh dari kaki para pengemis jalanan.
gembel dan pengamen tetap saja menyiulkan
lagu-lagu bukan kebangsaan.
sejarah duka belum usai untuk pergi.
di sini, tak ada almanak yang berubah menjadi kitab suci
para tunawisma masih menangis di sejarah yang tak mereka miliki
masa depan, dongeng-dongeng tentang pedesaan
telah lenyap di aspal, sejak keberangkatan mereka pertama kali.
etalase kaca tumbuh beranak pinak, dan tangan mereka berubah
menjadi bayangan pencoleng jalanan
memperkosa kota yang tak lagi berwajah perawan.
ada desah terampas di pucuk lorong metropolitan,
orang-orang keranjingan martabatnya sendiri.
tak lagi perduli bendera,
atau mawar yang terselip di antara kitab tua para pahlawan kami.
: semua sejarah telah pergi, ketika orang-orang kota telah tersihir.
di dalam pesona kaca dan televisi.
Jakarta, 2002
SAJAK PULANG
ternyata sudah tercantum, bukan…
waktu punya cara sendiri dalam mengubah suara dan wajah.
terlalu ganas hujan dan panas mengaburkan lantang semangat atau rindu yang diam – hambar pada kenangan; sebab bukan lagi pelayaran yang kuingin. malah pintu rumah dan anak-anak. tempat masa depan tersenyum lapang. puah, jiangkrik! tonggak tua lebih menjelma sebagai jangkar ketimbang tamasya waktu di samudera berbatas. perahu harus diputar – saatnya untuk pulang.
2018
MALAM MENEGUK HUJAN
sebagai malam yang meneguk hujan, kelak kau akan hargai betapa kerinduan tak selalu berujung harapan. hitamnya tetap memamah air. meski tanpa siang; kendati bukan cahaya. ada rasa yang tidak ngilu-tidak bahagia. rawan yang entah; namun cukuplah.
2019
RAHASIA KOTA
hujan dan suhu dingin di kota ini adalah cara tepat untuk membungkus rahasia kepadamu. gejolak itu sudah lama terkubur oleh lembabnya dedaun. bersama gerimis atau hujan lebat, orang-orang pasti sibuk lalu lupa menyimak tentang suara resah yang pernah tersimpan di waktu silam. di pojok kota, aku bahagia, karena sajak malam ini setia mendandaniku di setiap waktu agar tak berubah. tak ingin membicarakan kenapa yang terkubur itu tetap tak berbau sama sekali; meski terus digempur oleh sisa gerimis. itulah, mengapa aku suka berkubang di udara kota ini…
Bogor, Juni 2017
INDONESIA: ADALAH NAFAS KITA
anakku, sejarah makin tenggelam
di ujung senja.
aku tak tahu apa fajar
akan tumbuh di kelopak matamu.
telah terpupus cerita tanah kita,
dari gurat daun lontar
dan halaman buku dunia.
apa engkau masih tak mengerti.
“lihat, seribu biduk telah dibawa
dari pulau-pulau asing.
membawa perompak ke tanah ini.
engkau jangan bersauh,
sebelum mampu menghitung
rasi dan wuku.
jangan diam ketika maut mengintai
di pintu gerbang”.
padaku tak ada lagi wasiat
dan seni perang,
sebab perkamen telah dirampok
dan jejak kita terancam hilang.
“bangunlah dari mimpi, nak.
buat rumah nelayan dan petani
di dalam petak huma dan tubuh ikan.
nyanyikan lagu tanah air beta,
berkumandanglah di pasir laut
dan lumpur sawah”.
aku pergi seperti seribu pesakitan,
yang membawa bertumpuk
amanat nenek moyang.
angkat tilammu,
pakailah kasutmu.
tarikkan nafasmu,
hentakkan tenagamu.
berangkatlah dengan seribu zirah
setumpuk pustaka
sekibar bendera
di tangan tercancang.
Indonesia:
adalah nafas kita.
CARILAH INDONESIA, NAK
kami sempat jaga indonesia
bahkan di saat engkau menangis dalam ketidakpastian masa depan
kami sempat jaga indonesia
bahkan di saat engkau bergelut tanya tentang arah bangsa
nak, disana, disulam bendera itu
nak, disana, dibuat undang-undang itu
nak, disana, tertera buku-buku sejarahmu
nak, disana, tergolek sisa tulang-tubuh pahlawanmu
orangtua kita punya dua jiwa
satu mencakari sejarah moyang
satu berebut makna – sepertimu juga
aku berdiri disini
di dalam perahu yang terombang-ambing
di antara ganas ombak,
khawatir karam di antara karang atau pulau mati itu
bangun nak, lekas, tubuhmu harus segera tegap
kayuh nak, lekas, tanganmu harus segera kuat
kalian belum tahu arah
tapi kalian bukan durjana
kalian belum tahu apa-apa
tapi biografi kalian tanpa dosa sejarah
aku pernah tegap, tapi kini lunglai
kalian berteriak, bapa, bapa, bapa
tapi bapamu lupa almanak
kalian berseru, bapa, bapa, bapa
tapi bapamu tak ingat museumnya
kalian mengenal, bapa, bapa, bapa
tapi bapamu, mengeruk tanah
dengan kukunya sendiri, sampai berdarah-darah
kalian lebih kuat dari masa lalu
kalian lebih harap daripada mimpi itu
bocah-bocah berlari di pasir pantai
bocah-bocah mendayung di atas laut
bocah-bocah berharap di desau batang padi
bocah-bocah berteriak di tengah pabrik
bocah-bocah berjalan di sisa mesiu
lantak,
lupakan bapamu, bangun rumah bangsamu sendiri!
lantak,
tinggalkan bapamu, angkat tikar
dan berjalanlah yang jauh!
bahkan musafir lebih baik
dari pencoleng perut gendut itu
bahkan menggelandang lebih mulia
dari penambang darah bunda sendiri
bundamu indonesia nak
yang pernah diukir moyang dari kitab-kitab
bundamu indonesia nak
yang pernah digubah dari legenda-legenda
bundamu indonesia nak
yang masing-masing pernah jaya
: dari sangihe, ternate, papua, aceh, batak, dayak, jawa, bali,
semua, ya semuanya…
bundamu pernah jaya, nak
karena itu:
selesaikan teriakmu, “bapa, bapa, bapa”
cukuplah sudah, cukup…
pergilah, cari sejarahmu sendiri
jelajahi tanahmu!
arungi samuderamu!
kalangi ragamu sendiri
hiruplah darahmu sendiri
carilah bunda yang telah lama pergi
di pucuk gunung itu
di batas samudera itu
di lepas pantai itu
di ujung tanah itu
carilah, nak
carilah,
cari…
Jakarta-Citayam, 15 Agustus 2013
* Sihar Ramses Sakti S. S.S, M.Sn., Kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1974. Sempat mengenyam studi di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Sam Ratulangi, Manado – lalu melanjut studi di Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Tamat dari Pascasarjana Pengkajian Seni Institut Kesenian Jakarta. Pernah menjadi Redaktur Budaya di Harian
Umum Sinar Harapan. Pengalaman mengajar di SMA Erudio School of Art dan Fakultas Komunikasi
Universitas Multimedia Nusantara. Mendirikan Yayasan RUMAH AKSARA KHATULISTIWA – Pustaka dan Seni.
Bergabung di Perkumpulan Penulis ALINEA, Indonesian Writers Inc (IWI), Lembaga Kebudayaan Depok (LKD) dan sedang merintis Rumah Baca dan Komunitas Seni RUMAH AKSARA KHATULISTIWA. Sekarang bergerak di Yayasan Ruang Seni Senafas. Karya kumpulan tunggalnya antara lain kumpulan puisi Metafora Para Pendosa (Rumpun Jerami, 2004), kumpulan cerpen Narasi Seorang Pembunuh (Dewata Publishing, 2004), kumpulan puisi Manifesto (Q Publisher, 2009), kumpulan puisi Semadi Akar Angin (Q Publisher, 2014) dan Kabar
Burung Pecah di Jendela (Tarebooks, 2020). Novelnya, Lorca – Memoar Penjahat tak Dikenal
(Melibas, 2005), Bulan Lebam di Tepian Toba (Penerbit Kakilangit Kencana – Prenada Media Group
terbit tahun 2009 dan meraih nominasi di Khatulistiwa Literary Award 2009 juga penghargaan dari
penerbit Italia, Metropoli d’Asia), Misteri Lukisan Nabila (Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung, 2013)
dan Lorca Inocencio(2017). Sedang menyiapkan novel Rumah Marsak. Instagram: @sihar.ramses
Facebook: Sihar Ramses Simatupang, E-mail: sihar.ramses@gmail.com.





