Puisi-puisi Emi Suy

ASAL MULA TUBUH

Tubuhku bukanlah terbuat dari cahaya,

bukan pula dari sesuatu yang suci.

Aku terbuat dari tanah,

tanah yang menempel di tumit,

lumpur yang sulit dibersihkan,

 

lutut lecet, bau keringat.

Sore hari aku pulang,

baju asin karena matahari,

perut keroncongan,

 

ibu di dapur meniup api

seperti meniup nasib yang keras kepala.

Dari nasi hangat itu,

dari garam murah itu,

dari lauk seadanya itu,

 

aku menjadi manusia.

Bukan dari mukjizat,

melainkan dari makan.

Jakarta, 2026

 

 

ASAL MULA PIKIRAN

Dulu aku mengira pikiran lahir dari buku,

ternyata dari suara.

Sendok beradu piring,

ayam ribut, 

radio tetangga bocor.

 

Dan suara ibu

pelan sekali

“jangan menyerah, ya.”

Kalimat itu pendek,

tidak puitis,

tetapi sampai sekarang

ia paling lama tinggal di kepala.

 

Teori datang dan pergi,

suara itu tidak.

Jakarta, 2026

 

 

EMOSI, INGATAN, WAKTU

Emosi berantakan,

seperti jemuran yang jatuh terkena angin.

Kadang marah tanpa sebab,

kadang sedih hanya karena bau hujan.

 

Ingatan lebih aneh lagi:

tiba-tiba muncul

bau kayu,

lemari tua,

baju ayah yang tak sempat aku panggil.

Waktu?

 

Tiba-tiba 

kursi berderit,

rambut memutih,

teman berkurang satu per satu.

Tak ada bunyi apa pun,

hanya hilang,

pelan.

Jakarta, 2026

 

 

KODRAT ALAM

Sawah tidak pernah pidato.

Rumput tidak pernah mengeluh.

Air ya mengalir saja,

ke bawah, selalu ke bawah.

 

Aku saja yang ribut,

ingin ini itu,

takut kalah,

takut miskin,

takut tidak dianggap.

 

Rumput hanya tumbuh,

sesederhana itu.

Dan aku kalah bijak darinya.

Jakarta, 2026

 

 

TUBUH DUNIA

Dunia bukan gedung tinggi,

dunia adalah dapur.

Panci penyok,

kompor rewel,

minyak muncrat sedikit.

 

Ibu berdiri lama sekali,

seolah tak memiliki hak duduk.

Tangannya pecah-pecah,

tetapi tetap mengaduk nasi

dengan perlahan,

seperti merawat sesuatu yang suci.

 

Aku makan tanpa banyak berpikir.

Baru sekarang aku sadar,

mungkin itu doa paling nyata

yang pernah aku makan.

Jakarta, 2026

 

 

RAHIM SEMESTA

Kalau kupikir lagi,

rahim semesta bukan langit.

Ia rumah sempit ini.

Cat mengelupas,

atap bocor jika hujan deras.

 

Tetapi hangat,

aneh.

Dari tempat sekecil ini

aku selalu lahir lagi,

setiap gagal,

setiap patah,

setiap ingin menyerah.

 

Aku pulang,

dan entah kenapa

hidup mulai dari awal lagi.

Jakarta, 2026

 

 

IBU BUMI

Aku lelah

aku benar-benar ingin terbaring di tanah.

Bukan kiasan, tapi sungguhan.

Pipi menempel rumput,

dingin, bau lumpur, bau rumput 

tapi jiwaku tenang.

 

Tanah tak pernah bertanya

kamu siapa,

salahmu apa,

dosamu berapa.

 

Ia hanya menampung berat badan,

seperti ibu.

Kadang yang kita butuhkan

bukan nasihat,

hanya dipangku…

Jakarta, 2026

 

 

ALAM YANG BERNAPAS

Pagi membuka jendela,

udara masuk,

sesederhana itu.

Tirai bergerak,

daun berbunyi,

cahaya jatuh di lantai seperti kain.

 

Tiba-tiba terasa

rumah ini hidup,

meja, kursi, gelas

semuanya seolah ikut bernapas.

 

Aku ikut,

masuk,

keluar,

masuk,

keluar.

 

Pelan-pelan aku tak yakin lagi

mana tubuhku, mana dunia.

Seperti bercampur saja…

Jakarta, 2026

 

 

DAMAI YANG KECIL

Kupikir damai itu besar,

ternyata kecil.

Secangkir teh hangat,

hujan tipis,

tak ada yang menagih apa pun malam ini.

 

Itu saja sudah cukup,

dada terasa longgar.

Barangkali bahagia memang segini ukurannya,

tidak perlu megah.

Jakarta, 2026

 

 

BELAJAR MENERIMA

Aku berhenti melawan sedikit demi sedikit,

tidak semua harus kumenangkan,

tidak semua harus kupahami.

Ada hari yang memang gagal,

ya sudah.

 

Ada orang yang pergi,

ya sudah.

Ternyata hidup tetap berjalan

meski aku tidak sempurna,

dan itu melegakan.

Jakarta, 2026

 

 

PULANG

Malam,

lampu dipadamkan satu per satu,

tubuh rebah,

kasur tipis,

angin kipas berbunyi tua.

 

Aku menarik napas panjang,

masih hidup. Itu saja.

Tak meminta apa pun lagi.

 

Jika besok bangun,

syukur.

Jika tidak,

tanah sudah menunggu.

Anehnya,

aku tidak takut,

seperti anak kecil

yang tahu ibunya ada di rumah.

Jakarta, 2026

 

 

PELAN-PELAN AKU BERDAMAI

Tidak ada peristiwa besar,

tidak ada wahyu, hanya pagi biasa:

Air kran menetes,

ember biru, lantai dingin,

dan aku menyapu remah nasi semalam.

 

Tiba-tiba saja

dadaku tidak seberat kemarin,

tidak bahagia juga,

hanya… ringan sedikit.

 

Seperti seseorang

yang akhirnya berhenti melawan hujan

dan membiarkan bajunya basah.

Mungkin begini caranya damai datang

bukan sebagai cahaya,

 

tetapi: “ya sudah.”

Aku menghela napas panjang,

dan dunia tidak runtuh. Cukup itu saja.

Jakarta, 2026

 

 

TUBUH YANG MEMAAFKAN DIRINYA SENDIRI

Lututku sering nyeri sekarang,

jika bangun duduk terlalu lama,

punggung berbunyi kecil

seperti pintu kayu tua.

 

Dulu aku marah, kenapa tubuh selemah ini?

Sekarang tidak lagi.

Aku hanya mengusapnya pelan

seperti mengusap anak sendiri.

 

Maaf ya,

sudah kupaksa kerja keras bertahun-tahun.

Maaf ya, jarang kudengarkan lelahmu.

Tubuh ini tidak menjawab,

tetapi tetap membawaku berjalan

ke pasar, ke dapur, ke hari esok.

 

Kesetiaan macam apa lagi yang kurang?

Malam ini aku tidur lebih awal,

membiarkan tulang-tulangku istirahat

seperti sawah diberakan.

Jakarta, 2026

 

 

CARA SEDERHANA MENJADI HIDUP

Ternyata hidup tidak serumit itu.

Cukup makan, cukup minum,

cukup seseorang bertanya

“Sudah makan belum?”

 

Cukup suara sendok di piring,

cukup bau bawang digoreng,

cukup kipas angin berdecit.

Aku tak lagi mengejar makna besar.

 

Makna terlalu tinggi

sering membuat kepala pening.

Hari ini aku hanya ingin mencuci baju,

menjemurnya,

melihat kain-kain itu berkibar

 

seperti bendera kecil

yang berkata:

Aku masih di sini.

Aku masih di sini.

Dan itu sudah cukup.

Jakarta, 2026

 

 

DOA TANPA KATA-KATA

Aku lupa banyak doa,

lupa urutan, lupa lafaz, lupa bahasa langit.

 

Yang tersisa hanya duduk diam

di sajadah tipis, lutut pegal.

Tidak mengatakan apa pun.

 

Hanya napas:

masuk,

keluar,

masuk,

keluar.

 

Tuhan mungkin bosan

mendengar permintaan,

jadi kali ini aku tidak meminta.

 

Aku hanya hadir, seperti tanah

yang diam menerima hujan.

Jika memang Engkau di sana,

pasti Engkau tahu sendiri apa yang kurang.

Jakarta, 2026

 

 

RUMAH TERAKHIR ADALAH MENERIMA

Pada akhirnya,

kita tidak memenangkan apa pun.

Tidak dunia,

tidak masa lalu,

tidak siapa pun.

Kita hanya belajar

bahwa kehilangan bukan musuh

 

ia hanya pintu

yang pelan-pelan menutup

supaya kita berhenti berdiri di ambang.

Aku melihat tanganku,

keriput tipis,

urat-urat biru.

 

Waktu sudah berjalan jauh.

Anehnya,

aku tidak takut lagi.

Jika besok apa pun terjadi,

aku sudah pernah hidup,

pernah mencintai ibu,

pernah mencium bau tanah,

pernah menangis sendirian di dapur.

Cukup.

 

Barangkali rumah terakhir manusia

bukan tempat,

tetapi kalimat sederhana ini:

Aku menerima.

Jakarta, 2026

 

—-

*Emi Suy lahir di Magetan, Jawa Timur, Februari 1979. Telah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal: Tirakat Padam Api (2011), trilogi Sunyi terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020),  Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022). Interval (2023), Perempuan mesti bisa menjahit setidaknya menjahit lukanya sendiri (2025).