Puisi-puisi D. Zawawi Imron
SAJADAH
Selembar sajadah tiba-tiba
berkembang menjadi seribu sajadah
Kenapa aku mau peristiwa ini terjadi?
Padahal kota-kota mendesah
Tak mampu menampung keringatnya sendiri
Sebuah dusun menyanyi
Seolah kiblat baru ditanam di situ
Orang-orang kutuduh sesat
Padahal mereka sedang mencari
Dari ubun langit ada sebuah tanya
Tuhan yang kujumpa tidakkah palsu?
Kupikir dalam-dalam
Di tengah kepungan kata
yang tak mengenal malu
Sajadahku cukuplah satu
ENGKAU HENDAK
Engkau hendak melukis Nabi di langit
Selagi belum kaubasuh tanganmu
Pada air empedu
Inginmu hanya angan
Seribu burung akan tertawa
Menggagalkan pagi
Aku lebih percaya pada para petani
Yang tidak pakai sastra dan basa basi
Mereka kompak melukis sawah dengan cangkulnya
berupa senyum Nabi
Saat penyair masih membangun mimpi
PUISI PAGI INI
Sebuah kota menjerit pagi ini
Ketika di balik baju perlente
Ada bolpen menjelma linggis
Ketika kemewahan berhati nanah
Kualihkan mataku ke
kampung nun jauh
Nyanyian tak bersuara
sedang merawat ayat-ayat keringat
Ternyata kiblat adalah jejak pahlawan
Jejak seorang pejuang yang dilupakan
Atau jejak para pencangkul bumi penanam benih
Yang sudah jadi pahlawan sebelum mati
MUNGKIN
Mungkin
Satu kota merasa penat
menampung kemewahan yang terlalu
Ini satu praduga
dari sebuah puisi yang salah tingkah
Yang kemudian menjelma api
yang perkasa
Mungkin Tuhan sekadar
memberi tahu
gagahmu yang lebih
Ini luka
Sungguh airmata
NATSEPA
Di Natsepa aku memandang ke laut
Pada sekian nelayan yang tak punya rasa takut
Awan putih berarak
Nelayan semakin tegak
Yang bernilai cuma jejak
Haluan dan lunas perahu
Masih lagu yang dulu
Lagu cakalang lagu kerapu
Karena keringat tak pernah tua
Keringat membuat kita perkasa
Jauh dari basa basi yang membuat bunga hilang
wanginya
BARANGKALI 1
Menulis puisi perlu gaya
Tapi tak harus bergaya
Karena angin dan ombak
Sangat jujur menyanyikan getar
Perahu itu seperti akan tenggelam
Tapi dayung dan pemegang kemudi
Punya kemerduan hakiki
hingga langit tersibak
Puisi jatuh dengan gaya
Barangkali
tak sengaja bergaya
Kita cari puisi
Dalam seribu Barangkali
DI WAISISIL, SAPARUA
Di Waisisil Saparua, aku
menemukan yang tak kucari
Tapi terasa milik sendiri
Terkimbang antara angan dan kenyataan
Gadis coklat tua
matanya merindukan mawar
Tapi yang kuberikan melati
Yang mekar oleh ayat-ayat empedu
Ayat yang tak semua orang mengerti
Karena derap pacul di atas semua melodi
Kasih sayang tak berhitung soal umur
Karena tanpa keringat aku jelas mati
Tubuhku mungkin lelap di rumah
Kami berdua nyata bergandengan
Mengejar cakrawala tanpa kata- kata
Getar puisi mengintip pada
fajar yang masih sembunyi
SIAPA
Aku masih belajar bicara
Di tengah gelombang yang menggelora
Itu siapa yang berbisik
Agar puisi tak sia-sia
Agar umur tak makin tua
ORANG TUA
Aku mencoba berbisik dalam doa
Agar si miskin yang tua renta itu
Bisa cerita bagaimana mencetak jejak
yang bisa jadi minuman dalam istana
Sehingga tersenyumlah seluruh negara
UNTUK ASPAHANI
Satu saat kau akan bertanya
Apa bedanya kota penuh harapan
dengan kampung yang udik tertinggal
Bedanya ketika muncul bulan purnama
Di kota tak kelihatan
Tapi di desa terang benderang
Semua tak ada yang salah
Yang salah ketika kau lupa pada lagu
Belalang kupu-kupu
Yang dulu ratusan ribu
Sekarang tinggal satu
—
D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.





