Puisi-puisi D. Zawawi Imron
JEJAK
Jejak kaki itu masih mengenang langkah
yang perginya sangat tergesa
Yang berharga ialah ucapan selamat tinggal
Bahwa perpisahan itu untuk selamanya
Ketika langkah yang lain lewat dan bertanya arti
keabadian
Jejak itu menjawab
“Di luar waktu
Semua bisa berakhir”
Cuma bisikku akan tetap mengalir
2025
KATA
Kata itu tak seharusnya diucapkan
Kalau orang yang mendengarnya
akan menjadi tuli.
Tuli itu pada satu saat diperlukan
Ketika seorang yang merasa sehat
mengimpikan sorga
2025
TELUNJUK
Telunjuk itu seperti punya mata
Bahkan lebih dari mata
Ketika keyakinan
Melebihi api unggun yang menyala
Langit mengumumkan
Agar semua orang percaya
Bahwa telunjuk itu bukan miliknya orang jelata
2025
JADILAH
Jadilah saja orang biasa
Daripada pemberani yang senyumnya tergadai
dengan harga murah
Barangkali tak ada senyum tergadai
Yang ada tahi anjing yang menjadi isi kepala
Beliau selalu tampak gagah dan tertawa
Tak banyak tahu
Tangis beliau
menusuk ke jantung bumi
2025
KISAH PENDEK
Mendung hitam itu sebaiknya diwapadai
Kalau tumpah
Akan membanjiri sehampar lembah
Hanya seorang pengemis yang siap
Darahnya jadi korban
Agar semua anak-anak bisa merangkak
Dan lari dari kepungan badai
Anak-anak itu lalu lari
Menepi ke cakrawala
Hanya karena tak ingin jadi putra ayahnya
Yang terlalu indah senyumnya
2025
KATA
Sebelum ada kata dan kamus
Sudah ada puisi
Merayapi langit dan bumi
Ia sejenis air susu kucing mati
Yang dihisap oleh anaknya
Langit lalu berdarah
Mengaliri cakrawala
Kata-kata menangis
Sebelum diucapkan manusia
2025
BARANGKALI 2
Puisi yang jelek kadang ditulis
Oleh orang yang merasa dirinya penyair
Maka katak-katak tertawa
Barangkali puisi milik seorang
penggali kubur
Yang tak hanya menggali bumi
Ia juga menggali langit
Agar bintang tak hanya bersedia di malam hari
Pekerjaan itu barangkali pilihan atau bukan
Baginya tak penting
Sesuap nasi buat istri dan anaknya
Barangkali ia bisa
berteka-teki dengan Sorga
Yang tak pernah diimpikannya
Ia memang penggali kubur yang sebenarnya
Cuma Ia tidak merasa
Karena itu ia punya rencana lain
Yang ditulisnya pada kain kafannya sendiri
2025
BARANGKALI 3
Puisi sendiri kadang seperti
sebuah barangkali
Karena di dunia tak ada yang pasti
Kecuali jejak Tuhan
Yang bertaburan meniru derap hujan
Sedang derasnya sengaja disebentarkan
Lalu apa lagi
Yang akan kita gali dari barangkali
Pedasnya bumbu pecel masih tersisa
Membuat dunia ini makin bermakna
Setelah puisi makin tangkas bersembunyi
di luar barangkali
2025
HANGUS
(Untuk Nas Jabbar)
Ada yang hangus
Pada awal tahun baru
Tapi renunganku berpihak pada gerimis
Karena gerimis mudah diolah menjadi puisi
Apakah harus keluar dari rumah
Untuk tahu dunia lain?
Padahal waktu mengalir
Selalu memberikan senyum yang lain
Hangus ini bukan kebakaran
Tapi masalah
Yang harus disingkap:
Ada yang lebih pahit
Dari pada kenyataan
Untuk itu kita diberi empedu
2025
PERISTIWA
Kedua belah kakiku terus
melangkah di jembatan itu
Tubuhku tertinggal
di sehampar batu
menyesuaikan sujud panjangnya
Jiwaku menyempurnakan
gerak diamnya
Peristiwa ini memang tak lucu
Tapi aku ingin menuduhku gila
2025
—
*D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.





