Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
PUISI-PUISI RUKUN ISLAM
SYAHADAT
AKU BERSAKSI
Aku bersaksi
Bukan karena aku pandai membaca dalil,
tapi karena pada malam yang paling sunyi
Kupanggil nama-Mu, dan Engkau menjawab
dengan isyarat yang tak bisa dibantah.
Aku bersaksi
Bahwa tidak ada kekasih yang setia
selain Engkau yang tak pernah pergi,
bahwa Muhammad bukan hanya nabi,
tetapi cahaya jalan pulangku
dari debu dunia yang tak jujur.
Aku bersaksi
Sebab setiap tarikan napas ini
terikat janji yang dulu pernah kutahu
saat ruhku bersujud
di alam yang tak kuingat wajahnya.
Aku bersaksi
Bukan dengan lidah,
tetapi dengan luka-luka yang kupeluk,
dengan harapan yang tak mati,
meski dunia menyamar sebagai surga.
Aku bersaksi
Bahwa aku sering lupa,
namun Kau tetap mengingat,
bahwa aku sering berpaling,
namun Kau tetap membuka pintu
tanpa menanyakan alasan.
Aku bersaksi
Dan biarkan hidup ini menjadi saksi
bahwa aku sedang menuju
bukan hanya akhir,
tetapi awal
yang benar.
2025, 2026
CAHAYA MUHAMMAD
Di langit pertama,
cahaya itu belum bernama.
Ia tak berasal dari timur,
tak pula dari barat.
Ia menembus malam,
angin membuka kabut di padang
hening yang tak berbatas.
Dialah cahaya Muhammad:
bukan api, tapi terang;
bukan bulan, tapi sinar.
Ia menyalakan hati-hati
yang sejak azali
terikat kalimat syahadat.
Cahaya itu bukan milik mata,
melainkan ruh yang memahami
makna keheningan.
Ia tak mencolok,
tapi tak dapat dihindari.
Ia bukan percikan,
tapi jejak.
Bukan kilat,
tapi diam.
Kami bersaksi:
tak ada yang lebih hidup
daripada cahaya
yang menuntun kami
menuju satu-satunya hidup:
Allah.
2025, 2026
KALIMAT AWAL SEGALANYA
Sebelum cahaya dikenal,
langit masih pucat,
tanah menahan waktu.
Angin gamang,
dedaunan tak pandai berdoa,
gunung bisu
tak tahu arah pulang.
Lalu, seberkas sabda bergetar,
memanggil segala yang diam:
“Bangkitlah, wahai yang bersaksi!
Akulah awal dari pengertian.”
Batu pun bergumam,
air mencatat,
langit membuka dadanya.
Ia cahaya
yang belum disebut,
tapi dikenali
oleh jiwa yang jernih.
2025, 2026
SUARA YANG MENEMBUS LANGIT
Langit adalah mata yang terbuka
ketika bumi masih menutup
diri dari namanya.
Sebelum api menjadi perintah,
dan angin memahami arah,
ada suara
yang belum berupa huruf,
tapi mengguncang sunyi dalam segala makhluk.
Ia tidak lahir
dari pita suara siapa pun,
tapi dari kesunyian yang menyebut Tuhannya
tanpa perlu belajar bunyi.
Aku menyebut-Nya,
seperti awan menyebut hujan
sebelum musim dicipta.
Aku menyebut-Nya,
bukan karena tahu,
tapi karena terbangun dalam panggilan itu.
Muhammad bukan nama,
tapi cahaya yang dibentuk oleh waktu
agar manusia belajar mendengar
suara dari sisi yang tak bisa dijangkau sejarah.
Suara itu tak pernah usang,
karena ia bukan milik bahasa
tetapi akar segala makna.
Dan ketika aku mengucapkannya,
sebenarnya bukan aku yang berbicara
melainkan langit yang menjawab
kerinduan bumi
atas Satu yang Maha Esa.
2025, 2026
TITIK AWAL PERJALANAN
Pada suatu pagi yang sederhana
seorang lelaki mencuci wajahnya
dengan air dari sumur yang sunyi,
lalu ia mengangkat tangan
dan menyebut dua nama:
Allah dan Muhammad.
Itulah awalnya.
Tidak ada guntur, tidak ada pelangi.
Hanya langit yang tetap biru,
dan burung-burung tetap mencarikan makan
untuk anak-anaknya.
Tapi dunia berubah.
Batu menjadi saksi,
mata air mengalir lebih jernih,
dan lelaki itu berjalan lebih ringan
karena ia tahu ke mana langkahnya menuju.
Ia bukan nabi.
Ia bukan raja.
Ia hanya manusia yang bersaksi
bahwa hidup tak hanya tentang roti
tetapi juga tentang kebenaran
yang tidak bisa dibeli
dan tidak bisa ditangkap
dengan pancingan kekuasaan.
Sejak saat itu
dunia di dalam dirinya menjadi terang.
Ia tahu bahwa menyebut
Lâ ilâha illâ Allâh, Muhammadur Rasûlullâh
bukan sekadar kata,
tetapi pernyataan perang
melawan kesombongan,
ketakutan,
dan kehampaan.
Dan begitulah,
di desa kecil atau di kota yang bising,
di bawah bayang-bayang sejarah,
selalu ada satu titik awal perjalanan
yang dimulai dari kalimat sederhana,
tapi mengubah hidup seluruhnya.
2025, 2026
SHALAT
RUMAH SEMBAHYANG
Setiap shalat adalah sebuah rumah
yang kudirikan di atas tanah hening jiwaku.
Tak ada pintu, tak ada jendela,
hanya satu arah:
menghadap cahaya yang tak pernah redup.
Di dalamnya
aku bukan siapa-siapa
hanya seonggok debu
yang ingin menjadi cahaya.
Kubentangkan sajadah
seperti membuka dada
tempat kutitipkan luka
dan doa yang belum menemukan bentuk.
Tak selalu aku khusyuk,
kadang hanya gerak yang terlupa jiwa,
namun selalu ada denting
yang mengetuk dinding hatiku
agar tidak sepenuhnya tidur.
Shalat bukan sekadar perintah,
ia adalah pertemuan
antara tubuh yang letih
dan Tuhan yang tak pernah lelah mencinta.
Setiap rakaat
adalah langkah pulang
ke rumah yang tak pernah roboh
meski dunia berkali-kali gempa.
Dan ketika aku bersujud,
kulihat bayangku hilang
yang tinggal hanya cahaya
dan nama-Mu
yang mengakar
di ruang terdalam
diriku.
2025, 2026
LANGKAH-LANGKAH MENUJU CAHAYA
Di antara hembusan angin pagi,
jejak kaki menapak sunyi,
melintasi lorong waktu,
mengukir doa dalam setiap gerak.
Langkah demi langkah, tubuh dan jiwa
bersatu dalam tarian tanpa suara,
tangan terbuka menjemput cahaya,
mengurai beban di setiap ruku dan sujud.
Detik mengalir menjadi zikir,
nafas bergetar membawa harap,
pintu langit terbuka perlahan,
mengantar rindu pada Sang Maha.
Shalat bukan sekadar gerak tubuh,
melainkan perjalanan pulang ke fitrah,
di mana hati berdialog dengan cahaya,
dan jiwa menemukan rumah sejatinya.
2025, 2026
GERAK DAN JIWA
Tubuh ini tunduk,
bukan karena lelah oleh dunia,
tetapi karena ruh menjemput suara
yang hanya terdengar
dalam sunyi shalat.
Langkah kaki menuju sajadah
adalah isyarat dari cinta purba
yang terikat janji sebelum jasad dijahit
di rahim ibunda.
Di antara takbir dan salam,
ada semesta yang bergetar,
ada cakrawala yang menyingkap rahasia,
di mana setiap gerak adalah zikir,
dan setiap diam pun mengandung ziarah.
Ruku bukan sekadar membungkuk,
melainkan jiwa yang meletakkan egonya
di bawah rahmat Sang Cahaya.
Sujud bukan sekadar menyentuh bumi,
tetapi kembalinya ruh
ke pangkuan asalnya.
Lidah tidak hanya membaca ayat,
tetapi membuka pintu langit
dengan anak kunci yang basah
oleh air mata dan harap.
Inilah tarian agung
antara yang fana dan yang kekal,
antara tubuh yang membungkuk
dan jiwa yang terbang menembus hijab.
Shalat adalah gerak dan jiwa
yang menulis sejarah pulang
menuju Dzat yang menyebut kita
sebelum kita menyebut-Nya.
2025, 2026
SUJUD YANG MENGHAPUS JARAK
Aku sujud pagi ini,
seperti petani yang tahu:
tanah tak pernah menolak benih
meski tanganku kotor.
Tikar tua di mushala
tak indah,
tapi cukup untuk lutut yang bergetar
dan dada yang penuh debu kehidupan.
Jarak antara aku dan Tuhan
bukan tujuh langit,
tapi satu kesalahan
yang tak sempat aku sesali semalam.
Sujudku bukan milik orang suci.
Ia milik buruh, milik ibu yang kelelahan,
milik anak-anak yang kelaparan,
yang berharap doa sampai meski
tanpa bahasa Arab yang fasih.
Ketika dahiku menyentuh bumi,
aku tidak tahu apa yang kudengar lebih dulu
detak jantungku
atau gema keheningan
yang berkata:
“Aku mendengarmu.”
2025, 2026
WAKTU YANG MENGALIR DALAM DOA
Jam tua di sudut mushala
berhenti berdetak,
tapi langkah-langkah takbir
menghidupkan dentingnya
dalam setiap rakaat yang diam.
Aku mendengar malam
berkesiur pelan dalam sujud,
seperti air yang turun
dari rahim langit
menemui muara yang bernama pengampunan.
Setiap waktu
menyimpan celah,
tempat cinta Tuhan
merambat seperti akar
ke hati yang retak-retak oleh lupa.
Doa tak sekadar kata
yang meluncur dari lidah,
ia adalah waktu yang disucikan
oleh luka dan harap
yang dirangkai hening.
Aku pun bersandar
pada aliran yang tak kutahu ujungnya
kecuali bahwa ia menuju
keheningan di mana
Allah menyimpan jawab-Nya.
2025, 2026
ZAKAT
MEMBERSIHKAN DENGAN MEMBERI
Di balik hitungan harta
tersembunyi wajah-wajah lapar
yang tak bersuara
tapi mengetuk langit
dengan air mata.
Tangan yang mengulur
bukan milik si kaya,
melainkan milik Yang Mahakaya
yang menumpangkan rahmat-Nya
dalam laku manusia.
Setiap keping yang lepas dari genggam
adalah debu dunia
yang dibersihkan dari jiwa,
seperti daun gugur dari pohon tua
agar hidup kembali muda
di musim cahaya.
Zakat bukan sekadar jumlah,
tapi gerak jiwa
yang rela kehilangan
demi menemukan kebeningan
di telaga kasih-Nya
yang tak bertepi.
Maka siapa memberi
sesungguhnya sedang menerima
angin sejuk bagi batin,
dan cermin bening
bagi wajah Tuhan.
2025, 2026
TUBUH ORANG LAIN
DALAM DIRI KITA
Dalam sebutir beras
ada telapak tangan yang retak
ada keringat yang menetes dari ubun-ubun
ada doa yang melesak dari tanah tak bernama
Kita kunyah
tulang punggung petani
tanpa sempat kita kirimi kabar,
bahwa hidupnya
masih tersimpan dalam tubuh kita
Kita seruput secangkir kopi
dari tubuh yang tak sempat beristirahat
di ladang yang terus menyala matahari
tanpa tenda, tanpa tawa
Kita hirup
aroma penderitaan yang dilupakan
oleh lidah yang memuja rasa
Zakat bukan pemberian
tapi penebusan
atas tubuh orang lain
yang tersembunyi dalam darah kita
Bukan belas kasihan
melainkan jalan pulang
untuk mengenali siapa kita
dalam rupa yang terbelah
Di setiap gumpal harta
ada jejak tangan orang lain
yang ikut memanggul rezeki
tanpa tercatat di lembar upah
Zakat
adalah mengembalikan
yang sebenarnya bukan milik kita
kepada mereka yang tak bersuara
namun menumbuhkan kita dari dalam
Dalam tubuh kita
ada tubuh-tubuh yang tak dikenal
yang diam-diam menghidupi kita
dengan doa, dengan sabar
dengan luka yang mereka pendam sendiri
Dan zakat
adalah sujud sosial
yang membuat kita
diampuni oleh orang-orang kecil
Jika ada yang tak selesai dalam hidupmu
barangkali
itu bukan karena engkau kurang bekerja
tapi karena ada bagian dari dirimu
yang belum kau kembalikan kepada pemiliknya
2025, 2026
MENAKAR BAHAGIA ORANG LAIN
Aku bertanya kepada pagi:
mengapa senyum tak selalu tinggal di wajah
orang-orang yang diam menahan lapar?
Pagi menjawab:
karena bahagia
telah disimpan terlalu lama
di dalam laci
yang dikunci oleh takut memberi.
Aku bertanya kepada malam:
mengapa tidur menjadi berat
bagi mereka yang tak pernah memilih lapar?
Malam menjawab:
karena doa-doa yang tertahan
tak berhenti mengetuk
pintu hati yang memeluk dunia
tanpa mau berbagi surga.
Dan aku bertanya kepada diriku:
mengapa tangan ini ragu
untuk melepaskan sebutir rezeki
kepada yang lebih membutuhkan?
Diri menjawab:
karena kau lebih percaya
bahwa harta bisa menjaga
daripada percaya bahwa kasih bisa menyucikan.
Bahagia bukanlah milik sendiri.
Bahagia, seperti cahaya,
tak bisa dikurung di genggaman
tanpa membuat bayangan lebih pekat.
Aku berkata kepada zakat:
engkau bukan sekadar hitungan,
bukan seperempat dari sepersepuluh,
bukan kalkulasi dari laba,
tapi engkau adalah cara
untuk berkata:
aku mencintai manusia
tanpa harus memiliki mereka.
Zakat adalah cara
untuk mengembalikan keadilan
yang tak sempat dicatat di neraca pasar.
Zakat adalah jalan
agar kita tidak tersesat
dalam kekayaan yang menjauhkan kita
dari wajah-wajah
yang diam-diam menghidupi kita
dari kejauhan doa.
Dan aku bertanya lagi:
bagaimana caranya menjadi bahagia?
Jawabannya datang
dari seorang anak yang menerima sepasang sandal:
“Bahagia itu sederhana,
cukup ada yang mengingatku
tanpa aku harus meminta.”
2025, 2026
HARTA YANG MENJADI CAHAYA
Di lemari itu
emas tersimpan tanpa suara,
tapi di luar sana
ada tubuh lapar
yang mengaji dengan air mata.
Kekayaan bukanlah
tumpukan angka di layar,
melainkan bara
yang menunggu tangan
untuk menyalakannya menjadi pelita.
Satu genggam beras
yang berpindah tangan
lebih terang dari
seribu bintang
di malam yang dingin dan sepi.
Ketika hati tak menggenggam,
melainkan membuka,
harta menjadi jembatan
tempat rahmat Allah
berjalan menyeberangi kefakiran.
Aku pun mencatat
bahwa cahaya bukan berasal
dari apa yang kita simpan,
melainkan dari apa yang kita relakan
dengan cinta yang menghilangkan nama.
2025, 2026
MEMBERI UNTUK MENJADI
Beras yang kugenggam bukan sekadar butir,
tapi harapan yang kutuangkan dalam genggaman.
Memberi bukan berarti hilang,
melainkan menemukan diri dalam setiap sisa.
Tangan yang memberi adalah ladang,
tempat tumbuh benih-benih kesabaran dan kasih.
Dalam setiap butir yang kutebar,
ada doa yang mengalir diam-diam,
menghapus jarak antara aku dan mereka.
Aku memberi bukan untuk dimiliki,
melainkan untuk menjadi
seperti sungai yang mengalir tanpa menuntut kembali,
membawa kehidupan ke tempat yang kering.
Memberi adalah langkah kecil,
yang menyambungkan hati,
menyatukan jiwa yang pernah terpisah,
dan menjadikan aku utuh dalam keberadaan.
2025, 2026
PUASA
LAPAR YANG MENYUCIKAN
Lapar ini
bukanlah siksaan
tetapi panggilan
untuk kembali
kepada diri yang sejati
ia mengetuk perut
sebagai pintu hati
dan membersihkan
lumbung keinginan
dari kerak dunia
Lapar ini
bukan sekadar berhenti makan
melainkan melepaskan
segala keterikatan
yang membelenggu
cahaya batin
Kita tidak sedang menyiksa tubuh
kita sedang menghidupkan ruh
yang terpendam
di balik kerak kebiasaan
dan tumpukan selera
Kita tidak sedang menjauhi dunia
melainkan sedang menyentuhnya
dengan kelembutan
yang tidak haus akan milik
Kita tidak sedang menolak nikmat
tetapi sedang menakar
nikmat yang sejati
di balik hasrat
yang tak henti meminta
Dalam perut yang kosong
doa mengalir lebih jernih
zikir naik tanpa penghalang
mata hati terbuka
dan ruh menemukan
jalannya kembali
Rasa lapar itu
mengikis kerak
yang membungkus kalbu
hingga ia kembali bening
seperti fajar
di kening orang-orang
yang berserah
Puasa adalah kesaksian sunyi
bahwa kita bukan makhluk perut
tetapi makhluk cahaya
yang tumbuh
dari sabar dan doa
Bahwa kebahagiaan
bukan soal kenyang
tetapi tentang ridha
dan pengenalan
akan siapa pemilik
segala rasa
Karena pada akhirnya
lapar ini
menyucikan tubuh
menjernihkan hati
dan mengantarkan jiwa
ke pintu yang hanya bisa dibuka
dengan kunci
ketulusan dan keikhlasan
Di sanalah
puasa menjelma sujud
yang tak bersuara
tapi menggema
dalam diri
hingga terasa
ke langit yang paling dalam.
2025, 2026
WAKTU YANG MEMBAKAR NAFSU
Di mataku,
jam tak lagi berdetik.
Ia hanya menunduk,
membiarkan waktu menetes
seperti embun yang malu
pada pagi yang suci.
Aku mencium wangi lapar
seperti mencium kening ibu
yang menyimpan sabar
dalam lipatan kerudungnya.
Puasa mengajarkanku
cara mencintai tanpa memiliki,
cara menyentuh dunia
tanpa menggenggamnya terlalu erat.
Hari ini,
aku belajar diam
di hadapan nafsu
seperti seorang kekasih
yang tahu:
cinta bukan tentang mengambil,
tetapi memberi ruang
bagi jiwa untuk bernafas.
Tuhan,
aku membakar kerak dunia dalam dadaku
dengan sabar,
dengan doa,
dengan air mata yang tidak jatuh
kecuali kepada-Mu.
2025, 2026
KETIKA NAFAS MENJADI DOA
Di antara dua hela napas,
ada yang tak tampak tapi nyata:
suatu bisik yang tak diucap,
tapi selalu sampai
ke tempat yang tak berbatas.
Aku pun belajar berdiam
seperti tanah yang pasrah
saat ruh ditiupkan ke dalamnya
bukan sebagai tubuh
melainkan amanah
yang diberi waktu dan tujuan.
Setiap helaan
adalah bagian dari zikir
yang tak disadari lidah
namun dikenali oleh Yang Mahadekat,
lebih dekat
dari urat leherku sendiri.
Aku tak lagi tahu
mana antara hidup dan ibadah,
sebab yang menghidupi
telah menjelma menjadi doa
di dalam paru-paru,
menetes di dinding dada,
dan kembali ke langit
seperti embun yang tak sempat jatuh
karena telah diangkat
oleh kasih-Nya.
Maka ketika aku bernapas,
aku bukan sekadar hidup
aku sedang pulang
pelan-pelan
dalam kesunyian
yang selalu didengar-Nya.
2025, 2026
SUNYI YANG MENJADI TEMAN
Sunyi duduk di sampingku,
seperti sahabat lama yang tak pernah pergi,
menemani lapar yang membakar perut,
menahan nafsu yang berteriak di dada.
Puasa adalah sebuah kota sepi,
di mana detik-detik berjalan lambat,
dan kesabaran tumbuh di sela-sela rindu,
seperti bunga liar di tengah jalan berdebu.
Aku belajar bicara dengan sunyi,
tanpa suara, tanpa kata-kata,
hanya doa yang mengalir dalam setiap hembusan napas,
dan harap yang menari di balik kelopak mata.
Sunyi adalah rumahku,
tempat aku merajut sabar dan cinta,
menunggu fajar datang tanpa suara,
membawa janji baru untuk hari yang panjang.
2025, 2026
MALAM YANG PENUH CAHAYA
Malam ini aku duduk
di ujung sunyi yang tak bertepi,
memeluk gelap yang lembut,
menunggu cahaya tanpa suara.
Bulan bukan hanya benda,
melainkan lentera di dada yang gelisah,
menyusup di celah-celah hati,
menghidupkan rindu yang hampir redup.
Di balik kelam malam,
doa berkelana tanpa lelah,
menembus langit yang tertutup awan,
menjemput cahaya-Nya yang rahasia
seperti firman-Nya:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya.”
Malam bukan untuk tidur,
tapi untuk mengenal diri,
menyucikan jiwa dalam diam,
dan merengkuh cahaya yang tak berkesudahan
seperti ruh yang ditiupkan ke tanah,
dan langit pun bersaksi akan ketaatan sunyi.
2025, 2026
Wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥabli l-warīd.
(QS Qāf [50]: 16)
HAJI
LANGKAH YANG MENGULANG JEJAK
Langkah ini
bukan sekadar gerak tubuh
di antara tanah tandus dan panas yang menyiksa,
melainkan gema dari panggilan lama
yang pernah dijawab seorang hamba
dengan cinta yang lebih tua dari waktu
seperti azan Ibrahim
yang menembus penjuru bumi.
Aku berjalan
di atas pasir yang pernah memeluk jejak Ibrahim,
menyusuri tapak Ismail
yang dahulu menangis
dan disambut zamzam dari rahmat langit.
Tak ada kata dalam tawaf,
selain zikir yang menggema dalam dada
aku hanyut di arus putaran
yang membawa tubuh
kembali pada poros keesaan.
Setiap sa’i
adalah pengulangan cinta Hajar
yang tak mencari dunia,
tetapi mencari-Nya
dalam sabar dan keteguhan yang tak retak.
Aku bukan tamu,
tapi pecahan dari kerinduan purba
yang dibangunkan oleh seruan langit,
untuk kembali
pada jejak suci
yang tak pernah usang dimakan waktu
dan aku pun luruh seperti debu dalam takdir-Nya.
2025, 2026
DI PADANG NAMA DILEPASKAN
Di padang luas tanpa bayang,
nama-nama ditanggalkan satu per satu
gelar, kehormatan, dan kebanggaan
mencair bersama peluh yang luruh.
“Kemudian berwukuflah kamu di Arafah,
dan sebutlah nama Allah…”
Arafah, tempat tak ada yang lebih tinggi
kecuali yang paling tunduk.
Semua menjadi sama,
kain putih, debu, dan doa yang menganga.
Langit pun diam,
menyimak rintihan sunyi
dari mulut-mulut yang haus
bukan oleh dunia,
melainkan oleh pengampunan yang tak terlihat.
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?
Mereka menjawab: Betul, kami menjadi saksi.”
Di sinilah Adam dahulu menangis,
dan segala anak cucunya
diajari arti kembali,
kembali kepada fitrah,
yang ditiupkan dari langit
dan akan kembali ke langit pula.
Lalu aku pun menanggalkan namaku,
menyebut hanya satu,
nama-Mu,
yang melingkupi segalanya,
dan meniadakan yang fana dalam diriku.
2025, 2026
Ṡumma afīḍū min ḥaiṡu afāḍa n-nāsu wastaġfirūllāh.
(QS Al-Baqarah [2]: 199)
Alastu birabbikum, qālū balā syahidnā.
(QS Al-A‘rāf [7]: 172)
KEMBALI SEBAGAI DEBU
YANG TERCERAHKAN
Aku kembali,
bukan membawa gelar,
bukan mengusung kisah,
tetapi sebagai debu
yang telah mengenal arah angin-Nya.
Telah kutanggalkan
seluruh pakaian dunia:
ambisi, nama, dan bayang pujian
agar yang pulang
hanyalah jiwa
yang pernah disentuh cahaya-Nya.
“Dan jadikanlah
sebagian maqam Ibrahim tempat shalat…”
Di maqam itu,
kulihat jejak seorang hamba
yang membangun bukan rumah,
tetapi penghambaan
yang tak pernah lapuk.
Aku pun sujud,
bukan di atas sajadah,
melainkan di antara batu-batu
yang menyimpan isak para kekasih-Nya.
“Barang siapa mengagungkan syiar Allah,
maka itu dari ketakwaan hati…”
Maka pulangku
bukan membawa apa-apa,
selain kehilangan yang penuh makna
hilangnya diri
agar cahaya-Nya
lebih leluasa menetap.
Aku kembali
seperti debu yang tercerahkan,
yang tak punya bentuk,
namun mencintai
apa pun yang disentuh-Nya.
2025, 2026
Wattakhidzū min maqāmi Ibrāhīma muṣallā.
(QS Al-Baqarah [2]: 125)
Wa man yu‘aẓẓim sya‘ā’iraLl-āhi fa-innahā min taqwā l-qulūb.
(QS Al-Ḥajj [22]: 32)
MENCIUM BATU,
MENYENTUH LANGIT
Tak ada sihir
dalam batu hitam itu.
Ia hanyalah batu
yang pernah disentuh tangan Ibrahim
dan dicium Rasulullah
dengan cinta yang menyala dari langit
“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim
sebagai tempat shalat…”
Ketika bibirku
menyentuh permukaannya yang sunyi,
aku pun larut
seperti embun yang jatuh
ke dalam takdir yang purba.
Batu itu diam,
namun di dalam diamnya
terdengar gema ribuan langkah
yang datang dari arah rindu.
“Kemudian hendaklah
mereka menghilangkan kotoran
dan menepati nazar-nazar mereka,
dan bertawaflah mereka di rumah yang tua itu.”
Inilah rumah tua,
yang lebih tua dari waktu,
yang menyimpan gema sujud,
tangis rahasia,
dan ciuman yang tak bersuara.
“Dan barang siapa memasukinya, ia aman…”
Di sinilah segala ketakutan
luruh bersama debu,
dan yang tertinggal
hanyalah keheningan
yang menuntun hati ke langit.
Aku pun mencium batu itu,
bukan karena ia suci,
tetapi karena cinta
yang pernah mengalir padanya
masih mengalir
hingga menembus langit.
Dan saat itu,
aku tak lagi mencium batu,
melainkan ciumanku
menyentuh langit
dan menenggelamkanku
dalam samudra penghambaan
yang tak bertepi.
2025, 2026
Wattakhidzū min maqāmi Ibrāhīma muṣallā.
(QS Al-Baqarah [2]: 125)
Ṡumma l-yaqḍū tafatsahum
wa l-yūfū nuzūrahum
wa l-yathṭhawwafū bil-baiti l-‘atīq.
(QS Al-Ḥajj [22]: 29)
Wa man dakhala-hu kāna āminan.
(QS Āli ‘Imrān [3]: 97)
TAWAF DALAM KEHAMPAAN
Di lingkaran batu yang sunyi,
aku berjalan tanpa jejak,
mengitari ruang kosong
tempat dunia menanggalkan segala ikatan,
dan jiwa merdeka dalam kesunyian.
“Dan mereka mengelilingi rumah itu
dengan penuh ketundukan…”
Langkahku bukan untuk dimengerti,
melainkan untuk menyerahkan diri,
kepada keheningan yang berbicara
lebih keras dari ribuan kata,
menggetarkan kalbu yang haus makna.
Tiada tujuan selain kembali
ke pusat yang tak berwujud,
di mana nafas dan doa berpadu,
menjadi saksi keesaan yang abadi,
seperti ruh yang ditiupkan-Nya
ke dalam tanah dan langit.
Kehampaan bukanlah kekosongan,
melainkan rahim yang menyuburkan jiwa,
tempat aku menanggalkan segala yang fana,
dan menerima nur yang menuntun jalan kembali,
menghapus debu keserakahan dunia.
Tawafku adalah tarian sunyi,
antara rindu dan penghambaan,
mengelilingi titik suci dalam diri,
yang tak pernah lelah mencinta,
membawa aku pulang pada cahaya
yang sejak dulu menjadi tujuan.
2025, 2026
“Wa ṭṭahhir baitiya lilṭṭāifīna wa al-qāimīna wa ar-rukka‘i as-sujūd.”
(QS Al-Baqarah [2]: 125)
—–
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***





