Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA ANGKRINGAN
MALAM JUMAT

 

Di bawah lampu redup yang menua

di tiang listrik yang tak pernah dipeluk siapa-siapa,

seorang lelaki tua mengaduk kopi

dengan tangan gemetar, tapi tak kehilangan harap.

 

Ia menyapa pelanggan dengan nama-nama kecil

yang dulu hanya dipanggil ibunya:

Karto, Dul, Minem, Kaji Sani.

Mereka datang dengan badan lelah,

tapi wajah mereka hangat

seperti rokok linting yang baru dinyalakan.

 

Di sini,

tak ada doa yang dilafalkan keras-keras,

tapi ada nafas yang panjang

setelah tiap seruput kopi.

 

Tak ada ceramah.

Tapi tiba-tiba seseorang menunduk

dan berkata lirih,

“Gusti Allah ki apikan, yo, ngono?”

 

Yang lain mengangguk,

dengan sambal teri di tangan

dan gorengan yang masih berminyak.

 

Ada yang membicarakan anaknya

yang gagal ikut ujian CPNS,

tapi kemudian tertawa,

seolah dunia bukan perkara lulus atau tidak.

 

Ada yang cerita tentang tetangganya

yang menunggak listrik tiga bulan

tapi masih bisa bersedekah tiap Jumat pagi.

 

Malam terus berderak

seperti roda sepeda tua

yang dilupakan sejarah.

Tapi angkringan tetap hidup,

menyimpan rahasia kecil

antara Tuhan dan rakyatnya.

 

Seorang pemuda datang membawa gitar

dan menyanyikan lagu dari zaman yang hilang,

“Ibu pertiwi sedang menangis…”

Lalu semua diam.

Kopi menjadi lebih hangat

dan langit seperti menggigil sebentar.

 

Jam menunjukkan pukul dua pagi.

Tikar digulung. Bara dipadamkan.

Tapi kearifan tak pernah tidur,

ia pulang bersama mereka,

dalam kantong kresek kecil berisi tempe bacem

dan hati yang tak pernah menggugat nasib.

 

2025

 

 

 

 

BALADA SUMUR TUA
DAN BATU PENYANGGA

 

Di lereng waktu yang lelah,

sumur tua itu masih bernafas,

seperti dada seorang wali

yang menahan gemuruh dunia

dengan seutas tasbih air.

 

Ia dikelilingi bisik pepohonan,

dan bau lumut yang bersujud

di tubuh batu penyangga

yang tak pernah mengeluh

meski menopang kesedihan langit.

 

Setiap tetesnya

adalah ayat yang gugur dari dahi malam,

dan tiap timbaan

menjadi gema takbir

yang berulang dari tubuh bumi

menuju langit paling sunyi.

 

Anak-anak kadang melempar daun ke dalamnya,

menunggu doa tumbuh

seperti bayang-bayang

yang bermekaran di permukaan cahaya.

 

Dan batu itu

ah, batu itu bukan sekadar batu

ia penjaga waktu,

tempat arwah-arwah singgah

untuk membasuh jejaknya

sebelum diterbangkan ke taman rahasia.

 

Di situ, seorang kiai

pernah bertafakur tujuh malam tujuh hari,

hingga air sumur mengucapkan syahadat

kepada rembulan yang gemetar

di kelopak matanya.

 

 

Kini, tak banyak yang datang.

Namun ketika angin membawa harum daun sirih,

dan ada burung hantu bersiul dari ujung langit,

sumur itu kembali membuka mulutnya

dan berkata pelan,

“Aku masih menyimpan wudu orang-orang

yang lupa pulang.”

 

2025

 

 

 

BALADA PINTU MASJID
YANG TAK PERNAH TERKUNCI

 

Pintu itu

tidak pernah tahu

siapa yang datang,

penjaja pisang, tukang sol sepatu,

perempuan tua dengan tatapan rindu.

 

Ia hanya membuka

tanpa tanya, tanpa prasangka,

seperti rahmat yang tidak pernah menoleh

pada kartu identitas

atau catatan masa lalu.

 

Kadang angin malam masuk,

membawa bau keringat dan doa setengah jadi.

Kadang suara sandal anak-anak

berlari di pelataran,

mengeja Tuhan dari langkah mereka

yang belum hafal arah kiblat.

 

Di sela-sela itu,

ada yang menangis,

ada yang duduk diam

seperti batu yang menyimpan

suara ayat dari zaman lampau.

 

Langit tidak pernah menutup pintu-Nya,

dan masjid belajar dari langit.

Kuncinya hanya satu:

tidak dikunci.

 

Maka siapapun yang datang

adalah tamu.

Dan setiap tamu

membawa kemungkinan

bahwa hidup bisa dimulai dari sujud pertama,

atau bahkan dari kesadaran

bahwa dirinya belum pernah sujud sama sekali.

 

2025

 

 

 

 

BALADA LANGGAR LEMPUNG
DAN TEROMPAH BASAH

 

Langit turun dalam kepal tangan,

mengendap di lantai lempung

yang belum pernah kering dari sujud.

 

Langgar itu

bernafas dari tanah liat dan air wudu,

dibangun dari zikir tua

dan bayang-bayang bapak yang hilang

di tikungan malam.

 

Terompah basah

berbaris di serambi

seperti burung kecil yang kembali dari langit

membawa angin

dan pesan rahasia.

 

Tak ada jam di dinding.

Hanya waktu yang mengalir

dalam detak takbir,

dalam langkah diam

anak-anak yang menghafal surah

di antara suara kodok dan ranting jatuh.

 

Langgar itu

tidak pernah menua,

karena setiap malam

ada ibu yang menanak doa

dalam uap kemenyan,

dan setiap subuh

ada angin yang mencium sajadah

lalu pergi

tanpa jejak.

 

Dalam sunyi,

kursi kayu tua mendengar khutbah

dari langit yang tak terlihat.

Ia tahu,

siapa saja yang masuk,

akan keluar lebih ringan

dari beban yang dibawanya.

 

2025

 

 

 

BALADA MENARA SERAMBI
DAN BURUNG PIPIT

 

Di atas serambi, angin menggigil

mencium batu-batu

yang berzikir dalam diam.

Tak ada paku.

Tak ada luka logam.

Menara itu tumbuh seperti doa

yang mengakar dari dada tanah.

 

Langit mengambang.

Waktu meleleh di atas kubah.

Dan seekor pipit

pipit kecil berjubah abu

melantunkan rahasia

yang tak dipahami para pejalan.

 

“Aku bukan burung,” katanya,

“Aku bunyi dari ayat

yang tak selesai ditulis oleh malam.”

 

Setiap fajar, menara menganga

seperti mulut para kekasih

yang kehilangan kalimat suci.

 

Tak seorang pun tahu

siapa meletakkan batu pertama.

Konon, ia tak bernama.

Tangannya berdarah,

tapi tak ada luka.

Dan langit bersaksi:

paku tak dibutuhkan untuk membangun

apa yang dikehendaki Tuhan.

 

Pipit pun menari

di antara kabut dan azan,

mencari bayang-bayang

dari suara

yang menjelma cahaya.

 

 

Dan siapa pun yang lewat,

jika hatinya tak terkunci,

akan mendengar

desah cinta Tuhan

dari menara tak berpasak itu.

 

2025

 

 

 

BALADA KACA JENDELA DAN
BAYANG-BAYANG PETANG

 

Di ujung gang yang basah oleh hujan sore,

kaca jendela menggigil menahan cahaya terakhir.

Langit seperti mulut doa yang tak rampung,

dan bayang-bayang duduk diam

di kursi yang patah dalam hati.

 

Kaca itu bukan sekadar bening

ia menyimpan wajah-wajah yang tak pulang,

tangan-tangan yang pernah berdoa

tapi tak sempat selesai.

Petang pun datang seperti kiai yang bisu:

membawa kabar dari langit

tanpa suara, hanya getar.

 

Di balik kaca,

seorang ibu tua menyulam senyap

dengan benang kabut.

Matanya tak lagi melihat dunia,

hanya siluet ruh

yang berdiri di ambang langit-langit rumah.

 

Bayang-bayang menari di tembok

seperti anak-anak yatim

yang mencari arah azan.

Dan cahaya?

Ia seperti ayat yang malu-malu

menyentuh dada kaca yang dingin.

 

“Siapakah aku,” bisik bayangan,

“pantulanmu atau wujudmu?”

Tapi kaca hanya menjawab

dengan tetes embun

yang jatuh pelan

seperti air mata rahasia.

 

2025

 

 

 

 

BALADA MIMBAR TUA
DAN SUARA TAKBIR

 

Mimbar tua di sudut masjid retak,

dari kayu jati yang pernah tumbuh

di tubuh para wali yang diam.

Ia menyimpan suara-suara

yang tak pernah jadi debu.

 

Setiap malam Jumat,

suara takbir naik seperti burung luka

yang masih mencari langitnya.

Tiang mimbar bergetar

seperti urat di dada seorang syuhada

yang menahan tangis karena rindu.

 

Dari celah mimbar tua,

angin melafazkan nama yang dirindukan semesta.

Lantai batu pun sujud

sebelum imam sempat melangkah.

Di bawah cahaya lampu minyak

yang hampir padam,

mimbar itu bicara dalam diamnya.

 

“Aku adalah lidah para nabi,”

bisiknya pada malam,

“dan setiap langkah menuju atasku

adalah lintasan ruh yang merindu.”

 

Anak-anak yang tertidur di serambi

bermimpi tentang langit yang tak ada atapnya.

Sementara takbir terus menggema,

memecah dada malam

seperti purnama yang dicium

dari kejauhan.

 

Dan mimbar itu,

meski tua dan nyaris rebah,

tetap berdiri,

sebab suaranya bukan kayu,

melainkan gema zaman

yang tak mau binasa.

 

2025

 

 

 

 

BALADA KARPET YANG 
MENYIMPAN BEKAS SUJUD

 

Di pelataran masjid yang sunyi,

sajadah tua terbentang seperti langit

yang pernah menangis.

Benangnya menghafal nama-nama

yang tak sempat dilafazkan,

dan di tiap seratnya,

ada bekas dahi

yang pernah menggigil karena rindu

kepada Yang Gaib.

 

Ia bukan sekadar alas,

melainkan saksi dari malam-malam patah:

seorang ibu menengadah

menyembunyikan isak dalam bisik doa yang basah,

seorang ayah bersujud,

dan bumi mendengar beban

yang tak pernah ia ceritakan

kepada siapa pun.

 

Ada noktah kecil

yang tak bisa dicuci oleh waktu

air mata seorang anak

yang tak sanggup mengucap amin,

karena surga yang ia doakan

masih terbaring

di ruang rawat yang dingin.

 

Sajadah itu tak harum

ia bau tanah,

bau keringat yang telah menjadi zikir,

bau luka

yang dibersihkan dalam takbir.

 

Dan bila malam turun

seperti air yang pelan,

lampu gantung mulai redup,

karpet itu berdesir pelan,

menyebut satu per satu

para jiwa

yang pernah rebah di atasnya

untuk melupakan dunia.

 

Lalu esoknya,

saat suara azan kembali lahir,

ia terbentang lagi

diam,

tapi tak pernah lupa

suara yang gemetar dalam sujud,

dan nama Yang Maha Mendengar

yang selalu kembali disebut

tanpa jeda.

 

2025

 

 

 

 

BALADA MENYAN 
YANG TAK LAGI DINYALAKAN

 

Di sudut langgar tua,

tungku tanah liat meringkuk

seperti dada ibu yang kehilangan nafasnya.

Menyan tak lagi dinyalakan.

Asapnya hilang

bersama bau kayu gaharu

dan zikir malam yang dulu bersahut dari lorong-lorong.

 

Waktu telah menyeka jejak-jejak harum,

mengganti lentera dengan neon dingin

yang tak pernah berkedip untuk langit.

Tak ada lagi santri kecil

yang meniup bara dengan hati,

tak ada tangan renta

yang menyuap abu ke dalam kemenyan

seperti menyuapi rahasia ke langit.

 

Bayangan para kiai di malam-malam sunyi

turun perlahan dalam zikir yang tak bersuara,

menatap asap menyan yang dulu

menjadi jalan pulang tanpa suara.

 

Kini hanya debu

yang mengenang bagaimana harum

menjadi jembatan antara bumi dan langit.

Dan di antara ubin dingin

dan kitab yang berselimutkan waktu,

menyan pun belajar diam

seperti pohon yang tak lagi dipeluk angin.

 

2025

 

 

 

 

BALADA SAJADAH ROBEK
DI PELATARAN PASAR

 

Di pelataran pasar,

di antara tumpahan bawang dan debu sepatu,

sehelai sajadah robek

terhampar seperti rahim yang menunggu

doa-doa tanpa harga.

 

Angin membawa sisa-sisa zikir

yang tertinggal di pinggir sandal,

sementara seorang lelaki renta

sujud di atas sobekan

yang pernah jadi milik istrinya

yang kini menjadi bayang di sajadahnya sendiri.

 

Tak ada kubah,

tak ada azan,

hanya deru tawar-menawar

dan tangis anak yang kehilangan gula.

 

Tapi malaikat,

malaikat masih turun perlahan

melalui lubang robek itu,

mencium kening lelaki itu

yang menjaga wudunya

seperti menjaga bara di malam hujan.

 

Di langit,

awan takbir tergantung rendah,

dan matahari menutup sebagian wajahnya

agar tak mengganggu yang sedang khusyuk

di atas sajadah yang luka.

 

Dan pasar pun berhenti sebentar

satu detik,

saat bumi menyimak

suara yang tak keluar dari mulut,

tapi naik seperti embun

ke telinga langit.

 

2025

 

 

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur.  Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Dia menjadi Guru Besar di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.

Buku terbarunya : Kumpulan Sajak  Nun (CV. Cinta Buku, Yogya, 2018), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (Nuansa, Bandung, 2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (CV. Cinta Buku, Yogya, 2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (Basabasi, Yogya, 2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (Jejak Pustaka, Yogya, 2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (Basabasi, Yogya, 2022), Dinamika Puisi Indonesia (Basabasi, Yogya, 2023), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (CV. Cinta Buku, Yogya, 2024), Kumpulan Balada Kisah untuk Anak Cucu (Diva Press, Yogya, 2025).

Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).