Patung Macan Putih Kediri, Humor, dan Masyarakat

Oleh: Agus Dermawan T.*

 

Patung Monumen Macan Putih yang konyol di Balongjeruk, Kediri, viral sejak ujung 2025. Patung ini menyadarkan bahwa karya seni yang aneh, rusak dan “kocak” adalah magnit yang mengandung humor, sehingga menghibur. Ada yang menyebut ini bagian dari kebudayaan kontemporer.

—————————–

 

DALAM kisah legenda Sie Jin Kui, orang hebat era Raja Li Shibin (598-649) dari Dinasti Tang (618-907), ada hewan yang diangkat sebagai kekuatan spiritual dan kedigdayaan raga. Hewan itu adalah macan putih (Panthera Tigris). Sejak itu dalam budaya Asia macan putih dilambangkan sebagai kekuatan, keberanian dan kepemimpinan. Sosoknya gagah, wajahnya ganteng dan garang, gerakannya lembut namun cekatan, bulunya yang putih melambangkan ketaatan kepada kebenaran.

 

Penjunjungan orang Asia atas macan putih menjalar ke Nusantara, sehingga di banyak wilayah macan putih lantas tergubah dalam ragam legenda. Legenda itu pada ujungnya mengangkat macan putih sebagai ikon. Pada “pemujaan” lanjut, tokoh legenda itu diwujudkan dalam bentuk patung monumen.

 

Desa Tawang Alun, Banyuwangi, misalnya, pada 1995 meresmikan berdirinya patung monumen macan putih. Bentuknya gagah: si macan digambarkan melompat dengan mulut yang mengaum. Kaki depannya menjangkau ke depan dengan cakar-cakar yang mengancam.

 

Macan putih memang diagul-agul di Banyuwangi. Pengagulan ini berawal dari kisah “sejarah”. Syahdan Tawang Alun sedang mencari lokasi untuk mendirikan kerajaan. Dalam kesenyapan hutan Gunung Raung, Tawang Alun bertemu dengan seekor macan putih. Si macan lantas menuntun sang ksatria ke suatu tempat. Di sini lalu didirikan kerajaan yang dinamai Kerajaan Blambangan.

 

Di Cirebon sudah sangat lama ada patung monumen macan putih. Letaknya di pintu masuk kompleks Keraton Kasepuhan. Bentuknya berupa dua ekor macan putih manis rupa sedang bercengkerama. Posisinya simetris, sehingga menyerupai komposisi kilin dalam khasanah patung simbolik Tiongkok kuno. Warnanya tentu putih, sebagaimana tembok Keraton Kasepuhan yang berdiri megah di belakangnya. Sejoli macan putih di sini konon menyimbolkan kesinambungan keluarga besar Pajajaran nan digdaya, yang dipimpin Prabu Siliwangi.

 

Patung monumen Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kediri. (Sumber: Dokumen)

 

Namun segagah-gagahnya dan semesra-mesranya patung monunen macan putih di Banyuwangi dan Cirebon, popularitasnya tidak bisa mengimbangi patung monumen macan putih yang baru saja didirikan di pertigaan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.

 

Meski patung itu populer bukan karena kualitas artistik dan estetiknya yang menawan. Juga bukan kharisma macan putih yang secara visual berhasil digelorakan. Namun lantaran kekonyolan bentuk, sebagai akibat dari kekeliruan persepsi visual pematung atas sosok dan makna simbolik macan putih. Sehingga sosok macan yang seharusnya anggun, tenang, sekaligus sangar dan garang, menjelma jadi satwa aneh dan rada songong. Sosok yang sama sekali tidak mencitrakan keanggunan dan kekuatan.

 

Macan putih Balongjeruk

Macan putih Balongjeruk ini hadir menjadi satwa hibrid yang susah ditelusuri asal usulnya. Raut mukanya seperti tapir, belangnya mirip kuda zebra, postur tubuhnya mendekati tikus, gemuknya mirip babi hutan, kekarnya seperti badak, karakter imutnya mirip tupai. Sehingga patung ini layak dijuluki “Takut Bapak Semaput”, singkatan dari “tapir-kuda-tikus — babi-tupai-badak — seolah macan putih”. Dengan begitu tampilannya agak surealis, naif dan kemudian lucu. O ya, semaput dalam bahasa Jawa, artinya pingsan.

 

Patung monumen Macan Putih sedang ramai ditonton orang yang datang dari berbagai tempat. (Sumber: Dokumen)

 

 

Kelucuan akibat kekonyolan ini menarik masyarakat. Ayal, patung monumen ini segera saja viral. Orang-orang dari luar Kediri, seperti Surabaya, Sidoardjo, Mojokerto dan Malang beriring datang. Mereka menyaksikan sambil tertawa-tawa, seraya berpotret ria. “Monumen 10 November di Surabaya wis kelewat rek!” kata arek Suroboyo yang happy menjenguk patung “Takut Bapak Semaput” itu.

 

Penciptanya, Cak Suwari, menyebut bahwa patung itu memang dikonsep dengan menjauhi sifat seram dan mengancam. “Konsep macan imut dan gemoy ini datang dari Pak Lurah, yang menghendaki agar warga akrab dengan satwa legenda daerahnya.”

 

Sementara Safi’i, Lurah Balongjeruk tampaknya “pura-pura” terkejut ketika melihat patung monumennya itu. Ia mengaku bahwa Cak Suwari lewat foto memberi contoh sosok macan yang sangat gagah dan indah. Tapi kok jadinya begitu.

 

Ia mengatakan bahwa biaya pembuatan patung, 3,5 juta rupiah, datang dari kantungnya sendiri. Bilangan yang boleh dikatakan kecil. Apalagi  jika dibandingkan dengan penawaran beli dari milyarder Yogyakarta dan Bali atas patung itu, yang berani membayar ratusan juta rupiah, menurut Jatimnow.com.

 

Di Kediri, ikon macan putih diambil dari kisah kakak beradik Gagang Aking dan Bubuksah, berdasarkan relief di Gua Selomangleng. Diceritakan di situ bahwa kakak-beradik ini selalu beradu pendapat soal ibadah dan perilaku, untuk mendapatkan ilmu linuwih, atau kekuatan yang lebih. Keduanya lantas menemukan jalan, yakni dengan cara menjalani pantang makan, sehingga tubuh mereka kurus kering. Pantang makan itu diimbuh dengan keharusan mereka bertapa di Gunung Raung.

 

Melihat pertapaan kakak-beradik ini khusyuk, Batara Guru lantas mengutus Dewa Kalawijaya untuk menguji. Kalawijaya berubah menjadi macan putih yang kurus dan lapar. Si macan putih lalu menghampiri mereka yang bertapa, seraya mengutarakan hasratnya untuk memangsa. Gagang Aking tidak ingin dimangsa. “Saya sudah tiada berdaging, apa gunanya? Lagi pula saya harus hidup lebih lama, karena masih punya tugas melindungi adik saya,” kata Gagang Aking. Macan putih lalu berjalan ke Bubuksah, dan mengutarakan hasrat yang sama. Bubuksah menjawab, “Jika engkau butuh, silakan engkau memakan aku. Asal engkau tidak memakan kakakku. Dan bukankah hutan ini adalah milikmu?”

 

Gambaran macan putih (Panthera Tigris) yang sebenarnya. Gagah dan indah. (Sumber: Agus Dermawan T)

 

 

Mendengar itu si macan putih berubah menjadi proporsional dan perwira. Bubuksah lalu diminta naik ke punggung macan. Di punggung macan Bubuksah berkata, agar macan putih juga menjemput kakaknya, yang diyakini berhati mulia. Bubuksah dan Gagang Aking lantas dibawa jauh menengok gemerlap kahyangan.

 

Sungguh serius dan filosofis cerita macan putih Kediri. Namun dalam patung monumen, semuanya menjadi cair dan penuh tawa. Patung yang semula untuk menyampaikan renungan, berubah jadi bahan humor dan candaan. Pak Lurah Safi’i gelisah melihat kenyataan itu, sehingga ia ingin mengganti macan gemoy dengan patung baru. Ia tidak sadar bawah patung macan putih gagasannya sedang menunaikan fungsi barunya yang tak terduga: menghibur masyarakat lewat humor, meski ditumbuhkan oleh kesalahan yang (tidak) disengaja. Bukankah humor adalah cara manusia menafsirkan ketidaksempurnaan, keanehan dan keabsurdan, dengan kegembiraan?

 

 

Humor membuat elastis

Masyarakat sekarang – yang sedang susah – memang memerlukan humor.

 

Henri Bergson, filsuf Prancis, dalam esainya Laughter, menulis bahwa humor adalah mekanisme sosial yang membuat kita elastis, bebas dari kekakuan. Humor diperlukan untuk menetralisasi suatu tindakan atau kejadian yang memerlukan fleksibelitas. Humor adalah fenomena kompleks yang bisa difahami sebagai respons stoikistik (kebajikan pikiran, kegembiraan hati) terhadap kekacauan dan kesulitan hidup. Humor adalah bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga kelenturan dalam masyarakat.

 

Bahkan menurut filsuf Romawi Lucius Annaeus Seneca, humor bukan hanya tentang tertawa, tapi soal ketenangan jiwa (ataraxia). Humor sanggup menginternalisasi ketidaksempurnaan dunia, dan sanggup membentuk kebijaksanaan dalam situasi sulit.

 

Sifat sesuatu yang aneh, tidak sempurna, salah, keluar dari pakem, yang akhirnya menjadi “humoristik”, diam-diam menjadi obyek hiburan bagi masyarakat. Persis seperti yang dirumuskan oleh Teguh Srimulat: lucu itu terbuat dari aneh. Bahan tertawaan terkonstruksi dari hal yang rusak-rusakan. Berkait dengan patung monumen, sejumlah bukti terhadir pada akhir-akhir ini.

 

Di Alun-alun Indramayu, Jawa Barat, sejak 2023 berdiri patung Proklamator Bung Karno-Bung Hatta. Monumen yang lumayan bagus ini tidak memikat pandangan warga, karena sudah banyak didirikan di berbagai kota. Tapi sejak 13 November 2025 patung itu jadi menarik perhatian. Syahdan pada hari itu di Alun-alun digelar perhelatan. Beberapa saat setelah acara usai, angin sangat kencang datang. Tiang-tiang tenda yang terbuat dari besi beterbangan, dan beberapa menerjang bagian kepala patung Bung Karno. Alhasil, kepala patung Bung Karno itu nyaris putus, sehingga posisinya jadi menceng alias miring.

 

Selama menunggu pematungnya memperbaiki, kepala patung Bung Karno dibiarkan menceng berhari-hari. Sehingga pemandangan ganjil dan dianggap lucu itu lantas viral ke mana-mana. Warga dari berbagai wilayah pun berdatangan menyaksikan.

 

“Selama ini Patung Proklamator tidak pernah diperhatikan. Sekarang ramai-ramai ditonton,” kata sejumlah warga.

 

Patung monumen Bung Karno di Indramayu yang miring kepalanya, dan malah jadi tontonan publik. (Sumber: Dokumen)

 

 

Di Sukabumi, di Alun-alun Gadobangkong yang teletak di pinggir pantai, pada 2024 dibangun patung penyu. Oleh karena penyu mahluk purba biasa, dan digubah tanpa aksi apa-apa, patung itu hanya dilirik saja oleh orang yang lewat. Namun monumen laut itu mendadak jadi populer dan dianggap lucu ketika pada Maret 2025 lalu ditemukan bolong besar di bagian tempurungnya. Lucu, karena bolong tempurung itu dianggap menyalahi kodrat. Bukankah tempurung penyu sejatinya adalah benda yang sangat masih, keras dan kuat? Lucunya lagi, di bagian dalam bolongan itu ditemukan lapisan-lapisan kardus. Ya, kardus. Padahal sejak awal patung diklaim terbuat dari tembaga, dengan memakan biaya 30 juta.

 

Alhasil, patung yang beraroma humor pahit itu jadi viral di media sosial. Orang-orang berdatangan menjenguk. Atas perkara ini Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi minta agar pembangunan penyu diaudit kembali.

 

 

Aneh juga ada di manca

Karya seni yang aneh, salah, konyol, rusak dan abnormal memang sering jadi tontonan besar. Serta acap mengalahkan pesona karya seni yang lahir normal. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia.

 

Di Borja, Spanyol, ada sehampar lukisan dinding ciptaan Elias Garcia Martinez yang menggambarkan Yesus. Wajah Yesus di situ rusak berat karena lembab. Cecilia Gimenez, menawarkan diri untuk merestorasi. Hasilnya, eh, sungguh buruk! Wajah Yesus tergambar seperti kera, sehingga di media sosial dijuluki “Yesus Kera”. Tapi kecelakaan besar ini justru mendatangkan ribuan turis untuk menyaksikan. Kota Borja senang dengan kenyataan mengejutkan itu, dan menyebut bahwa ini adalah bagian dari kebudayaan kontemporer.

 

Lukisan Yesus di Borja, yang salah restorasi dan jadi tontonan wisatawan. (Sumber: Dokumen)

 

Patung legenda sepakbola Cristiano Ronaldo di Bandara Madeira, Portugal, yang berwajah tidak mirip dan cenderung idiot, dan jadi tontonan menarik. (Sumber: Dokumen)

 

Di Bandara Internasional Madeira, Portugal, dibangun patung kepala Cristiano Ronaldo, kreasi Emanuel Santos. Begitu patung itu diresmikan pada 2017, sontak tawa berdatangan. Persoalannya, wajah Cristiano sama sekali tidak mirip. Bahkan terbentuk seperti orang idiot. Media pun ramai mengolok-olok. Tapi, paradoks, warga justru melarang pihak bandara mengganti, karena patung “CR7 Idiot” itu sangat menarik ditonton. Setiap orang yang lewat berfoto di situ bergantian. Walaupun akhirnya bandara menggantinya dengan patung baru, karena malu.

 

Di Soledad, Kolombia, ada patung St.Anthony of Padua, yang dicipta 150 tahun silam. Patung itu rusak karena dilahap rayap. Santo Anthony lalu direstorasi, sehingga hadir sebagai manusia baru. Hasilnya mengejutkan: wajah Santo dirias sangat berlebihan. Bahkan diberi lipstik, riasan mata, perona pipi. Foto “St Anthony Genit” pun menyebar. Kritik berdatangan. Namun bersamaan itu datang pula ribuan orang yang ingin menyaksikan.

 

Yang aneh dan konyol jadi tontonan. Itu juga terjadi kepada patung Den Iille Havfrue, alias Little Mermaid di Kopenhagen, Denmark. Patung kecil ciptaan Carl Jacobsens yang “tidak ada apa-apanya” itu lumayan jadi obyek pandangan. Namun perhatian terbesar terjadi ketika kepala si putri duyung hilang lantaran dipenggal bocokok, pada 1964. Ribuan turis domestik datang setiap hari untuk menyaksikan. Tahun 2012 patung mungil ini diganggu lagi, dengan disemprot cat dan diberi helm kepalanya. Pelakunya adalah para hooligans yang menuntut pembebasan pemusik punk rock Pussy Riot dari tahanan polisi. Selama belum direstorasi, pengunjung berduyun datang menjadi saksi. Nyata, Putri Duyung berhelm dan berwarna ini lebih menarik publik dibanding putri duyung tembaga.

 

Oleh karena itu saya berusul kepada Pak Safi’i, Lurah Balong Jeruk, Kediri, agar patung “Takut Bapak Semaput” itu tidak dibongkar. Biarkan patung humor itu berdiri menghibur orang. Kalau ingin mendirikan monumen macan putih berkualitas, proporsional dan gagah perkasa, bikin lagi di sebelahnya. Kita uji, mana yang lebih menarik perhatian. Yang bermutu, atau yang sekadar lucu, di zaman masyarakat penuh gerutu. ***

 

—————–

*Agus Dermawan T. Penggubah feature. Penulis buku budaya dan seni.