Pameran Seni Virtual Kontemporer & Demo 29 Agustus Berdarah
Oleh Mikke Susanto*
Demonstrasi dan protes masyarakat Indonesia atas kelakuan sejumlah anggota DPR RI dan kasus kenaikan pajak oleh Pemerintah di akhir Agustus 2025 sangat meneror kita. Apalagi peristiwa tersebut telah memakan korban. Seorang pengemudi ojol meninggal dunia dilindas rantis Polri di Jakarta pada 29 Agustus lalu. Di hari berikutnya aksi massa pun berlanjut di sejumlah kota. Tak terhitung kerugian atas kerusakan akibat aksi massa tersebut.
Di tengah peristiwa ini, warga seni rupa tak tinggal diam. Kawan-kawan yang terkoneksi di media sosial instagram lalu meneriakkan protes maupun usulan keras. Mereka “berkumpul” menggelar pameran. Bersama-sama mereka mencatat dan mengekspresikan impresi terkait kejadian 29 Agustus tersebut. Semua itu dapat disaksikan dengan jelas melalui akun instagram @bukusenirupa, @kemenyanri dan akun-akun lainnya yang berkolaborasi secara virtual.
@bukusenirupa sebagai Inisiator
@bukusenirupa yang digerakkan oleh kawan-kawan inisiator seni asal Yogyakarta memang dikenal berpikir kritis dan progresif. Karenanya sejumlah agenda dan okupasi opini warganet dijejali dengan asupan seni (rupa) kritis terhadap fenomena apapun, ternasuk lahirnya kementerian budaya yang baru terbentuk pada era Prabowo tak lepas mendapat kritik.
Akun instgram @bukusenirupa memang diamini sebagai platform-media seni budaya dengan capaian traffic sosmed yang tinggi. Kebanyakan pengikutnya adalah seniman, mahasiswa, pembaca buku, pegiat budaya dan pekerja kreatif. Saat ini akun mereka sudah mencapai 108 ribu followers.
Kini, ketika demonstrasi Agustus berdarah membuncah, maka seribuan karya yang muncul dalam akun mereka membawa berita menarik. Aksi unik @bukusenirupa dengan mengundang siapapun untuk berkarya menangkap peristiwa ini sebagai inspirasi, bergulir cepat. Dengan hanya mengundang dengan cara “unggah, tag, collab, atau story dan bikin yang paling keras”, respons pun berjibun.
Tak perlu lama. Dari 29 sampai 30 Agustus ini telah ada 800an akun kolaborator terkoneksi. Sementara interaksi pengguna (engagement)-nya sebanyak 6,5 juta kali. Luar biasa, kan?
Peristiwa seni ini harus dicatat sebagai upaya penting menangkap momen terkini secara cerdas. Mengapa? Setidaknya ada 2 hal penting yang perlu dicatat.
Sejarah yang Berulang
Pertama, peristiwa ini dapat dianggap sebagai fenomena sejarah yang berulang. Catat saja, di masa ketika Jepang menjajah Indonesia pada 1942-1945, sejumlah pelukis hadir melahirkan karya kritis terhadap keberadaan “saudara tua” ini. Affandi, S. Sudjojono, Dullah hingga lainnya memang tak menggunakan media sosial, tapi mereka melukis dan memamerkannya di gedung-gedung yang dikuasai Jepang. Menggulirkan “protes” pada Jepang salah satunya dengan melukiskan kesengsaraan rakyat Indonesia, demi menurunkan citra Jepang di mata internasional.
Belum lagi pada tahun 1948-1950an, ketika Indonesia memasuki masa revolusi. Banyak pelukis yang melahirkan opini visual dengan melukis beragam kejadian perang di Yogyakarta sebagai catatan zaman. Ditambah pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru, pelukis Sudjojono dengan jenius melahirkan lukisan “Maka Lahirlah Angkatan 66” yang mencerminkan semangat perubahan esensial di era tersebut.
Pada masa Reformasi jangan ditanya. Para seniman tercatat melakukan aksi melukis, happening, performans, menempel poster untuk mengkritik habis-habisan Orde Baru yang akhirnya tumbang di tahun 1998. Kini ketika pemerintahan Prabowo mengalami degradasi fungsi sebagai pengelola negara, aksi para perupa menjadi salah satu yang keren untuk dicatat.
Pameran Seni Media Virtual
Kedua, gerakan seni visual yang dihembus melalui laman instagram @bukusenirupa dan @kemenyanri telah menjadi pameran virtual yang esensial. Dalam konteks seni, karya-karya para seniman ini mengelaborasikan peristiwa terkini dalam waktu yang bersamaan. Bisa jadi ini menjadi pameran paling substansial terkait peristiwa paling kontemporer dan bahkan menyulut berbagai kontroversi.
Inisiatif pameran virtual ini spontan. Tak ada kurasi khusus, yang penting tidak SARA. “Kami membagi poster ajakan dengan beberapa tulisan, yang bisa dijadikan bahan buat berkarya”, ujar Huhum Hambily, inisiator @bukusenirupa pada saya.
Tidak lama mereka melahirkan karya. Setiap hari–sejak 29 Agustus–karya seni visual para seniman, desainer, atau siapapun bermunculan satu persatu. Sampai artikel ini ditulis, setidaknya akun @bukusenirupa telah berkolaborasi dengan banyak partisipan. Hanya dengan mengklik tombol “invite collaboration” atau hanya menulis tagar #acap #1312 atau lainnya, semuanya terhubung.
Pameran virtual ini saya nilai sebagai sebuah terobosan genial. Bahkan bisa dibilang mampu menggabung berbagai entitas penting dan kontekstual. Mulai dari peristiwa politik, kritik Indonesia Gelap, aroma kerja legislator yang dipertanyakan, sampai terlindasnya sopir ojol masuk dalam seni visual.
Di samping tentu saja ketika peristiwa Agustus berdarah ini terjadi, tanpa terlalu lama, karya lukisan, fotografi, reels, feed atau karya digital lainnya langsung menerobos diantara berita-berita politik. Karya seni yang dikerjakan mulai dari perupa @agungkurniawan yang menuntut mundur sejumlah petinggi negeri, @hisyamon yang mencari Sahroni, atay @momogoyo yang mengkritik polisi. Ada juga @bakerstd yang memarodikan logo 80 tahun RI menjadi bentuk mirip lingga (kelamin laki-laki), atau @earlyodd yang mengusung pesan 1312, sampai @bintangtanatimur yang melukis kematian sopir ojol sebagai sebuah parodi getir, menjadi berita perimbangan dari sisi budaya kritis.
Kini, antara karya seni virtual dan berita politik yang panas telah berkelindan di antara kita. Mungkin begitulah cara seni memerankan dirinya. Tak perlu galeri atau museum fisik. Tak perlu biaya. Tak perlu menjaga konvensi apakah ini seni lukis atau bukan. Apakah ini happening atau sesuatu yang bikin pening kepala, semuanya berjalan bersama-sama.
Uniknya lagi semua orang boleh menjadi seniman. Tidak pandang bulu dari mana dan profesimu apa. Selama karya virtualnya memiliki konteks, maka warganet akan memberi dan “membeli”-nya melalui tombol Like, Share, Story, Save, atau Comment. Inilah dunia seni media sosial yang egaliter, partisipatoris, membebaskan, dan nyaris tanpa batas. Tak ada batas profesi. Tak ada batas konvensi. Yang ada adalah keberanian berekspresi.
Jika Anda sudah menonton atau bahkan memberinya like dan komentar, maka di saat itulah Anda sedang menikmati seni paling kontemporer di Indonesia: 1312.
ACAB
Angka 1312 dalam konteks demonstrasi di Indonesia kali ini digunakan sebagai simbol atau kode yang merujuk pada penolakan terhadap kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Angka ini berasal dari kode yang mengacu pada frasa “All Cops Are Bastards” (ACAB), yang berarti “Semua Polisi Adalah Bastard”.
Ini adalah cara para aktivis untuk menghindari sensor atau pembatasan yang biasa dilakukan oleh pihak berwenang. Semua karena penggunaan frasa ACAB secara langsung bisa dianggap sebagai penghinaan atau pencemaran nama baik.
Semangat, selalu waspada dan terus berkreasi teman-teman. Tetaplah kritis di tengah krisis kali ini. Persoalan belum selesai. Namun ketika kita bersama, pasti bisa mengatasi keculasan dan semua ketidakpantasan pengelola negeri ini. Tabik.
Yogyakarta, 30 Agustus 2025
—–
*Mikke Susanto (Staf Pengajar ISI Yogyakarta)