Menghidupkan Kembali Rongsokan di Studio Kalahan
Oleh Ni Luh Putu Ratna Suandari*
Heri Dono percaya bahwa setiap benda menyimpan energi yang belum padam. Di sebuah studio di Yogyakarta, ia membuktikannya dengan mesin-mesin tua yang dulunya hidup di rongsokan.
Langkah pertama saat melewati gerbang lahan bekas rumah residensi polisi Belanda di kawasan Gamping, Sleman, tidak sekadar membawa kita masuk ke sebuah bangunan tua, tapi seperti melintasi batas antara masa lalu dan masa depan. Tempat ini mulanya adalah ruang tertutup yang tidak banyak diketahui publik, namun kini Studio Kalahan berkembang menjadi sebuah laboratorium kreatif yang menghasilkan ide dan eksperimen seni. Begitu memasuki area studio, pengunjung menemukan berbagai instalasi yang memanfaatkan material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Melalui proses kreatif, material tersebut diolah menjadi karya yang memiliki makna baru.

Gambar 1. Suasana Studio Kalahan. (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Suasana ruang terasa khas, aroma logam tua bercampur dengan kelembaban udara tropis menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan. Selain itu, bunyi dan getaran dari mesin-mesin instalasi yang bergerak menghadirkan pengalaman sensorik yang unik, seolah ruang terasa hidup. Studio Kalahan tidak hanya menjadi tempat pameran tetapi juga ruang eksplorasi tempat gagasan diuji, dan tempat benda-benda yang pernah dianggap selesai justru menemukan kehidupan baru.
Rongsokan sebagai Awal Kehidupan Baru
Rongsokan di tangan Heri Dono tidak pernah benar-benar menjadi akhir dari sebuah benda yang selesai, melainkan menjadi titik awal dari sebuah proses transformasi. Material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, seperti mesin rusak, besi berkarat, roda yang tidak terpakai dan sebagainya itu dikumpulkan, lalu disusun dan diolah kembali menjadi instalasi yang mampu bergerak, berbunyi, dan menghadirkan pengalaman visual yang kuat. Di sini, yang berubah bukan hanya bentuk benda, tetapi cara kita dalam memandangnya. Menurut kerangka semiotika yang dikembangkan oleh Roland Barthes, setiap benda tidak hanya berfungsi sebagai objek fisik, tetapi juga sebagai tanda yang menyimpan lapisan makna. Bagi Heri Dono nilai sebuah benda tidak pernah tetap, barang bekas bukan sekadar sisa tetapi sesuatu yang membawa sejarah. Dari yang awalnya berada di pasar loak, benda tersebut bisa berpindah ke ruang yang lebih “terhormat” seperti galeri atau museum. Perjalanan itu membuat benda tidak lagi dilihat sebagai tanda ketidakbergunaan, tetapi berubah menjadi tanda kritik, ingatan, dan perlawanan.

Gambar 2. Karya Instalasi yang berjudul Gokart Heridonology. (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Menariknya, proses penciptaan di Studio Kalahan tidak selalu dimulai dari rencana yang pasti, terkadang justru muncul terasa spontan. Pemilihan material tidak selalu direncanakan secara detail sejak awal. Menurut Heri Dono, ada momen dimana benda-benda tersebut seperti “memanggil” dirinya untuk digunakan. Seolah ada semacam hubungan antara seniman dan material, sebuah kepekaan untuk melihat potensi yang tersembunyi di balik bentuk yang sudah usang. Pendekatan ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang menghasilkan banyak limbah. Studio Kalahan seperti menawarkan cara pandang yang berbeda bahwa sesuatu yang kita anggap tidak berguna sebenarnya belum selesai. Mereka hanya menunggu untuk dilihat dengan cara yang baru, karena di tangan yang tepat mereka bisa hidup kembali dengan makna yang sama sekali berbeda. Rongsokan tidak lagi sekadar berbicara tentang bentuk yang berubah tetapi juga tentang cara pandang kita dalam memahaminya. Dari sinilah muncul pandangan bahwa rongsokan bukan sekadar material, tetapi bagian dari energi dan kehidupan.
Benda, Energi, dan Cara Pandang terhadap Kehidupan
Jika kebanyakan orang melihat mesin tua sebagai benda mati, Heri Dono melihatnya dengan cara yang berbeda. Baginya, tidak ada benda yang benar-benar diam. Ia menjelaskan bahwa dalam sains, setiap benda tersusun dari partikel atom seperti elektron, proton, dan neutron, yang berarti setiap benda itu memiliki energi. Pemikiran ini juga sejalan dengan pandangan Timur yang melihat manusia sebagai bagian dari alam semesta. Dalam kosmologi Jawa, hubungan ini dikenal sebagai makrokosmos dan mikrokosmos yaitu anggapan bahwa manusia adalah bagian kecil dari alam semesta yang sangat besar. Unsur-unsur seperti tanah, air, api, dan udara tidak hanya ada di alam, tetapi juga ada dalam tubuh manusia. Karena itu, material yang berasal dari alam dianggap memiliki energi yang sama.

Gambar 3. Karya Instalasi yang berjudul Fermentation of Nose.(Dokumentasi Pribadi, 2026)
Heri Dono mengaitkan pemikiran ini dengan cara pandang animisme, yaitu keyakinan bahwa benda tidak sepenuhnya diam melainkan memiliki energi dan keterhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, animisme tidak dipahami sebagai sesuatu yang kuno, tetapi sebagai cara melihat hubungan antara manusia, benda, dan alam. Cara pandang ini terasa langsung di dalam ruang Studio Kalahan. Saat berkunjung untuk melihat karya-karya Heri Dono, instalasi biasanya dinyalakan satu per satu. Suara berderit mulai terdengar, diikuti gerakan mesin yang tidak mulus dan terkesan patah-patah. Namun justru disitulah letak esensinya, material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai perlahan menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Saat mesin-mesin itu bergerak dan mengeluarkan bunyi, seolah ada cerita yang ikut dihidupkan kembali bersama gerak dan ritemnya. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga ikut merasakan ruang tersebut. Melalui pengalaman ini, karya-karya di Studio Kalahan menghadirkan kesadaran bahwa benda tidak berdiri sendiri. Dengan cara ini, Heri Dono mengajak kita untuk melihat kembali hubungan kita dengan benda-benda di sekitar, bahwa apa yang selama ini dianggap diam, sebenarnya memiliki peran dan makna dalam kehidupan ia menjadi bagian dari ruang, waktu, dan pengalaman manusia.
Seni sebagai Kesaksian Zaman
Rongsokan di tangan Heri Dono tidak hanya dihidupkan kembali sebagai karya, ia juga dihidupkan sebagai suara. Di balik gerakan mesin yang berderit dan bunyi instalasi yang mengisi ruangan, tersimpan sesuatu yang lebih dari sekedar estetika, yaitu sebagai representasi terhadap realitas sosial yang terjadi di luar dinding studio. Heri Dono bukan seniman yang memilih diam di hadapan realitas sosial-politik. Selama puluhan tahun berkarya, ia konsisten menggunakan material bekas dan instalasi mekanik bukan semata karena nilai artistiknya, tetapi karena benda-benda tersebut adalah metafora yang hidup. Rongsokan yang dibuang, diabaikan, dan dianggap tidak relevan oleh sistem menjadi cara untuk menggambarkan realitas yang sulit diungkapkan secara langsung. Theodor Adorno dan Max Horkheimer, dua pemikir dari Mazhab Frankfurt, pernah memperingatkan bahwa dunia modern cenderung mengubah segalanya menjadi komoditas. Dalam pandangan mereka, seni yang sejati justru harus menolak logika tersebut. Heri Dono mengambil apa yang sudah dibuang dan diabaikan oleh sistem, dan mengubahnya menjadi medium kritik terhadap kekuasaan yang sama. Rongsokan yang dianggap tidak relevan justru menjadi cara untuk menggambarkan realitas sosial-politik yang sulit diungkapkan secara langsung. Seni, dalam pendekatan ini, bukan sekadar tontonan, melainkan bentuk kesadaran kritis terhadap apa yang selama ini dianggap wajar oleh sistem.
Namun, cara ia menyampaikan kritik tidak pernah frontal. Ia memilih jalur metafora, memanfaatkan simbol-simbol budaya sebagai medium. Dengan cara ini, kritik dapat disampaikan secara halus namun tetap tajam, tanpa harus berhadapan langsung dengan batasan formal. Di sinilah rongsokan menemukan dimensi barunya yang paling dalam. Benda-benda dari pasar loak dan tempat pembuangan tidak hanya dihidupkan kembali secara fisik, tetapi juga dihadirkan sebagai saksi dari cerita yang mereka bawa. Mereka pernah digunakan, lalu dibuang dan dilupakan. Perjalanan itu menjadi gambaran tentang bagaimana sesuatu bisa kehilangan nilai ketika tidak lagi dianggap penting dalam kehidupan yang terus bergerak maju.
Dengan mengangkat kembali benda-benda tersebut ke dalam ruang seni, Heri Dono tidak hanya memberi mereka kehidupan kedua, tetapi juga ruang untuk “bersuara”. Studio Kalahan, dengan debu dan mesin berkarat di dalamnya, menjadi tempat di mana rongsokan dan kritik sosial bertemu, tempat di mana seni lahir dari hal-hal yang pernah dianggap selesai. Ruang di mana benda-benda yang pernah dianggap tidak relevan mendapat kesempatan untuk berbicara kembali, dimana kali ini dengan lebih lantang dan dengan makna yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Ruang yang Terus Hidup
Studio Kalahan bukan sekadar tempat menyimpan karya. Ia adalah ruang yang terus bergerak, mempertanyakan, dan menolak untuk berhenti. Dari rongsokan yang dihidupkan kembali hingga material bekas yang menjadi medium kritik sosial, semuanya lahir dari cara pandang yang konsisten. Heri Dono menunjukkan bahwa seni tidak harus lahir dari bahan yang mahal atau proses yang sempurna. Ia bisa muncul dari pasar loak, dari sudut ruang berdebu, dari bunyi mesin yang tidak beraturan. Yang dibutuhkan bukan kemewahan, tetapi kepekaan untuk melihat potensi di tempat yang sering diabaikan.
Bagi Heri Dono, pengalaman di Studio Kalahan tidak berhenti pada melihat karya. Ia ingin pengunjung pulang membawa pemahaman baru, tidak hanya melihat bentuk, tetapi juga memahami maknanya. Karena itu, ia juga mengembangkan ruang literasi di dalam studio, agar seni tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan menjadi pengalaman yang bermakna. Studio Kalahan mengajarkan bahwa segala sesuatu layak untuk dipahami kembali. Rongsokan yang tergeletak, mesin tua yang diam, dan material yang dianggap tidak berguna sebenarnya masih menyimpan jejak perjalanan yang panjang. Di dalamnya tersisa potensi, pengalaman, dan kemungkinan yang belum sepenuhnya hilang. Yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti sejenak, memberi perhatian, dan membuka cara pandang baru. Mesin-mesin di Studio Kalahan mungkin akan kembali diam setelah kunjungan usai. Namun makna yang ditinggalkannya tidak berhenti disana, ia terus hidup dalam cara kita melihat, memahami, dan memaknai dunia di sekitar.
Studio Kalahan juga mengingatkan kita pada cara hidup yang sering terlupakan di tengah budaya konsumsi yang serba cepat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa mengganti daripada memperbaiki, membuang daripada memahami. Benda-benda kehilangan nilai bukan karena benar-benar tidak berguna, tetapi karena kita berhenti melihat potensinya. Di sinilah pendekatan Heri Dono menjadi relevan, ia tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga menawarkan cara berpikir yang lebih sadar dan reflektif.
Melalui rongsokan yang dihidupkan kembali, Studio Kalahan mengajarkan bahwa nilai tidak selalu ditentukan oleh kondisi fisik atau fungsi awal sebuah benda, melainkan oleh bagaimana kita memaknainya. Perspektif ini tidak hanya berlaku dalam seni, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari tentang bagaimana kita melihat hal-hal yang dianggap kecil, sederhana, atau bahkan terabaikan. Pengalaman di Studio Kalahan bukan sekadar pengalaman visual, tetapi juga pengalaman berpikir. Ia membuka ruang bagi kita untuk mempertanyakan kembali cara kita memandang dunia: apakah kita benar-benar melihat, atau hanya sekadar melewati?
Lebih dari sekadar ruang berkarya, Studio Kalahan juga menjadi refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan lingkungan dan benda di sekitarnya. Di tengah isu keberlanjutan yang semakin penting, pendekatan Heri Dono terasa relevan sebagai pengingat bahwa kreativitas tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Justru, dengan melihat kembali apa yang sudah ada, kemungkinan-kemungkinan baru dapat ditemukan. Pada akhirnya, mungkin yang berubah bukanlah benda-benda itu, melainkan cara kita memahami keberadaan mereka dan juga diri kita sendiri di dalamnya. Dari sanalah, cara pandang baru mulai terbentuk secara perlahan dan lebih utuh.
—-
*Ni Luh Putu Ratna Suandari, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





