Ketika Amir Hamzah Hijrah Ke Panggung Wayang Kulit
Oleh Andhi Sulistya Putra*
Sekuat apa pun seni tradisi mempertahankan akar budayanya, pada akhirnya ia tetap akan berhadapan dengan dinamika zaman yang terus berubah. Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya populer secara perlahan membentuk pola pikir serta cara masyarakat memandang dan menikmati seni tradisi. Dalam situasi ini, tentunya seni tradisi tidak hanya berurusan dengan pelestarian, namun juga membuatnya harus menghadapi berbagai tantangan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Fenomena ini dapat dijumpai dalam pertunjukan wayang kulit khususnya di Yogyakarta. Selama berabad-abad, wayang kulit telah menjadi salah satu medium penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Melalui pertunjukan yang berdurasi sekitar delapan jam dalam semalam, wayang kulit hadir dengan menggendong nilai-nilai moral, refleksi, dan tuntunan mengenai kehidupan.
Namun demikian, cara pandang masyarakat terhadap pertunjukan wayang tampaknya tengah mengalami pergeseran. Tidak sedikit dari mereka memandang wayang hanya sebatas sebagai hiburan. Hal ini terlihat dari kebiasaan penonton dalam menikmati pagelaran wayang kulit hanya untuk menunggu pada bagian tertentu yang dianggap menghibur saja, seperti pada adegan limbukan. Dalam tradisi pedalangan, limbukan merupakan adegan selingan yang berisi humor sekaligus menyajikan berbagai macam gending atau lagu yang bertujuan untuk menghibur audiens. Meskipun adegan ini hanya berfungsi sebagai transisi dari suasana formal menuju ke adegan pertempuran, bagian ini kerap menjadi satu-satunya adegan yang paling dinantikan oleh para penikmat wayang.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa wayang kulit hanya difungsikan sebagai sebuah hiburan semata. Dalam situasi seperti ini tentunya tidak mudah baginya untuk bersaing dengan budaya populer seperti musik, film, dan arus budaya k-pop yang menawarkan pengalaman tontonan instan dan mudah dicerna. Situasi ini pastinya memunculkan sebuah pertanyaan penting. Ketika cara pandang masyarakat dalam menikmati seni tradisi telah dipengaruhi budaya populer, lalu bagaimana wayang kulit dapat tetap memiliki ruang di benak masyarakat? Pertanyaan tersebut tidak hanya berhubungan dengan pelestarian, tetapi juga menyangkut bagaimana wayang kulit dapat dibaca ulang dan dikembangkan agar tetap bertahan di hati masyarakat.
Sejarah sebenarnya menunjukan bahwa seni tradisi tidak pernah benar-benar statis. Ia selalu berubah melalui berbagai proses adaptasi yang dilakukan oleh para seniman pada setiap zaman. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat banyak seni tradisi bertahan hingga kini. Dalam hal ini, inovasi merupakan bagian terpenting dalam proses perkembangan seni tradisi khususnya wayang kulit. Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi yang telah diwariskan, tetapi dapat dipahami sebagai upaya untuk menafsirkan kembali nilai yang melekat pada seni tradisi dan mengembangkannya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Salah satu upaya tersebut dapat dilihat dari karya yang ditawarkan oleh seorang dalang muda asal kota Yogyakarta Fani Rickyansyah atau kerap disapa dengan nama Ricky. Ia merupakan seorang seniman yang aktif di dua bidang seni, yaitu pedalangan dan karawitan. Selain dikenal sebagai seorang dalang, kecintaanya pada seni tradisi juga mendorong Ricky untuk menyelami kompleksitas seni karawitan hingga membuat seniman muda itu juga dikenal sebagai seorang komposer tradisi. Keaktifannya sebagai komposer memperlihatkan bahwa ia tidak hanya memahami berbagai unsur dalam pedalangan, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dimensi karawitan yang erat kaitannya dengan pertunjukan wayang kulit.
Di dunia pedalangan khususnya di Jawa, terdapat dua sumber cerita besar yang sangat akrab di telinga masyarakat yaitu kisah Mahabarata dan Ramayana. Kedua epos tersebut bagaikan sudah menjadi “bahasa ibu” dalam benak para penonton wayang kulit. Namun demikian, Ricky memiliki cara tersendiri dalam membaca persoalan yang muncul di dunia pedalangan. Ia membuat inovasi dengan menawarkan sebuah bentuk pertunjukan baru dengan cerita yang jarang diketahui oleh masyarakat, yaitu wayang kulit Menak gaya Yogyakarta. Istilah gaya dapat diartikan sebagai bentuk sajian dalam pertunjukan seni seperti wayang, karawitan, atau tari yang mencakup berbagai unsur dalam suatu kesenian yang berkembang di suatu wilayah tertentu.

Gambar 1. Pementasan Wayang Kulit Menak Gaya Yogyakarta. (Sumber: Dok. Fani Rickyansyah)
Dalam penyajiannya, karya ini menghadirkan struktur dan tekstur dramatik yang berbeda dengan wayang kulit yang umumnya mengisahkan tentang Mahabarata atau Ramayana. Hal ini tentunya cukup menarik karena selama ini cerita Menak lebih sering disajikan dalam bentuk kesenian lain. Kisah Menak sendiri merupakan karya sastra bernafaskan Islam dari bangsa Persia yang digubah oleh R. Ng. Yasadipura I pada era Mataram Islam dan kemudian diberi nama serat Menak. Cerita ini mengisahkan tentang kepahlawanan dari seorang tokoh yang bernama Amir Hamzah. Ia digambarkan sebagai seorang prajurit Allah yang senantiasa berjuang menyebarluaskan agama Ibrahim dalam berbagai petualangan dan peperangan.
Fenomena di lapangan memperlihatkan bahwa di Yogyakarta sebenarnya dapat ditemui berbagai pertunjukan yang mengusung tentang cerita Menak seperti wayang golek Menak, wayang orang Menak, dan tari golek Menak. Namun demikian, pertunjukan yang mentransformasikan serat Menak ke dalam wayang kulit belum pernah dijumpai di kota yang kental dengan seni tradisi ini. Jika ditarik kebelakang, sejarah pedalangan menunjukan bahwa pertunjukan wayang kulit Menak sebenarnya bukanlah hal baru dalam dunia pedalangan. Wayang kulit Menak telah berkembang terlebih dahulu di lingkungan Keraton Surakarta yang diciptakan oleh Kyai Trunadipa dan disajikan dengan gaya Surakarta. Fakta ini memperlihatkan bahwa kisah di luar epos Mahabarata dan Ramayana juga pernah ditransformasikan ke dalam bentuk wayang kulit. Meski demikian, pertunjukan ini sangat jarang dijumpai baik di Surakarta maupun di Yogyakarta dan tentunya kurang populer di telinga masyarakat.
Fakta yang terjadi tentunya tidak menghentikan langkah Ricky dalam menciptakan wayang kulit Menak. Inovasi yang ia tawarkan dalam karyanya meliputi bentuk dari wayang kulit itu sendiri serta sajian pertunjukan dengan gaya Yogyakarta yang sejalan dengan latar belakang dirinya. Dalam karyanya yang berjudul Purwaka Lakutama, Ricky mengambil penggalan cerita dari serat Menak yaitu Menak Lare yang merupakan bagian ke dua dari serat Menak setelah Menak Saheras. Judul ini merupakan bahasa yang diambil dari bahasa kawi yang berarti permulaan perjalanan utama. Cerita dalam karya ini akan berfokus pada perjuangan tokoh utama Amir Hamzah saat menegakan ajaran agama Ibrahim. Dalam proses perancangan karya, pastinya banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Berbagai bentuk pertunjukan lain yang mengusung serat Menak seperti wayang kulit dan tari golek Menak turut Ricky jadikan sebagai referensi baik dari segi gerakan, bentuk wayang, dan kostum yang dikenakan.
Wayang Menak yang diciptakan oleh dalang muda ini dirancang sedemikian rupa agar terlihat proporsional baik dari segi bentuk badan, busana yang dikenakan, dan warna yang dipilih seperti halnya tokoh Amir Hamzah berikut ini.

Gambar 2. Tokoh Amir Hamzah. (Sumber: Dok. Fani Rickyansyah)
Bentuk tubuhnya dibuat mirip dengan wayang kulit pada umumnya. Bahkan, sepintas wayang ini terlihat mirip seperti tokoh Arjuna yang ada dalam kisah Mahabarata. Hal yang membedakan wayang Menak dengan wayang konvensional terletak pada busana dan pemilihan warna. Sekilas, warna hijau tua mendominasi busana yang dikenakan. Namun ketika melihat lebih jeli, terdapat warna-warna lain yang saling berpadu hingga membuat wayang Amir ini terlihat memancarkan sebuah aura yang membuatnya terkesan berwibawa. Kostum yang dikenakan Amir terlihat seperti busana khas dari bangsa Timur Tengah. Hal tersebut dapat diamati dari penutup kepala dan jubah yang dikenakan. Selain itu, ornamen-ornamen yang terdapat dalam wayang Amir cenderung sama seperti motif yang lazim ditemukan di Jawa. Corak ini tampak dari celana cinde dan jarik yang digunakan. Karakter busana yang dikenakan Amir dapat dipahami sebagai bentuk harmonisasi antara budaya Timur Tengah dan budaya Jawa yang saling mengisi dan berpadu menjadi satu kesatuan yang khas.

Gambar 3. Pengrawit Wayang Kulit Menak Gaya Yogyakarta. (Sumber: Dok. Fani Rickyansyah)
Dalam sebuah pertunjukan wayang kulit, gamelan merupakan salah satu hal yang tak terpisahkan. Ia memiliki peran penting dalam mengiringi dan membangun suasana pada setiap adegan. Dalam penyusunan iringan, beberapa adegan masih mengadopsi gending yang kerap digunakan dalam wayang golek Menak. Meskipun demikian, sebagian besar iringan dalam wayang Menak ini menggunakan gending-gending baru yang disusun secara khusus oleh sang dalang. Pada adegan awal cerita disajikan dengan beragam gending berlaras pelog. Kesan megah begitu terasa pada bagian ini. Laras pelog dipilih karena mampu memberikan suasana agung yang dapat memperkuat dramatik pada suatu adegan. Selain pelog, iringan yang menggunakan laras slendro juga turut dihadirkan pada bagian tengah cerita guna memperkaya dinamika dan warna suara dalam pertunjukan.
Menariknya, dalam pementasan wayang kulit Menak sengaja tidak menghadirkan adegan limbukan karena bagian tersebut tidak terdapat dalam serat Menak. Jika limbukan dipaksakan untuk hadir, kondisi ini justru membuat pementasan terkesan terlalu keluar jauh dari cerita Menak itu sendiri. Namun demikian, dalam pertunjukan ini tetap menghadirkan adegan hiburan yang secara garis besar mirip dengan limbukan. Bagian ini diperankan oleh tiga tokoh punakawan Amir Hamzah yaitu Jiweng, Toples dan Bladu (pemeran figuran). Bagian akhir dari karya ini didominasi dengan gending berlaras pelog pathet barang. Secara umum, pada setiap bagian akhir dari pertunjukan wayang biasanya diiringi dengan gending-gending yang menggunakan laras slendro pathet manyura atau laras pelog pathet barang. Kedua pathet tersebut dipilih karena dianggap mampu untuk membantu membangun suasana ketegangan yang memuncak pada akhir cerita.
Kehadiran wayang kulit Menak gaya Yogyakarta memperlihatkan bahwa seni tradisi bukanlah suatu hal yang beku. Ia justru dapat menemukan bentuk barunya melalui upaya yang dilakukan oleh para seniman melalui proses membaca dan menafsirkan kembali tradisi sudah ada. Eksperimen dan eksplorasi yang dilakukan oleh Ricky ini tentu saja tidak menjamin sebuah keberhasilan. Menghadirkan kisah Menak melalui ke dalam medium wayang kulit tidak serta merta memindahkan cerita dari suatu bentuk ke bentuk lain. Diperlukan penyesuaian secara menyeluruh baik dari bentuk maupun sajian pertunjukan.
Pertanyaan menarik selanjutnya adalah jika wayang kulit disajikan dalam cerita Menak, apakah akan terasa lebih menarik dan relevan bagi masyarakat modern? Belum ada jawaban pasti untuk pertanyan itu. Namun setidaknya melalui upaya yang dilakukan Ricky ini dapat memberikan pemahaman penting bahwa tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Ia dapat ditafsirkan ulang dan bahkan ditransformasikan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
—-
*Andhi Sulistya Putra, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





