Hal-hal “Kurang Penting” Urusan Macan, Kuda dan Lukisan Para Kepala Negara

Oleh Agus Dermawan T.

Syahdan ada hal-hal metafisis yang mempengaruhi keberuntungan “Monumen Macan Putih Kediri” karya Cak Suwari dan lukisan “Kuda Api” karya Susilo Bambang Yudhoyono. Hasil penerawangan astrologis shio yang bisa dianggap tidak penting, kurang penting, tapi penting. Lalu, bagaimana rupa lukisan para Kepala Negara?

———–

DALAM beberapa bulan ini ada dua satwa yang naik ke panggung seni rupa Indonesia. 

Yang pertama adalah satwa macan atau harimau, lewat patung “Monumen Macan Putih Kediri” yang didirikan di Dusun Balongjeruk, Kediri. Meski naik panggungnya patung macan ini bukan karena kualitas estetiknya, dan bukan lantaran aspek monumentalitasnya. Tetapi karena berbagai unsur “kesalahan” yang disebabkan oleh kenaifan pematungnya. Sehingga si macan lantas hadir menjadi satwa hibrid yang tiada berasal-usul. Raut mukanya seperti tapir, gemuknya mirip babi hutan, belangnya mirip kuda zebra, kekarnya seperti badak, karakter imutnya mirip tupai, postur tubuhnya buntet mendekati tikus.

Kelucuan akibat kekeliruan ini ternyata menarik masyarakat. Ketika viral, si macan pun jadi obyek wisata penduduk berbagai kota. 

“Monumen Macan Putih Kediri” di Kelurahan Balongjeruk, Kediri. (Sumber: Dokumen).

Cak Suwari, pematungnya – yang mengakui bahwa kemampuan “seni kampung”nya mung semono (hanya setingkat itu) – merasa kaget dan heran dengan kenyataan yang terjadi. Begitu juga Lurah Balongjeruk, Safi’i, yang menginstruksi dan membeayai pendirian patung.

“Tapi syukur, hanya dengan biaya pembuatan patung 3,5 juta, Kelurahan Balongjeruk jadi populer luar biasa,” ujarnya bangga.

Yang kedua adalah satwa kuda, lewat lukisan “Kuda Api” Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Presiden Republik Indonesia keenam.

Lukisan SBY menggambarkan kuda biru (konon itu warna Partai Demokrat) sedang berlari dengan membawa kobaran api. Lukisan ini dicipta untuk menyambut hadirnya shio kuda atau Tahun Kuda Api yang dimulai sejak Tahun Baru Imlek 17 Februari 2026.

Banyak kritik mendatangi “Kuda Api” SBY ini. Namun SBY berendah hati dengan (seolah) mengatakan bahwa kemampuan berkudanya memang isih semono, atau baru segitu adanya. Seperti halnya Cak Suwari dan Safi’i, SBY juga terkejut dengan kenyataan mujur yang diterima, betapa lukisan berihwal shio kuda atau Tahun Kuda Api itu ternyata terjual 6,5 milyar dalam lelang amal yang berjalan mulus. Sang pembeli adalah seorang hartawan bershio Tikus.

Lalu masyarakat bersimpul: apabila Kelurahan Balongjeruk dengan uang 3,5 juta jadi moncer, dengan acungan 6,5 milyar nama SBY sebagai pelukis jadi sangat populer.

Percaya nggak percaya

Tapi tahukah Anda bahwa di balik sensasi sosial macan dan kuda itu, sesungguhnya tersembunyi misteri yang metafisikal? Begini. 

Dalam satu artikel, kanal Times of India memuat tulisan berjudul Mungkinkah Mereka Yang Bersaing Bisa Saling Berkawan? Jawaban artikel itu tuntas: sangat mungkin! Meski berkawan-kawan itu, tarik-menarik itu, pada kwartal pertama 2026 ini hanya terjadi pada shio yang bersatwa macan dan kuda. Padahal pada hakikatnya macan dan kuda adalah dua mahluk yang susah jalan bareng.

Persekutuan Kuda dan Macan, dalam gambaran astrologi Cina (Sumber: Getty Image)

Persekutuan sekwartal macan dan kuda itu juga dibicarakan panjang dalam kanal LoveToKnow, yang ditulis Patricia Lantz C.Ht, ahli astrologi Cina. Di situ diungkap sejumlah faktornya. 

Ia menulis bahwa, meski keduanya bersaing, macan dan kuda sama-sama percaya kepada aktivitas mental, sehingga keduanya (sekali waktu) bisa bekerja sama. Macan dan kuda sama-sama mencintai kebebasan, sehingga keduanya (sekali waktu) bisa bersepakat untuk jauh berkelana. Macan dan kuda senang bersosialisasi, sehingga (sekali waktu) keduanya sering ada di mana-mana. Macan dan kuda sama-sama menyukai tantangan, sehingga (sekali waktu) keduanya memperoleh pencapaian yang tinggi. 

Percaya nggak percaya, macan dan kuda memang sedang ditakdirkan oleh semesta untuk memperoleh keberuntungan. Patung “Monumen Macan Putih Kediri” dan lukisan “Kuda Api” dengan persis membuktikan.

Saling memanfaatkan

Dalam tinjauan lebih jauh macan dan kuda bisa saling memanfaatkan momentum, demi kepentingan yang iya-iya dan yang bukan-bukan. Ihwal itu sejak sangat lama sudah terbaca dalam fabel, atau dongeng satwa.

Di beberapa daerah Indonesia ada cerita berjudul “Kuda Berbusana Macan, dan Tikus yang Cekatan”. Dongeng ini dikembangkan dari ungkapan Cina mä mä hū hū, yang maknanya “yang biasa-biasa saja – tapi bisa membuahkan yang luar biasa”. Begini ceritanya.

Pada satu kali seekor kuda melihat kulit macan yang ditinggalkan pemburu di tepian hutan. Roh macan itu berbisik kepada kuda, “Pakailah kulitku sebagai busana, engkau akan tampak seperti raja rimba.” Maka kulit macan pun dijadikan pakaian oleh si kuda. 

Dengan pakaian macan itu si kuda lantas menyapa segenap rakyat belantara yang merunduk takut. Sambil menyapa, si kuda memerintah agar rakyat menyediakan rumput terbaik untuk ia makan. Maka, tikus – ras rakyat paling kecil sekaligus paling cekatan – segera menyiapkan. 

Atas perintah ganjil itu rakyat hutan bertanya, mengapa macan memakan rumput, bukan daging atau ikan? Mendengar pertanyaan, si raja rimba menjawab sambil meringkik. Ringkikan ini – dan bukan auman – menjadikan rakyat hutan tahu bahwa sang raja rimba ternyata adalah si kuda yang memakai kulit macan sebagai pakaian. Sementara bertimpal rumput yang dikumpulkan tikus sudah tersuguh sebagai hidangan.

Macan dan kuda bersekutu, dan tikus sebagai figuran berada di ujung ceritanya.

Membanding-banding

Hal “kurang penting” lain adalah membandingkan dua subyek pembicaraan di atas, dengan subyek lain yang secara kategorial sama, dari mana-mana.

Maka “Monumen Macan Putih Kediri” tersandingkan dengan monumen macan di Oslo (Norwegia), monumen macan di Istana Mysore (India), serta monumen macan karya Nyoman Nuarta (Indonesia). Simak foto-fotonya.

Monumen “Macan” di Plaza Oslo, Norwegia. (Sumber: Dokumen)

Monumen “Macan” di Istana Mysore, India. (Sumber: Dokumen)

Patung monumen macan karya Nyoman Nuarta. (Sumber: Agus Dermawan T).

Lukisan SBY yang (menurut keyakinan saya) terbaik, “Stop War, United for Peace” yang bercerita ihwal hancurnya Gaza, disandingkan dengan karya Winston Churchill (Perdana Menteri Inggris), Dwight D. Eisenhower (Presiden Amerika Serikat), Adolf Hitler (Panglima Nazi, Jerman), serta George W. Bush (Presiden Amerika Serikat). Perhatikan gambar-gambarnya. 

Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono, “Stop War, United for Peace” (Sumber: Agus Dermawan T)

Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan lukisannya. (Sumber: Dokumen)

Lukisan Presiden Amerika Serikat, Dwight D. Eisenhower. (Sumber: Dokumen)

Lukisan panglima Nazi, Adolf Hitler, 1914 (Sumber: Dokumen).

Presiden Amerika Serikat George W. Bush sedang melukis. (Sumber: Buku “Out of Many, One”).

Presiden Amerika Serikat George W. Bush sedang melukis. (Sumber: Buku “Out of Many, One”).

Sementara lukisan para pemimpin negara yang lain, seperti Presiden Sukarno, Vladimir Putin, Jimmy Carter, Raja Charles III, kapan-kapan saja. ***

—–

*Agus Dermawan T. Kritikus. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 dan Anugerah Adikara Cipta Budaya Pemerintah DI Yogyakarta – Sultan Hamengku Buwono X, 2024.