Bunga, Memori, dan Pengetahuan
Oleh Nurhasna Isnaini*
Berbunga-Bunga” menjadi tajuk pameran tunggal seniman asal Yogyakarta, Angki Purbandono. Agenda ini berlangsung di SAL Project, Jakarta, dari 7 Februari sampai 5 April 2026. Pengalaman artistik saya saat mengunjungi pameran yang menampilkan 73 jenis bunga merupakan pengalaman yang melampaui aktivitas melihat karya seni. Sejak memasuki ruang pamer, saya berhadapan dengan deretan panel bunga yang ditampilkan melalui teknik scanografi dan instalasi lightbox.
Pada awalnya, kesan yang muncul sederhana: bunga sebagai objek visual yang indah dan akrab. Agaknya seiring waktu dan proses pengamatan yang lebih perlahan, saya menyadari bahwa pameran ini menghadirkan sesuatu yang lebih mendalam. Tepatnya sebuah praktik pengarsipan yang menjadikan bunga sebagai medium ingatan sekaligus sarana produksi pengetahuan.

Bunga dan Narasi Ingatan
Bunga dalam keseharian sering hadir sebagai pelengkap: penghias taman, simbol upacara, atau ekspresi perasaan. Kita mengenalnya secara visual, tetapi jarang menyebut namanya secara spesifik atau memahami keragaman bentuknya secara sadar. Di dalam pameran ini, bunga-bunga tersebut dipisahkan dari konteks keseharian dan ditempatkan dalam sistem presentasi yang terstruktur. Setiap panel menjadi semacam entri visual yang memperlihatkan detail, warna, tekstur, dan karakter unik masing-masing bunga.
Proses ini mengubah bunga dari objek dekoratif menjadi objek arsip–sesuatu yang dicatat, diidentifikasi, dan disimpan–sebagai bagian dari sistem pengetahuan visual. Proses kreatif di balik penciptaan ini, ditekuninya dengan ketelitian dan kesungguhan. Dimulai dari pencarian bunga, memetiknya, hingga membawanya pulang dengan kehati-hatian.
Dalam konteks kajian arsip dan kritik seni, tindakan ini memiliki implikasi yang signifikan. Arsip bukan hanya tempat penyimpanan, melainkan mekanisme seleksi yang menentukan apa yang layak diingat dan apa yang dibiarkan terlupakan. Ketika memilih untuk merekam bunga tertentu, memberi perhatian pada bentuknya, dan menampilkannya kepada publik dalam jumlah besar dan sistematis, ia sedang melakukan kerja kuratorial sekaligus historis. Ia membangun narasi tentang apa yang penting untuk dicatat dalam lanskap visual kita. Pameran ini memperlihatkan bahwa arsip tidak selalu berbentuk dokumen administratif atau teks tertulis; ia dapat hadir sebagai citra, sebagai susunan visual yang membangun memori kolektif.
Pengalaman saya di ruang pamer mengingatkan pada gagasan bahwa kritik seni berperan dalam produksi pengetahuan. Kritik bukan sekadar evaluasi estetika, tetapi proses membaca, menafsirkan, dan menghubungkan karya dengan konteks sosial serta historisnya. Melalui pengamatan terhadap pameran ini, saya menyadari bahwa praktik pengarsipan bunga ini membuka ruang refleksi tentang relasi manusia dengan alam.
Bunga tidak lagi diposisikan sebagai objek pasif, melainkan sebagai subjek yang mengandung lapisan makna tentang kehidupan, kematian, perayaan, kehilangan, dan kontinuitas. Dari Angki Purbandono, saya belajar bahwa terdapat banyak hal kecil dalam kehidupan yang kerap terabaikan, salah satunya bunga. Dalam konteks ini, bunga menjadi medium memori, sebuah kebun ingatan yang merayakan berbagai aspek kehidupan, baik kebahagiaan maupun duka.
Bunga dan Gagasan Masa Depan
Dalam perspektif pendidikan seni, pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa karya seni dapat berfungsi sebagai media pembelajaran. Saya tidak hanya menikmati komposisi warna atau efek cahaya dari instalasi, tetapi juga belajar mengenali jenis-jenis bunga yang sebelumnya terasa asing meskipun sering saya jumpai. Proses ini memperluas kesadaran saya terhadap lingkungan sekitar.
Dengan kata lain, pameran ini menjalankan fungsi pedagogis: ia membentuk sensibilitas estetik sekaligus kesadaran kontekstual. Seni dalam hal ini, menjadi medan dialog internal antara saya sebagai pengunjung dengan karya yang saya amati. Saya tidak diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai subjek yang diajak untuk membaca dan merefleksikan makna.
Jika dikaitkan dengan jenis arsip dinamis dan arsip statis, karya-karya dalam pameran ini berada dalam wilayah yang menarik. Di satu sisi, dokumentasi bunga yang dilakukan Angki Purbandono dapat dipahami sebagai arsip dinamis. Ia lahir dari proses pencarian, pemindaian, pengolahan, dan penyusunan yang masih berlangsung dalam praktik kreatif. Di sisi lain, ketika karya tersebut dipamerkan dan disimpan sebagai bagian dari koleksi atau dokumentasi pameran, ia berpotensi menjadi arsip statis yang memiliki nilai historis di masa depan. Dengan demikian, pameran ini menunjukkan bahwa batas antara dinamis dan statis bersifat cair. Arsip selalu berada dalam proses transformasi.
Lebih jauh lagi, saya melihat bahwa praktik “mengarsipkan bunga” dalam pameran ini juga berkaitan dengan hasrat manusia untuk mengabadikan yang rapuh. Bunga adalah simbol kefanaan. Ia bisa mekar, layu, dan gugur dalam waktu singkat. Dengan merekamnya melalui teknologi, Angki memperpanjang keberadaan visualnya.
Tindakan ini mengandung dimensi eksistensial, yaitu sebuah usaha melawan lupa dan waktu. Namun, sebagaimana ditegaskan dalam teori arsip, setiap tindakan penyimpanan juga mengandung seleksi. Tidak semua bunga dapat diarsipkan; tidak semua momen dapat direkam. Kesadaran ini membuat saya memahami bahwa arsip selalu bekerja melalui mekanisme inklusi dan eksklusi.
Dalam konteks arena legitimasi, pameran ini juga memperlihatkan bagaimana objek yang tampak sederhana dapat memperoleh pengakuan dalam medan seni kontemporer. Bunga yang mungkin dianggap biasa saja dalam keseharian, melalui proses artistik dan institusional, memperoleh status baru sebagai karya seni. Proses ini menunjukkan bagaimana institusi, ruang pamer, dan diskursus kritik turut membentuk nilai suatu objek.
Dengan kata lain, legitimasi estetik bukanlah kualitas yang melekat secara alami, tetapi hasil dari interaksi antara seniman, kurator, institusi, dan audiens. Sehingga saya juga merefleksikan relasi antara dokumentasi dan produksi sejarah seni. Setiap pameran yang terdokumentasi melalui katalog, foto instalasi, atau tulisan kritik akan menjadi sumber rujukan bagi penulisan sejarah di masa depan.
Di tengah tantangan kontemporer seperti budaya instan dan dominasi selera pasar, praktik pengarsipan bunga ini terasa sebagai ajakan untuk memperlambat ritme konsumsi visual. Alih-alih menghadirkan citra yang spektakuler atau sensasional, pameran ini mengajak pengunjung untuk menatap detail yang halus dan repetitif.
Pengulangan panel-panel bunga menciptakan pengalaman yang hampir meditatif. Saya merasakan bahwa intensitas justru lahir dari akumulasi, bukan dari kejutan semata. Dalam konteks ini, arsip menjadi pengalaman estetika, bukan sekadar sistem penyimpanan, tetapi susunan visual yang membangun ritme dan suasana.
Pada akhirnya, “Berbunga-Bunga” menghadirkan bunga sebagai arsip ingatan dan pengetahuan dalam arti yang luas. Ia menyimpan jejak relasi manusia dengan alam, merekam keberagaman visual yang sering terabaikan, serta membangun sistem dokumentasi yang sadar akan nilai historisnya. Pameran ini mengajarkan bahwa pengarsipan bukan hanya tugas lembaga resmi atau negara, tetapi dapat menjadi praktik kreatif yang personal dan reflektif bagi setiap individu. Melalui bunga-bunga yang mekar dalam cahaya lightbox, saya melihat bagaimana seni mampu menjembatani pengalaman estetik dengan kesadaran intelektual.
Pengalaman saya di pameran tersebut meninggalkan keyakinan bahwa arsip seni adalah keniscayaan. Ia bukan sekadar upaya menyimpan masa lalu, tetapi strategi untuk merancang masa depan: bagaimana karya, gagasan, dan pengalaman akan dibaca kembali oleh generasi mendatang. Dengan menjadikan bunga sebagai arsip, Angki Purbandono mengingatkan bahwa bahkan yang paling rapuh sekalipun layak untuk dicatat. Dalam konteks inilah saya memahami pameran ini sebagai perjalanan luar biasa dalam pengarsipan karya seni. Sebuah pertemuan antara keindahan, dokumentasi, dan produksi pengetahuan yang terus bertumbuh, sebagaimana bunga yang tak pernah berhenti mekar dalam ingatan.
***






—-
*Nurhasna Isnaini , Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





